
“Son, ini benar kamu? Kamu di sini nak?”
“Iya Pa, ini Sony. Papa, apa yang di rasakan sekarang? Masih sakit?”
“Sudah jauh lebih baik.”
“Syukurlah Pa, Sony lega mendengarnya. Mama sama Kakak di depan, mau Sony panggilkan?”
“Tidak perlu. Kenapa kamu mau menjenguk Papa?” Lelaki yang biasanya bersikap galak dan tegas itu kini terbaring lemah tak berdaya. Bahkan, berbicara saja rasanya harus membutuhkan energi lebih.
“Jangan bicara seperti itu, Pa. Maafkan Sony kalau selama ini menjauh. Sony hanya ingin hidup mandiri tanpa ada tekanan.” Sony menggenggam tangan Pak Gunawan, menatap netranya lekat, mata itu sayu seolah merasa bersalah karena sudah memperlakukan anaknya secara tidak adil.
“Papa kangen sama kamu, Son. Jangan pergi lagi. Tinggallah bersama Papa dan Mama, maafkan Papa.”
Belum sempat Sony menjawab kalimat Papanya, kini pintu ruangan dahlia itu terbuka lebar. Bu Rima masuk lalu berjalan ke arah Pak Gunawan, diikuti oleh dua orang di belakangnya. Keduanya perempuan, satu terlihat seumuran dengan Mamanya. Satu lagi wanita cantik yang begitu anggun, ia membawa parsel buah di tangannya, kemudian menaruhnya di meja pinggir dekat sofa.
Sony menyapa dan mengangguk ramah kepada mereka, Sony mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada wanita paruh baya itu.
“Hay, Son. Apa kabar?” perempuan cantik itu menyapa Sony dengan ramah, dan mengulurkan tangannya.
“Kabar baik, Alhamdulillah. kamu mengenalku?” Sony menerima uluran tangannya.
“Astaga?! Kau melupakanku Son? Aku Sindy. Masa lupa sih?”
“Sindy? Sindy? .... Sindy yang tetanggaku dulu bukan?” Sony berpikir.
“Iya benar! Tuh ingat.”
“Maaf aku sedikit lupa, sudah sangat lama kita tidak bertemu.”
Sindy adalah tetangga Sony waktu ia SMP, namun Sony hanya berkenalan dan bermain bersamanya sebentar. Hanya beberapa bulan karena pada akhirnya Sonu pergi dan tinggal bersama Om Irawan.
“Kamu sekarang makin ganteng ya, kamu tinggal di mana?” Sindy menatap Sony dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
“Di Yogyakarta Sin.”
“Son, dia calon istrimu.” Bu Rima menyela percakapan mereka.
“Apa?! Sony tidak bisa Ma, Sony sudah mempunyai calon istri pilihan Sony sendiri.
“Ma, jangan kau paksa Sony kalau dia tidak mau.” Ucap Pak Gunawan.
Sony menggenggam tangan Papanya erat seolah meminta pembelaan.
“Kamu itu tidak pernah bersyukur Son, sudah bagus di cariin istri yang sempurna, kurang apa Sindy, dia cantik, baik, kamu juga mengenalnya, kan? Satu lagi, dia gadis yang sukses di usianya yang masih muda.” Terang Bu Rima.
Sony tak menanggapi perkataan Bu Rima yang selalu menyuruhnya untuk menikah dengan wanita pilihannya. Beruntung Papanya yang dulu juga sangat keras, kini sudah mulai sadar untuk tidak memaksa anaknya. Dan sekarang hatinya telah luluh, mungkin karena sekarang beliau sedang sakit, atau memang ia ingin anaknya bahagia.
“Pa, Ma, Sony mau menuruti semua permintaan Papa dan Mama. Tapi jangan menikah.” Ucap Sony mulai berbicara dengan nada halus.
“Lihat kakakmu, Son! Dia sekalipun tidak pernah membantah. Dari dulu kamu memang susah diatur.”
__ADS_1
“Terserah Mama mau bicara apa. Sony datang hanya untuk menjenguk Papa, bukan untuk berdebat atau bahkan menikah.”
Sindy dan Ibunya yang duduk di sofa itu terdiam saling melihat satu sama lain saat mendengar perdebatan antara Sony dan Bu Rima.
“Pa, cepatlah sembuh. Sony akan menuruti keinginan Papa. Papa mau Sony kembali ke rumah? Sony akan nurut, Papa mau Sony mengurus perusahaan? Sony juga tidak akan lagi menolak. Tapi tidak untuk menikah, tolong pahami Sony, kali ini saja.”
“Bawa ke sini calon Papa, Papa mau melihatnya dan berkenalan dengannya.”
“Maksud Papa?”
“Bawa wanita yang kamu cintai itu ke sini.”
