Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Danau


__ADS_3

Akhirnya Vania berhasil lolos dari Ega. Dia berangkat dengan Kiki, tak lama kemudian teman-temannya berangkat menyusul.


 


“Ki, terima kasih ya kamu sudah membantuku.” Ucap Vania.


 


“Santai aja kali Van, bukan masalah besar.” Jawab Kiki.


 


“Kamu tidak takut Widya marah sama kamu?”


 


“Biar saja marah, lagi pula masa hal sepele begini saja mau marah sih.” Jawab Kiki sambil berkonsentrasi mengendarai motornya.


 


Sementara itu, Sony yang selalu khawatir memikirkan Vania merasa tidak tenang.


Dengan siapa Vania berangkat? Apa benar dia dengan teman perempuannya? Atau jangan-jangan Ega bisa membujuknya agar berboncengan dengannya? Ah, semoga saja tidak. Batin Sony.


Sepertinya aku harus meminta tolong Leo, ya Leo. Dia kan juga teman sekelasnya Vania. Pasti dia juga ikut ke danau. Tapi aku tidak mempunyai nomor HP nya. Oh ya, staf bagian resepsionis pasti ada yang mempunyai nomornya. Sony terus berpikir dan merasa gelisah.


Dia bergegas menuju resepsionis untuk mendapatkan nomor Leo. Ya, Leo memang magang di bagian Front Office, berbeda dengan Vania yang berada di departemen House Keeping.


 


“Pagi Pak,” sapa Sony kepada seorang Bapak-bapak yang sedang berjaga di resepsionis.


 


“Pagi Mas, ada apa? Tumben ke sini.” Jawab Pak Noval yang sedang sibuk menulis.


 


“Maaf Pak mengganggu sebentar, mau tanya, apakah Pak Noval mempunyai nomornya Leo?”  tanya Sony tanpa basa basi.


 


“Leo siapa? Apa Leo anak magang yang waktu ituMas?” tanya Pak Noval sambil berpikir.


 


“Betul Pak, ada perlu penting soalnya.” Jawab Sony.


 


“Sebentar, sepertinya punya Mas. Tapi tidak tahu masih aktif atau tidak.” Pak Noval mengeluarkan ponselnya. “saya kirim ke Mas Sony ya,” lanjutnya.


 


“Iya Pak, sudah masuk. Terima kasih Pak Noval atas bantuannya, saya permisi dulu.”


 


“Iya Mas,”


 


Sony kembali ke pos dan mencoba menghubungi Leo, berharap dia masih menggunakan nomor yang sama.


“Syukurlah masih aktif,” gumam Sony sambil melakukan panggilan yang masih berdering belum diangkat.


 

__ADS_1


“Halo, siapa ya?!” Leo menerima panggilan dari Sony.


 


“Halo Leo, ini saya Sony.”


 


“Loh, Mas Sony security hotel? Kenapa Mas? Ada apa tumben meneleponku?” tanya Leo penasaran.


 


“Langsung saja ya, saya mau minta bantuan kamu Leo.”


 


“Bantuan apa Mas?”


 


“Apa kamu sekarang pergi ke danau?” tanya Sony.


 


“Iya Mas, tapi masih belum berangkat. Eh, kok Mas Sony tahu kita mau pergi ke danau? Oh iya lupa Mas kan pacarnya Vania ya. Hahaha.” Leo menertawakan kebodohannya, bertanya namun ia sendiri yang menjawab pertanyaan itu. “Apa yang bisa kubantu Mas?!” lanjutnya.


 


“Saya minta tolong, tolong awasi Vania. Terus terang saya tidak mau dia dekat dengan Ega. Dia terlalu nekat untuk mendapatkan Vania. Ya meskipun saya tahu, kamu temannya Ega. Tapi saya juga bingung harus meminta pertolongan siapa.” Terang Sony menjelaskan keinginannya.


 


“Oh kalau itu bisa Mas, gampang. Lagi pula saya juga tidak terlalu dekat dengan Ega. Karena sifatnya memang keras. Suka menang sendiri. Yah, malah curhat. Hahaha” jawab Leo.


 


“Terima kasih ya Leo, Saya juga akan sangat senang kalau setiap hari kamu mengirim video kegiatan Vania di sekolah. Maaf, Saya sudah merepotkan kamu. Dan satu lagi Leo, jangan cerita ke Vania kalau saya menghubungi kamu ya. Takutnya dia akan marah karena saya tidak percaya dengannya.” Jelas Sony sedikit lega karena Leo bersedia menolongnya.


