Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Tertidur


__ADS_3

“Mas, kenapa pesan kamar ini? Apa tidak ada yang biasa saja. Kalau tidak, kita bisa memesan yang twin room (kamar dengan dua bed). Ini berlebihan, kan cuma buat tidur semalam Mas.” Tukas Vania begitu melihat bed di depannya yang terlalu besar.


 


“Kalau ini kan bednya luas, jadi kamu bisa tidur nyenyak, sayang.” Ucap Sony sambil merapikan paper bag di luggage rack.


 


“Sayang uangnya Mas.” Protes Vania yang merasa Sony sangat boros. “Terus Mas Sony jadi pesan dua kamar?” lanjut  Vania bertanya sambil memperhatikan sekeliling isi kamar.


"Apapun untukmu, Mas akan berusaha membuatmu nyaman Dek." sahut Sony.


“Terima kasih, Mas.” Ujar Vania yang langsung di balas dengan anggukan pelan disertai senyuman oleh Sony.


"Dek, kamar Mas di sebelah ya, Mas mau salat sebentar. Adik beristirahatlah dulu." tutur Sony.


"Iya Mas, nanti kalau sudah selesai panggil aku ya."


"Iyaa sayang."


.


.


Setelah Sony selesai sholat, ia kembali mengetuk pintu kamar Vania untuk mengajaknya kembali ke rumah sakit menjenguk Papanya yang tadi sempat tertunda karena harus pergi ke mall mencari kebutuhan.


Tok Tok Tok


"Dek, ini Mas. tolong buka pintunya."


Lama tak mendapat jawaban, Sony mulai panik dan menggedor-gedor pintu kamar Vania semakin keras.


Ia langsung menuju resepsionis untuk mendapatkan kunci lagi agar bisa masuk ke kamar Vania. Perasaan panik semakin membuatnya tak terkendali dan tidak bisa berpikir jernih. Di pikirannya hanya tajut Vania kenapa-kenapa.


Begitu Sony membuka pintu itu, jauh dari perkiraan Sony, ternyata ia tertidur lelap berselimut bed cover tebal berwarna putih dengan AC yang begitu dingin, membuat tidurnya nyenyak.


Dek, kenapa hobi sekali membuatku panik. batin Sony berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya.


Ia lalu melangkahkan kakinya mendekat ke tempat tidur Vania. Sony duduk di tepi sambil menatap lekat gadis yang tengah menikmati alam mimpinya.


Apa kamu capek Dek? Maafkan Mas ya dari kemarin Mas merepotkanmu, mengajakmu kesana kemari. Kasihan juga kalau aku membangunkannya. Gumam Sony sembari mengelus lembut kepala Vania.


Pada akhirnya, Sony memilih menunggu Vania hingga terbangun dari tidurnya. Ia merebahkan dirinya di sofa panjang di bawah jendela kamar. Sesekali pandangannya menerawang, memikirkan bagaimana nanti pernikahan mereka. Ia begitu excited ketika mengingatnya terus menerus.


Ditengah-tengan ia melamun, terdengar suara samar Vania yang sedang menyingkirkan bed covernya, ia meregangkan tubuhnya dan mengerjapkan matanya, sesekali ia menguap, tak sengaja ia melihat makhluk tampan tersenyum manis sedang memperhatikannya.


"Mas Sony!" kejut Vania.


"Sudah bangun? bagaimana tidurnya Dek? nyenyak?"


"Hem ... lumayan, Mas Sony kenapa bisa ada di sini? sejak kapan?"


"Sejak lima belas menit yang lalu Dek. Tadi Mas ketuk pintunya lama banget nggak di bukain. Mas pikir terjadi sesuatu sama kamu. Ya, akhirnya Mas ke resepsionis, meminta kunci lagi agar Mas bisa masuk dan memastikan keadaan kamu. Maaf ya Mas lancang masuk tanpa izin."


"Tidak apa-apa Mas, kita ke rumah sakit sekarang?" Vania menurunkan kakinya dari kasur itu.


"Iya, cuci muka dulu Dek biar seger."

__ADS_1


"Oke Mas." ucap Vania semangat, bergegas menuju kamar mandi.


🌷


🌷


Rumah Sakit Jakarta


“Pa, maaf ya baru sempat ke sini lagi. Papa bagaimana keadaannya? Apa masih sakit?” tanya Sony ketika memasuki kamar VIP Dahlia menemui Pak Gunawan.


 


“Papa jauh lebih baik, Son. Kata dokter besok Papa juga sudah bisa pulang kok.”


 


“Alhamdulillah, syukurlah Pa kalau begitu.”


 


“Mana gadis itu? Siapa tadi namanya Papa lupa, Vina? Vani?” tanya Pak Gunawan pandangannya menerawang ke atas mengingat-ingat nama Vania.


