Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Menunggu Kabar


__ADS_3

Di tempat lain, di rumah Vania. Dia sedang berada di kamarnya setelah seharian lelah dengan kebersamaan di danau dengan teman-temannya. Dia berbicara dengan boneka yang di beri nama Beary, pemberian dari Sony kebiasaannya setiap malam sebelum tidur yang selalu dia lakukan selain memeluk jaket Sony yang beraroma parfum andalan lelaki itu.


 


“Beary, kamu tahu enggak sebelumnya aku tak pernah menyukai boneka, bahkan aku takut dengan boneka karena sering menonton film horor yang bertema boneka hidup yang sangat mengerikan. Tapi karena kamu pemberian Mas Sony, aku akan menyayangimu dan merawatmu. Jangan khawatir aku tidak akan menelantarkanmu. Tapi kamu jangan membuatku takut ya, bersikaplah selayaknya boneka mati tanpa kehidupan dan bertahanlah menjadi sosok yang imut, jangan pernah ada kehidupan di badan kamu. Oke. Hehe ,,,” melawak dengan pembicaraannya sendiri sambil merebahkan dirinya ke ranjang.


 


Dia lalu mengambil jaket Sony di gantungan lemari, memeluknya sambil tiduran dan sesekali memeriksa ponselnya yang sepi, tiada pesan yang masuk sejak sore. Hanya menunggu satu orang yang selalu memberi ucapan selamat malam dan selamat tidur, tapi kali ini nihil hingga pukul 22.00.


 


“Ke mana kamu Mas, kenapa tidak membalas pesanku? Apa kamu terlalu sibuk hingga melupakanku?” Vania terus menciumi dan memeluk jaket Sony.


 


“Beary, dia tidak membalas pesanku. Apa dia sibuk? Apa dia sedang bersama seseorang? Kenapa sampai malam begini belum memberiku kabar?!” membalikkan badannya menghadap ke boneka di samping kiri, lagi-lagi mengeluh kepada beary.


 


Mas, aku merindukanmu. Kamu ke mana? Aku sangat menunggu pesan darimu.


drttt....drttt....


Ponsel Vania bergetar tanda pesan masuk.


 


“Dek, sudah tidurkah? Maafkan Mas telat memberi kabar.” Vania terperanjat duduk membaca pesan dari Sony. Sedikit kesal namun tetap. Senang karena akhirnya yang di tunggu peka juga.


 


“Aku menunggu Mas Sony dari tadi. Sangat lama.” Balas Vania sedikit sewot.


 


“Jangan marah Dek, maaf Mas tadi sibuk membereskan barang-barang. Boleh Mas telepon?” tanya Sony yang ingin melihat wajah Vania.


 


“Boleh.”


 


Panggilan video masuk, Vania yang sedang rebahan dengan rambut acak-acakan terkaget dan segera melonjak mencari sisir serta bedak dan tak lupa dia juga mencoret bibirnya dengan lipstik agar terlihat cantik di depan Sony.


 


Dasar betina ribet, sok jaga imej. Hahhaha. Ada yang seperti ini g sama gebetan nggak guys?😂


 


“Mas, kenapa video call. Katanya mau telepon.” Vania mengangkat dengan menggerutu.


 


“Assalammualaikum....” sapa Sony adem.


 


“Waalaikumsalam, menata poni dan rambutnya yang berantakan.


 


“Belum juga salam kok sudah marah-marah Dek? Kenapa? Ngambek gara-gara Mas tidak memberi kabar?” tanya Sony menggoda.


 


“Mas tadi ke mana saja sih?! Menghilang gitu aja.” ketus Vania merajuk seperti anak kecil.

__ADS_1


 


“Sebentar, Mas akan jelaskan. Sebelumnya Mas mau bertanya boleh Dek?!” senyum Sony terlihat menghias di layar HP Vania.


 


“Tanya apa?!”


 


“Adik sengaja dandan begitu buat Mas?! Tidak perlu dandan sudah cantik Dek, pantas saja angkat teleponnya lama tadi.” Sony menutup bibirnya yang sedang tidak bisa menahan tawanya karena melihat kelucuan Vania.


 


“PD banget sih Mas, dari tadi aku sudah begini tahu. Aku dandan bukan buat Mas Sony, aku tadi kan baru saja keluar jadi belum hapus make up.” Jawab Vania menutup malu. “Mas jahat ih, tega menertawakanku.” Lanjutnya membuang muka namun masih menghadapkan ponselnya ke arahnya.


 


“Bukan begitu Dek, hanya saja Mas sangat gemes melihatmu seperti itu. Terlihat sekali itu bedak sama lipstiknya belum rapi sempurna. Pasti karena buru-buru tadi.” Masih menahan tawanya agar tidak keluar begitu saja, Vania pasti akan marah jika Sony terus menertawakannya.


 


“Ya sudahlah, Mas tidur saja. Sudah malam. Aku juga sudah mengantuk.” Vania berdalih menyudahi panggilannya karena sudah terlanjur malu karena ketahuan. Dia meletakkan ponselnya di atas bantal menghadap ke langit. Sambil menghapus lipstik yang ketebalan dan bedak yang memang belum rata. Sungguh sangat memalukan.


