Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Lemas


__ADS_3

 “Ega, kamu gila ya! Turunkan aku!” Vania terus berteriak.


 


“Van, kamu tidak perlu takut. Kita nikmati saja pemandangan indah ini. Nanti kamu pasti suka.” Jawab Ega tenang tanpa merasa bersalah.


 


“Aku enggak mau Ga. Lepasin aku! Keterlaluan kamu!” Vania menangis.


 


“Sudah sampai Van, aku mau menikmati suasana indah ini bersamamu.” Ucap Ega menurunkan Vania ke perahu dangan senyum bahagianya, tetapi tidak untuk Vania, jangankan tersenyum, membuka mata saja dia enggan karena begitu mengerikan baginya untuk melihat air yang begitu luas. “Jalan Pak.” Perintah Ega kepada seseoraang yang memegang kendali perahu kecil tersebut.


 


“Pak,, tolong ke tepi lagi. Saya mau turun.” Ucap Vania dengan air mata yang mulai berjatuhan membanjiri pipi merahnya.


 


“Kamu tidak perlu takut Van, aku di sampingmu, tenang ya.” Ucap Ega menenangkan, mengelus rambut Vania yang terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


 


Di tepi danau, Leo kebingungan mencari perahu yang kosong, dia berencana menyusul Vania. Sekali dia di beri amanah oleh seseorang dia pastikan akan menjalankan tugasnya sebaik mungkin.


 


“Leo, kamu kenapa sih mondar-mandir. Pusing tahu lihatnya.” Ucap Dina yang baru saja datang dari toilet.


 


“Gawat Din, Vania. Duh gimana ya, tidak ada perahu yang kosong lagi!”


 


“Leo! Hih, ada apa sih. Vania kenapa? Yang jelas dong ngomongnya. Perahu apa sih maksud kamu?!” tanya Dina kebingungan.


 


“Ya Allah itu Din, teman kamu tuh! Dibawa sama Ega naik perahu.”


 


“Hah apa?! Kok bisa sih? Vania pasti ketakutan. Dia trauma banget sama air Leooo, ..... kenapa kamu tadi tidak mencegahnya?!” terlihat muka panik Dina yang tidak tega melihat sahabatnya di tengah danau.


 


“Tidak sempat Din. Wong Ega gendong Vania cepat banget.”


 


“Ega memang keterlaluan. Benar-benar sudah gila.” gerutu Dina.”Leo! Cepat cari perahu buat susul mereka! Keburu lemes tuh nanti Vania.” Lanjutnya.


 


“Dari tadi aku juga nungguin perahu yang kosong tidak ada Dinaaa....” jawab Leo geregetan karena menjadi pelampiasan kemarahan Dina.


 


“Terus bagaimana dong?!”


 


“Tenang Din, sepertinya itu ada satu perahu yang menuju ke sini. Sebentar lagi pasti juga menurunkan orang. Nanti kita langsung naik.” Leo menunjuk perahu berwarna biru di tengah danau.


 


“Ya sudah kita tunggu di dekat sana saja kalau begitu.”


 


Dina dan Leo berjalan menuju tepi danau yang agak menurun, mendekat ke arah tujuan pemberhentian perahu.


Tak lama kemudian perahu itu mendekat dan menurunkan empat orang di dalamnya. Segera Dina dan Leo bergegas naik untuk menyusul Vania dan Ega.


 


“Din, ayo naik.” Ajak Leo mengulurkan tangannya membantu Dina menaiki perahu tersebut.


 


“Iya sabar, ngeri tahu.. goyang-goyang terus ini perahunya.” Berpegangan tangan Leo.

__ADS_1


 


“Pak, ikuti perahu biru itu ya. Teman saya ada di sana.”


 


“Baik Mbak,”


 


“Eh Din, Vania memang trauma sama air sejak kapan sih?!” tanya Leo memulai pembicaraan.


 


“Sudah sejak SD dia sering tenggelam, SMP juga pernah, makanya dia paling anti kalau dekat-dekat dengan air yang unlimited.” Ujar Dina menjelaskan.


 


‘’Hah? Unlimited? Hahaha... bahasamu Din.”


 


“Eh, iya sebenarnya aku masih penasaran. Kenapa kamu tiba-tiba perhatian gitu sama Vania? Perasaan kamu cuek banget sama semua cewek di sekolah.” ujar Dina.


 


“Aku Cuma di suruh ..., astaga aku lupa. Duh bagaimana ini?!” Leo terkejut saat menyadari kalau dirinya tadi merekam sesuatu, dia lupa apakah sudah terlanjur terkirim ke Sony atau belum. Karena bisa jadi sumber masalah kalau sampai Sony melihat wanitanya di perlakukan seperti itu oleh lelaki lain. Da mengeluarkan ponselnya untuk mengecek, dan ternyata, sudah banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Sony, begitu juga dengan pesan singkatnya yang menanyakan keadaan Vania dan mengutuki Ega penuh emosi.


 


“Lupa apa sih Leo? Kamu disuruh sama siapa? Apa sih sebenarnya yang kamu bicarakan?!” tanya Dina.


"Bentar Din!" Leo fokus melihat ponselnya membalas pesan dari Sony.


“Hei kamu belum menjawab pertanyaanku.” Sambungnya menatap tajam Leo.


