
Keesokan harinya di lantai dua, di kamar bernuansa abu-abu yang terletak dekat dengan tangga. Sony keeluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya, dia membuka lemari besar di lorong depan kamar mandi dan mengambil kemeja putih di padu dengan dasi biru muda bermotif kemudian memakinya, setelah itu bergegas menyisir rambut yang sedikit basah karrna terkena air.
Jaket kulit hitam di luarnya juga tak mengurangi kesan formal, bahkan penampilannya terlihat sangat keren. Acara rapat yang diadakan di hotel nanti termasuk acara yang santai. Jadi dia memilih mengenakan pakaian kemeja biasa di lapis dengan jaket ketimbang dia memakai setelan jas. Baginya terlalu resmi.
Selesai bersiap-siap, ia segera menuruni tangga menuju meja makan. Tak lupa dia menyahut dompet dan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Terlihat Om Irawan dan Tante Reni sudah di meja makan namun belum memulai makannya.
Tersaji hidangan pagi yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangganya lengkap dengan jus di sebelah piring masing-masing.
“Ganteng sekali keponakan tante.” Sapa tantenya.
“Biasa saja tan.” jawab Sony tersenyum menarik kursi ke belakang lalu mendudukinya.
“Pakai begitu lebih keren Son daripada seragam security.” lanjut tante Reni tertawa.
“Bukannya lebih gagah kalau memakai seragam ya tan. Hahaha.” Sahut Sony menanggapi dengan bercanda.
“Son, kamu bareng om saja ya, tidak usah bawa motor.” Lanjutnya.
“Kenapa om? Sony naik motor saja biar gampang nanti pulangnya. Om kan harus pergi ke Jakarta setelah acara.”
“Justru itu, om harus pergi, jadi mobil kamu yang bawa. Nanti om dijemput sama Ali ( kaki tangan Pak Irawan) pakai mobil satu lagi. Biar muat kopernya."
“Loh tante bagaimana? Tidak ikut?” tanya Sony.
“Tante menyusul Son, karena nanti tante masih mau menghadiri makan siang teman tante yang baru saja pulang dari luar negeri. Jadi nanti habis magrib tante berangkatnya.”
“Oh, begitu.”
Sony dan Pak Irawan tiba di hotel, semua orang terkejut dan membulatkan matanya melihat sosok tampan yang berjalan beriringan di samping Pak Irawan. Ada beberapa anak magang yang tidak sengaja berpapasan dengan Pak Irawan dan Sony.
__ADS_1
“Dia siapa? Ganteng sekali.” Ucap seorang anak magang melihat tak berkedip sambil berjalan membawa trolly linen.
“Sepertinya aku pernah melihatnya.” Sahut temannya.
“Eh bukankah itu security hotel ini?” sambung temannya satu lagi.
“Tidak mungkin, pasti bukan. Masa iya security setampan itu.”
“Masa sih kamu belum pernah melihatnya? Seingatku dia memang security sini, dia memang aslinya sangat tampan.”
Empat gadis saling melempar pendapat hingga sudah tak terlihat lagi sosok yang mereka bicarakan itu. Sony dan Pak Irawan memasuki resepsionis yang disambut ramah oleh beberapa orang di dalamnya. Mereka menganggukkan kepala mengucapkan selamat pagi, karyawan yang ada di lantai bawah terkejut melongo penuh tanda tanya melihat lelaki tinggi besar, Berjaket hitam itu datang bersama pemilik hotel dan terlihat sangat akrab.
“Itu bukannya Sony? Kok dia sama Pak Irawan. Apa mereka saling kenal?” ucap Susan kepada Lila yang berdiri di meja resepsionis.
“Katanya Pak Irawan hari ini akan mengadakan rapat santai. Kira-kira akan membahas apa ya?” Tanya Susan.
“Yang menjadi pertanyaan, Sony memakai kemeja dan dasi. Membuatku semakin penasaran. Sebagai apa dia bisa berjalan di samping Pak Irawan?” Lila menyela pertanyaan Susan yang belum dijawabnya.
“Iya, ya... kita tunggu saja nanti hasil dari rapat. Bisa jadi ada hubungannya juga sama Sony.”
