Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Meminta Izin


__ADS_3

Sony tertawa melihat reaksi Vania yang begitu terkejut dengan ucapannya. Ya, seorang Sony yang dulunya tidak pernah menyentuh wanita, sekalinya dia bertemu Vania, menjadi sesuatu yang candu, ingin memilikinya lebih, dan memiliki seutuhnya.


 


“Mas, meskipun aku sangat ingin membangun masa depan denganmu, bukan berarti setelah lulus harus menikah saat ini juga kan? terlalu cepat Mas.”


 


“Lebih cepat lebih baik sayang.”


 


“Nggak Mas, kasihan Bapak sama Ibu. Aku belum sempat membahagiakannya Mas.”


 


“Baiklah, Mas akan sabar menunggumu.”


 


“Mas, kira-kira apa aku bisa bekerja di Grand Luxury Hotel? Bahkan aku hanya mempunyai ijazah SMK.”


 


“Sangat bisa Dek, pintu hotel itu sangat terbuka untukmu.”  Ucap Sony begitu yakin.


 


“Kenapa Mas begitu yakin aku bisa diterima di sana?”


 


“Karena Adik punya banyak sertifikat departemen House Keeping, juga nilai yang tinggi.” Ucap Sony mengalihkan rasa penasaran Vania.


 


“Benarkah? Tapi apa cukup hanya dengan itu?”


 


“Cukup Dek, tenanglah. Sebaiknya dicoba dulu, masa nggak yakin dengan kemampuan sendiri?”


 


“Ya, semoga saja bisa Mas. Aku ingin sekali kembali ke sana. Begitu banyak kenangan yang ingin kuulang.”


 


“Mas termasuk bagian dari kenangan itu, kan?” Sony tersenyum menggoda.


 


“Hem, pastilah Mas. Tapi bekerja di sana memang sangat menyenangkan.”


 


Sony dan Vania sesaat sedang mengenang dan mengingat-ingat kejadian satu tahun yang lalu bagaimana mereka berkenalan, bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, dan bagaimana mereka menjalin kisah kasih manis di kota tempat Vania magang dulu. Terpancar wajah bahagia, seperti bunga-bunga layaknya merasakan jatuh cinta lagi di antara keduanya. Netra mereka saling beradu dengan senyum merekah, bercanda tanpa ingat sekitar yang memperhatikan mereka.


“Dek, dia?! Tumben sekali dia menyendiri.” Pandangan Sony tak sengaja melihat Ega yang sedang duduk di samping gedung aula seorang diri.


 


“Aku juga tidak tahu Mas, dia memang seperti itu sejak dua bulan terakhir. Dia sudah berubah menjadi orang yang sangat pendiam, minder, dan dia juga sudah tidak pernah menggangguku sama sekali.”


 


“Benarkah? Bagus dong. Mungkin dia sudah sadar Dek.”


 


“Tapi aku juga heran sih Mas, bahkan semua guru juga penasaran apa yang membuat Ega seperti itu. Tidak seperti biasanya yang banyak bicara dan tegas.”


 


“Sudah, jangan terus memikirkan lelaki lain. Mas di depanmu sekarang.”


Apa yang Beni lakukan, hingga Ega menjadi seperti itu? Kasihan juga melihatnya. Tapi kalau ingat kejahatan dia memang sudah tidak wajar, padahal masih pelajar. Ya, semoga saja dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu memang hebat Ben, meskipun aku tidak tahu cara apa yang kamu pakai. Setidaknya, kamu bisa memberikan efek jera kepadanya.


 


“Mas, berapa hari Mas di sini? Apa nanti langsung pulang?”


 


“Mas akan di sini selama kamu membutuhkan Mas Dek.”


 


“Tapi apa Mas tidak bekerja? Nggak enak Mas nanti kalau kelamaan cuti.”


 


“Mas, akan membawamu Dek. Bukankah kamu ingin bekerja di sana?”


 


“Iya Mas, kira-kira kapan ya aku bisa berangkat?”


 


“Bicarakan dulu sama Bapak Ibu, Dek. Nanti kalau mereka sudah mengizinkan, Mas akan menjemputmu.” Sony menggenggam tangan Vania


 

__ADS_1


“Mas datang ke rumahku?”


 


“Iya, kenapa?


 


“Nanti apa kata Bapak sama Ibu, Mas?”


 


“Tidak perlu berpikir terlalu jauh Dek, Mas hanya akan berkenalan dan ijin membawamu. Lebih tepatnya, agar mereka mengenal calon mantunya. Hehe...”


 


“Dih, apa sih Mas. Jangan aneh-aneh. Aku takut nanti Bapak malah tidak mengizinkan kalau aku pergi bersama laki-laki.”


 


“Belum di coba kenapa sudah menyerah sayang,” ucap Sony mengelus rambut Vania.


 


“Kan, aku yang lebih tahu Bapak Mas.”


 


“Ya sudah, Mas doakan dari sini. Semoga diberi kemudahan.”


 


“Oke.” Jawab Vania singkat.


