Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Lipstik Merah


__ADS_3

Sony mengurungkan niatnya untuk menunggu di meja makan. Ia memberhentikan langkahnya begitu mendengar suara istrinya memanggil.


 


“Ada apa, Dek?” tanya Sony setelah menghampiri Vania di ruang ganti, tepatnya di depan lemari yang terbuka lebar.


 


“Adik mau nanya deh Mas.”


 


“Tanya apa sayang?”


 


“Kapan Mas Sony membeli ini semua, dan dengan siapa Mas membelinya? Tentu tidak mudah memilih baju sebanyak ini untuk wanita, sedangkan Mas saja tidak hobi berbelanja, kan?!” tanya Vania dengan mata selidik sedikit mencurigai suaminya.


 


“Dek, jangan berpikir macam-macam. Semua ini kerja keras Ela. Mas hanya menyuruhnya untuk membelanjakan semua keperluan yang Adik belum punya.”


 


“Maksudnya?! Mas pergi dengan Ela?!” tuduh Vania, matanya mulai ganas menatap netra Sony.


 


“Dek, kan Mas sudah bilang. Ela yang membeli ini semua, dia berbelanja sendiri ditemani sopir hotel. Jangan berburuk sangka sama suami sendiri. Nggak baik.” Terang Sony mengelus puncak kepala Vania.


 


“Benar begitu? Mas tidak sedang berbohong, kan?”


 


“Astaghfirulllah, kenapa tidak percaya sama Mas, Dek?”


 


“Iya deh, iya, Adik percaya. Tapi awas ya kalau sampai Mas berani jalan dengan wanita lain. Tahu sendiri nanti akibatnya!” bibir Vania mencebik, Sony hanya menggelengkan kepala sambil mengulas senyum.


 


“Ya sudah, mandi dulu sayang! Jangan lama-lama, ya ...”  Vania lalu berjalan sambil membawa daleman ke kamar mandi.


 


“Baiklah, Mas makan saja dulu. Adik menyusul.” teriak Vania dari dalam kamar mandi sambil menutup pintu.


 


“Mas akan menunggu. "Sony melangkahkan kakinya menuju ruang makan, ia membuka ponselnya yang sudah beberapa kali ada notifikasi pesan masuk.


 


Beberapa menit telah berlalu, Sony masih anteng dengan ponselnya, membalas satu persatu pesan yang masuk. Entah dari rekan bisnis atau teman-temannya.


 


“Mas, bagaimana? Bagus tidak?” Vania memecah konsentrasi Sony, matanya kemudian terfokus pada Vania.


 


“Masya Allah, sempurna sayang. Cantik! Istriku memang sangat cantik.” Bola mata Sony membulat sempurna seperti terhipnotis ketika melihat Vania dengan dress formal kantoran. Di tambah lagi, make up yang sedikit berani, menggunakan lipstik merah menyala.


 


“Kalau setiap hari ditemani bidadari begini, Mas pasti sangat semangat kerjanya sayang.” Puji Sony dengan senyumnya yang manis.


 


“Nggak usah gombal deh, Mas!” Vania lalu duduk di kursi kosong dekat Sony.


 


“Mas bicara jujur, sayang. Hari ini Adik benar-benar cantik.” Terus menatap Vania tanpa berkedip dan melebarkan senyumnya.


“Berarti, hari-hari kemarin Adik nggak cantik, dong?!” lirik Vania tajam sambil memanyunkan bibirnya.


 


“Cantik sayang, istriku memang selalu cantik.”


Salah lagi kan, di puji salah, nggak di puji apa lagi. Ah wanita, membuatku pusing saja. Batin Sony meratapi nasibnya yang selalu terpojok.


 


“Mas mau makan apa?”

__ADS_1


 


“Ehm, Mas mau coba nasi goreng, Dek.” Mengabsen makanan yang tersaji di meja.


 


“Oke, Adik ambilkan ya.” Vania lalu mengambilkan satu centong nasi goreng di piring dan menaruh scrumbel egg (alias orek telur) di pinggirnya. “Cukup, Mas?” tanya Vania samnil meletakkan piring itu di depan Sony.


 


“Cukup sayang.”


 


Sony lalu menyendokkan makanan ke mulutnya, tak di sangka ternyata ia merasakan efek yang luar biasa di lidahnya. Sementara Vania, ia menggigit sandwich buatannya.


 


“Kenapa sayang?” tanya Vania saat wajah Sony berubah pucat pasi saat mengunyah nasi goreng. “Nggak enak, ya?”


 


Sony lalu mengambil segelas air di sampingnya, ia meneguknya dengan cepat.


 


“Nasi gorengnya enak sayang, hanya saja sedikit kebanyakan garam.” Ucap Sony berusaha menata bahasa agar Vania tidak sakit hati.


 


“Yaah.... maaf sayang. Gagal deh! Ya sudah Mas makan sandwich-nya saja.”


 


“Jangan berkecil hati Dek. Mas akan tetap makan ini kok, masa istri sudah capek-capek masak buat suami malah nggak di makan. Kasihan dong.” Ucap Sony mengelus pipi Vania.


 


“Jangan di paksa kalau nggak enak Mas.”


 


“Ini masih bisa di makan sayang, hanya sedikit banget keasinannya.”


 


“Mas, yang namanya keasinan itu ya kebanyakan garam. Kalau asinnya sedikit ya berarti nggak keasinan dong!” celoteh Vania karena tak puas dengan jawaban Sony.


