
Sinar mentari pagi mulai menampakkan cahayanya. Vania yang tertidur lelap setelah salat subuh, kini terbangun lagi. Tepat pukul enam, dia bergegas mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Setelah enam bulan dia magang, akhirnya dia memakai baju putih abu-abu lagi. Rindu masa sekolah, rindu belajar, namun juga pastinya dia rindu suasana di Hotel tempat ia magang tak terkecuali Sony, lelaki yang tidak pernah hilang dari ingatannya.
Dia berdiri di deoan cermin besar di dalam kamarnya, berdandan sesempurna mungkin sebelum berangkat sekolah, karena Vania sudah terbiasa menjaga penampilannya di hotel, jadi akan merasa aneh jika ia tidak memoleskan make up sedikit saja ke wajah imutnya. Rambutnya yang pendek tidak memudarkan kecantikannya. Bahkan malah terlihat sangat pantas. Apalagi jika diingat-ingat, dia sangat bahagia, rambut pendeknya itu hasil karya Sony.
.
.
Setibanya di sekolah, Vania menyapa beberapa orang temannya yang sedang berduduk santai di halaman menunggu bel masuk kelas. Lelaki dan perempuan berkumpul, bercanda seru. Beruntung tidak ada Ega di sana, jadi Vania bisa ikut bergabung dengan mereka.
“Hai semuanya, apa kabar kalian?” Sapa Vania dengan ceria.
“Hay Van, makin seger aja nih kayaknya.” Ucap Biyan teman sekelas Vania.
“Iya harus dong. Ya Allah, kangen juga ya sama sekolah.” Ucap Vania mendudukkan badannya di kursi panjang berwarna coklat dibawah pohon besar nan rimbun.
“Iya, kangen banget, kira-kira nanti kita ada pelajaran enggak ya?!” sahut Dela.
“Kayaknya belum Del, kan kita baru masuk hari pertama. Jadi pasti diberi waktu buat ngerefresh otak. Ya kan? Hehe.” Jawab Vania. “Eh Dina belum datang ya?!” lanjut Vania.
“Belum, paling bentar lagi.” Sahut Nadia.
“Eh Van, hubunganmu sama Ega sebenarnya bagaimana sih?!” tanya Biyan selidik.
“Kenapa sih Bi tanya-tanya. Bahas yang lain saja deh. Masih pagi sudah membuat moodku jadi jelek aja kamu nih!” sewot Vania menjawab pertanyaan dari Biyan.
“Yee... kan Cuma nanya. Apa salahnya? Kita itu Cuma penasaran. Di bus kemarin kan heboh. Banyak yang mendengar pembicaraanmu dengan Ega.” Jelas Biyan meneruskan keingintahuannya.
“Lah, kalau kalian sudah mendengarnya, berarti sudah paham jelas dong. Kenapa masih tanya lagi coba.” jawab Vania melirik sinis.
“Ni anak kenapa emosi sih pagi-pagi. Orang cuma tanya wajar kok.” timpal Nadia.
__ADS_1
“Ya sudah biar kalian enggak tanya-tanya terus, membuatku risih. Aku akan bercerita. Tapi aku juga tidak mau kalian menyalahkanku atau menyalahkan Ega. Semua itu ada sebab akibat. Kesalahan kalau mau di cari-cari pasti sampai ujung dunia tidak akan ketemu. Karna masing-masing pasti akan merasa benar. Paham nggak kalian?!”
“Iya cepat cerita. Kita akan fokus mendengarkannya.” Jawab Dela yang tidak sabar mendengarkan cerita Vania.
“Kalian tahu kan, Ega dan Widya berteman dekat. Mereka sangat akrab bahkan setiap hari mereka tidak pernah lupa untuk bertukar kabar. “ Vania memulai ceritanya.
“Terus? Terus? Kamu cemburu dan putus?!” sahut Nadia cepat.
“Bisa diam dulu enggak?! Orang belum selesai cerita kok. Sok tahu banget.” Ucap Vania emosi namun tidak serius.
“Iya, iya maaf, terus?!” jawab Nadia.
“Lalu, suatu ketika Ega memata-mataiku di hotel lewat mata Widya. Jadi setiap pergerakanku Widya akan melapor kepada Ega. Aku risih banget lah. Dan pada waktu itu, aku memang sering diantar jemput security hotel ketika pulang malam atau ketika aku berangkat kerja sendirian, dia selalu menjemputku. Lagi, dia selalu menemaniku inventory (mengecek perlengkapan tamu di kamar yang kosong) ketika aku mendapat sift malam. “ Panjang lebar Vania bercerita, beberapa orang mendengarkannya dengan fokus seperti sedang mendengarkan dongeng.
