
Pandangan tajam yang diluncurkan Sony membuat Ega semakin tertantang untuk menggoda Vania. Tangan Sony yang tadinya berada di atas meja, kini berubah posisi menjadi merangkul pundak Vania.
“Jangan terlalu dekat dengannya Dek, geser sini.” Merapatkan kursi Vania ke kursi Sony hingga keduanya tidak berjarak.
Sifat sabar Sony yang berlipat membuatnya acuh tak peduli menghadapi orang seperti Ega. Selama tidak melewati batas, dia masih sangat bisa menahan emosinya. Namun jangan tanya, jika ia sudah naik pitam sampai ubun-ubun, apa pun dan siapa pun akan di lemahkannya.
“Siapa yang mengiyakan kamu duduk di situ Ga?!” Bentak Dina membulatkan matanya pada Ega.
“Kenapa kalian tidak memberitahuku kalau ada pesta seru di sini? Apa kalian tidak ingat?! aku orang yang selalu ada di samping Vania selama ini, aku juga orang yang pertama kali memilikinya.” Tutur Ega menegaskan kalimatnya yang penuh arti sindiran, melirik Sony.
Hati dan otak Sony memanas seperti terbakar api mendengar ucapan Ega. Tangannya mengepal menahan agar tidak meloloskan tinjunya ke muka Ega. Bukan tidak berani, dia harus jaga sikap, apalagi di tempat umum seperti ini, sebisa mungkin ia tidak akan menimbulkan keributan.
“Tapi kamu sekarang bukan siapa-siapa Ega. Jadi stop berkata seperti itu. Kamu hanya bisa merusak momen. Tolong, sebaiknya kamu pergi saja dari sini.” Ucap Vania.
“O iya, Happy Birthday Vaniaku sayang. Doaku, semoga kamu segera diberi kesadaran untuk kembali padaku lagi ya, semoga.” Ega meraih tangan Vania untuk bersalaman mengucapkan selamat lalu memberikan buket bunga mawar merah yang dibelinya sebelum menuju kafe tersebut.
“Iya, terima kasih ucapannya, tetapi aku tidak butuh doa jelek dari kamu.” Menerima uluran tangan Ega. Namun segera menariknya lagi ketika lelaki itu mulai mendekatkan punggung tangan Vania ke bibirnya. Ega berniat mencium punggung tangan nan mulus itu.
Sony yang memperhatikan mimik muka dan gerak gerik Ega segera menarik kursi Vania ke belakang dengan cepat lalu menendang kaki kursi Ega menjauh dari Vania. Sungguh sakti, gerakan cepat tak terkontrol itu sangat rapi dan sesuai dengan harapan Sony.
“Mas! Ah!” teriak Vania begitu mendapat reaksi mengejutkan karena kawatir akan jatuh.
“Maaf Dek. Mas terpaksa menjauhkanmu dari aura negatif.” Ucap Sony tanpa melihat Vania, namun bola mata itu menatap tajam ke arah Ega.
“Ega, sudahlah jangan buat ulah di sini, malu di lihat orang,” Ucap Kiki.
Ega tak menghiraukan ucapan Kiki, justru dia mengarahkan matanya ke Sony, pria yang saat berada di samping Vania tanpa jarak.
Netra tajam penuh amarah diluncurkan keduanya, mereka saling tatap, saling menahan emosi namun Sony berhasil menormalkan kembali gejolak yang sempat membara itu. Tak lama kemudian, Ega beranjak pergi melangkahkan kakinya ke meja lain. Meja yang terletak di ujung sebelah kiri hotel tersebut. Rupanya memang sudah ada temannya yang menanti di sana.
__ADS_1
“Syukurlah dia mau pergi.” Vania menatap belakang punggung Ega yang berlalu pergi dari mejanya. “Maaf ya Mas, suasananya jadi begini.” Vania memutar pandangannya pada Sony.
“Tidak masalah Dek, jangan minta maaf seperti itu. Adik enggak salah.” Seperti biasanya, Sony selalu melontarkan senyuman manis ke Vania. Bibir lembut yang pernah mendarat di bibir Vania waktu itu, kini membuat Vania teringat lagi kejadian satu tahun lalu saat Sony pertama kali menciumnya, ia semakin deg-degan ketika memperhatikan lukisan indah di depannya itu.
"Bibir itu sungguh manis, lembut, seksi sekali Mas Sony ini," Gumam Vania dalam hati sambil menatap lekat bibir merah di depannya.
"Ya Allah kuatkan aku agar tidak berpikir kotor. sangat memalukan kalau Mas Sony mengetahui isi kepalaku. Dasar mesum." Vania mengutuki dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka menikmati hidangan makan malamnya. Satu persatu meninggalkan tempat itu. Tinggallah dua insan yang tersisa di meja itu. Beradu netra penuh makna, seakan menyimpan seribu kata yang ingin diungkapkan. Hembusan angin malam yang semakin menusuk pori-pori membuat keduanya larut dalam suasana romantis.
