
“Sudah puas memandangku sayang?” ucap Sony dengan mata yang masih tertutup. Ia tahu saat ini istrinya sedang memandanginya karena deru nafasnya yang begitu terasa menerpa wajah Sony.
“Mass! sudah bangun? Sejak kapan?” Vania memundurkan sedikit kepalanya karena ketahuan mencuri – curi pandang Sony, namun Sony malah memajukan kepalanya, mendekatkan rapat tubuhnya pada Vania.
“Sejak alarm berbunyi sayang.” Sony memencet hidung Vania, jarak wajah mereka hanya sekitar lima senti.
“Mas sangat jahil!” Cibir Vania tersenyum pada suaminya. Ia lalu beringsut duduk dan menyingkirkan bed cover yang menutupi tubuhnya.
Vania menunduk, melihat ke bagian dada karena merasa tubuhnya dingin saat hawa dingin dari AC menerpa dirinya. Ia reflek menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
Astaga, bagaimana ini. Aku lupa kalau aku hanya memakai lingerie. Kalau aku berdiri, otomatis Mas Sony akan memperhatikanku, meski pencahayaan di kamar sangat minim, tetap sangat memalukan bukan,...
“Mas, boleh tutup mata sebentar? Vania mau ke kamar mandi dulu.”
“Kenapa Mas harus tutup mata?”
“Aku malu berjalan dengan berpakaian seperti ini.” Jawabnya masih dengan posisi duduk membelakangi Sony yang masih tiduran.
“Mas sudah melihatnya sejak semalam Dek, bahkan Mas sudah memelukmu saat tidur, sangat erat, tubuh kita sudah menyatu. Apa yang membuat malu?!” Sony meledek Vania membuat pipi gadis itu memerah.
“Pakaianku sudah seperti wanita pekerja malam, Mas.”
“Justru bagus, Dek. Memang harus seperti itu kalau di depan suami, tidak pakai baju pun halal. Membuat suami senang itu pahala loh!” Lagi-lagi Sony menggoda Vania dengan colekan kecil di bokongnya. Kali ini reaksi Vania sungguh menggemaskan. Melirik dan melempar Sony dengan bantal di sebelahnya. Ia langsung lari ngacir ke kamar mandi. Suara tawa Sony menggema di seluruh kamar hotel yang cukup luas itu.
Setelah Vania selesai mandi, ia menyiapkan pakaian hangat untuk Sony yang akan di pakainya nanti. Mulai dari kaos panjang, jaket, kupluk, sarung tangan, sepatu boot, dan juga syal.
Sony keluar hanya mengenakan lilitan handuk di pinggangnya. Terlihat badannya yang kekar tercetak jelas di dada dan perutnya, juga gundukan yang berada di bawah perut di balik handuk putih tersebut. Meskipun tertutup handuk, benda itu masih tetap terlihat oleh mata kasar karena ukurannya sesuai dengan besar badannya.
“Mas, cepat pakai bajunya! Kenapa malah berdiri di situ?!” ketus Vania dengan nada gugup setelah memperhatikan Sony berada di depan Vania yang sedang sibuk merapikan koper yang berantakan.
“Mas menunggu bajunya, Dek. Sudah kamu siapkan?”
“Itu di kasur Mas!” Ya Tuhan Mas Sony, mataku ternoda melihatnya. Ngeri juga kalau itu bisa masuk ke sana. Ah Vania! Apa yang kamu pikirkan sih?! Vania bergumam dalam hati dan bergidik ngeri membayangkan sesuatu yang tak semestinya ada di pikirannya saat ini.
“Sony pun memakai bajunya di dekat ranjang, ia juga dengan bebasnya melepas handuk itu dan menggantinya dengan celana.
__ADS_1
“Ya ampun Mas! Mataku ternoda! Sekarang pikiranku kotor karena Mas Sony!” teriak Vania yang melihat Sony dari pantulan cermin rias. Ya, saat ini ia sedang menyisir rambutnya dan memoleskan make up tipis andalannya.
“Hahaha,,, lucu sekali sih Dek! Sony tertawa terbahak melihat reaksi Vania. Padahal Sony hanya mengganti handuknya dengan celana panjang.
Vania yang sudah rapi kini sedang duduk manis di tepi ranjang memainkan ponselnya sambil menunggu Sony selesai merapikan barang yang akan di bawanya.
“Sayang, sini! Mas pakaikan ini.”
“Apa, Mas?!”
“Kupluk sama earmuff-nya, Dek. Harus di pakai sekarang. Kita keluar hotel sudah dingin banget. Jangan sampai istriku kedinginan nanti.”
“Mas, pakai jaket saja cukup kok. Mas tidak perlu khawatir." jawab Vania membantah.
