
Pukul 15:00 Ega kembali mendatangiku dengan membawa brownies kesukaanku. Dia berusaha membujukku dan tidak ingin kehilanganku.
“Van, kenapa kamu tega melakukan ini semua? Sudah berapa lama kamu selingkuh dengannya? Dan sudah berapa kali kamu melakukannya?” tanya Ega tanpa emosi meskipun matanya sangat tajam penuh dendam.
“Aku sama sekali tidak selingkuh Ga, maksud kamu melakukan apa? Aku memang dekat dengan Mas Sony, karena dia baik, dia sering menolongku, dan bahkan dia sangat menjagaku.” Aku bercerita tanpa memandangnya, tanpa tahu arah pembicaraannya.
“Kamu melakukannya di hotel, kan? Segampang itu kamu menyerahkan tubuh ke dia? Kamu cinta sama dia? sudah berapa kali kalian berhubungan? Kenapa kamu menerimaku jika akhirnya kamu menyakitiku? kenapa Van? Jawab aku!"
PLAAAAKKKK !!! Tamparan keras mendarat di pipi Ega, baru kali ini seumur hidup aku menampar pria. Dia sudah sangat keterlaluan.
“Ega! Tutup mulutmu! Kenapa kamu menganggapku sangat rendah? Ini yang dibilang kekasih? Menuduhku melakukan hal murahan?! Aku kecewa banget sama kamu!” Tangisku pecah mendengar kata-kata Ega yang sudah memfitnahku melakukan perbuatan yang tidak pantas dengan Mas Sony.
“Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu, siapa yang sudah meracuni pikiranmu?!” lanjutku bertanya kepadanya.
“Kamu tidak usah berbohong lagi Van, aku sudah tahu semuanya. Sekarang kamu tinggal jawab aja pertanyaanku. Kamu cinta sama dia?”
Kuberanikan diri menjawab tegas meskipun saat ini aku sedang lemah dan sakit hati. Aku harus terlihat kuat.
"Ya, jelas aku mencintainya! dia lebih baik dari kamu, dia lebih menghargai wanita, dia lebih sopan, dia lebih sholeh, dia menjagaku, dia melindungiku, dan yang paling penting dia sama sekali tidak pernah menyakiti perasaanku seperti yang kamu lakukan sekarang! Kamu bilang kamu cinta sama aku, kan, mana? sedikit pun kamu tidak pernah mempercayaiku, bahkan kamu tega menuduhku yang tidak-tidak, seperti ini yang dibilang pacar?! ” Air mataku tak berhenti menetes.
“Van, bukannya aku tak percaya. Aku ingin mempercayaimu tapi ada bukti yang mengharuskan aku percaya pada kenyataan.”
“Kenyataan? Kenyataan apa?! Apa yang ada di pikiran kamu sama sekali bukan kenyataan yang sebenarnya. Jadi stop menggambarkan imajinasimu sendiri.”
“Apa ini belum cukup membuktikan kalau kamu selingkuh?” Ega menunjukkan beberapa foto yang dikirim Widya. Foto itu benar fotoku dan Mas Sony, ada seseorang yang mengambil gambarku ketika aku digendong Mas Sony menuruni tangga dan menuju pos security.
“Oh jadi Widya yang sudah melapor ke kamu?! Hebat ya mata-mata kamu. Bahkan untuk mendengarkan penjelasanku saja kamu sangat keberatan. Sedikit saja Widya berkata tentangku, kamu langsung percaya. Maaf Ga, aku tidak bisa terus seperti ini, aku tidak bisa terus sama kamu. Hati aku sakit banget. Aku capek. Percuma aku jelaskan semuanya juga kamu tidak akan percaya kan? Cuma buang waktu.” Aku bergegas berdiri, tetapi Ega menarik tanganku.
“Van, maafkan aku, apa yang sebenarnya terjadi?! Kamu cerita sama aku, ya, aku janji akan percaya sama kamu,” ucap Ega memohon karena dia tidak mau aku tinggalkan.
