
“Sayang, apakah boleh Mas melakukannya sekarang?”
Vania tak menjawab, ia hanya mengangguk pasrah karena ia juga sudah kelewat nikmat ingin sesuatu yang lebih. Akhirnya Sony menarik napasnya lega setelah mendapat lampu hijau dari Vania. Sony beringsut turun dari ranjang untuk mengganti lampu tidurnya, lalu melepas celana pendek yang di kenakannya, juga kain segitiganya. Ia menanggalkannya begitu saja di lantai dan segera mengatur posisi duduk di antara kedua kaki Vania.
Seketika mata Vania terbelalak namun langsung memejamkan matanya begitu melihat pusaka Sony tanpa penutup, ia merasa benda itu sangat aneh dan mengerikan hingga ia bergidik ngeri membayangkannya.
Yang benar saja, apa itu akan muat memasuki milikku?
“Mas, apa akan sakit?”
“Mungkin untuk pertama kali akan sedikit sakit sayang. Apa masih takut?”
“Sedikit takut.” Jawab Vania gugup.
“Mas tidak memaksa kalau memang belum siap.” nada bicara Sony sudah berbeda, kali ini mungkin sedikit menahan emosinya karena sudah setengah jalan ia beraksi. Tanpa sahutan dari Vania, ia lalu memundurkan dirinya bermaksud untuk turun ranjang dan menuju kamar mandi. Ia sangat frustasi kali ini, lagi-lagi harus menundanya.
“Mas tunggu!” Vania duduk dan menarik tangan Sony.
“Iya, kenapa sayang?!” hebat sekali Sony di saat badannya sudah panas dan menegang keras, ia masih bisa meladeni Vania dengan sabar.
“Jangan ke mana-mana. Tetaplah di sini.” Pinta Vania.
“Mas harus ke kamar mandi sayang. Sebentar ya.”
“Mas boleh melanjutkan yang tadi.” Ujar Vania dengan malu-malu, menundukkan kepalanya, tangannya menahan selimut yang menutup kedua bukit indahnya. Sebenarnya ia ingin melanjutkan karena penasaran dan sudah terlanjur basah di bawah sana.
“Apa?” Sony memastikan perkataan Vania.
“Mas boleh melanjutkannya.” Vania terpaksa mengulangi kata-katanya walaupun dengan malu-malu meong.
“Yakin boleh sayang? Apa Adik sudah ingin merasakannya?” goda Sony mendekatkan wajahnya ke Vania, memperhatikan istri cantiknya. Ia membuka selimut yang menutup tubuh polos Vania dan ikut masuk ke dalamnya, lalu menutupi kembali tubuh mereka. Sony mengungkung tubuh kecil istrinya, Vania pun mengalungkan tangannya ke leher belakang Sony.
“Adik tidak mau lebih banyak dosa lagi karena tidak memberikan hak pada suami, Mas. Vania melihat wajah Sony, sepertinya ia sudah sangat malu sekarang, karena menyuruh Sony untuk melakukan sesuatu yang lebih.
“Baiklah, Mas akan pelan-pelan sayang, kita berdoa dulu ya,” mengecup bibir merah Vania sebentar. Lalu mereka membaca doa sebelum bergaul.
__ADS_1
Sony membuka satu-satunya kain saat ini yang melekat pada tubuh istrinya, kain segitiga yang menjadi penghalang aksinya. Iq kemudian menyentuh halus lembah Vania dan memainkam jemarinya di sana. Tak lama, Sony lalu mengarahkan senjatanya yang mengeras itu ke sarang Vania. Meskipun sedikit kesulitan, ia tetap mencobanya terus.
Sesekali ia melahap dan menghisap lagi bukit kembar Vania yang ranum, ia seperti bayi yang kehausan menyusu pada ibunya. Sony begitu gemas karena mendapat mainan barunya kini. Ditambah lagi aroma tubuh wangi Vania yang begitu menggodanya.
Setelah cukup berusaha keras, akhirnya Sony berhasil menjebol dinding pertahanan itu. Ia mulai membuat gerakan keluar masuk namun dengan sangat hati-hati dan perlahan. Takut istri kecilnya itu akan kesakitan.
Sangat sakit, kenapa seperih ini. Apa aku harus menyudahinya sekarang, tapi aku terlanjur meminta Mas Sony untuk meneruskannya... Batin Vania sambil memegang pundak Sony, mencengkeramnya sangat kuat karena menahan sakit.
Vania belum tau aja kalao sudah naik ke puncak. Pasti bakal ketagihan. wkwkkw🤭
Vania menitikan air mata karena merasakan panas di area miliknya, benda itu terasa sangat mengganjal di antara kedua pahanya. Sony tak bisa melihat jelas reaksi istrinya karena lampu di kamar itu hanya redup, ditambah lagi Vania menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sony membuka tangan Vania yang menutup wajah cantiknya, sementara di bawahnya masih terus aktif bergerak.