 


“Din, diam dulu. Ini gawat. Duh gimana ya.” Menyuruh Dina diam karena terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Harusnya tadi aku tidak mengirim videonya, tapi kan aku juga tidak salah, aku memang ditugaskan Untuk mengawasi Vania. Hanya saja aku takut nanti Ega akan kenapa-kenapa kalau Mas Sony tidak terima. Gumam Leo masih dengan memandangi ponselnya.


 


 


“Pak! Tolong ke tepi danau. Itu teman saya lagi sakit!” Leo berteriak ke perahu biru yang di tumpangi Ega dan Vania.


 


“Leo kamu ngapain sih?! Siapa yang sakit. Kita sehat-sehat saja. Kenapa menyusul ke sini?!” Ega berseru.


 


“Hei Ega! Kamu sudah gila ya! Ke tepi sekarang, cepat!” Dina mengutuki Ega.


 


“Dasar pengganggu!” umpat Ega, merangkul Vania tak mengindahkan perkataan Dina.


Vania yang terduduk lemas karena menahan takutnya tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memejamkan mata dan pasrah menyenderkan badannya. Beruntung perahu itu cepat menepi, diikuti Dina dan Leo di belakangnya.


 


Setelah turun, Dina segera menghampiri Vania.


“Minggir!” Dina memelototi Ega, dia sengaja menabrakkan lengannya ke badan Ega.


 


“Biasa aja kali. Lagian kalian kenapa sih selalu menggangguku?!” ucap Ega.


 


“Ga. Kalau sampai Vania pingsan aku akan laporin kamu ke orang tuanya. Paham?! Seenaknya aja sama anak orang.” Duduk di samping Vania.


 


“Van, turun yuk. Kamu enggak apa-apa kan?” tanya Dina sambil memperhatikan Vania.


 


“Ga, lain kali jangan seperti ini. Kalau sampai Vania kenapa-kenapa kamu harus tanggung jawab!” ancam Leo.

__ADS_1


 


“Memangnya kenapa sih? Aku kan Cuma mengajaknya naik perahu. Bukannya mau menjeburkan Vania ke danau.” Jawab Ega dengan santainya.


 


“Terserah apa katamu. Lebih baik diam dari pada bikin emosi orang.” Sahut Dina sambil berjalan menuntun Vania.


 


“Masa di ajak naik perahu gitu aja lemes sih Van.” Ucap Ega tidak percaya.


 


"Ga, Vania ada trauma. Jadi wajar saja dia bisa sampai lemes kaya gitu kalau berada di tengah- tengah danau atau pantai. Kolam renang saja dia ketakutan.” Tutur Leo menjelaskan.


 


“Dari mana kamu tahu. Aku lebih dekat dan lebih mengenal Vania dari pada kamu. Jangan sok tahu.” ketus Ega.


 


“Sudah Leo! Jangan kamu ladeni Ega. Bisanya Cuma buat pusing saja!”


 


Leo dan Dina membawa Vania ke tepi danau dan mengajaknya duduk di tikar depan warung kecil, Dina memberikannya teh panas.


“Van, kamu baik-baik saja kan?” tanya Dina.


 


“Iya Din, aku baik-baik saja kok. Kaki cuma lemes aja buat jalan. Terima kasih ya kalian sudah membantuku.”


 


“Ya ampun. Tangan kamu dingin banget Van.” Ujar Dina, menggenggam tangan Vania.


Di tempat lain, Sony terus memegangi ponselnya berharap cepat mendapat kabar dari Leo. Dia begitu panik memikirkan gadis tercintanya itu.


Ya Allah, lindungilah Vania. Jauhkanlah dia dari segala mara bahaya yang menimpanya. Jangan biarkan satu orang pun menyakitinya. Lelaki itu memang benar-benar kurang ajar. Lihat saja nanti, ada saatnya aku akan pergi menemuimu. Akan kubalaskan semua perbuatanmu yang berani menyentuh wanitaku.


Dek, maafkan Mas ya saat ini Mas belum bisa mendampingimu. Mas janji suatu hari nanti. Mas akan pastikan kamu akan selalu di sampingku. Apa pun yang terjadi.


Sony terus menghubungi Leo dan Vania meskipun tidak pernah diangkat, dia tidak putus asa. Dia ingin memastikan keadaan kekasihnya itu.


“Eh, sebentar ya. Aku mau telepon dulu.” Sela Leo, pergi sambil mengangkat telepon dari Sony.


 


“Halo, Mas. Maaf baru sempat kasih kabar, Vania-...”


Belum sempat Leo meneruskan bicaranya, Sony sudah langsung memotongnya dengan pertanyaan yang penuh kekhawatiran.


 


“Bagaimana keadaan Vania? Apa dia baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Apa dia pingsan?” tanya Sony panik.


 


“Alhamdulillah Vania baik-baik saja Mas, dia hanya lemas dan tangannya sangat dingin.”


 


“Ya Allah, kasihan sekali dia. Terus lelaki si*alan itu kemana? Apa aku bisa bicara dengannya?!” pinta Sony tanpa berpikir panjang.


 


“Duh, jangan Mas. Nanti malah ketahuan kalau aku membantu Mas Sony. Yang ada dia akan semakin mengikat Vania dan semakin membenciku."


.


.


.BERSAMBUNG.


.


JANGAN LUPAN TINGGALKAN JEJAK YA READERS BAIK HATI...


LIKE DAN KOMEN KALIAN SANGAT BERPENGARUH BUAT AUTHOR.💚💚😍


 

__ADS_1


 


__ADS_2