Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Tanggal Pernikahan


__ADS_3

“Pak Asta dan Bu Jasmin, kedatangan saya kemari yang pertama adalah untuk bersilaturahmi dan yang kedua adalah melamar anak bapak untuk anak saya yang bernama Sony Dirgantara. Saya sebagai orang tua ingin melihat mereka bahagia Pak, Bu, karena sepertinya mereka memang saling mengasihi satu sama lain. Juga untuk apa kita tunda lama-lama kalau niatnya baik, semata-mata juga untuk ibadah.”


Bu Jasmin tak berkedip mengarahkan bola matanya ke Pak Asta lalu beralih ke Vania, ia begitu terkejut dan tidak menyangka anak gadisnya akan di lamar secepat itu. Mau tidak mau ia harus segera melepas Vania untuk lelaki masa depannya.


“Pak, kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya kalau akan ada yang melamar Vania? Kalian hanya bilang ada atasannya Vania yang mau bertamu, ini apa?” Bisik Bu Jasmin pada Pak Asta yang sedang duduk rapat dengannya tanpa jarak dan sedikit menahan emosinya karena belum siap.


“Bapak tahu, kamu tidak akan setuju dan tidak rela Bu jika Vania menikah cepat, makanya Bapak menyuruh Vania untuk menyembunyikan ini dari Ibu agar Ibu menerima lamarannya langsung," ujar Pak Asta penuh pengertian.


“Tapi Pak, Vania masih kecil. Dia baru saja lulus kemarin, masa sudah disuruh nikah," ketus Bu Jasmin pada Pak Asta, berbisik mendekatkan mulutnya ke telinga suaminya.


“Bu, Vania bukan anak kecil lagi, dia sudah baligh, dan dia sudah mengerti pacaran. Kalau kita terus membiarkannya di luar sana menjalin hubungan dengan Sony, apa kamu tidak semakin khawatir?” jelas Pak Asta sedikit membuat Bu Jasmin berpikir.


Benar juga apa kata Bapak, Vania akan bahaya jika diteruskan berpacaran tanpa pengawasan. Apa sebaiknya memang mereka di nikahkan saja? Tapi bagaimana nanti omongan tetangga, baru lulus udah kawin. Pasti jadi bahan perghibahan. Gumam Bu Jasmin dalam lamunnya yang singkat.


“Ehemm!” Pak Gunawan berdehem karena tak kunjung mendapat jawaban dari Pak Asta serta Bu Jasmin, “Bagaimana Pak, apa lamarannya di terima?” lanjutnya.


“Sebelumnya saya berterima kasih untuk niat baik Bapak dan juga Sony, dengan besar hati kami terima lamarannya ya, Pak.”


 


“Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak,” tutur Pak Gunawan tersenyum ramah, sesekali melirik ke arah Sony yang sedang terdiam memperlihatkan wajah gugupnya.


 


Semua yang berada di ruang tamu tersebut saling bertukar pendapat untuk mengatur hari tanggal pernikahan Sony dan Vania.


 


“Lalu, kira-kira kapan kita bisa melaksanakan pernikahan mereka Pak? Bukankah lebih cepat akan lebih baik?” tanya Pak Gunawan setelah menyesap teh yang sedang di pegangnya.


 


“Iya Pak, saya juga setuju. Meskipun awalnya saya keberatan anak saya harus menikah cepat. Tapi saya juga akan lebih tenang kalau mereka menikah. Agar tak terjerumus ke hal yang dilarang agama. Saya juga tidak perlu was-was lagi meskipun Vania jauh dari kami.” Pak Asta mengusulkan tanpa persetujuan Bu Jasmin, sang istri.


 


“Baik Pak, bagaimana kalau pernikahannya kita laksanakan minggu depan?” ujar Pak Gunawan di depan Pak Asta, Bu Jasmin serta Sony dan Vania.


 


Sontak Sony dan Vania pun sangat terkejut mendengarnya. Mereka saling tatap seolah ingin mengatakan sesuatu, namun Vania seperti tak mampu mengucap satu kata pun. Tenggorokannya seperti tercekat. Tanpa bertanya pada Vania, Sony langsung tanggap dengan tatapan tajam Vania pada dirinya. Sony seperti cenayang yang bisa membaca pikiran Vania. Ia lalu memprotes pendapat Papanya.


 


“Pa, bukankah itu terlalu cepat? Kita belum mempersiapkan apa pun dan takutnya nanti malah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan," uj


ar Sony pada Pak Gunawan.


 


“Kamu tidak perlu menyiapkan semuanya, Papa akan suruh orang untuk mengaturnya," ucap Pak Gunawan meyakinkan Sony. “Bagaimana Vania? Apa kamu setuju?” sambungnya pada Vania.


 


“Maaf Pak, sepertinya benar apa kata Mas Sony. Terlalu mendadak kalau dilaksanakan minggu depan," jelas Vania dengan sedikit kegugupan di raut wajahnya.

