
“Ya sudah, Mas pesan makanan dulu ya... Adik mau makan apa?”
“Terserah!”
“Kok terserah, pengennya apa sayang?”
“Kan Adik bilang terserah, lagi nggak tau mau makan apa.”
“Ayam? Daging? Ikan atau mau yang lain?”
“Enggak tahu!” Jawab Vania sinis, ia lalu masuk lagi ke kamar, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke ranjang.
“Dek, katanya lapar kok malah ke sini lagi? Apa masih mengantuk?!”
“Malas di sana. Ada cewek cantik juga kan?!” Vania lagi-lagi sewot karena ia cemburu. Ia masih penasaran dengan identitas wanita itu, namun untuk bertanya dan menanyakan kejelasannya pada Sony, ia mengurungkan niatnya. Karena saat ini yang ada di pikirannya hanya lah makan. Ia benar-benar sudah tak tahan dengan rasa perih lambungnya.
“Sayang, kenapa sinis begitu sih?!” tanya Sony mencoba memeluk Vania dari belakang. “Sekarang mau makan apa Dek, biar Mas pesankan.” Sambungnya.
“Kan aku bilang terserah. Yang penting cepat. Aku sudah tidak tahan Mas.”
“Adik ditanya jawabnya selain nggak tau, terserah. Mas jadi bingung kan.”
“Istrinya kelaparan malah enak-enakkan dengan wanita lain. Apa sih Mas yang ada di pikiran kamu? Tega banget.” Gerutu Vania dengan suara yang sangat lirih, namun samar-samar Sony masih bisa mendengarkannya.
“Dek, siapa yang berduaan sih. Dia saja baru datang tadi, terus kebetulan Mas juga dari bawah. Jadi sekalian Mas mengajaknya ke sini.”
“Buat apa?! Ah sudahlah Mas, cepat pesankan Adik makanan.”
“Baiklah, kalu begitu Mas pesankan nasi sama ayam panggang ya?”
“Enggak mau!”
“Steak?”
“Enggak mau!” Vania terus menggelengkan kepalanya.
“Ikan?”
“Pokonya jangan nasi, jangan yang berat-berat, jangan yang berlemak, tapi aku nggak mau sayur.” Dan satu lagi, makanan itu harus cepat Mas.”
“Hah?! Lalu apa itu Dek? Mas benar-benar bingung.”
__ADS_1
“Terserah pokoknya!” Vania bersedekap dan duduk di tepi ranjang.
Ya Tuhan apa maksudnya? Apa yang harus aku pesan untuknya? Benar-benar membuatku stres Dek. Perkara makanan aja bikin kepala kaya mau pecah.
“Mas? Kok bengong. Ayo dong pesan makanannya. Perih nih perutku.”
“Iya sayang, Mas coba telepon dulu ke F&B Service ya...”
“Hem...”
Sony duduk di tepi ranjang yang berdekatan dengan nakas, di mana terdapat telepon di sana. Ia lanjut menekan nomor lima yang terhubung ke FB Service.
“Halo selamat siang Pak. Saya mau tanya, kira-kira, ada tidak makanan yang tidak berat, bukan nasi, bukan sayur juga bukan yang berlemak?”
“Mohon maaf Pak Sony kalau itu mungkin agak sedikit membingungkan. Atau barangkali berkenan dengan dissert atau burger, atau mungkin pizza?” karyawan yang bertugas di bagian restoran itu segera mengangkat telepon yang berdering, apalagi di layar kecil telepon itu tertera jelas panggilan dari nomor satu, yaitu nomor ruangan Sony, bos besarnya.
“Apa saja Pak, bawa ke sini semua makanan yang mungkin di sukai istri saya. Maaf sudah merepotkan. Terima kasih.” Ucap Sony dengan nada sedikit tegas namun tetap menghargai karyawannya.
“Baik Pak, akan segera kami siapkan. Nanti kami antar ke ruangan Bapak.”
“Pak, tolong jangan lama-lama ya buatnya. Istri saya sudah sangat lapar.”
Sementara itu Vania yang tengah membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi Sony. Ia merasa sangat kesal pada suaminya setelah ia melihatnya berduaan dengan wanita cantik dan membawa ke ruangannya.
“Sayang ... “ panggil Sony di belakang Vania memegang lengan gadis itu untuk membalikkan tubuhnya, namun Vania masih tetap saja dengan posisinya. Ia sama sekali tak menghiraukan Sony.