“Tidak perlu Ga, terlambat! Dan aku juga minta maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Lebih baik kita berteman, daripada kamu terus-terusan memata-matai aku, mencurigaiku. Aku capek, aku merasa tertekan, tidak bisa bergerak dengan bebas, ini sudah gak wajar. Lagipula aku juga belum bisa cinta sama kamu. Jadi, sebaiknya kita sudahi."
Dulu Ega memang lelaki yang sangat baik, dia sama sekali tidak pernah menyakitiku, tapi sejak kita sama-sama magang, dia sangat over protektif meskipun kita tidak di tempat yang sama, bahkan beda kota.
“Tidak bisa Van, segampang itu kamu mengakhiri hubungan ini, kamu tahu kan aku sangat mencintai kamu? Aku tulus sama kamu. Sekarang cuma gara-gara lelaki itu kamu meninggalkanku.”
Aku tahu kamu sayang sama aku Ga, tapi maaf cara kamu memperlakukanku membuatku tidak nyaman."
__ADS_1
Meskipun memang ada alasan lain juga kenapa aku meninggalkanmu.
“Terserah kamu mau bilang apa, mau aku membela diri pun juga akan tetap salah dimata kamu, kan? Kamu yang selalu benar, kamu memang tidak pernah salah. Terima kasih selama ini sudah menjadi orang yang baik buat aku. Selanjutnya, bersikaplah normal seperti teman sewajarnya. Sudah ya, aku mau ke kamar, sebaiknya kamu pulang dan hati-hati di jalan.”
“Oke, aku akan berusaha ikhlas melepasmu Van. Tapi jangan harap aku akan bersikap seperti biasanya."
***
Keesokan harinya aku berniat untuk masuk kerja, keadaanku berangsur membaik meskipun rasa takut menghantui. Ya, aku masih sangat takut dan belum siap jika harus bertemu dengan Pak Herman. Aku memoleskan make up tipis ke wajahku yang sedikit pucat , kuraih tasku lalu menuju kamar Dina untuk mengajaknya berangkat.
“Din! Ayo berangkat,” ucapku sambil membuka pintu kamar Dina.
“Kamu sudah sehat Van?” tanya Dina sambil menutup lipstik yang baru saja dipakainya.
“Alhamdulillah sudah Din. Nanti aku tugas sama siapa ya?”
“Kayaknya sama Pak Adi Van.” Jawab Dina.
“Syukurlah, bukan dia.” Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus bekerja lagi dengan Pak Herman. Sungguh menakutkan.
Sepanjang jalan aku menceritakan semuanya ke Dina, dia begitu kaget dan tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi padaku. Sampai sekarang pun rasanya sangat berat jika harus menginjakkan kaki di hotel ini. Aku terlalu takut dan tak tahu sampai kapan aku harus merasa tidak nyaman karena keberadaan lelaki itu.
“Terima kasih ya, Din, aku percaya kamu adalah teman yang paling tulus dan paling peduli ke siapa pun, termasuk aku.”
“Tapi aku benar-benar salut sama Mas Sony Van, dia bisa langsung tanggap dan bisa gerak cepat banget. Coba kalo dia terlambat sedikit saja, bisa-bisa kamu kehilangan masa depan loh. Sepertinya dia sayang banget ya sama kamu. Dan soal Ega tidak usah terlalu dipikirkan terus. Dia memang harus sekali-kali diberi pelajaran karena seorang laki-laki itu harus punya pendirian. Parahnya lagi dia lebih percaya sahabat karibnya itu daripada pacarnya. Buat apa coba hubungan tanpa kepercayaan. Percuma.”
