
"Assalammualaikum Mas,"
"Waalaikumsalam Adik manis... Alhamdulillah langsung diangkat. Sedang tidak sibukkah Dek?” tanya Sony merebahkan tubuhnya di ruang santai kamar hotel.
"Tidak sibuk kok Mas, Adik baru saja selesai makan siang di kantin. Memangnya kenapa Mas kok bersyukur begitu waktu kuangkat teleponnya?” ucap Vania tersenyum sambil memandangi teman-temannya yang lalu lalang di kantin sekolah karena memang sedang istirahat.
"Tidak apa-apa, Mas cuma kangen Dek." Jawab Sony.
"Sama Mas, aku juga. Kira-kira kapan ya Mas kita bisa bertemu?”
“Sabar ya, semua hanya tentang waktu kok Dek, tunggulah dan doakan semoga cepat bertemu.”
“Iya Mas. Jarak yang hanya mempersulit, jangan sampai menjadikan kita rumit.”
“Iya sayang, intinya kita saling berkomitmen untuk menunggu. Jadi ketika bertemu, penantian tidak akan ada yang sia-sia.” Jawab Sony dengan bijaknya.
“Iya Mas, Mas Sony sudah makan?” Tanya Vania.
“Belum Dek, Mas belum lapar. Adik sudah salat?” tanya Sony. Pertanyaan yang ia selalu tanyakan kepada Vania ketika telepon, sekedar mengingatkan agar Vania menjaga salatnya.
“Belum Mas, sebentar lagi aku salat. Nanti masuk lagi pukul setengah dua karena lagi ada pelajaran tambahan Mas, jadi pulangnya agak sore.”
“Jangan di tunda-tunda ya sayang. Biar tidak malas. Oke?!”
“Siap Mas. Ehmm kalau di pikir-pikir rasanya kangen juga ya Mas, salat di hotel. Semangat banget kalau mau salat karena imamnya ganteng. Hehe...”
“Nakal ya, salat itu karena Allah Dek, masa karena Mas.” Kekeh Sony menegur sambil tertawa karena Vania menyebutnya ganteng. Biasanya memang dia sangat gengsi atau malu mengucapkan kata itu, apalagi bilang sayang. Kalau tidak keceplosan mungkin tidak akan keluar kata-kata itu.
“Dek, Mas mau bertanya. Tapi tolong di jawab dengan jujur ya?” Sony mulai serius.
“Iya Mas, memang mau tanya apa.?”
“Adik terganggu tidak kalau Mas selalu meneleponmu? Atau bosan?!” tanya Sony yang selalu di hantui rasa tidak enak hati karena sering menghubungi Vania, bahkan terkadang sehari bisa belasan kali bertanya kabar. Bahkan dia selalu tidak sabar dan khawatir ketika Vania tidak segera membalas pesan darinya.
__ADS_1
“Tidak sama sekali Mas. Kenapa Mas berpikir seperti itu? Aku senang Mas meneleponku, aku juga sangat bahagia ketika menerima pesan dari Mas Sony. Aku mengatakannya dengan jujur Mas.”
“Serius Dek?”
“Iya serius lah Mas. Kenapa juga aku harus bohong.”
“Aku hanya ingin mengetahui kabarmu Dek, aku ingin memastikan kamu baik-baik saja dan juga sedikit melepas rasa rindu.” Mendudukkan tubuhnya dan berjalan ke arah jendela, memandangi pemandangan luar yang terlihat sangat indah.
“Insya Allah aku akan selalu baik-baik saja kok Mas. Mas jangan terlalu khawatir ya. Buktinya dari dulu sebelum bertemu Mas, aku juga bisa jaga diri sendiri kok.” Ucap Vania sambil meminum jus alpukat yang sedang ia pegang.
“Beda sayang, kan dulu memang belum bersama Mas. Dan belum ada konflik dengan Ega. Kalau sekarang, wajar Mas khawatir karena posisi kita jauh. Mas takut terjadi apa-apa sama kamu Dek, dan lagi Mas juga tidak bisa menolongmu. Bahkan menjagamu saja tidak.” Jelas Sony.
“Mas perhatian boleh, tapi jangan terus mengkhawatirkanku. Justru itu akan membuat Mas tidak tenang. Percayalah, aku sangat baik-baik saja di sini.”
“Maaf ya Dek kalau Mas sudah membuatmu tidak nyaman.”
“Tidak apa-apa Mas. Tidak masalah kok.”
“Kebiasaan yang mana Mas maksudnya?”
“Ya kebiasaan Mas bertanya kabar Dek. Begini maksud Mas, waktu pagi Mas ingin menjadi orang pertama yang menyemangatimu Dek. Siang hari, Mas ingin memastikan harimu baik-baik saja. Dan malam hari, Mas ingin menjadi satu-satunya orang yang mengucapkan selamat tidur, juga memastikan Adik dalam kondisi aman. jadi cukup tiga waktu itu saja Mas menghubungimu, tapi kira-kira Mas sanggup tidak ya?" jelas Sony mengusulkan sesuatu namun masih dia ragukan kemampuannya.