 


 


Aku yakin Mas hanya terpaksa memakannya karena menghargaiku, sebegitunya kamu berpura-pura agar aku tak berkecil hati Mas. Lelaki yang sangat baik, beruntungnya aku memilikimu.


***


Grand Luxury Hotel


Sony dan Vania berjalan menyusuri area hotel dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain. Gandengan itu seolah mampu membuat pasang mata betina liar semakin kegerahan. Namun memang ada beberapa yang menyukai pasangan serasi tersebut. Banyak karyawan, pasti banyak juga macam-macam sifat yang di miliki mereka.


 


“Eh lihat! Itu Vania bukan sih. Tumben banget dia bisa dandan secantik itu." Kata si A.


 


“Ah palingan juga salon yang menyulapnya, kan sekarang sudah jadi nyonya.” Jawab si B.


 


“Tapi sebenarnya tanpa make-up pun dia memang sudah cantik sih.” Sahut si C yang beda pendapat dengan si A dan si B.


 


“Sudah-sudah jangan terus membicarakan istri Bos, bisa-bisa kalian di tendang dari hotel ini!” sahut lelaki yang juga teman kerjanya.


 


***


Tak terasa, empat jam telah berlalu, di ruangan kerja Sony, Vania duduk di sofa tepat di depan meja kerja Sony. Ia duduk dengan menyilangkan kakinya sembari memainkan game di ponselnya.


 


“Sayang ...“ panggil Sony pelan, menghampiri Vania.


 


“Iya ... apa Mas?” Vania masih fokus dengan game-nya.

__ADS_1


 


“Sepertinya kita harus berangkat sekarang.” Menyelipkan anak rambut Vania yang berantakan menutupi wajah cantik istrinya.


 


“Sekarang?!” Teriak Vania karena terkejut. “Sebentar Mas, aku touch-up dulu. Vania mengeluarkan riasan dari tasnya. Bedak, lipstik, blash on, juga pesil alis.


 


“Dek, make up-nya masih belum hilang loh, kenapa mau di tambah lagi? Seperti ini sudah cantik.” Tutur Sony memperhatikan wajah Vania.


 


“Mas nggak tahu bagaimana perempuan berdandan, jadi Mas diam dulu ya, terima hasil akhir aja. Mas nggak mau kan, mempermalukan diri Mas sendiri karena membawaku?”


 


“Ah baiklah, Mas diam.” Memang seharusnya aku diam dan wajib mengalah. Kalau tidak jadi panjang urusannya.


 


Setelah Vania menyelesaikan riasannya, ia berlenggok di cermin yang berada di kamar, tepatnya di dalam ruang kerja Sony.


 


Sony menyusul, “Sudah cantik sayang, ayo kita berangkat. Teman Mas sudah menunggu.”


 


“Ayo, Adik sudah siap sekarang. Apa ada yang kurang Mas?”  tanya Vania sambil berputar ala model.


 


Dengan sigap, Sony menangkap dan menarik pinggang Vania ke pelukannya. Vania mendongak tepat wajah Sony di atasnya tak berjarak.


 


“Kurangnya, Mas tidak bisa menikmatimu sekarang, sayang.” Goda Sony, memang di pikirannya selalu mengarah ke hal ranjang.


 


Vania memukul dada Sony agar ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangnya.


 


“Dek, bagian ini terlalu seksi. Warna ini, gunakan saja saat hanya bersamaku, di kamar.” Sony berbisik lalu menyambar bibir Vania.


 


“Ehmmbbpp ....” Vania tak dapat berbicara saat bibir Sony melu**mat habis bibir merah Vania.


 


Vania mendorong tubuh Sony, akhirnya Sony melepaskannya dan tersenyum licik karena berhasil menggoda istrinya.


 


“Mas jahat ih. Berantakan, kan lipstiknya.” Gerutu Vania sambil menatap cermin di depannya.


 


“Sudah Mas bilang, itu terlalu seksi, terlalu merah sayang. Gunakan warna lain, bagaimana nanti kalau lelaki lain melihatmu?!” Sony mengomel hanya karena tak setuju dengan lipstik merah yang digunakan Vania.


 


“Ah iya, iya. Adik akan menggantinya, ribet banget sih Mas.” Lirik sinis Vania.


 


“Nggak boleh lawan suami ya, sayang....”


 


“Hehe ... iya Mas Sony sayaaang.... ganteeeeng ....” Vania lalu mencebik melengos.


 


Sony hanya tersenyum lalu keluar dari kamar sembari mengusap bibirnya yang terkena bekas lipstik Vania. Ia menunggu istrinya di sofa, terdengar ia sedang mengangkat telepon dari temannya.


 


“Dek, sudah belum. Ayo.” Teriak Sony.


 


“Iya Mas, sudah nih.” Vania berjalan menghampiri Sony, mereka berjalan bak pangeran dan ratu. Setiap karyawan yang berpapasan pasti selalu menyapa dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat ke atasan.


Bersambung...

__ADS_1


Gengs, tolong tingglakan jejak seperti biasa ya.. sudah hafal kan harus ngapain...


komen, like, vote gratis kok. Ga ada salahnya kan dukung author biar tambah semangat.🌷⚘❤❤ semoga kita sehat selalu❤❤🌷🌷⚘


__ADS_2