
“Dek, lihat tangan kamu.”
“Kenapa Mas?” Vania menunjukkan kedua tangannya pada Sony.
Sony meremasnya, sebentar mengusap dengan halus. Lalu di ciumnya punggung tangan Vania dan juga telapaknya. Dasar Sony aneh.
“Kenapa sih Mas?!”
“Ini bekas Ega kan tadi. Seberapa lama dia menggandengmu Dek? Apa kamu menikmatinya?!”
“Hanya sebentar Mas. Aku sudah menolaknya tapi dia tidak mau melepaskanku.” penjelasan Vania membuat Ega memanas kembali. “ Cuma orang gila yang mau menikmati siksaan Mas!” Vania melirik sinis ke mata Sony.
“Selain itu? Apa dia berbuat lebih? Jujurlah?!”
“Tidak Mas, dia tidak melakukan apa pun tadi. Dia hanya mengajakku pulang. Kasihan tahu Mas dia kamu pukuli sampai babak belur begitu. Pasti kesakitan.”
“Apa?! Kenapa hobi sekali membela lelaki lain di depan Mas, Dek?! Menurutmu apa aku salah memukuli Ega karena dia membawa pergi wanitaku?! Apa aku harus membiarkanmu begitu saja?! Apalagi kamu menangis seperti tadi. Adik pikir Mas tega? Sedangkan Mas mengkhawatirkanmu, apa yang terjadi selanjutnya Mas juga tidak tahu, apa yang akan Ega lakukan terhadapmu Mas juga tidak tahu. Yang jelas tujuan Mas menyelamatkanmu. Mas begitu takut kalau kamu di apa-apain sama E-...”
“Cup, muah.” Vania terkesima mendengar oenjelasan Ega, terlihat dia sangat menyayanginya.
Belum selesai Sony berbicara panjang lebar kecupan singkat itu mendarat di bibirnya. Sony yang menerima ciuman itu mendadak beku, kaku dan tidak bisa bicara sesaat. Dia terkejut gadisnya mulai berani menciumnya.
Sony melihat dalam netra Vania, menatapnya tanpa kedip dan mengulas senyumnya. Vania tertunduk malu setelah ia mencuri bibir Sony meski hanya sedetik.
“Sangat menggemaskan.” Sony kembali mencium Vania dan memeluknya erat, lagi.
Setelah beberapa menit pelukan itu berlangsung, Vania mulai mengurai pelukan hangat Sony. Ia tersentak terkejut memandang dan langsung menatap mata Sony.
“Mas! Jam berapa ini!” Vania berteriak tanpa haluan mengejutkan telinga Sony.
Mereka bersamaan melihat jam di pergelangan tangannya masing-masing.
“Gawat! gawat Mas. Bagaimana ini?!”
“Apanya yang gawat Dek?” tanya Sony masih santai tak memahami perkataan Vania yang berbelit-belit.
“Mati aku! Aku harus pulang Mas, tapi bagaimana mungkin aku pulang semalam ini dengan Mas Sony? Bisa-bisa Bapak menggantungku di pohon.” Ucap Vania menjelaskan dengan penuh kebingungan setelah melihat jarum jam di tangannya menunjukkan pukul sebelas malam.
“Tidak ada orang tua yang menggantung anaknya di pohon Dek, jangan mengada.” Sony malah terkekeh mendengar ucapan Vania.
“Mas, kenapa malah tertawa. Tolong aku. Bagaimana aku harus pulang?! Lebih baik aku tidak pulang sekalian dari pada pulang di sidang Ayah ibu.” Gerutu Vania sambil memonyongkan bibirnya tujuh senti.
__ADS_1
“Mas harus bantu bagaimana Dek, yang jelas kalau ngomong. Mas makin bingung melihatmu uring-uringan seperti ini.”
“Mas, pesankan aku ojek online saja ya.” Vania meringis menunjukkan barisan giginya yang putih.
“Tidak. Mas tidak mau kamu di bonceng lelaki lain. Apa lagi malam-malam seperti ini. Jalanan sudah sangat sepi Dek.”
“Mas kan bisa mengikutiku dari belakang.” Vania memberi ide cemerlang namun masih tetap saja Sony tidak mau dan tidak rela Vania berdekatan dengan drivernya.
“Mas, aku janji akan menjaga jarak dan tidak akan berpegangan dengan drivernya. Ya?!”
“ Kalau tidak pegangan, jatuh bagaimana?”
“Serba salah sih Mas. Repot!” gerutu Vania.
“Sudah ayo Mas antar. Cepat naik.”