__ADS_1


 


“Biarkan anak-anak saja yang menentukan Pak, enaknya kapan?” usul Pak Asta.


 


“Iya, mungkin mereka juga ingin menyiapkan sesuatu yang mereka inginkan Pak. Menikah hanya sekali seumur hidup, jadi mereka pasti ingin yang terbaik.” Sahut Bu Jasmin yang mulai bisa akur dengan keadaan, merelakan anak gadisnya untuk di nikahi pria yang ia cintai.


 


“Betul juga kata Ibu, baiklah kita akan memberi kesempatan mereka untuk berpikir sebentar.” Ucap Pak Gunawan pada Bu Jasmin, “Son, kamu ajak Vania berbicara dulu, kalian tentukan tanggal yang kalian mau, asal jangan melebihi satu bulan.” Tukas Pak Gunawan  dengan syarat penekanan.


 


“Dek, ayo!” Sony mengangguk berisyarat mengajak Vania untuk keluar ke depan teras. “Pak, Bu saya dan Vania permisi sebentar," pamit Sony pada Pak Asta dan Bu Jasmin. Mereka pun keluar dan membahas rencana pernikahan mereka.


 


"Pak, mohon maaf kalau boleh tahu, Ibunya Nak Sony ini di mana ya? kok tidak ikut?" Tanya Bu Jasmin membuka pembicaraan setelah Sony dan Vania keluar dari ruang tamu.


 


"Sebelumnya saya minta maaf Bu, mungkin kedengarannya kurang patut, tapi saya juga harus menjelaskan tentang Istri saya. Begini, jadi istri saya mau Sony menikah dengan wanita pilihannya. Namun ketika Sony pulang membawa Vania, dia marah dan tidak setuju jika Sony menikah dengan Vania. Tapi tenang saja, perlahan saya akan berbicara dengan Mamanya Sony agar hatinya terbuka."


 


"Tapi, apa nantinya tidak berimbas pada anak saya Pak?" tanya Bu Jasmin dengan nada keraguan.


 


 


“Baiklah Pak, semoga semuanya akan baik-baik saja.” ujar Bu Jasmin.


 


Sementara itu, di waktu yang sama Vania dan Sony sedang berbicara serius mengenai pernikahan mereka.


 


“Dek, apa kamu senang?” tanya Sony ketika berada di teras dan mendudukkan dirinya di kursi kayu.


 


“Tentu saja Mas, aku sangat bahagia.” Susul Vania duduk di samping Sony.


 


“Terima kasih Dek, akhirnya kamu mau menerima Mas. Meskipun sedikit memaksamu.” Ujarnya sambil tersenyum.


 


“Kalau bukan karena cinta, aku juga tidak mungkin mau Mas di paksa-paksa menikah begini.” Lirik Vania sinis namun bibirnya masih mengulas senyum tipis.


 

__ADS_1


“Mas bangga bisa di cintai wanita sepertimu, Dek.”


 


Eh, nggak salah Mas?! Bukankah aku yang harusnya bahagia bisa di cintai lelaki sempurna sepertimu? Gumam Vania dalam hati.


“Lalu bagaimana sayang, kapan kamu siap aku nikahi?” tanya Sony yang membuat Vania sedikit malu dan ngeri mendengar kata di nikahi.


 


“Kata Pak Gunawan jangan sampai satu bulan Mas, tapi kalau satu minggu itu terlalu cepat. Bagaimana kalau dua minggu setelah sekarang? tanggalnya kita pilih yang bertepatan dengan hari minggu saja.” Usul Vania sambil membuka aplikasi kalender di telepon genggamnya.


 


“Baiklah, berarti tanggal ini saja ya, Dek?” tanya Sony sambil menunjuk satu tanggal di ponsel Vania yang menurutnya sesuai.


 


“Oke Mas!” jawab Vania seperti kegirangan.


 


“Semangat sekali kamu Dek. Hahaha ... “ goda Sony mencubit hidung Vania dan mendekatkan wajahnya.


 


“Mas! Jangan aneh-aneh!” teriak Vania mendorong dada bidang Sony karena takut Sony menciumnya.


.


.


Detik berlalu berganti jam begitu cepat rencana yang sudah matang sudah di tentukan dan sudah di sepakati dua keluarga tersebut.


Pak Gunawan dan Sony pun berpamitan untuk kembali ke Jogja, beberapa saat kemudian Pak Gunawan langsung pulang ke Jakarta karena tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama.


Vania, ia di paksa Sony untuk mengambil cuti sampai hari pernikahan. Bahkan Spny menyuruhnya untuk berhenti bekerja namun Vania keberatan, ia masih ingin terus bekerja walaupun nanti sampai ia sudah berstatus istri.


 .


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...

__ADS_1


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


__ADS_2