“Terus?!” Timpal Biyan.
“Terus kamu tidak mencoba menjelaskan?!” sambung Biyan.
“Sudah beberapa kali aku berusaha menjelaskan tapi dia tidak percaya. Dia lebih percaya dengan Widya. Sahabatnya itu. Dan puncaknya yang paling parah, dia menuduhku melakukan zina dengan security itu. Gila kan?! Aku juga masih punya otak yang waras. Setelah itu aku benar-benar emosi dan sangat kecewa. Aku putuskan dia.”
“Loh, memangnya apa yang membuat Ega berpikir kalau kamu tidur dengan security?” tanya Dela.
“Soal itu, a-aku tidak bisa menjelaskan. Maaf.” Wajah Vania berubah seketika menjadi murung teringat kejadian ngeri malam itu yang hampir di perkosa oleh Pak Herman, hal yang sangat menakutkan baginya. Dan sempat membuatnya trauma.
“Ya,,, ceritain juga dong. Nanggung nih.” Paksa Nadia.
__ADS_1
“Tidak Nad, jangan memaksaku. Kita masuk kelas yuk.” Ajak Vania menyudahi ceritanya yang enggan membahas pelecehan itu.
“Memangnya sudah selesai nih ceritanya?!” tanya Biyan.
“Sudah Bi! Sekarang terserah kalian mau menilaiku seperti apa. Eh tapi. Sebenarnya aku juga tidak butuh penilaian kalian sih. Hahaha.” Vania tertawa dan meninggalkan tempat itu menuju kelas.
Dela, Nadia, Biyan dan yang lain pun menyusul Vania masuk kelas sebelum bel berbunyi. Terlihat meja yang tertata rapi, suara keributan yang dibuat teman sekelas sungguh terdengar menyenangkan.
Aku menuju bangku kosong yang terletak di pinggir dekat dinding. Kubuka ponselku, tak melihat adanya pesan dari Mas Sony. Sedang apa ya dia sekarang. Apa dia masuk sift pagi? Kenapa tidak memberiku kabar? Apa belum bangun? Gumam Vania.
“Mas,” singkat Vania menulis pesan untuk Mas Sony.
Ah tidak di buka juga, sudahlah nanti saja aku telepon, waktu istirahat.
Di waktu yang sama , Sony sedang bersiap untuk pergi bekerja. Menjalani profesinya sebagai security hotel. Setelah rapi,
dan mengambil sepatunya dan menuju sofa krem. Sony meletakkan sepatunya di lantai, sementara tangannya meraih ponsel yang berada di meja. Mengecek, mana tahu ada pesan dari wanita tercintanya. Dia tersenyum kecil setelah membuka pesan dari Vania, meskipun ia hanya menulis ‘Mas’. Bagi Sony itu sudah sangat cukup, itu berarti Vania memikirkannya.
Dibalasnya pesan Vania dengan panjang lebar.
“Hai manis, maaf ya Mas baru sempat balas pesannya. Mas sedang bersiap untuk bekerja. Kalau sudah tidak sibuk, Mas pastikan akan meneleponmu. Oke, sayang? Belajar yang rajin ya Dek, semangat! Mas sangat merindukanmu, I Love You.”
Lanjut memakai sepatu dan langsung berangkat kerja dengan motor merahnya yang selalu setia menemani ke mana pun Sony pergi.
Vania yang tengah duduk bersender setengah melamun, tiba-tiba dia merasa ponselnya bergetar. Dengan semangat dia membuka pesan dari Mas Sony. Senyum lebar terlihat jelas layaknya orang yang sedang kasmaran. Manis sekali kamu Mas, membuatku seperti orang gila, senyum-senyum sendiri. I Love You sayang. Gumam Vania tanpa membalas pesan dari lelakinya.
Tak lama kemudian, kelas dimulai. Namun kali ini tidak ada pelajaran. Hari pertama masuk, mereka hanya memperoleh bimbingan dan berbagi pengalaman di hotel tempat mereka magang.
Bel istirahat pun berbunyi, namun kali ini mereka di perbolehkan untuk pulang lebih awal. Dan banyak dari mereka yang mengagendakan untuk pergi ke sebuah danau di kotanya, sekedar melepas penat dan refreshing.
BERSAMBUNG.
MOHON TINGGALKAN JEJAK YA,
__ADS_1
KOMEN DAN LIKE KALIAN PENYEMANGAT AUTHOR.💚💚😍