
Keesokan harinya, dengan penuh semangat Vania memakai pakaian rapi, blazer berwarna hitam menjadi pilihan untuk ia pakai saat ini. Ia juga memoleskan make up tipis di wajahnya sehingga wajah imut itu terlihat fresh dan terlihat sedikit lebih dewasa.
Vania mengambil map berwarna coklat yang berisi CV, ia berencana mengantarkannya ke hotel pagi ini juga, karena ia sudah tidak sabar untuk secepatnya bekerja di hotel itu. “Semoga semuanya lancar,” gumamnya. Ia lalu mengambil tas hitam miliknya yang terletak di meja rias kamarnya.
Tok ... Tok ... Tok
“Siapa ya, pagi-pagi begini sudah bertamu, apa tetangga? Atau jangan-jangan ART yang di kirim Mas Sony?” Vania berbicara sendiri sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Ia meraih gagang pintu itu lalu membukannya dengan cepat, ia menghela nafas lega ketika Sony berdiri di depannya.
“Assalammu’alaikum, sayang.”
Vania memperhatikan Sony dari atas sampai bawah, jarang sekali ia melihat Sony serapi itu, mengenakan jas hitam sepadan dengan dasi yang menggantung di kerahnya.
Astaga, ganteng sekali lelaki ini, ah kamu memang selalu membuatku terpesona Mas. Tapi aku lebih suka jika seragam security yang melekat di tubuhmu. Bukan seperti sekarang. Kita terlihat sangat juah berbeda. Berpacaran dengan seorang bos? Itu sama sekali tidak kuinginkan.
Ia terdiam sejenak, lalu menjawab salam Sony.
“Waalaikumsalam, kenapa pagi-pagi ke sini, Mas? Kukira tadi tetangga atau siapa.”
“Rapi sekali. Mau ke mana Dek?” Sony memperhatikan penampilan Vania.
“Ya, mau ke hotel lah Mas. Mau antar CV.”
“Mas yang akan membawanya, Adik di rumah saja.”
“Yah, Mas ... kenapa?! Udah rapi begini juga. Padahal udah dandan dari subuh.”
“Dek, kalau ke sana hanya untuk mengantar CV, sia-sia dandan seperti ini. Kalau sudah interview, baru deh.”
“Berarti, aku nggak jadi ke hotel nih?” Vania melangkahkan kakinya dengan gontai menuju sofa. Semangat 45 yang tadinya ia miliki kini lenyap sudah.
“Tidak perlu. Sini makan dulu Dek.” Sony membawa dua kotak nasi uduk. Lengkap dengan teh panas yang disajikan di cup.
“Vania tidak laper Mas.” Ucap Vania menyenderkan badannya ke sofa.
Tanpa persetujuan dari Vania, Sony langsung menyendok nasi uduk bersama dengan suwiran ayamnya. Lalu mengarahkan ke mulut Vania.
Gadis itu melirik sinis, kesal karena ia tidak diperbolehkan untuk ke hotel hari ini padahal ia sudah berdandan maksimal.
Namun ia tetap membuka mulutnya dengan terpaksa menerima suapan dari Sony. Ia melahapnya dengan kasar hingga terdengar bunyi sendok dan gigi yang bertubrukan.
“Pelan-pelan, Dek. Kasihan sendoknya kena gigi.” Sony mulai menggoda Vania.
“Apa sih Mas. Sendok kok dibela. harusnya kasihan giginya kalau kena sendok. Hihh!”
“Dasar bocah! Selalu saja ngambek.” Sony mengacak kasar pucuk rambut Vania.
“Salah sendiri, siapa suruh suka sama bocah.”
“Bukankah dulu, Adik yang menyukaiku dulu?”
__ADS_1
“Dih, nggak ya. Mas tuh yang selalu mengejarku.”
“Gengsi banget sih ngakuin Dek. Mas tahu kali. Hahaha...”
Setelah beradu argumen tak penting, Sony berpamitan untuk berangkat kerja.
“Dek, nanti siang akan ada ART datang, ya. Dia masih muda, namanya Fitri. Nanti selain dia jangan di bukakan pintu, siapa pun itu. Apalagi lelaki yang tidak di kenal.”
“Iya Mas, eh kok carinya yang muda sih Mas,” tanya Vania penasaran.
“Sengaja. Biar kamu ada teman sebaya Dek, enak diajak ngobrol. Kalau cari yang paruh baya takutnya kamu nanti bosan.”
“Ooo ...”
