Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kantin Elit


__ADS_3

Lelaki bertubuh jenjang itu berdiri di depan jendela, matanya menembus jauh pemandangan kota di siang hari, ia melihat suasana dari dalam kamar hotelnya. Sesaat terbesit dalam pikirannya untuk menemui Vania. Setidaknya satu hari saja dia bisa melepas rindunya.


Dari saat Vania pergi meninggalkannya kembali ke kota asalnya, Sony selalu mengkhawatirkannya, selalu gelisah merasa tidak tenang. Dia berpikir hingga tak dapat berkonsentrasi ketika melakukan apa pun. Otak dan hatinya selalu di penuhi nama Vania.


Kenapa jatuh cinta seperti ini rasanya, aku suka mengingatnya, aku suka mendengar suaranya, aku juga suka melihat wajahnya. Namun kenapa harus merasakan kegelisahan dan kekhawatiran yang begitu dalam? Apakah ini wajar? Apa aku yang memang terlalu berlebihan dan rumit? Sony melamun dalam diamnya dan bergumam dalam hati.


“Son, aku lapar. Ayo kita makan siang.” Ucap Beni yang keluar dari kamar membuyarkan lamunan Sony.


“Eh, sudah bangun Ben? Katanya suruh bangunkan kalau mau pulang?!” ujar Sony melangkah maju ke arah Beni.


“Sudah tidak tahan. Perutku keroncongan. Ayolah cepat. Makan di bawah saja.” Ajak Beni sambil memakai jas yang tadi di lepasnya karena tidur.


“Mau makan di kantin enggak Ben?!” ucap Sony sengaja menggoda Beni yang anti makan makanan sembarangan. Sifat sombongnya dari kecil begitu melekat, bahkan makan pun harus di tempat yang super bersih.


“Ah tidak, tidak!” masa makan bareng sama karyawan sih, pasti rame banget. Aku enggak bisa! Belum lagi tempatnya, aku membayangkan saja sudah bergidik ngeri.” Ucap Beni menghina.


“Hei! Jangan sembarangan Ben. Enak saja kau mengatai kantin hotel ini seenaknya. Kamu belum pernah melihatnya jadi jangan berasumsi sendiri. Kantin di sini sangat rapi, bersih, dan makanannya juga tak kalah enak. Jadi sebaiknya kita coba ke sana, jangan di restoran. Aku tidak biasa.” Sony membuka pintu ruangan itu.


“Tapi bukankah hidangan untuk karyawan sudah di atur ya? Maksudku pasti setiap hari cuma satu atau dua jenis makanan, ya kan? Mana bisa aku memilih makanan yang aku inginkan?” protes Beni yang lagi-lagi tidak menyetujui ajakan Sony untuk makan di kantin.


“Sudahlah, jangan banyak bicara. Kau ikut saja. Nanti juga akan tahu.” Membalikkan badannya ke belakang menatap tajam Beni agar segera mengikutinya.


“Iya, iya.  Sabar.” Jawab Beni singkat tapi tetap mengikuti Sony dari belakang.


Mereka turun menggunakan lift menuju lantai dasar, melewati koridor cukup panjang untuk ke kantin karena letaknya di belakang gedung yang langsung bisa melihat pemandangan halaman belakang, jadi siapa pun yang makan di sana pasti akan nyaman menikmati alam bebas. Se sampainya di kantin. Beni cukup terkejut melihat area kantin yang begitu luas dan bersih yang terbagi dua bagian. Satu tempat besar untuk kantin khusus karyawan dan anak magang, satu lagi tempat di sebelahnya adalah food court, di sana banyak penjual makanan bebas untuk siapa pun, makanan yang mereka jual pun tidak kalah enak seperti di restoran. Beni takjub sejenak memutar bola matanya menyapu setiap sudut yang dilihatnya.


“Son, hebat sekali.”


“Makanya, kalau belum tahu jangan seenaknya menebak-menebak dan berbicara tanpa aturan.” Ucap Sony menggerutu.

__ADS_1


“Iya maaf. Aku baru tahu konsep kantin seperti ini, padahal aku sering menjelajahi berbagai hotel.” Ujar Beni berjalan melihat dan menimbang-nimbang di mana dia akan duduk dan apa yang akan di makannya.


“Mau makan apa?!” tanya Sony.


“Aku bingung. Di sini yang paling enak apa?”


“Semuanya enak. Apa kamu masih suka makan spageti carbonara?” tanya Sony mengingat makanan ke sukaan Beny dulu.


“Adakah di sini? Aku mau mencobanya Son. Aku masih sangat menyukainya.” Ucap Beni.