“Iya Din, makanya aku juga berhutang banget sama Mas Sony, tapi jujur kalo sekarang diingat-ingat, aku malu banget. Coba kamu bayangkan, aku yang biasanya tampil seperfect mungkin di depannya tiba-tiba dia melihatku acak-acakan, menangis, bahkan kancing bajuku saja lepas Din. Tunggu, apa dia sempat melihat? Aaaa tidak-tidak, jangan sampai. Itu sangat memalukan. Dan kamu tahu nggak, ****** ***** pendekku saja terbawa sama Mas Sony Din. Ya ampun!”
“Ha ha ha ... maaf ya kali ini aku harus tertawa. Aku prihatin banget sama apa yang terjadi sama kamu, tapi memang ada lucunya juga sih. Ha ha ha ... Eh tapi itu sweet banget tahu Van pas dia peluk kamu. Tapi kok bisa ya lelaki sholeh seperti dia, kukira dia tidak akan berani menyentuhmu karena bukan mahrom. He he ...”
“Sudah cukup ya, Din. Jangan bahas soal ini lagi. Tuh lihat ada yang memantau kita dari Pos.”
__ADS_1
Di seberang hotel aku dan Dina berhenti menunggu kendaraan yang lalu lalang untuk menyeberang, dia yang melihat kami dari kejauhan segera mendekat dan berada di tengah jalan untuk membantu menyeberangkan. Gagah sekali dia Ya Allah. Kenapa Mas Sony begitu baik, kalau begini terus mana bisa aku tidak mencintainya.
“Terima kasih ya, Mas,” ucapku dan Dina bersamaan.
Dia hanya mengangguk sedikit dan tersenyum, tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Begitu saja bagiku sudah sangat menawan, membuatku terpesona akan ketampanannya.
Aku segera absen dan langsung masuk menuju kantor HK. Mau masuk pun aku sangat ragu dan ketakutan, aku menghentikan langkahku dan menyuruh Dina untuk melihat ke dalam. Dina langsung tanggap apa maksudku, karena aku benar-benar tidak mau melihat muka Pak Herman. Jadi sebaiknya aku menghindar.
“Aman Van, yuk masuk,” ajak Dina setelah dia melihat tak ada Pak Herman di dalam.
“Halo Vania ... apa kabar? Apa kamu sudah sehat, Nduk? Sakit apa kemarin?” tanya Pak Adi yang begitu antusias menyambut kedatanganku.
“Sudah Pak, kemarin cuma pusing sama sakit perut kok.”
“Sudah siap bekerja? Mau naik sekarang apa nanti, Nduk? Kita nanti di lantai tiga, ya. Kamu siapkan yang harus dibawa ke atas.”
“Oke Pak, saya siapkan dulu habis itu saya langsung ke atas.”
...*** ...
Beberapa kamar sudah kurapikan, Pak Adi selalu mengerjakan bagian kamar mandi. Aku yang selalu keluar masuk kamar mengambil barang dari trolly tak sengaja bertemu Kris yang sedang berpatroli dari lantai ke lantai.
“Hai Vania manis, makin cantik aja kamu hari ini.
O iya, hari ini kamu jadi 'TO' Van. Siap-siap yaa. ha ha ha.” Lelaki itu berhenti tepat di depan trolly dan mulai menggodaku.
Tapi aku bingung apa maksudnya T.O, apa itu? Aku sama sekali tidak mengerti.
“ T.O? Apa sih mas?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Pikir saja sendiri ... ha ha ha ...,” tawa Kris puas sambil berjalan menuju lift tanpa kumengerti apa maksud perkataannya.
Aku masuk ke kamar dengan wajah yang penuh kebingungan, aku bekerja sambil melamun memikirkan kata-kata Kris barusan.
Apa ini ada kaitannya dengan kejadian malam itu? Apa yang harus kulakukan? Kenapa ini begitu membuatku takut. Tapi aku juga tak tahu apa itu 'TO', apa sesuatu yang sangat penting?
__ADS_1
“Nduk? Sudah selesai belum? Kita pindah kamar sebelah kalau sudah,” ucap Pak Adi yang tak begitu kudengarkan karena sudah tidak bisa fokus mengerjakan apa pun.
Bersambung...