“Ya sudah, kalau begitu Mas berangkat dulu ya Dek, nanti makan siang pesan online saja kalau Mas belum pulang. Oke? Saldonya sudah Mas isi.”
“Aku keluar saja ya, Mas. Cari warung kecil di sekitar sini. Siapa tahu ada yang jual sayur mentah. Jadi aku bisa masak. Beli terus boros tahu!”
“Besok Mas antar belanja, jangan hari ini ya. Jangan keluar rumah. Mas akan mengawasimu. Lihat itu.” Sony menunjuk CCTV yang terletak di setiap pojok ruang.
“Mas. Astaga?! Mas taruh CCTV?” tanpa menunggu jawaban dari Sony, ia langsung berlari ke kamar memeriksa setiap sudutnya. Kebiasaannya setelah mandi tak kunjung pakai baju, malah berjoget dengan musik di ponselnya. Takut-takut mata kamera kecil itu menyaksikan tubuhnya yang bebas tanpa busana.
“Syukurlah.” Vania merasa lega ketika dikamarnya bersih tanpa CCTV.
“Ngapain sih Mas pasang CCTV segala. Aku kan bukan penjahat.”
“Biar Mas tenang, biar bisa mengontrolmu setiap saat. Dan paling penting. Agar kamu tidak macam-macam dengan lelaki lain.” Sony lagi-lagi mengulas senyum manisnya, yang terus membuat Vania meleleh tak berdaya. Ya, senyuman itu bagaikan candu yang meracuni hati Vania.
“Mas sudah kesiangan Dek. Mas berangkat dulu ya?”
“Iya Mas, hati-hati di jalan. Love You.”
Langkah kaki Sony pun tiba-tiba terhenti setelah mendengar kata istimewa yang keluar dari bibir Vania. Ia lalu membalikkan badannya mendatangi Vania yang tengah berdiri menatapnya. Hati Sony seakan di penuhi bunga lyly yang sedang bermekaran, jantungnya pun seakan mengajaknya menari.
Sony lalu membelai pipi Vania dengan kedua tangannya, senyum keduanya terukir begitu manis dipenuhi cinta.
“Love You too sayang.”
Muah...
Sony mengecup lembut dahi Vania untuk beberapa detik kemudian berpindah ke bibir mungilnya. Hanya sebentar ia mempertemukan bibirnya. Takut jika terlalu lama, akan membuatnya semakin tak sopan meminta lebih.
“Jangan membuat Mas ingin menggigitmu, Dek. Kamu terlalu menggemaskan kalau mengucapkan kata itu.” Vania mencium punggung tangan Sony seperti layaknya seorang istri bersalaman pada suaminya. Makin meleleh hati Sony dibuatnya, seperti gunung es yang mencair dahsyat terkena hangatnya kasih sayang yang membara.
Vania hanya tersenyum kecil. Pipinya mulai memerah. Ia memang masih gerogi ketika netra indah Sony menatapnya begitu dalam.
__ADS_1
“Dah ya, Mas berangkat. Adik istirahat saja.”
“Iya Mas, cepat berangkat. Dari tadi berpamitan tapi masih di sini.”
“Kalau diberi kesempatan, ya pasti Mas akan di sini terus Dek, hehe...”
Kali ini Sony benar-benar melewati pintu terbuka itu dan segera menaiki mobilnya. Ia melambaikan tangan pada Vania.
Belum ada satu menit, Sony kembali lagi mengetuk pintu yang batu saja di tutup oleh Vania.
“Loh kok balik lagi, apa ada yang tertinggal?!” Vania bergumam dala hati, memandang jendela berkaca yang tertutup vitrage putih transparan, memperlihatkan mobil Sony berhenti lagi di depan rumah.
Tanpa mengetuk, Sony langsung membuka pintunya.
“Ah, benar kan?! Kamu memang ceroboh Dek.”
“Apa sih Mas?”
“Kunci pintunya, SELALU! Jangan sampai lupa. Paham?!”
“Iya Mas.”
“Mas berangkat Dek. Jaga diri, hati-hati di rumah.”
“Kunci sekarang!”
“Iyaaaa...” Astaga.
Sony kembali menutup pintunya cepat setelah berpesan pada Vania. Ia pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya yang begitu over protektif.
Mas, Mas, secinta apa sih kamu sama aku? Sampai hal sepele aja di ributin. Sedikit risih sih, tapi aku sangat bahagia Mas, terima kasih sudah menjagaku sebegitunya.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚😍💚...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1