“Dek, ayo kita keluar dulu. Mas mau mengenalkanmu dengan Ela.” Sony lalu mengelus rambut Vania dengan lembut, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Vania.
“Tega banget sih Mas!” jawab Vania sambil menarik bantal dan menutupkan ke wajahnya.
“Tega kenapa Dek, Mas tidak menyakitimu dan Mas juga tidak membuat kesalahan. Makanya bangun dulu biar Mas jelaskan.” Sony membangunkan Vania, membantunya duduk perlahan. Ia lalu melingkarkan tangannya ke perut Vania yang sudah mau duduk.
“Sayang, Ela itu bekerja untuk Mas. Dia yang akan menjagamu dan mengikutimu ke mana pun Adik pergi.
“Hah?! Buat apa?! kenapa aku harus di jaga?!”
“Ya, agar istriku ini aman sayang, dan tidak lagi mendengar kalimat jahat yang akan menyakiti hatimu. Dan satu lagi, Mas akan menepati janji Mas yang kemarin. Nanti malam ikut Mas ya.”
“Janji apa Mas? Dan ikut ke mana?”
“Adik lupa? Ya sudah nanti malam saja Mas mengingatkannya. Sekarang kita keluar dulu ya...”
__ADS_1
“Mas! Kenapa sih mesti wanita cantik. Mas Sony akan melihatnya setiap hari. Mas sengaja?!” Vania melepas tangan Sony yang melingkar erat di tubuhnya, lalu memandang suaminya itu dengan tatapan sinis.
“Asraghfirullah ... ngomong apa sih Dek. Bahkan Mas pun tidak tau dia sebelumnya. Beni yang mencarikannya, dan Mas tidak pernah melihat wanita cantik lagi sejak Mas mengenalmu. Hanya kamu yang paling cantik sayang.” Ucap Sony sambil tangannya nakal menuju bukit kembar Vania.
“Gombal! Sumpah gombal banget Mas! Bahkan aku bercermin, melihat wajahku sendiri saja tidak PD. Bisa-bisanya di bilang cantik.”
“Kalau tidak percaya, tanyakan saja ke semua lelaki, mereka pasti akan bilang istriku ini sangat cantik. Eh tapi jangan deh, Mas nggak rela wajah cantik istriku ini
di nikmati lelaki lain.” Bibir Sony mulai menempel pada daun telinga Vania membuatnya merinding tak karuan.
“Mas geli! Jangan aneh-aneh. Ini di kantor.”
“Di sini kamar sayang, kantor ada di sebelah. Sebaiknya kita gunakan ranjang yang nganggur ini dengan baik.”
“Mas, malu tau!”
“Tidak ada yang melihat sayang. Ayolah ... Mas sudah sangat gemas melihatmu cemburu tadi. Rasanya ingin menggigit di dalam sini.” Tangan Sony menyusup ke dalam baju Vania melalui perutnya. Dengan cepat ia sudah membuat Vania menggeliat hebat karena permainan lidahnya di leher Vania dan juga tangannya yang sedang memainkan pucuk kembar itu.
“Mas .... Ahh ... jangan sekarang...”
“Mas akan tetap lanjutkan, sayang.” Sony menindih Vania, ia saat ini berada di atas tubuh mungil itu.
“Lapar Mas .....” ucapan singkat Vania berhasil membuat Sony tersentak memberhentikan aksinya, padahal juniornya sudah menegang keras tak sabar untuk masuk ke sarangnya.
“Maafkan Mas ... tapi apa tidak bisa di tahan sebentar saja Dek laparnya?”
“Mas, bisa tahan sebentar saja nggak, nafsunya?! Hihh mesum banget!”
“Mesum sama istri sendiri halal Dek, ayo dong sebentar saja, ya?!”
“Nggak!”
“Nolak dosa loh.” Ancam Sony.
“Nanti malam Mas, sepuasmu!” ia menggeser tubuhnya ke samping, menyingkirkan tangan Sony yang tengah mendekapnya.
Tok...Tok...Tok...
Vania segera melompat dari ranjang dan membukakan pintu. Ia merasa bebas karena berhasil kabur dari pelukan Sony.
...
Tinggalkan jejak ya gengs...
Like, komen, vote.🌷❤
__ADS_1