“Itu, di paling ujung makanan italia.” Sony menunjuk dengan dagu dan alisnya.


“Keren sekali. Di sini ada berbagai makanan dari negara lain ya Son. Om Irawan benar-benar hebat. Ini sih bukan food court lagi, tapi restoran.”


Mereka berjalan menuju bangku paling ujung dan memesan makanan kesukaan mereka. Cukup banyak orang yang makan di sana namun tidak ada suara gaduh yang terdengar. Suasana yang begitu santai membuat nyaman berlama-lama berada di kantin.


Setelah beberapa menit mereka menunggu, akhirnya makanan yang mereka pesan datang.


“Makanlah dulu, nanti kita bicarakan.” Jawab Sony yang memang tidak menyukai obrolan ketika makan karena sudah biasa makan dengan diam.


“Dari dulu kau tidak berubah ya Son, makan dalam keheningan, tidak seru.” Ujar Beni yang hanya di balas tatapan oleh Sony.


...


“Bagaimana mengenai pertanyaanku tadi?!” tanya Beni sambil menyingkirkan piring kotornya ke ujung meja setelah ia menyelesaikan makannya.


“Belum tahu, kau menanyakan ini padaku, apa kamu tidak berpikir, kamu kan yang lebih tahu standar hotel Ben, permasalahan apa yang seharusnya di benahi.” Ujar Sony.


“Kau kan yang lebih lama di sini, harusnya kamu tahu.” Jawab Beni sedikit meninggikan suara.

__ADS_1


“Aku memang di sini lama, tapi tidak mengurus hotel. Aku hanya bekerja sebagai security yang menjaga keamanan.” Penjelasan Sony begitu mengejutkan di telinga Beni. Dia tidak tahu kalau profesi Sony ternyata sebelumnya hanya sebagai security.


“Ha?! Serius kamu Son? Kok bisa? Kenapa om Irawan menyuruhmu di bagian security? Sekarang saja om memberikan hotelnya ke kamu. Kenapa tidak dari dulu?!” kejut Beni setelah mendengar pernyataan Sony.


“Aku sendiri yang menginginkan menjadi security, bukan atas perintah om Irawan. Kalau sekarang om memberiku amanah untuk merawat hotel ini, ya karena Om sedang sibuk mengurus hotel di kota lain.” jelas Sony dengan semangat.


“Aku tidak habis pikir Son. Kenapa kamu mau sih jadi security, kerja kotor-kotoran terkena polusi di pinggir jalan panas-panas.” ujar Beni keheranan.


“Aku suka Ben, bagiku hidup sederhana seperti orang biasa lebih santai, tidak kebanyakan pikiran. Dan yang pasti jauh dari berbagai masalah.”


“Kalau aku sih ogah Son, orang tua duit banyak bukannya dimanfaatkan malah pilih hidup susah. Apalagi Om Irawan, dia tipe orang yang tidak pelit, royal banget sama siapa pun. Termasuk kamu kan keponakan tercinta satu-satunya.”


“Ya, kalau di suruh pilih lebih baik jadi anaknya om Irawan daripada orang tuaku yang sama sekali tidak pernah memahamiku.” Keluh Sony mengungkapkan unek-uneknya pada Beni.


“Memangnya ada masalah apa dengan orang tuamu Son sampai kamu bisa berkata seperti itu?” tanya Beni ingin tahu permasalahan sahabatnya.


“Beberapa tahun yang lalu, mereka mau memberikanku perusahaan yang di Jakarta tetapi harus mau juga di nikahkan sama anak rekan bisnisnya. Dari situ aku memutuskan untuk menjauh dari mereka. Aku tidak mau permainan bisnis mereka yang menjual masa depan anaknya. Aku melihat kak Dony tidak pernah bahagia karena di jodohkan. Dari awal dia hanya menuruti semua apa kata papa.”


“O begitu permasalahannya, yang sabar ya Son. Tidak usah terlalu di pikirkan. Tapi kalau bisa, sebaiknya jaga hubungan kamu dengan orang tuamu. Jangan terlalu membenci mereka.”


“Aku tidak benci, hanya saja aku menghindari perdebatan yang tiada habisnya. Kalau aku tetap bersama mereka, yang ada aku semakin memproduksi dosa dan menyakiti hati mereka, meskipun sebenarnya hatiku juga sakit mendengar makian papa dan mama.”


“Terserah kamu saja Son, bagaimana baiknya. Aku doakan semoga hubungan kalian semua cepat membaik ya.”


“Iya, terima kasih Ben.”


.


.

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2