
“Apa yang kamu katakan, Dek? Mas benar-benar bingung ke mana arah kamu bicara.” Sony mengerutkan dahinya, alisnya juga ikut menyatu merasa keheranan tak memahami ucapan Vania.
“Sudahlah Mas, tidak usah berpura-pura. Aku sudah tahu dan aku juga sudah merelakanmu dengan perempuan itu. Jadi sekarang biarkan aku pergi.”
Sony baru menyadari Vania sudah salah paham dan cemburu buta terhadap dirinya dan Sindy.
“Apa kamu melihatnya tadi?” Sony menunduk memiringkan kepalanya melihat wajah Vania yang di tekuk ke bawah. Sony tersenyum kecil. Memastikan apakah Vania sudah sempat melihatnya dengan Sindy.
“Sudah jangan menangis sayang, Mas akan jelaskan semuanya.”
Vania menutup telinga dengan kedua tangannya, enggan mendengar penjelasan Sony. Dengan lembut Sony memegang kedua tangan Vania, menatap matanya lekat. Vania memang keras kepala, persis anak kecil yang sedang ngambek.
“Sayang, tolong, jangan mempersulit Mas untuk bicara, sebentar saja dengarkan."
Sony mencium punggung tangan Vania, lalu menggenggamnya erat. Vania pun terdiam mendapat perlakuan manis Sony.
“Dia adalah Sindy, wanita yang memang di jodohkan sama Mas. Tapi perlu kamu tahu Dek, Mas menolaknya. Jadi kita hanya sekedar teman.”
“Mas bohong! Mas bicara seperti itu pasti hanya karena ingin menenangkanku saja, iya kan?” Vania sedikit lega mendengar penjelasan Sony, namun ia masih sedikit bimbang, apakah benar begitu?
“Nggak sayang, Mas sudah jujur. Buat apa Mas membohongimu.”
“Lalu kenapa dia ke sini? sama Mas Sony lagi! Mas terlihat begitu serasi berjalan berdua dengannya. Tidak sepertiku, aku hanya seperti butiran debu.” Vania mwlihat dirinya yang biasa saja, tak ada istimewanya.
“Bagiku, kamulah yang paling sempurna Dek, kamu bidadariku. Dia itu ke sini hanya untuk berwisata, juga ingin berkenalan denganmu.” Sony mengusap kepala Vania.
“Huwek... sempat-sempatnya ngegombal.” Vania berpura-pura seperti mau muntah.
“Asyik ya, pasti waktu perjalanan tadi seru. Berdekatan terus, ngobrol bareng, bercanda bareng.” Vania tersenyum sinis.
“Jangan sok tahu Dek, Mas di pesawat duduk terpisah. Bahkan jarang sekali mengobrol. Apa perlu Mas panggil Sindy ke sini biar kamu percaya?”
“Males!” Jawab Vania singkat menyilangkan tangannya.
“Cemburukah?” singkat Sony menggoda Vania meraih dagu gadis itu dan menatapnya lekat.
“Siapa juga yang cemburu, aku hanya kesal saja. Mas Sony sudah tidak menganggapku sama sekali. Mas Sony selalu mengabaikanku, bahkan memberiku kabar saja tidak pernah. Mas pasti sibuk dengannya, kan?” Vania terus marah-marah dan menuduh Sony.
“Sayang, jangan marah-marah terus ya ... senyum dong, Mas ingin melihat senyuman manismu. Bukan cemberut seperti ini.” Sony meraih tangan Vania, Sony menggenggamnya.
“Mas, jangan pegang. Sakit!” menarik tangannya dari genggaman Sony.
“Sakit? Astaga kenapa ini Dek?” memperhatikan tangan Vania yang merah. Begitu khawatirnya Sony melihat tangan gadisnya terluka.
“Gara-gara Mas Sony tadi menyuruhku buat kopi, tanganku kena air panas.” Vania menggerutu kesal.
“Maaf sayang, mas tidak tahu akan melukaimu. Biar kuobati, Mas ambil salep dulu ya, tunggu sini.”
__ADS_1
Sony bergegas menuju laci di kamarnya, mengambil kotak P3K mencari salep untuk luka bakar. Ia lalu mengoleskan ke tangan Vania secara perlahan.
“Sakit?” Vania mengangguk manja dengan bibir yang dibuat manyun, padahal lukanya pun tak seberapa perih dibanding sakit hatinya yang sempat membara beberapa menit yang lalu.