“Jangan bandel!” Sony langsung mendekati Vania dan memasangkan kupluk di kepalanya, juga earmuff yang semakin menyempurnakan penampilan gadis itu.
“Satu lagi sayang.” Sony mengambil syal dan mengalungkannya ke leher Vania. Kali ini Vania benar-benar seperti boneka yang sangat imut. Sony merapikan sedikit rambut Vania yang berantakan, laku tak lupa, kecupan singkat mendarat di bibirnya sebelum mereka berangkat.
“Mas, gerah.” Keluh Vania begitu merasakan panas di tubuhnya karena kebanyakan memakai busana dobel.
Pukul 03.30, Vania dan Sony berangkat diantar oleh tour guide menggunakan mobil jeep. Kira-kira perjalanan antara hotel ke lokasi wisata gunung Bromo memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Sesampainya di tempat, mereka mampir ke sebuah rest area yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang serba hangat. Sekedar untuk menetralkan hawa dingin yang bersuhu sekitar 9 derajat celcius.
“Dek, mau minum coklat panas?” tanya Sony pada istri kecilnya yang sedang duduk di pojokkan kursi ia merasa sangat kedinginan meskipun sudah berpakaian lengkap serba tebal.
“He’em ... “ jawab Vania mengangguk. Tubuhnya seperti kaku karena menahan hawa dingin yang menerpanya, menusuk sampai ke tulang.
Sony memesan dua cup minuman, satu kopi dan satu lagi coklat panas untuk Vania. Setelah meminumnya, kesadarannya seperti pulih kembali. Aliran darah yang tadi sempat membeku akibat dingin, kini ia mulai bersemangat untuk meneruskan perjalanannya.
Sambil menunggu sunrise yang akan muncul sekitar jam 05.00, mereka berjalan menuruni bukit untuk memperoleh view yang indah karena di satu spot sudah penuh dan ramai dengan wisatawan lainnya. Setelah kurang lebih 100 meter berjalan, mereka sampai dan bertepatan dengan matahari yang mulai terbit, perpaduan warna itu begitu cantik dan menyegarkan mata. Tak lupa Sony mengabadikan momen bersama sang istri dengan meng klik tombol kamera di ponselnya.
Setelah satu jam mereka memandangi langit yang di hiasi warna gradasi dari matahari, Sony dan Vania melanjutkan perjalanannya menaiki jeep menuju Lautan Pasir, Padang Savana dan dan Kawah Bromo.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Sepuluh jam telah berlalu, mereka kembali lagi ke hotel untuk beristirahat, sebelumnya mereka juga membersihkan diri terlebih dahulu, mengguyurkan air hangat ke tubuhnya agar sedikit mengurangi rasa capek setelah seharian menghabiskan waktu menjelajahi berbagai tempat wisata di Jawa Timur.
“Sayang, capek banget.” Keluh Vania sambil merebahkan tubuhnya di ranjang dan memakai kemeja Sony yang kebesaran yang malah terlihat sangat seksi tanpa.memakai celana bawahnya.
“Mau Mas pijit?” kalau haanya urusan memijat, Sony memang ahlinya, meskipun bukan tukang pijit tapi dia cukup menguasai beberapa titik saraf karena sempat mempelajarinya.
“Memangnya Mas tidak capek?”
“Tidak sayang, sini Mas pijit. Lepas bajunya.”
“Dih, Mas! Kenapa harus lepas baju sih. Kan cuma pijit.”
“Kan, yang di pijit badannya sayang, makanya harus di lepas bajunya, biar totalitas tanpa batas,” Sony nyengir nakal, duduk di tepi ranjang.
“Nggak ada lepas-lepas baju begitu! Mas aja yang ngarang.”
“Kalau nggak mau lepas baju ya sudah, Mas nggak mau pijitin. Mas tidur aja!” ucap Sony sambil menata bantal di belakangnya,
“Iya deh, sebentar. Gitu aja ngambek, Hish!”
Vania pun melepas bajunya dengan membelakangi Sony karena malu jika suaminya itu melihat. Meskipun begitu, Sony masih bisa meliriknya dan mencuri pandang tubuh istrinya.
Vania lalu membaringkan tubuhnya di kasur, ia tengkurap menyiapkan posisi pijat yang nyaman dengan hanya menggunakan bra dan cd. Namun ia masih menutupi tubuh polosnya yang bagian bawah menggunakan selimut diatasnya.
Bersambung...
...Hay, reader baik ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
... ♡♡♡...
...Bila berkenan, mampir juga ya di novel author satu lagi,...
__ADS_1
...judulnya MEMELUK KENANGAN...
......Kenalan sama author yuk, follow IG @Ephayunita......