“Papa serius?” Sony benar-benar tak menyangka akan mendapat lampu hijau dari Papanya untuk menikahi wanita yang di cintainya. “Secepatnya, Pa. Sony akan membawanya ke hadapan Papa.” Sony tersenyum haru.
“Pa! Apa-apaan ini?! Bukankah kita sudah sepakat mau menjodohkan Sony dan Sindy?” ucap Bu Rima dengan nada tinggi penuh emosi.
“Ma, aku tidak mau memaksa Sony lagi. Dia juga anakku. Dari dulu, dia tidak pernah tinggal bersamaku, aku ingin dia di sampingku di saat aku tua. Apalagi seperti sekarang, aku terbaring lemah. Aku hanya ingin berkumpul dengan anak-anakku, rukun, dan tidak selalu berselisih paham.”
“Son, Papa mau kamu tinggal di sini. Temani Papa. Dan segeralah menikah.”
“Sony akan usahakan, Pa.”
Bu Rima akhirnya terdiam, dia tak bisa berbuat apa-apa kalau suaminya sudah berkehendak dan mengatur apa yang menjadi keinginannya.
“Buat apa kita datang ke sini kalau tidak dianggap, apa lagi terang-terangan menolakmu untuk menikah dengan Sony, padahal Mama sudah sangat bahagia kamu bisa menikah dengannya, kamu pasti akan menjadi pemilik perusahaan itu Sin.” Ibu Sindy berbisik pada anaknya.
“Ah, kamu memang lemah! Begitu saja sudah menyerah.”
“Maaf ya, Pak Gunawan, bukankah kita waktu itu sudah sepakat untuk menikahkan mereka?” Bu Rima berdiri mendekati brankar Pak Gunawan.
“Maaf Bu, tapi semua keputusan ada di tangan Sony. Saya tidak mau anak saya tidak bahagia jika saya paksa menikah dengan Sindy, sedangkan ternyata dia juga sufah mempunyai kekasih.” Ucap Pak Gunawan dengan suara lirihnya.
“Harusnya, dari awal tidak usah buat kesepakatan. Ini kan sama aja mempermainkan kami! Kasihan kan, anak saya sudah berharap lebih malah di kecewakan.” Bu Rima mulai berbicara dengan nada yang sedikit tinggi.
“Jeng, maaf ya. Kami tidak bermaksud mengecewakan kalian. Tapi saya juga benar-benar tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini.”
“Ya sudahlah, sebaiknya memang saya dan Sindy harus pergi dari sini. Buat apa terus-terusan di sini kalau tak dianggap!” Ibunya Sindy berjalan keluar ruangan dengan langkah yang dibuat tergesa-gesa. “ Ayo, Sin kita pulang!”
“Bentar Ma, Sindy mau ngobrol dulu sama Sony.”
“Hish! Ngapain sih?! Buat apa? Kan udah jelas kamu di tolak!”
“Bentar doang Ma, sebentar, ya...”
“Om, Tante, saya pamit dulu ya. Semoga Om lekas sehat.” Ucap Sindy berpamitan, “ Son, boleh saya berbicara sebentar?”
“Hem...” Sony mengangguk, lalu berjalan keluar bersama Sindy.
“Ada apa Sin?”
__ADS_1
“Duduk dulu sini.” Sindy mengajak duduk di kursi depan ruang tunggu.
“Sin, aku minta maaf ya.”
“Minta maaf buat apa?”
“Ya, karena aku sudah menolak perjodohan ini.”
“Son, sudahlah jangan pikirkan itu. Aku tidak masalah. Aku cuma ingin ngobrol aja, sudah lama kita nggak bertemu.”
“Kalau boleh tahu, wanita mana yang beruntung itu?”
“Dia, dia bukan orang sini. Kami bertemu di Yogyakarta, namanya Vania. Sebenarnya aku yang lebih beruntung mendapatkannya, dia gadis yang begitu baik.”
“Wah, wah! Sepertinya kamu memang sangat mencintainya, ya?” Sindy tersenyum tulus.
“Bagaimana denganmu?”
“Kalau aku punya kekasih, mana mau aku berencana menerima perjodohan ini, Son. Hahaha.”
“Ya, semoga kamu bisa mendapatkan lelaki yang baik Sin.”
“Terima kasih, Son. Eh, ajak aku ke Yogya dong. Aku pengen deh liburan ke sana.”
“Boleh, kapan?”
“Sekarang juga ayo!” ucap Sindy sambil tertawa lepas.
“Baiklah, mungkin besok aku akan balik buat jemput Vania. Dan mengajaknya ke sini, Papa ingin bertemu dengannya.”
“Oh, namanya Vania. Pasti cantik banget, ya?!”
“Sangat! dia sangat cantik.” Pandangan Sony kosong membayangkan kecantikan Vania, ia tersenyum kecil. Menyebut namanya saja, rasanya begitu menentramkan hatinya.
“Ah, jadi penasaran deh. Pengen kenalan. Hahah!”
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚😍💚...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1