Selesai mengobati lukanya, Sony menatap Vania lekat. Netra mereka saling bertemu. Vania yang bersender di sofa pun mulai malu dan merona karena di pandang tanpa kedipan.
Kenapa Mas Sony memandangku seperti itu, Ya Tuhan apa dia mau menciumku? Jantungku serasa mau copot! Semoga dia tidak mendengar detak jantungku yang mulai kacau tak beraturan.
“Kenapa gerogi, Dek?” Sony mendekatkan wajahnya. Vania tersipu, pipinya mulai memerah. Ia menggelengkan kepalanya pelan lalu mengalihkan pembicaraan.
“Mas, itu kopinya kenapa nggak di minum?”
“Ngomong-ngomong soal kopi, tadi kamu sangat terlambat Dek, jadi kamu harus menerima hukumannya.”
“Hah? Apa hukumannya?” Vania penasaran.
Sony hanya tersenyum nakal, seperti akan mengerjai Vania.
“Sini Mas bisikin.” Sony menyingkirkan sedikit rambut Vania yang menutup telinganya dengan jarinya, ia lalu mendekatkan bibirnya tepat ke daun telinga itu, Vania pun merasa geli dan merinding dengan nafas Sony yang berembus hangat di sekitar lehernya.
“Beri Mas ciuman!”
Vania langsung menutup mulutnya dan mulai beringsut ke samping menjauh dari Sony. Sony pun tertawa lepas melihat Vania yang salah tingkah.
“Dek, apa selama Mas pergi, kamu mengenakan rok sependek ini?”
“Roknya kan semua memang satu ukuran Mas, aneh juga kalau pakai yang panjang.”
“Mas tidak suka. Dan ... apa di dalamnya kamu mengenakan celana pendek?” pertanyaan Sony membuat kedua mata Vania membulat sempurna.
“Hiiihhh ... Mas kenapa menanyakan hal seperti itu sih?”
“Mas cuma mau memastikan, dan sebaiknya Adik selalu hati-hati. Mas tidak mau kejadian satu tahun yang lalu terulang lagi. Jadi, jaga pakaianmu. Jangan sampai membuat lelaki tergoda.”
“Huft, repot banget sih Mas.”
“Dasar bandel.” Sony memencet gemas hidung Vania.
“Iya, iya ... besok pakai daleman.”
“Aku turun dulu ya, Mas.”
“Mau ke mana? Selesaikan dulu hukumanmu Dek.” Sony tertawa sengaja menggoda Vania. Ia pun tersipu malu mengingat perkataan Sony yang menyuruhnya untuk menciumnya. Ia lalu beranjak dari sofa itu. Sony membiarkan Vania berjalan menuju pintu, percuma dia juga tidak bisa membukanya karena dikunci oleh Sony.
“Mas, kok tidak bisa di buka? Mas menguncinya?”
__ADS_1
“Sengaja biar kamu tidak pergi, Dek.”
“Mas mau ngapain?” Vania mulai berpikir negatif, takut Sony akan berbuat sesuatu padanya.
“Tenang saja Dek, Mas masih waras jadi tidak mungkin Mas mau berbuat aneh-aneh padamu.”
“Terus kenapa dikunci?!”
“Makanya duduk dulu sini,” Sony menepuk sofa sebelahnya menyuruh Vania duduk. Ia pun menurut dan kembali lagi ke sofa yang tadi ia duduki.
“Mas mau ... kita menikah secepatnya Dek.”
“Hah?! Apa Mas? Aku tidak salah dengar?” Vania membulatkan mata, ia tidak habis pikir Sony terus-terusan mengajaknya menikah. Padahal ia belum siap.
“Mas mau mengajakmu menikah.” Sony mengulangi ucapannya lebih dekat ke telinga Vania.
“Ta—tapi aku belum siap Mas, kenapa harus cepat-cepat? Belum lagi nanti, apa kata Bapak sama Ibuk?”
“Besok, kita akan menemui mereka. Mas akan meminta ijin lagi.”
“Lagi? Maksudnya?”
“Ya, Mas mau minta ijin lagi ke Bapak kedua kalinya, karena waktu itu Mas juga sudah pernah meminta ijin kepada beliau.”
“Kapan? Kok aku nggak tau?!” tukas Vania keheranan dengan setiap kata yang keluar dari bibir Sony yang sangat mengejutkannya.
“Kamu ingat saat kita mau berangkat ke sini? Mas lama mengobrol dengan Bapak, dan saat itu juga Mas melamarmu.”
“Benarkah? Terus Bapak jawab apa Mas?”
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚😍💚...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1