Dasar bodoh kamu Van, memalukan sekali bisa-bisanya ketahuan dandan buat Mas Sony. Bukannya terlihat cantik malah jatuhnya seperti ondel-ondel. Batin Vania.


 


“Dek, jangan marah begitu. Mas hanya bercanda, oke Mas minta maaf, tidak akan membahas bedak sama lipstik lagi. Sekarang mana wajah manismu, Mas mau lihat.” Ucap Sony membujuk namun tidak bisa menahan senyumnya yang masih sedikit terpancar.


 


“Mas masih menertawakanku? Tertawa saja terus sampai besok.” Vania berakting marah karena sebenarnya dia sedang menyembunyikan malunya.


 


“Dek, Mas sudah tidak tertawa ini. Serius, Mas mau bercerita sedikit soal tadi kenapa Mas tidak memberimu kabar.”


 


 


“Mana wajahnya? Mas mau lihat. Masa Mas ngomong sama lampu?! Mas merindukanmu Dek, bisa tunjukkan senyummu sedikit saja? Jangan marah-marah terus.” Ucap Sony .


 


Vania lalu menghadapkan ponselnya ke wajah manisnya itu. Namun masih terdiam sedikit mengerucutkan bibirnya pura-pura merajuk. Aku juga sangat merindukanmu Mas,


 


“Nah gitu dong, kan cantik. Sayang kalau tidak di pandang. Hehe...”


 


“Mau cerita apa Mas?” sela Vania.


 


“Mas tadi pindahan ke rumah om Dek, jadi sibuk mengangkut barang-barang dari kontrakan. Dari habis magrib sampai sekarang baru selesai. Makanya Mas tidak sempat pegang HP.”


 


“Kenapa pindah Mas?” tanya Vania terkejut.


 


“Mas hanya di suruh menjagakan rumah Dek, karena om sedang bekerja di luar kota. Jadi dari pada rumahnya kosong, mas di suruh tinggal di sana.” Jelas Sony.


 

__ADS_1


“Terus sekarang Mas kok masih di kontrakan? Nanti masih tidur si situ?”


 


“Mas tinggal bawa satu tas saja Dek nanti, jadi Mas sempatkan telepon dulu karena Mas juga kaget tadi melihat jam ternyata sudah pukul sepuluh dan belum mengabarimu dari sore, maaf ya. Adik pasti menungguku.” terang Sony.


 


“O begitu, kukira tadi Mas sedang bersama dengan seorang wanita.” Jawab Vania lugas.


 


“Dek, jangan pernah berpikir seperti itu. Mas tidak suka. Bukankah sudah berulang kali Mas bilang, Mas tidak tertarik sama sekali dengan wanita lain kecuali kamu. Dan ingat Dek, Mas bukan tipe lelaki yang suka mempermainkan wanita. Jadi kalau Mas sudah menemukan satu perempuan. Insya Allah Mas tidak akan berpaling. Paham?”


 


“Iya maaf Mas, aku hanya was-was saja. Takut kalau itu terjadi. Perempuan mana pun juga pasti akan berpikir seperti itu ketika menjalin hubungan jarak jauh Mas.”


 


“Intinya saling percaya Dek, kalau Adik berpikir negatif terus justru itu akan membuatmu semakin tidak tenang. Di hantui rasa takut karena pikiran sendiri.” Ucap Sony disertai dengan respon anggukan dari Vania.


 


“Iya Mas, aku paham. Aku percaya kok sama Mas Sony. Aku akan berusaha membuang jauh pikiran negatif itu.” Jawab Vania dengan melas.


 


“Bagus, harus Dek.”


 


“O iya Mas, terus kontrakan di situ kosong dong? Ya,,, sayang sekali padahal rumah itu nyaman banget, banyak pepohonan di sekitarnya, tenang, tidak bising suara kendaraan, udaranya juga sejuk Mas.”


 


“Adik suka rumah itu?”


 


“Ya suka Mas, kalau sudah di situ rasanya seperti tidak ingin kembali ke kos. Hehe.”


 


“Nyaman karena rumahnya atau karena ada Mas Dek?” Sony menggoda lagi.


 


“Dua-duanya. Hehe,,,”


 


“Dek, sudah hampir jam sebelas loh, tidur ya. Besok kan sekolah.” Sony melihat jam di layar bagian atas.


 


“Iya Mas, Mas juga cepat istirahat.”


 


Setelah mereka berpamitan, menutup telepon Vania langsung tertidur pulas dan Sony masih berkutat dengan kegiatannya yang belum juga selesai. Memasukkan sebagian barangnya ke dalam ransel, dan merapikan rumah kontrakan itu sebelum di tinggal kemudian dia menunggangi motornya menuju rumah Pak Irawan. Karena mulai malam ini dia tidur di sana. Bersiap untuk besok memulai kehidupan baru.


 


Bersambung.....


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar ya, vote juga.


Terima kasih💚💚😍🤗


__ADS_2