 


 


“Leo tolong kirimi segera. Saya tidak mau jika saya merugikanmu.” Jawab Sony.


 


“Baiklah kalau Mas memaksa, akan segera saya kirim.”


 


“Sekali lagi terima kasih banyak ya Leo.” Ucap Sony.


 


“Iya Mas, sama-sama.”


 


Mereka mengakhiri teleponnya. Leo bergegas pergi ke tempat parkir untuk mengambil motor karena ia juga akan segera berangkat ke danau.


 


“Eh, lihat Vania enggak?!” tanya Leo kepada salah satu temannya.


 


“Sepertinya tadi boncengan sama Kiki.”

__ADS_1


 


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya.” Jawab Leo lega.


 


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai ke danau. Tempat yang asri, nyaman, sejuk dan begitu menenangkan. Terlihat beberapa perahu dan speed boat di tengah danau, juga para pengunjung yang memenuhi tepi danau. Pepohonan yang hijau menghiasi sekitarnya.



Mereka kemudian duduk di lesehan dengan memesan beberapa minuman dan makanan sambil melihat indahnya pemandangan alam yang nyata di depan mereka.


“Van, kamu tadi sama siapa. Kenapa menghilang begitu saja?!” tanya Ega menghampiri Vania.


 


Ya Allah, dia lagi. Kenapa kamu selalu muncul sih Ga. Membuat moodku berantakan saja. Gumam Vania yang sedang memandangi perahu di tengah danau.


 


“Van. Aku lagi bicara.” Bentak Ega memegang lengan Vania.


 


“Apa sih Ga ya Allah. Kenapa sih kamu selalu menggangguku? Bisakah kamu menjauh dariku?!” Vania menepis tangan Ega.


 


“Aku cuma tanya Van, apa salahnya sih tinggal jawab. Kenapa aku tidak melihatmu tadi ketika di perjalanan, kamu berangkat sama siapa?” Ega bertanya paksa.


 


“Aku berangkat sama Kiki. Puas?! Sudah diam, jangan banyak tanya. Aku lagi pengen menenangkan pikiranku.


 


“Eh ayo naik perahu itu,” seru Dela pada Vania dan Kiki yang duduk bersebelahan.


 


“Kalian saja, aku takut.” Jawab Vania. Dari dulu dia memang takut jika harus terlalu dekat dengan air yang luas, seperti kolam renang, pantai, kalau di danau seperti sekarang, dia sangat menikmati pemandangannya dari kejauhan. Tetap saja untuk berada di tengah-tengahnya, walaupun naik perahu atau kapal sekalipun, sangat mustahil baginya. Bisa-bisa dia akan pingsan jika memaksakan diri.


 


Alasannya bukan hanya tidak bisa berenang, namun lebih ke trauma karena dia pernah tenggelam waktu SD. San berulang lagi di bangku SMP. Namun hanya Dina yang tahu akan trauma Vania.


 


“Siapa saja yuk yang mau ikut, kita barengan.” Ajak Dela yang begitu antusias ingin menaiki perahu.


 


“Van, aku temani yuk, dari pada di sini sendirian. Tenang saja, ada aku. Kamu pasti aman.” Sahut Ega di sela-sela pembicaraan Dela.


 


Sementara itu dari kejauhan, Leo sedang memperhatikan gerak gerik Ega. Dan tiba-tiba. Leo sangat terkejut ketika Ega memaksa Vania kemudian menggendongnya. Tanpa sengaja adegan itu terekam oleh HP Leo yang berniat akan di kirim ke Sony sebagai laporan. “Eh mau ngapain itu si Ega.” Gumam Leo langsung berdiri dan menyusul mereka. Tampak Vania yang berontak seperti ingin lepas namun tidak bisa. Beberapa mata yang melihat malah bersorak ria menyaksikan adegan gendongan itu, padahal yang sebenarnya terjadi adalah pemaksaan.


 


Leo berlari menyusul namun terlambat, Ega cepat membawa Vania ke perahu kecil itu. Leo pun tercengang dan hanya terdiam bingung apa yang harus di lakukannya.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


tolong tinggalkan jejak yaa para readers...


like dan komen kalian penyemangat buat author.


__ADS_2