“Mas Lucu. Mas buat aturan sendiri tapi Mas ragu tidak mampu menjalankannya. hehe ..., terserah Mas saja bagaimana enaknya, mau Mas setiap hari mengirimku pesan ribuan kali pun juga tidak masalah kok Mas, he he... hanya saja Adik minta maaf kalau sampai pesannya belum sempat balas Mas, karena mungkin sedang ada pelajaran. Atau kalau di rumah pasti bantu masak ibu atau memasak.” Jelas Vania.
“Mas serius Dek. Adik bahagia enggak sama Mas? Mas mau, apa pun yang membuat Adik tidak nyaman atau sudah merasa bosan dengan Mas, tolong beri tahu aku ya Dek. Agar Mas bisa merubah sikap dan setidaknya tahu apa yang harus Mas lakukan.”
“Mas, bagiku, aku adalah wanita beruntung yang mendapat kasih sayang dari Mas Sony. Aku bisa sedekat ini dengan Mas Sony saja rasanya masih seperti mimpi mendapatkan lelaki yang sangat-sangat ta-tampan” ucap Vania terbata menyebut kata tampan karena malu untuk memuji Sony.
“Dan lagi, perhatian Mas Sony, itu sangat membuatku merasa seperti ratu Mas.” ucap Vania pelan namun masih terdengar di telinga Sony dari ponselnya, Vania tersenyum tipis terlihat berbinar di mata teman-temannya.
“Benarkah? Jangan bicara seperti itu Dek. Adik terlalu memuji. Membuat Mas seperti terbang. Ha ha ha ... sejak kapan Adik pintar menggombal, hah?!”
__ADS_1
“Aku tidak menggombal Mas, aku berkata jujur.” Ucap Vania sedikit keras sambil tertawa, tiba-tiba saja sepasang mata terpusat ke arah Vania yang sedang mengobrol lewat ponselnya terlihat sangat bahagia.
“Van, boleh duduk sini?” ucap Ega sengaja mendekat karena ingin membuat Sony cemburu.
“Tidak. Kamu duduk saja tempat lain, meja kosong kan masih banyak. Kenapa harus di sini?!” ucap Vania sewot pada Ega yang selalu mengganggunya di mana pun.
“Dia lagi, dia lagi. Sampai kapan sih Dek dia berhenti mengganggumu? Mas sangat heran.” Ucap Sony tidak suka mendengar suara Ega.
“Aku juga tidak tahu Mas kenapa dia selalu menggangguku.” Ucap Vania lantang yang terdengar jelas di telinga Ega yang duduk di sebelahnya.
“Van, aku sama sekali tidak mengganggumu. Aku hanya ingin duduk bersebelahan denganmu. Aku kangen masa-masa kita pacaran dulu. Kita selalu berduaan di kantin.” Ucap Ega mengada-ngada.
“Dek, sebaiknya telepon di matikan saja ya. Nanti kalau sudah pulang telepon lagi di rumah. Adik cepat kembali ke kelas dan jangan lupa salat. Mas akan semakin panas di sini mendengar suara lelaki itu, apalagi Adik berdekatan dengannya.” Ucap Sony geram memanas menahan emosi mendengar perkataan Ega. Sony mempunyai kecemburuan yang cukup akut jika Vania berdekatan dengan pria lain. Apalagi saat ini dia tidak di sampingnya.
“Iya Mas, maafkan Adik ya. Jangan marah.. please..” ucap Vania memohon merayu agar Sony tidak marah atau cemburu.
“Mas tidak marah sama Adik.. Mas cuma tidak suka Adik berdekatan dengannya. Makannya Mas suruh Aduk kembali ke kelas.”
“Iya Mas, ya sudah kalau begitu. Nanti aku kabari lagi ya Mas kalau sudah pulang.” Ucap Vania tersenyum sambil mengibaskan tangan Ega yang menahannya untuk pergi.
“Iya sayangku. Semoga harimu menyenangkan. Dan belajar yang rajin ya. Jaga kesehatan. Love you.” ucap Sony mengakhiri teleponnya.
“Siap Bos. Love you too Sayang. Assalammualaikum.”
“Wa’alaikum salam cantik.”
Mereka mengakhiri teleponnya dan bergegas ke kegiatan masing-masing. Sony membangunkan Beny untuk mengajaknya makan siang, Vania bergegas menuju masjid untuk salat. Ega yang selalu mengekorinya pun tak ada bosannya mendekati Vania.
.
.
.
Bersambung
maafkan author ya lama tidak Up dikarenakan asam lambung naik, kondisi drop harus banyak istirahat.
semoga setelah ini bisa rajin up lagi ya..
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak, komentar, like, vote ya...
terima kasih readers baik..💚😍