Beberapa partner dan para pemimpin departemen sudah berkumpul di melati room, ruang pertemuan yang cukup luas. Terdapat beberapa meja bundar dan delapan kursi di setiap mejanya. Bunga standing yang di letkakkan di setiap pojok ruang membuat suasana ruangan menjadi hidup dan juga harum khas bunga semerbak menyapa hidung yang berada di dalam ruangan itu.
Beberapa tamu menikmati jamuan makan dengan santai sambil mendengarkan lagu yang di bawakan salah satu penyanyi yang cukup terkenal. Pak Irawan menyiapkan diri untuk segera mengisi sambutan, dan mengumumkan informasi penting yang harus di sampaikan.
“Selamat pagi semuanya, hari ini adalah hari yang sangat penting bagi saya, dan juga semua yang ada di sini. Saya akan mengumumkan sesuatu. Sebelumnya, mungkin banyak yang bertanya siapa lelaki yang bersama saya sekarang, mungkin sebagian sudah mengenalnya. Lebih jelasnya, saya akan mengenalkannya lagi lebih detail.” Ucap Pak Irawan berdiri di depan.
“Kemari Son!” perintah Pak Irawan menyuruh Sony berdiri di sebelahnya yang di jawab dengan anggukan dan langsung berdiri.
__ADS_1
“Perkenalkan, dia adalah Sony Dirgantara. Dia keponakan saya, lulusan terbaik dari Universitas X. Sebelumnya dia sempat menjadi security di hotel ini. Bukan karena dia malas atau tidak ingin bekerja keras. Tetapi dia memang ingin memilih jalan hidupnya yang sederhana tanpa ikut campur orang tuanya. Ayah Sony adalah kakak saya. Pemilik salah satu perusahaan terbesar di Jakarta, dan...”
“Om, maaf, tolong jangan bahas mereka di sini.” Bisik Sony memotong pembicaraan omnya, Pak Irawan lalu mengangguk.
“Jadi informasi penting yang saya sampaikan adalah, mulai hari ini dan seterusnya, saya pamit dari hotel ini, karena lelaki hebat di sebelah saya ini akan menggantikan posisi saya. Lebih tepatnya, hotel ini berpindah tangan. Bukan hak saya lagi, tetapi hak Sony Dirgantara. Karena saya sudah memberikan hotel ini kepadanya.” Para tamu undangan mulai riuh dan saling berbisik. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sampai hotelnya harus di pindah tangan. Banyak juga yang meragukan kemampuan Sony di bidang perhotelan ini.
Apa dia mampu mengelola hotel? Kan sebelumnya Cuma jadi security. Jadi mana ada pengalaman.
Tapi setidaknya dia lulusan terbaik
Lulusan terbaik belum tentu bisa menghandle semua yang ada di sini. Pengalaman kerja itu lebih penting.
Tetapi dia sangat tampan, mana sekarang jadi pemilik hotel. Beruntung sekali dia. Pasti akan banyak wanita yang mendekatinya.
Jangan salah, Sony lelaki yang sangat cuek. Waktu jadi security saja dia jual mahal, sok dingin. Apalagi sekarang jadi owner hotel. Pasti. Semakin sombong.
Heh, ngawur. Dia tidak sombong. Dia hanya pendiam dan cuek saja.
Terdengar suara beberapa orang yang membicarakan Sony, berbagai asumsi bermunculan dari pikiran mereka. Pak Irawan yang mulai mendengar kegaduhan segera menenangkan.
“Tenang, tenang, saya akan melanjutkan penjelasan saya yang belum selesai. Jadi, Sony adalah keponakan yang sudah saya anggap anak sendiri. Semua yang ada di sini juga pasti tahu, beberapa tahun yang lalu saya kehilangan anak perempuan dan saya juga sempat mengalami luka parah karena kecelakaan. Kalau saja malam itu Sony tidak menolong saya dan istri mungkin juga saya tidak akan hidup. Maka dari itu ini sebagai hadiah kecil untuknya. Meskipun dia di warisi perusahaan besar oleh orang tuanya yang berlipat-lipat nilainya dibanding hotel saya, tapi dia lebih tertarik di bidang perhotelan dan akhirnya dia mau mengelolanya. Saya sangat bangga dan bahagia bisa memiliki keponakan yang begitu rendah hati dan selalu memikirkan orang lain.”
“Om boleh saya berbicara.”
“Sangat boleh, silakan Son.”
Bersambung....
__ADS_1