“Mas, tidak bisa! Mengertilah. Aku bisa dikurung nanti sama Bapak, kalau pulang semalam ini, dengan lelaki tua pula!”
“Apa?! Coba bilang sekali lagi, Mas tidak mendengarnya!” Sony memicingkan mata sinisnya ke Vani yang dibalas oleh senyuman garing oleh Vania. “Kenapa menyebut Mas dengan sebutan itu?!”
“Maaf, bercanda sayang. Hehe... Mas bukan tua kok, Mas dewasa. Tadi lidahnya tiba-tiba kepleset Mas.” Jawab Vania lagi-lagi mempertontonkan deretan giginya yang putih itu.
Dasar Sony yang sudah bucin akut. Belum juga memiliki seutuhnya sudah seposesif itu. Abang ojek saja di cemburui.
Usai memastikan Vania masuk kamar, Vania bergegas balik ke hotel tempat ia menginap.
“Dek, besok pagi Mas antar ke sekolah boleh?!” Sony mengirim pesan singkat pada Vania.
“Tidak perlu Mas, jangan merepotkan diri Mas.”
“Mas akan sangat bahagia bila di izinkan.”
“Baiklah kalau begitu, jemput di rumah, tapi Mas besok pakai jaket dan celana warna hitam saja ya. Jangan lupa pakai masker.“
“Buat apa Dek. Kenapa harus seperti itu?!”
“Sudah ikuti saja Mas, kalau tidak menurut aku tidak mau diantar jemput.
“Baiklah, sampai bertemu besok sayang. Mimpi indah ya.. love you.”
__ADS_1
“Love you Mas Sony ganteng. Hehe.”
.
.
Pagi hari, sinar mentari mulai menyeruak memperlihatkan kilau cahayanya. Jam menunjukkan pukul enam pagi, Vania sudah bersiap untuk menunggu jemputan. Kali ini dia tidak masalah jika di jemput seorang laki-laki di rumahnya. Bisa saja dia berbohong pada orang tuanya kalau di jemput oleh kakaknya Dina atau Kiki.
Tak lama kemudian, Suara motor Sony berhenti tepat di depan rumah Vania. Ia turun dari motornya dan melangkahkan kakinya menghampiri depan gerbang rumah sederhana itu.
“Mas, mau ngapain. Ayo cepat.” Sony memberhentikan langkahnya ketika Vania keluar dari gerbang berwarna hitam itu.
“Mas mau pamit sama Bapak Ibu Dek, ada kan?!”
“Hah?! Jangan ngaco Mas. Tidak perlu. Ayo cepat. Tugas Mas saat ini hanya mengantar dan menjemputku. Jadi tidak perlu berkenalan dengan orang tua. Oke?!”
“Ya... ya... ya... ayo. Bisa naik pakai rok?!”
“Bisa-bisa.” Vania segera naik dengan cepat agar orang tuanya tidak melihat keberadaannya dengan Sony di luar rumah.
“Astaghfirullah, Dek sopan sedikit. Cewek kok pecicilan.” Sony menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Vania membonceng penuh dengan semangat dan tergesa-gesa. Roknya sempat tersingkap namun Sony pura-pura tak melihatnya. Bisa panjang ceritanya.
Sony meluncurkan motornya menelusuri jalanan kota asing yang baru di pijaknya satu hari lalu. Dua puluh menit kemudian sampailah mereka di sekolah Vania.
Banyak mata memandang, mengamati dan terpesona ketika ada sosok yang sangat sempurna berhenti di depan sekolah Vania.
Untung saja Mas Sony menurut waktu kusuruh memakai atribut lengkap serba hitam. Bisa-bisa mata betina pada jelalatan bebas memandangi pria tampanku.
“Nanti pulang pukul berapa Dek? Mas jemput.”
“Pukul sa—.” Vania memutus perkataannya, “Apa yang kalian lihat. Sana!” Vania memicingkan matanya dengan tajam dan sinis melihat beberapa wanita sengaja melewatinya dengan dekat seolah ingin memperhatikan Sony.
Bagaimana wanita tidak terpesona dengan keberadaan lelaki bening di depan matanya, perawakan yang tegap tinggi besar, kulit putih meski hanya terlihat di pergelangan saja sudah cukup meyakinkan mereka kalau dia sosok yang tampan. Ditambah motor sport merah yang di tungganginya semakin membuat penampilannya sempurna.
.
.Bersambung...
...Hay, reader baik...
...tolong ginggalkan jejak ya.....
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi jug seneng banget kok....
...makasih yaa... 💚💚...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
.
.
__ADS_1
.