
Sinar mentari mulai merangkak turun berganti dengan senja petang menyambut malam. Bersamaan dengan tibanya Sony dan Vania di depan rumah. Rumah tersebut adalah rumah yang dulunya ia tinggali saat Sony masih sendiri. Ia menyewanya untuk jangka waktu dua tahun, namun sejak mengenal Vania, ia sering kali membawanya ke rumah itu hingga mereka mempunyai kenangan-kenangan manis bersama.
Saat ini, rumah itu bukan lagi berstatus sewa, melainkan pemilik rumah itu sudah di atas namakan istri Sony, yaitu Vania si jantung hatinya. Memang rumah itu tak sebesar rumah mewah yang bertingkat beberapa lantai. Namun di dalamnya sangat luas dan setiap ruangan tertata rapi setelah Sony merenovasi dan menyulapnya menjadi rumah yang paling nyaman untuk berteduh, bahkan memadu kasih dengan sang istri.
Bahkan di belakang rumah terdapat taman yang di penuhi dengan bunga-bunga kesukaan Vania. Apa pun akan Sony lakukan demi kebahagiaan sang istri.
“Mas, apa Mbak Fitri masih ada?” tanya Vania sambil memelankan langkah kakinya setelah turun dari mobil.
Fitri adalah asisten rumah tangga yang di perkerjakan oleh Sony sejak Vania tinggal di rumah itu, saat ia bekerja di hotel milik Sony. Walaupun ia hanya bekerja di waktu yang sangat singkat karena Sony ingin cepat menikahinya, mendampinginya dan ingin melindunginya.
“Masih Dek, dia masih di sini karena harus menjaga rumah ini, juga membersihkannya.”
Rumah yang mempunyai banyak kaca itu memang terlihat sangat bersih dan terawat. Tentu saja, dibalik semua itu ada tangan yang selalu menjaganya agar tampak indah di pandang mata.
Tok Tok Tok
Sony mengetuk pintu, tangan kanannya melingkar erat di pinggang Vania seolah enggan melepasnya.
“Assalammualaikum,...” Vania mengucapkan salam dengan suara yang cukup lantang.
“Waalaikum salam... Eh Tuan, Nona. Selamat datang.” Fitri membukakan pintu lalu menyapa Sony dan Vania.
“Terima kasih Mbak Fitri, apa kabar?” tanya Vania setelah lama tak jumpa sejak sebelum menikah.
“Alhamdulillah baik Non. Mari silakan masuk.”
Vania berjalan menuju dapur, sedangkan Sony, ia masuk ke kamar dengan menarik koper besar berwarna maroon.
“Non, nanti malam mau makan apa? Biar saya masakin.” Ucap Fitri pada Vania yang tengah membuatkan kopi jahe untuk suaminya.
“Hem, nanti saya tanya Mas Sony dulu ya Mbak pengen makan apa.”
“Iya Non,”
“Mbak, kenapa jadi memanggilku Non sih?! Perasaan dulu memanggilku Mbak. Jangan sungkan.”
“Ya harus Non, sekarang Non Vania sudah menjadi istri tuan Sony, jadi saya juga harus merubah panggilannya. Tidak pantas kalau saya memanggil Non dengan sebutan ‘Mbak.”
“Huh, terserahlah Mbak.” Vania mendengus, “Saya ke kamar dulu ya...” Vania membawa segelas kopi jahe untuk penghangat badan Sony.
“Iya Non, silakan.”
🌷🌷🌷
__ADS_1
“Mas, ini Adik buatkan kopi jahe. Biar enak badannya.” Ujar Vania setelah memasuki kamar.
“Mas ...” panggil Vania mencari keberadaan Sony.
Sony keluar dari kamar mandi hanya menggunakan lilitan handuk di pinggangnya.
“Mas, sudah mandi?”
“Sudah ganteng dan segar begini masa belum mandi Dek.” Sahut Sony sambil mengacak rambutnya yang basah, percikan air itu menyentuh kulit wajah Vania
“Mas! Ih basah semua nih. Pakai handuk dong ngeringinnya!”
“Bentar lagi juga kering sendiri sayang.”
“Itu Adik buatin kopi jahe Mas, biar badannya enak.”
“Terima kasih sayang, istriku memang sangat perhatian. Cup!” Sony mengecup singkat Vania. Sudah menjadi kebiasaan setelah menikah, bibir Vania telah menjadi candu baru Sony untuk selalu mencicipinya. Kapan pun dan di mana pun ia selalu melakukannya dengan bebas.