 


“Vania .. Pa,” Sony membenarkan. “Sini Dek,” panggilnya pada Vania yang tengah duduk di sofa karena sedang merasakan sakit perut haid pertama. Lumayan menyiksa namun ia tidak bilang pada Sony karena pada akhirnya lelaki itu akan heboh dan panik ingin memeriksakannya pada dokter jika Vania bercerita.


 


Vania berjalan mendekat di sebelah Sony, samping brankar yang di tiduri Pak Gunawan. Ia mengangguk pelan disertai senyuman ramahnya.


 


 


Raut wajah Sony tampak bahagia atas perubahan sikap Papanya. Tidak seperti sebelumnya yang selalu menuruti kehendaknya. Ia tersenyum pada Vania, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya meskipun ia tau Vania pasti akan menjawab ‘Ya.


 


“Saya ... saya bersedia Pak. Lagi pula Mas Sony juga sudah melamar ke orang tua saya kemarin.” Melirik ke arah Sony dan sesekali menunduk tanda sopan.


 


“Benarkah?” kenapa tidak menunggu Papa, Son?” ujar Pak Gunawan melihat ke arah Sony.


 


“Nanti kalau Papa sudah sembuh, sehat, kita temui orang tua Vania, Pa.”


 


“Tentu saja, tapi Papa tidak janji bisa membawa Mamamu. Dia sungguh sangat keras kepala.”


 


“Tidak masalah, Papa bisa datang aja Sony udah seneng banget.”


 

__ADS_1


“Apa anak saya pernah menyakitimu, Van?” tanya Pak Gunawan pada Vania, mengalihkan pandangan yang sebelumnya melihat Sony.


 


“Sama sekali tidak pernah Pak,” jawab Vania tersenyum, lagi-lagi ia memojokkan bola matanya ke samping melirik Sony yang sedang tersenyum samar.


 


“Saya senang kamu bisa mengambil hatinya Sony, mengisi hatinya yang kosong di saat dia sedang sendirian. Bahkan saya tidak pernah melihat Sony sebahagia itu ketika bersama wanita.” Tukasnya membuat Vania bingung, bagaimana ia harus menanggapi ungkapan Pak Gunawan. Vania merasa kasihan pada Sony jika membayangkan masa lalunya yang menyedihkan.


 


“Papa sadar Son, di masa lalu Papa terlalu egois, maafkan Papa sudah membiarkanmu hidup dengan Om mu, kamu terpaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Dan tidak pernah merasakan kasih sayang Papa sama Mama lagi.” Tuturnya pada Sony.


 


“Pa, sudah jangan membahasnya. Sony tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Bagi Sony ini memang sudah jalan takdir Sony, toh kalau Sony tidak hidup dengan Om Irawan selama ini, Sony tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang. Sony beruntung dan bangga pernah di rawat oleh Om Irawan Pa, jadi Papa tidak perlu merasa bersalah.”


 


“Tetap saja, Papa akan terus merasa bersalah. Jelas-jelas Papa pilih kasih antara kamu dan Kakakmu. Maafkan Papa,” ucap Pak Gunawan dengan suara gemetar menahan tangisnya. Tetapi ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air hangat itu dari matanya.


 


“Pa, Sony sudah memaafkan Papa sejak dulu. Sony akui dulu Sony memang sempat kecewa sama Papa dan Mama, tapi semakin lama Sony semakin sadar dan mengambil hikmah dari semua kejadian. Jadi Sony ikhlas. Sony tidak akan pernah menyalahkan Papa atau Mama, meskipun sampai sekarang Mama masih membenci Sony. Sony akan terus berdoa agar Mama dilembutkan hatinya dan menerima Sony kembali.” Jelas Sony berusaha membuat Pak Gunawan agar tidak terus merasa bersalah.


 


“Mama tidak pernah membencimu Son, dia sayang sama kamu. Hanya caranya saja yang salah, ia tidak memberimu pilihan dan selalu menuntutmu agar kamu berhasil.” Ucap Pak Gunawan lirih seakan tiada tenaga untuk berbicara karena sepertinya kelelahan.


 


“Iya Pa, Sony mengerti. Sudah sekarang Papa istirahat ya.” Perintah Sony.


 


“Iya, tapi kamu masih di sini kan sama Vania?”


 


“Iya Pa, kita di sini sampai malam. Besok pagi kita pulang ke Jogja. Tidak apa-apa kan Pa kami tinggal?” tanya Sony memastikan, Pak Gunawan hanya menjawabnya dengan anggukan lalu tak lama kemudian Pak Gunawan memejamkan matanya.


.


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...

__ADS_1


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


__ADS_2