Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Lulus


__ADS_3

Dua bulan kemudian,


Di sekolah Vania, gedung yang biasa dengan aktivitas belajarnya, kini suasana kelas mendadak menjadi sepi tak berpenghuni. Tidak terlihat siswa dan siswi yang biasa berhamburan di setiap sudutnya. Justru di sebuah aula yang luas di sekolah Vania, terdapat ratusan siswa yang sedang merayan acara perpisahan serta kelulusan mereka. Tak lupa, wali murid juga di wajibkan datang untuk menyaksikan acara tersebut.


 


Rangkaian bunga di setiap sudut ruang aula itu membuat ruangan menjadi semakin indah, hiasan di panggung juga terlihat sangat elegan. Beberapa sambutan dan juga susunan acara membuat hiburan itu terasa hidup dan meriah. Banyak pentas seni yang ditampilkan oleh kelompok siswa kelas satu sampai kelas tiga, mulai dari musik, tari, teater dan lain sebagainya.


 


Vania yang lulus dengan nilai sempurna sangat membuat bangga kedua orang tuanya. Tak lupa, ia menargetkan langkah pasti yang akan diambilnya setelah ijazahnya keluar nanti. Bukan kuliah, ia hanya ingin bekerja, membantu meringankan beban kedua orang tuanya agar adik-adiknya bisa bersekolah tinggi. Tidak seperti dirinya.


 


 Vania memang lahir dari keluarga yang sederhana, berkecukupan. Tidak pernah kekurangan namun juga tidak lebih. Baginya, sekolah tinggi atau kuliah hanya akan membebani orang tuanya perihal biaya, meskipun sebenarnya orang tua Vania menginginkan anaknya menuntut ilmu lebih tinggi.


 


Setelah acara selesai, Vania berkumpul dan berfoto-foto dengan para sahabatnya untuk kenang-kenangan. Orang tuanya yang hadir juga mengambil beberapa gambar kelulusan Vania. Gadis itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya berwarna merah, rambutnya di sanggul sepadan dengan make up natural yang ia poleskan.


 


“Nduk, Bapak sama Ibu pulang dulu nggak pa-pa?”


 


“Iya Pak, Vania nanti pulang sama Dina ya? Sekarang masih mau menghabiskan waktu sama teman-teman soalnya, hehe...” ucap Vania.


 


“ya sudah, hati-hati nanti kalau pulang ya Nduk.” Ibu Vania berpesan pada anaknya.


 


Pukul 12.30, Vania sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya di aula. Tinggal tersisa beberapa orang di dalamnya. Ia duduk menghadap panggung sambil membawa air mineral di tangannya. Sesekali menyesapnya karena haus.


 


Mata-mata betina di dalam sana memperlihatkan ketertarikan hormon begitu menatap pintu masuk aula. Sosok lelaki gagah dengan membawa buqet bunga besar ditangannya tiba-tiba memasuki ruangan itu, hanya berbentuk siluet karena cahaya dari luar begitu silau. Semakin lama, bayangan itu mendekat, semakin jelas juga perawakan dan wajahnya.


 


 Lelaki itu mengenakan jaket hitam, berambut rapi klimis, kulitnya putih seperti tisu tak ternoda.


Para gadis di dalam aula mulai menata pakaian dan rambutnya yang sudah berantakan, memastikan juga make upnya tidak luntur oleh hawa panas yang  menyebabkan keringat bercucuran deras di berbagai sumber.


 


Vania yang tidak menyadari kehadiran lelaki tampan itu begitu cuek, fokus terhadap ponselnya. Sesekali melihat tingkah aneh teman-teman wanitanya.


 


“Kalian kenapa sih bengong?!”


Masih belum ada jawaban, Vania lalu memperhatikan sekitar, menengok ke samping kanan dan kirinya. Tak di temui sesuatu, ia menghela nafas panjang dan lanjut fokus dengan ponselnya.


 


Mas Sony, apa kamu lupa hari ini hari kelulusanku? Hari itu, Mas berjanji akan datang. Tapi mana? Dari kemarin bahkan Mas sama sekali tidak memberiku kabar, tidak membalas pesanku, telepon saja tidak Mas abaikan, tega sekali, apa Mas sudah melupakanku?


 


Vania semakin bersedih ketika bolak balik melihat, mengecek ponselnya yang sepi. Tak ada dering pesan masuk ataupun telepon dari seseorang yang ia harapkan.


 


Parfum itu? Vania menghirup aroma khas seseorang yang tidak asing di dekatnya. Matanya membulat sempurna ketika ia mendongakkan kepalanya ke atas dengan posisi duduk bersandar kursi.


 


“Hah?!” ia terkejut namun serasa berhalusinasi saja rasanya ketika melihat senyum tipis tanpa suara itu. Bayangan Sony menari di pelupuk mata Vania.


Ia mengucek matanya, dan memutar badannya lagi ke belakang. Memastikan kalau ini nyata. Bukan halusinasi semata.


 


“Dek,” sapa Sony singkat membuyarkan pandangan Vania.

__ADS_1


 


“Mas Sony datang?!” Vania lompat kegirangan menghamburkan pelukannya ke Sony, tak peduli beberapa pasang mata memperhatikannya. Sony lantas mengangkat tubuh Vania dan memutarnya bak cinderella yang menari dengan sang pangeran.  


