
Sony memperhatikan tubuh polos Vania yang begitu mulus. Tangannya seperti ingin cepat tergerak merambatinya. Tetapi ia langsung menggelengkan kepalanya untuk segera menyadarkan pikiran yang tertuju ke sana.
Sony mulai mengarahkan tangannya ke pundak dan tengkuk Vania untuk di pijat. Perlahan tangan itu turun mengurut dengan lembut punggung Vania dengan lotion agar mempermudah gerakannya. Kaitan kacamata di belakang Vania cukup mengganggu pergerakan Sony, dengan sekali sentuh klik, Sony berhasil membukanya.
Vania tak merasakan jika kacamata gunungnya kini telah melonggar dan lepas karena ia sangat menikmati pijatan Sony. Walaupun sesekali ia berteriak karena sedikit kesakitan ketika Sony menekan beberapa titik sarafnya, namun masih saja ia seperti melayang karena keenakan.
“Mas, sakit. Pelan-pelan ...” rintih Vania dengan suara yang pelan karena terhalangi oleh bantal di bawahnya.
“Iya sayang, Mas akan hati-hati. Sekarang Mas buka selimutnya ya, Mas mau pijat bagian kaki.”
“Hem ...“ jawab Vania singkat.
Sony pun membuka selimut yang menutupi bagian bawah Vania. Ia lalu mengusapkan lotion pada kedua paha Vania. Lotion itu begitu sejuk menyentuh pori-pori kulitnya, di tambah lagi dengan tangan Sony yang merabanya dengan lembut, memijat perlahan, dan menekannya sesekali. Ia sangat menikmatinya hingga matanya sayu, semakin lama kantuk itu semakin tak tertahankan. Ia memejamkan matanya dan tertidur.
Lagi-lagi mata nakal Sony tertuju pada kain segitiga merah yang di pakai Vania. Kain itu tak menutuo sempurna bulatan besar di baliknya. ****** Vania yang besar membuat Sony menelan salivanya. Ia segera tersadar dan mengalihkan pikirannya ke yang lain.
“Dek, besok kita mau ke mana lagi?” tanya Sony sambil mengurut paha mulus Vania. Tak mendengar jawaban dari istrinya, Sony lalu menyibak rambut Vania yang menutupi wajahnya dan memperhatikan mata Vania yang sudah terpejam. Bola mata Sony malah tertuju pada bulatan kenyal yang tertindih badan Vania. Gunung kembar itu terjepit di antara bantal dan tubuhnya, terlihat dari samping begitu sempurna walau tak terlihat seutuhnya.
__ADS_1
Ya Tuhan, banyak sekali godaannya ... apa aku sanggup menahannya?...
Sony mengusap kasar wajahnya, lagi-lagi ia terperangkap dalam gairahnya yang mulai bergejolak. Tentu saja, dia lelaki normal yang tidak mungkin tak merasakan apa-apa saat melihat tubuh istrinya seksi.
Dek, kenapa menderita sekali rasanya. Aku suamimu tapi aku tidak bisa menyentuhmu. Apa aku harus memaksamu ? Tapi aku tidak mau menyakitimu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Lagi-lagi aku harus melampiaskannya di kamar mandi. Ah! Berpikir apa aku ini, bukankah aku sudah berjanji akan sabar menunggu sampai dia akan siap? Ya, aku harus bersabar.
Sony terus bergumam dalam hati. Ia lalu menyelimuti tubuh istrinya itu dengan selimut tebal agar hawa dingin tak menembus kulitnya.
Sony lalu merebahkan tubuhnya di samping Vania. Ia menaruh kedua tangannya di bawah kepala, pandangannya menerawang ke langit kamar. Entah apa yang sedang di pikirannya saat ini, yang jelas ia memilih menghindar untuk mendekati Vania.
Vania bergerak dan berbalik arah, di luar kesadarannya ia memeluk Sony seperti guling. Padahal saat ini ia tak memakai sehelai kain pun. Sudah di pastikan si gunung kembar itu menempel pada lengan tangan Sony. Jantung Sony berdebar hebat merasakan gundukan itu. Ah sungguh saat ini dia benar-benar dilema. Di satu sisi dia tidak ingin menyentuh istrinya walau ia dalam keadaan tidak sadar. Tetapi di sisi lain, yang di lakukan Vania seperti memancing Sony untuk menjajahnya.