“Sayang, apakah sakit?” tanya Sony, Vania menggelengkan kepala, ia berbohong agar Sony tak khawatir. Ia ingin Sony mendapatkan haknya meskipun ia harus menahan sakit.
Satu tangan Sony memainkan pucuk bukit Vania agar ia mendapat pengalihan.
Perlahan namun pasti, Vania sudah merasa terbiasa dengan pusaka itu, sakit itu perlahan mulai hilang. Yang ia rasakan sekarang hanya nikmat yang luar biasa yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Suara-suara aneh yang di keluarkan Vania dan Sony menggema di seluruh ruangan kamar hotel itu. Mungkin saat ini jika ada yang mendengarnya, seseorang itu akan malu sendiri. Vania pun juga sepertinya sudah tak ada rasa malu untuk mengeluarkan suara ******* nikmat bercampur sakit itu. Ia sudah tak peduli. Yang penting ia melampiaskan semuanya rasa itu.
Sony kemudian berbaring di sebelah Vania, mengelus pucuk rambut gadis kecilnya, eh sudah tak gadis lagi ding. Hihihi🤭
Sony lalu mencium kelopak mata sang istri, kedua pipinya, juga mengecup bibirnya dengan lembut.
“Terima kasih istriku, Mas sangat mencintaimu.”
“Iya Mas, Adik juga sangat mencintai Mas Sony.”
“Sayang, apa kamu menangis? Kenapa matanya basah?” Sony menatap wajah Vania intens ketika saling berhadapan.
“Tidak apa-apa, Mas.” Mengulas senyum tipis.
“Apa Mas menyakitimu?”
“Tadi waktu pertama kali sangat sakit sayang.”
“Ya, karena baru pengenalan Dek, apa sekarang masih sakit?” Maafkan Mas sudah menyakitimu sayang,...”
__ADS_1
“Tidak perlu minta maaf Mas, kan Adik bilang hanya awalnya saja yang sakit,.”
“Awalnya saja? Berarti sisanya tidak sakit dong? Enak?” tanya Sony membuat Vania malu dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Pipinya saat ini pasti sudah semerah tomat.
“Mas Sony apaan sih?!” berkata manja dan menepuk dada bidang Sony yang ada di depannya. Malu malu mau deh tuh!
“Sony tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan jatah dari istrinya, ke depannya ia akan lebih bebas lagi menjamak tubuh istrinya itu tanpa takut menyakitinya lagi.
“Dek, terima kasih sudah menjaganya untuk Mas.”
“Maksud Mas Sony? Menjaga apa?” tanya Vania yang masih belum mengerti maksud perkataan suaminya.
“Itu, di bawah sana Dek. Masih tersegel rapi.”
“Memangnya barang, tersegel! Hisshh! Tentu saja aku menjaganya Mas, untuk suamiku.”
“Sekarang kita ke kamar mandi ya sayang, membersihkan diri. Mas harus mengganti seprainya juga.”
“Kenapa harus di ganti sayang?”
Ah iya pasti ada darah di bawah sana.
Vania lalu menyibak bed covernya yang tadi menutup tubuh polosnya untuk bangun dan ke kamar mandi. Tetapi baru sedikit saja ia bergeser, ia merasakan perih yang tersisa,
Sepertinya lecet, ah bagaimana ini. Sakit sekali, pasti robek, ya pastilah, dimasuki barang segede itu gimana nggak robek! Vania bermonolog dalam hatinya.
"Kenapa sayang?" tanya Sony yang masih tiduran, masih ngefly. hihihi
"Sakit sayang buat jalan," keluh Vania yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Mas gendong ya? Mas bisa membantu Adik mandi juga." Sony menawarkan diri dengan senangnya, lumayan menguntungkan juga buatnya.
"Tidak perlu, Mas. Adik bisa sendiri." Vania menatap tajam suaminya yang modus ingin mandi bareng dengannya.
Tetap saja, Sony tidak tega membiarkan istri tercintanya berjalan tertatih. Dia harus tanggung jawab juga karena sudah merusak aset berharga Vania. Sony akhirnya dengan sigap menggendong Vania ke kamar mandi tanpa persetujuannya. Akhirnya mereka mabar deh, Mandi Bareng.
Bersambung...
Huuhh panas nih ngetiknya. deg deg serr😁😁
pada ngarepin Vania di jebol Sony. Udah kesamoaian ya guys...❤❤
jangan lupa tinggalkan jejak, komen, like, vote. Okey!!"
__ADS_1