Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Bahagia Yang Sederhana


__ADS_3

Sony menggandeng tangan Vania. “ Sudah siap sayang?” Vania mengangguk, mereka lalu berjalan menuju samping rumah. Vania pun hanya mengikuti Sony yang entah ke mana ia akan membawanya pergi.


 


“Tunggu di sini sebentar ya Dek,” pinta Sony terhadap Vania, ia lalu melangkahkan kakinya ke garasi yang tertutup rapat.


 


“Mas, mau ngapain?” tanya Vania heran melihat Sony mulai membuka pintu garasi lipat itu. Buat apa Sony membuka garasi kalau mobilnya saja masih terparkir rapi di halaman depan.


 


“Kita naik motor sayang, mau?!” Sony menuntun motor merahnya keluar dari garasi. Motor penuh kenangan dengan istri tercintanya.


 


“He’ehm, mau banget, Mas!” pekik Vania, tampak wajahnya semringah melihat Sony berjejer dengan motornya. “Kok bisa ada si merah? Kapan Mas menyimpannya di sini, kok Adik nggak tahu?”


 


“Ya jelas tidak tahu Dek, kan baru tadi Sore Beni mengantarnya, saat kita masih di hotel.” Jelas Sony, ia menaiki motornya dan mulai memakai helmnya. “Ayo.” Ajak Sony memperhatikan Vania yang terus tersenyum kepadanya.


 


“Kok malah senyum-senyum, Dek? Ayo, pakai helmnya.” Vania masih terus melihat Sony, ia begitu rindu dengan penampilan Sony seperti itu, menaiki motor merah yang gagah, juga pemiliknya yang tak kalah gagah memakai jaket kulit andalannya yang berwarna hitam. Ia memutar ingatannya ke beberapa tahun yang lalu. Saat ia pertama kali diantar ke kos menggunakan motor itu, Vania memeluknya erat dan di situlah awal dari kisah cinta mereka di mulai.


 


Vania mendekat, berdiri di samping motor Sony. Ia mengulas senyum semanis madu pada suaminya. Ingin rasanya Vania mencium gemas Sony karena ia begitu memesona dan berhasil membuat ia terpana. Tak dapat di pungkiri Vania benar-benar ingin menikmatinya lagi, mengulang kenangan cerita dulu saat ia naik motor mengelilingi kota, memeluk perut Sony dengan erat dan saling berbagi tawa bahagia layaknya insan yang kasmaran.


 


“Terima kasih sayang.” Ucap Vania lirih, ia lalu langsung menyambar bibir lembut Sony. Mengecupnya singkat, yang punya bibir pun memundurkan sedikit kepalanya karena terkejut, ia mengedipkan matanya lalu tersenyum.


 


“Istriku sudah mulai menantang di depan umum, ya.” Kekeh Sony mencubit manja hidung Vania.


 


“Ih Mas, sakit tau!” Vania mengerucutkan bibirnya, Sony dengan telatennya memakaikan helm ke kepala Vania dan memastikan meng klik di bagian talinya agar aman.


 


“Ayo naik, Dek. Sudah jam sembilan lo ini.” Vania pun segera naik, tangannya berpegangan pada pundak Sony.


 


Malam melanjutkan tugasnya bersama bintang, bersama bulan, mereka tak kan menghilang hingga ia berganti dengan fajar. Malam panjang untuk Vania dan Sony yang tengah menikmati indahnya kota, menikmati segala keramaian di setiap sudut jalanan, terdapat angkringan, lesehan, juga kafe yang masih tetap saja ramai walau malam semakin larut dan udara semakin menusuk pori.


 


“Mas, mau makan itu.” Ucap Vania yang tengah bertumpu di pundak kiri Sony, tangannya erat melingkar di perutnya. Berpegangan kencang seakan takut akan terjatuh, padahal bukan itu. Vania sangat menikmati momen berduaan ini, dunia serasa milik dua. Rasa cinta kasih mereka semakin hari semakin terpupuk subur, semakin besar rasa takut kehilangan satu sama lain.


 


“Apa sayang?” tanya Sony memastikan permintaan Vania.


 


“Mau bakmi rebus yang di sana itu Mas. Sepertinya enak makan yang panas-panas.” 


 


“Baiklah, pegangan!” Sony mengeratkan tangan Vania di perutnya untuk berpegangan, ia lalu melajukan motornya menuju gerobak bakmi yang ada di pinggir trotoar. Begitu sampai, Vania langsung turun dan mencium bau sedap bumbu yang di tumis.


“Mas cepat, Adik sangat lapar.”

__ADS_1


 


“Iya Dek, sabar. Mas lepas helm dulu.”


 


“Mas, mau makan apa? Biar Adik yang pesan.”