 


“Mas, sepertinya aku harus pulang sekarang.” Ucap Vania melihat jam di tangannya.


 


“Mas antar, ya Dek?”


 


“Tapi aku sudah bilang Bapak kalau nanti pulang sama Dina Mas.”


 


“Yakin, tidak mau Mas antar?”


 


“Nggak usah Mas, sebaiknya Mas Sony istirahat saja di hotel. Tadi pasti belum istirahat, kan?”


 


 


“Oke Mas.”


 


Di rumah Vania,


“Pak, boleh nggak kalau Vania bekerja di hotel tempat magang Vania dulu?” ucap Vania menaruh segelas kopi di meja untuk sang Bapak.  


 


“Memangnya kenapa Vania ingin ke sana lagi? Apa tidak ingin bekerja di kota lain, biar pengalamannya luas.” Kata Pak Asta.


 


“Vania sudah nyaman di sana Pak, orangnya baik-baik. Sudah seperti keluarga Pak.”


 


“Benarkah? Apa tidak ada alasan lain? Lelaki misalnya.” Ucap Bapak sambil menyesap kopi sesekali meniup asap panas yang keluar dari gelasnya.


 


“Nggak Pak, Vania memang suka aja di sana. Terus kata teman Vania yang bekerja di hotel itu juga, dia bilang Vania akan gampang masuk sana Pak. Nilai Vania bagus, juga karena mempunyai banyak sertifikat, jadi tidak perlu kuliah atau kursus lagi untuk masuk ke hotel itu.”


 


“Oh, begitu.”Pak Asta mengangguk-angguk pelan.


 


“Bagaimana? Apa Bapak mengizinkan?”


 


“Bapak sih nggak masalah Nduk, asal kamu bisa jaga diri baik-baik dan jangan tinggalkan salat. Terus rencananya berangkat kapan?”


 


“Kalau bisa besok atau lusa berangkat Pak,”


 


“Kenapa buru-buru? Cepat sekali, baru juga lulus kemarin. Apa tidak mau beristirahat dulu di rumah untuk beberapa hari?” Pak Asta mengerutkan keningnya dan memandang Vania, sambil menyesap kopi ditangannya.


 

__ADS_1


“Ada teman Vania dari Yogyakarta Pak, dia mengajak Vania barengan.”


 


“Lelaki atau perempuan Nduk?” tanya Bapak.


 


“Lelaki Pak, dia security di sana.”


 


“Apa dia pacar kamu?!” tanya Bapak menyelidik.


 


“Ti—tidak Pak, dia bukan pacar Vania.” Jawab Vania gugup karena berbohong. Vania masih belum siap dan belum berani bercerita soal dia mempunyai kekasih, karena dia tidak pernah tahu bagaimana reaksi orang tuanya kalau dia punya pacar. Takut di marahi, atau bisa-bisa ia di kurung di rumah. Padahal Bapak Ibunya tidak mempermasalahkan hal itu selama anaknya mengerti jalur yang benar.


 


“Vania sudah punya pacar?” sahut Bu Tia yang datang dari dapur membawa kue untuk di suguhkan pada suaminya.


 


“Enggak Bu,” jawab Vania mengerutkan alisnya.


 


“Ibu tidak percaya. Dari awal kamu pulang magang dulu aja Ibu sudah curiga Nduk. Hehe.” Bu Vania tersenyum kecil menggoda anaknya.


 


“Ibuuuu....” Vania mulai manja dan bergelayut ke lengan ibunya yang duduk di sebelahnya.


 


“Anakmu mau kerja ke Jogja Bu, besok katanya mau langsung berangkat.” Ujar Pak Asta kepada istrinya.


 


“Mendadak sekali?! Mbok ya istirahat dulu beberapa hari Nduk,”Bu Tia memandang lekat anaknya.


 


“Bapak sama Ibu mengizinkan Vania tidak?”


 


“Bapak mengizinkanmu bekerja di sana Nduk, tapi ingat. Kamu harus jaga diri baik-baik, jangan sampai salah langkah. Kamu sudah besar, tahu mana yang benar dan mana yang salah.”


 


“Iya Pak, Insya Allah Vania tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu.” Ucap Vania yang langsung mendapat anggukan pelan dari Pak Asta. “Kalau begitu Vania bereskan baju dulu ya, Pak.”


 


“Mau Ibu bantu?” Bu Tia menawarkan bantuan.


 


“Tidak perlu Bu, Vania bisa sendiri kok.”


 


“Ya sudah sana, kalau sudah selesai langsung tidur ya, jangan larut-larut.”


 


“Siap!” Vania menaruh tangannya miring di pelipis, seperti memberi hormat pada pahlawan. Kemudian melangkahkan kakinya ke kamar, mulai mengemasi barangnya satu persatu. Ia mengeluarkan pakaian dari lemarinya dan memasukkannya ke koper.


 


 


 Bersambung...


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa......


...💚😍💚...


...Happy Reading...


... ...


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


... ...

__ADS_1


 


__ADS_2