“Dek, pakai dulu bajunya. Sayang, bangun ...” ucap Sony seraya mengelus rambut Vania dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya saat ini sedang di tindih oleh gunung kembar dan terasa pucuk bukit itu sedikit mengeras, tentu saja ia tak bisa bergerak. Yang ada dia menikmati hal itu. Vania masih tak merespon ucapan Sony.
Vania hanya menggeliat dan malah semakin erat memeluk Sony, di tambah lagi kakinya mengalung di badang Sony, tepatnya kaki itu malah menindih pusaka Sony yang sudah menegang keras.
__ADS_1
“Dek, jangan salahkan Mas, kalau Mas akan bertindak!” Bisiknya ke telinga Vania, melepas oksigen yang di hirupnya dengan hati-hati, sesuatu di bawah sana memang tak dapat diajak kompromi. Terus berkedut menuntut sesuatu yang lebih.
Akhirnya Sony memutuskan untuk bergerak miring, saat ini posisi mereka berhadapan satu sama lain, Sony ikut memeluk Vania. Tubuhnya yang juga tanpa kaos bisa merasakan kedua gunung kembar Vania melekat erat di dadanya. Kulit mereka menyatu tanpa penghalang sama sekali.
Vania mengerjapkan matanya begitu ia sadar posisinya seperti tak biasa, ia terimpit dan pergerakannya terbatas. Meskipun begitu, ia merasa posisi ini sungguh nyaman dan hangat walau asing di tubuhnya. Ia baru kali ini merasakan pelukan intim tanpa busana.
Jarak hidung Vania dan Sony kini hanya sekitar satu jari. Vania membuka matanya dan ia bergerak ingin melepas pelukannya dari tubuh Sony. Namun kalah cepat, Sony segera mencium bibir Vania, pelukannya semakin erat, ciuman itu juga semakin panas. Keduanya menikmati perang lidah untuk beberapa menit.
Setelah di rasa cukup, Sony mulai turun ke leher jenjang Vania. Mengecupnya bersamaan dengan hembusan nafas yang memburu dari hidung Sony. Menggelitik dan merinding, ya itulah yang di rasa Vania saat ini. Ia mendesah saat Sony menyesapnya dan meninggalkan beberapa titik merah di sana. Vania terus memegangi kepala Sony, mengisyaratkan untuk berhenti, tapi tak bisa memungkiri ia sangat menikmati belaian lembut Sony yang mengabsen setiap inci tubuhnya.
Kini, Vania memberi ruang leluasa untuk Sony bergerilya di atasnya. Ya, saat ini Vania sedang berada di bawah Sony. Lelaki itu memandangi indahnya bukit kembar yang memang baru pertama kali ia melihatnya di tubuh istrinya.
Tanpa ijin dan persetujuan dari Vania, Sony langsung menenggelamkan wajahnya di bukit kembar itu, ia lalu bermain di pucuk bukit yang berwarna pink yang telah mengeras akibat gairahnya yang juga semakin memanas. Tangan Sony satu lagi mer*m*snya dengan lembut, menikmati squishy yang begitu nikmat dan menggairahkan baginya.
Vania memejamkan mata, rasanya benar-benar nikmat. Kalau tau dari dulu seenak ini, mana mungkin aku menunda-nunda Mas Sony untuk melakukannya sejak malam pengantin. Membuatku seperti melayang dan tak mau menyudahinya.
Bersambung ....
Akhirnya Vania pasrah juga kan sama Sony, semua ada waktunya gengs... sesuatu yang nikmat jangan di tunda-tunda harusnya🤭🤭
kira-kira bakal di terusin nggak nih malam pertamanya? eh udah malam ketiga ding. Semoga Gol ya.😁😁
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, bunga dan kopi juga boleh banget.
Biar semangat up nya, okeyy!❤❤😝