 


“Sama aja kaya Adik. Bakmi rebus, kan?”


 


“Oke.” Ucap Vania semangat, ia langsung menghampiri abang penjual untuk memesan makanannya.


 


Tek Tek Sreng Sreng Tek Tek


 


Bunyi spatula dengan penggorengan beradu cukup keras memekik telinga. Sengit cabai bercampur harumnya bawang goreng menguar di udara, Pak penjual terus mengaduk-aduk bakmi goreng pesanan pembeli lain yang setia menunggu.


 


“Pak, bakmi rebus dua ya. Sama minumnya jeruk panas, terima kasih”


 


“Iya Mbak, sebentar ya.” Vania lalu berjalan ke arah tikar kosong yang sudah lengkap dengan meja setinggi dada.


 


“Sudah pesan, Dek.” Sony duduk di samping Vania.


 


 


Selang beberapa menit menunggu, bakmi tebus pesanan sudah datang dengan asap panas yang mengepul, mie kuah itu terlihat sangat nikmat.


 


“Monggo, Mas, Mbak.” Penjual itu menaruh dua piring bakmi serta dua jeruk panas.


 


“Terima kasih Pak.”


 


“Mas, sedap sekali aromanya.” Vania menghirup uap bakmi yang sudah berada di meja depannya sambil memejamkan mata. Ia tak sabar ingin menyendoknya.


 


“Bismillah dulu, sayang.” Sony mengingatkan.


 


Vania pun makan dengan lahap meskipun masih panas. Sony tersenyum bahagia memperhatikan istrinya, walau di pinggir jalan sekalipun dia sudah sangat senang dan menikmati makanannya.


 


Aku tidak salah memilihmu sayang, kau begitu sederhana dan apa adanya. Gumam Sony sembari menyingkirkan anak rambut Vania yang mengganggunya makan.


 

__ADS_1


“Lapar ya, sayang? Mau tambah lagi?” tanya Sony pada istrinya yang tengah menyendok suapan kuah terakhir.


 


“Enggak Mas, sudah kenyang. Alhamdulillah.” jawab Vania, tangannya mengelap bibirnya dengan tisu.


 


“Habis ini, kita masih muter-muter, kan Mas?”


 


“Adik maunya mau ke mana?”


 


“Terserah, yang penting jangan pulang dulu.”


 


“Ya sudah, ayo.”


 


Sony lanjut ke penjual untuk membayar makanannya, ia memberikan beberapa lembar uang merah, sekedar ingin menambahinya. Ia memang begitu dermawan terhadap para sekitar.


 


Vania dan Sony memutari kota Jogja, dari alun-alun kidul, alon-alon lor, juga Malioboro.


 


“Dek, kita pulang ya. Sudah jam sebelas sayang. Apa Adik tidak mengantuk?” Sony bicara sedikit mengeraskan suaranya karena motor masih melaju di jalan yang masih padat kendaraan.


 


“Baiklah.”


 


Di tengah-tengah perjalanan, rintik hujan mulai menetes menyapa kulit dan wajah Sony. Walau tetesannya tak seberapa, namun masih saja ia bisa merasakannya.


 


“Dek, pegangan yang kuat. Mas mau ngebut, takut hujan deras.” Tangan Sony mengeratkan tangan Vania yang mulai longgar. Sepertinya penyakit kenyang membuat ngantuk sudah mengenai Vania. Kepala Vania menempel di bahu Sony, matanya terpejam sesaat. Namun ia tersadar kembali saat tangannya di tarik oleh Sony.


 


“Dek, jangan tidur dulu. Bahaya! Buka dulu matanya masih 15 menit lagi kita sampai rumah.”


 


“Iya Mas. Adik nggak tidur. Matanya udah lebar nih!”


 


Dengan kecepatan 80 kilometer / jam Sony menyapu jalanan kota, kali ini kendaraan sudah mulai sepi karena malam sudah hampir larut. Rintik hujan yang tadinya hanya menetes kecil, kini berubah menjadi tetesan besar, air dari langit itu pun membasahi mereka. Hujan pun mulai deras. Sony langsung memelankan gas motornya untuk segera berhenti di suatu tempat untuk berteduh karena tidak mau istrinya sakit.


 


 


Bersambung....


Gengs, sepertinya beberapa bab lagi novel ini aku tamatin aja. Karena yang baca sudah mulai menghilang dan membuatku sedih, mungkin memang aku harus merefresh kembali pikiranku agar bisa lanjut ke novel berikutnya nanti.


Tolong tinggalkan jejak ya... like, vote, dan komen sebanyak-banyaknya. Terima kasih.🌷❤

__ADS_1


__ADS_2