 


“Selamat ya sayang atas kelulusannya. Maaf, Mas sudah mengabaikanmu dari semalam. Mas harus menyelesaikan pekerjaan Dek.“ Sony menurunkan Vania dan melepaskan pelukannya.


 


“Ehm, terima kasih Mas.” Ucap Vania mengangguk tersenyum manis sembari memperhatikan wajah tampan tersebut yang berdiri di depannya.


 


“Mas, apa tidak kurang besar bunganya?!” tanya Vania mendapati bunga big size yang terletak di meja belakang tempat ia duduk tadi.


 


“Nanti, Mas akan belikan setaman ya, sekarang ini dulu.” Goda Sony.


 


Teman Vania yang menyaksikan keromantisan tersebut seperti obat nyamuk, tak dianggap. Hanya sebagai penonton saja yang tidak berperan.


 


“Ehemmm!!” deheman Dina mengalihkan pandangan Vania.


 


“Eh, maaf ya.” Ucap Vania pada gerombolan temannya.


 


“Kalau mau pacaran di luar aja Van, jangan di sini. Sangat mengganggu!” ucap salah satu teman sekelasnya yang tidak begitu dekat dengan Vania. Ia merasa kecewa dan merutuki Vania karena bisa mendapatkan lelaki setampan Sony. Ia seperti tiada harapan dan tidak mempunyai kesempatan untuk mengenalnya. 


 


Banyak mata yang memandang sinis dan juga bangga, melihat Vania bersama pria itu. Vania tak memedulikannya, di hati dan pikirannya kini sedang ditumbuhi bunga-bunga yang bermekaran karena kedatangan Sony.


 


 


“Dek, kamu sangat cantik.”  Ucap Sony menatap lekat netra Vania, Sony memiringkan kepalanya memperhatikan setiap inci riasan Vania yang duduk rapat di sebelahnya.


 


“Jangan memandangku seperti itu Mas, aku malu.”


 


“Sudah berapa lama kita menjalin hubungan? masih saja malu Dek.” Sony terkekeh mendengar pengakuan Vania.


 


“Satu tahun lebih, lama juga ya Mas. Tak terasa. Tapi tetap saja kan kita tak pernah bertemu. Makanya aku harus adaptasi lagi Mas kalau sedang bersamamu. Hehe...” Vania tersenyum manja.


 


“Terus rencana Adik ke depannya bagaimana? Kuliah?” tanya Sony.


 


“Tidak. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk kuliah Mas. Lagi pula aku juga tidak mau membebani Bapak sama Ibu masalah biaya. Justru aku ingin membantu mereka agar Adik-adikku bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Itu harapanku.”


 


“Sayang sekali, padahal nilaimu bagus Dek.”


 


“Mas tahu dari mana nilaiku bagus?”


 


“Hanya menebak. Hehe...” Sony keceplosan perihal nilai Vania. Sebenarnya ia tahu dari Sinta, sekretarisnya yang selama ini menjadi guru Vania.

__ADS_1


 


“Kalau Mas bantu menguliahkanmu? Apa Adik mau?”


 


“Ah Mas. Jangan asal berbicara. Mas pikir kuliah itu murah? Mas juga harus menabung buat masa depan. Jangan suka hambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak jelas.”


 


“Sejak kapan membiayai kuliah menjadi hal yang tidak jelas Dek? Kalau hanya membiayai kuliah Adik. Insya Allah Mas sanggup.”


 


“Tidak segampang itu Mas. Apa kata Bapak Ibu nanti, kalau Mas membiayai kuliahku? Sedangkan status kita hanya berpacaran. Mereka tidak akan setuju Mas.” Terang Vania menjelaskan panjang lebar. “Sudahlah Mas, jangan paksa aku, lagi pula aku ingin mengistirahatkan kepalaku. Aku sudah capek memikirkan pelajaran.” Keluh Vania.


 


“Lalu? Adik mau apa? Atau mau menikah saja?” ucap Sony tak mengontrol perkataannya. Jari Vania langsung bergerak cepat menuju lengan Sony, mencubitnya.


 


“Jangan aneh-aneh!” Vania memicingkan matanya, melirik tajam Sony.


 


“Auw! Sakit juga cubitanmu Dek. Sudah mulai nakal ya sekarang.” Sony membungkuk dari kursinya dan memandangi Vania yang tingginya tak sejajar meskipun sedang duduk.


 


“Nikah itu tidak aneh Dek. Justru halal. Kita bisa bebas melakukan apa saja.”


"Melakukan apa saja?!" Vania mengerutkan keningnya begitu ia tersadar akan maksud kalimat Sony, ia kembali menatap tajam ke mata Sony yang sudah mulai berpikir ke arah jauh entah ke mana. Kali ini ia melayangkan tangannya, meninju lengan kekar Sony.


 


 


Bersambung...


.


.


Maaf ya kalau tulisannya belum sempurna. Alur cerita juga masih acak-acakkan. Ini karya pertama othor dan masih tahap belajar juga. Jadi sudah di pastikan masih banyak kesalahan. Tapi othor akan berusaha semaksimal mungkin untuk ke depannya. Terima kasih yang sudah setia membaca.💚💚


Othor percepat jalan ceritanya aja biar kalian tidak bosan.😁


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... ...


...💚😍💚...


...Happy Reading...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 

__ADS_1


__ADS_2