“Dek, maaf ya , Mas terlalu lama menemuimu. Mas benar-benar sibuk, banyak banget yang harus di urus.” Menggenggam punggung tangan Vania yang berada di atas meja.
“Ah, tidak apa-apa Mas. Tidak masalah. Yang penting sekarang Mas Sony ada di depanku. Terima kasih.” Ucap Vania yang merasakan getaran hebat saat melihat bola mata Sony.
Lagi-lagi, satu detik, dua detik, banyak detik terlewatkan hanya dengan kebisuan. Namun mata masih sangat lekat memandang satu sama lain.
Waktu yang berjarak cukup lama membuat pertemuan mereka menjadi canggung dan mungkin sekarang tenggorokan mereka seperti tercekat karena bingung apa yang harus di bicarakan, karena selama ini terlalu banyak mereka menyimpan kalimat yang ingin di bahas, hingga saat bertemu kembali. Mungkin hanya satu kata yang bisa terucap menggambarkan semuanya ‘rindu’. Ya, kata rindu mungkin kata yang tepat untuk mereka saat ini.
POV EGA
Siang hari ketika Ega tak sengaja mendengar percakapan Vania dan Dina pura-pura tidak tahu kalau mereka akan mengadakan makan malam kecil-kecilan di sebuah kafe untuk merayakan ulang tahun Vania yang kini menginjak usia delapan belas tahun. Masa ketika ia melewati keremajaannya.
Timbul rasa benci pada lelaki yang merebut wanita yang pernah bersamanya dulu. Lebih tepatnya, Vania yang meninggalkan Ega’ bukan Sony yang merebutnya. Dengan berani dan penuh percaya diri dia berusaha tetap tegar dan perlahan ia melangkahkan kakinya dengan paksa menuju meja yang diduduk i oleh enam orang tersebut.
“Aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan pria mana pun Van. Sampai kapan pun aku tidak akan rela melepasmu dalam hidupku. Kamu wanita yang pertama kukenal, wanita yang pertama kali mengisi hatiku. Kau tahu, aku sangat sakit ketika kamu lebih memilih pria lain dibanding aku yang lama memperjuangkanmu.” Batin Ega.
FLASH BACK OFF
“Mas, berapa hari di sini?” tanya Vania memulai pembicaraan setelah beberapa detik lalu tanpa suara di antara keduanya.
“Mungkin dua hari Dek, memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa Mas, cuma tanya kok. Lalu, Mas menginap di mana?!”
“Mas menginap di hotel matahari Dek, tak jauh dari sini. Adik tadi kesini naik apa? Sama siapa?”
“Aku sendirian Mas, tadi naik ojek online, motornya rusak lagi di bengkel.”
__ADS_1
“Ya sudah, nanti pulangnya Mas antar ya.”
“Jangan Mas, takut nanti di marahi ibu.”
“Tidak akan Dek, Mas yang akan menjelaskan. Adik tenang saja.”
“Tapi aku belum boleh pacaran Mas, sudahlah aku naik ojek saja. Ya?!” gerutu Vania.
“Dari dulu kamu tidak pernah berubah ya Dek, selalu saja keras kepala. Bandel kalau di kasih tahu. Kenapa susah banget buat nurut sama Mas.”
“Oke, baiklah. Terserah Mas saja kalau begitu.”
“Dek, soal Ega ... apa selama ini dia tidak berhenti mengganggumu? Terus terang Mas sangat tidak suka dengannya. Dia selalu mengejar dan mendekatimu.”
“Dia sebenarnya baik Mas, hanya saja dia sedikit menyebalkan. Ya, terkadang aku merasa sangat terganggu. Tapi ketika aku butuh bantuan, dia yang selalu membantuku.” Ucap Vania tanpa rasa bersalah dan dengan santainya meneguk segelas jus di tangannya.
Hati Sony seperti teriris mendengar Vania memuji lelaki lain, bahkan secara tidak langsung ia membandingkan Ega dengan dirinya, memang Sony berada jauh dari Vania hingga Sony tak mampu menjaga dan melindunginya langsung ketika Vania dalam kesulitan.
“Maksud kamu apa Dek memuji dia terang-terangan di depan Mas? Memang saat ini, Mas tidak bisa berada di sampingmu terus. Kalau di suruh memilih, pasti aku akan memilih untuk tinggal di sini, menemanimu bahkan tak memberikan celah sedikit pun untuk lelaki di luaran sana mendekatimu.” Ujar Sony menahan sesak di dada karena rasa bersalah.
tatapan tajam Sony yang tak begitu tajam.😂
**Bersambung...
Halo, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
like, vote, dan komentar kalian penyemangat buat author. makasih yaa...💚💚😍😍**
__ADS_1