“Mas, ih. Di mana-mana selalu menciumku!” gerutu Vania.
“Di tempat umum saja Mas dengan senang hati menciummu Dek, apa lagi di kamar.” Kekeh Sony mencolek dagu Vania dengan jari telunjuknya.
Beberapa menit kemudian, Vania keluar hanya dengan mengenakan handuk kimono berwarna pink muda. ia lau duduk di tepi ranjang mendekati Sony yang tengah memangku laptopnya.
“Mas, kan sudah di rumah. Kenapa masih kerja? Apa tidak bisa besok saja?”
“Lima menit lagi ya, sayang. Harus selesai sekarang karena besok pagi harus di kirim ke rekan kerja.”
Vania mendengus kesal karena diabaikan Sony, padahal di pikirannya saat ini. Ia sangat ingin di manja dan duduk bersender di dada yang berotot itu.
“Mas, mau makan apa nanti malam? Mbak Fitri tadi tanya.”
“Hem ... sepertinya Mas ingin mengajakmu makan di luar sayang, bagaimana? Mau tidak? Sekalian kita jalan-jalan. Sudah lama kita tidak jalan-jalan malam.”
“Boleh deh. Memangnya mau makan di mana Mas?”
“Terserah Adik, nanti habis isya kita berangkat, ya.”
“Oke. Kalau begitu aku bilang ke Mbak Fitri dulu sayang biar tidak usah masak.” Vania berjalan keluar kamar untuk menemui Fitri di dapur.
__ADS_1
“Mbak, Mbak Fitri ...” teriak Vania.
“Iya Non.” Fitri merapikan piring yang ada di rak.
“Mbak, nanti tidak usah masak ya. Kita mau makan di luar. Mbak Fitri ada yang di makan nggak?”
“Oh, tadi siang saya sudah masak sayur asem sama goreng tempe Non.”
“Malamnya makan apa?”
“Sayurnya masih ada, jadi masih bisa di makan Non.”
“Lain kali makannya harus ikan atau daging ya Mbak, jangan tempe terus. Uang belanja sudah di kasih Mas Sony belum?”
“Sudah Non, Tuan selalu memberikan uang belanja sebulan sekali bersamaan dengan gaji.”
“Cukup nggak Mbak?” tanya Vania sembari menata rangkaian bunga artificial di pojokan meja dapur bersih.
“Sangat cukup Non, bahkan selalu sisa banyak.”
“Syukurlah, ya sudah kalau begitu saya ke kamar dulu ya Mbak. Mbak Fitri istirahat aja.”
“Ya Non, terima kasih.”
🌷🌷🌷
“Mas, Adik pakai baju apa? Nggak punya baju.” Vania berdiri di depan lemari yang terbuka lebar, memandangi dan mengabsen satu persatu baju yang akan di pakainya jalan-jalan.
“Dek, itu lemari dari ujung barat ke ujung timur semua isinya punya Adik semua. Masih bilang nggak ada baju?” tukas Sony, ia sudah rapi dengan kemeja hitamnya.
“Bingung Mas, mau pakai yang mana.”
“Mana-mana juga cantik sayang, ayo agak cepat , sudah malam lo Dek.” Ujar Sony dari sofa, ia duduk sambil memainkan ponselnya, terlalu bosan menunggu Vania yang sudah satu jam gonta-ganti baju.
“Sabar dong Mas, makanya sini bantuin pilih.” Gerutu Vania. Sony pun langsung berjalan mendekat memilihkan baju. Pilihannya kali ini sedikit membuat Vania tercengang.
“Mas?! Kenapa ambil jaket yang tebal banget?! memang kita mau ke kutub?!”
“Ini sudah sangat malam Dek, nanti kena angin malam nggak baik buat kesehatan. Sudah pakai ini saja.” Sony memberikan celana jeans dan jaket tebal yang panjangnya hingga ke lutut.
Vania menatap Sony dengan sinis, ia terpaksa memakai setelan yang di pilih oleh Sony.
Namanya juga perempuan, pakaian sebanyak apa pun kalau mau keluar pasti mantengin lemari, bilangnya nggak punya baju. Padahal seabrek. Ya nggak?!”🤭 sebenarnya kita hanya cari yang nyaman kok Mas...😁
__ADS_1
Bersambung....
terima kasih yang sudah setia membaca walaupun hanya beberapa. Love you guyss...❤❤🌷