
“Dek, kenapa wajahmu pucat begitu? Sakit?” tanya Sony ketika mereka duduk berdampingan di Sofa, sementara Pak Gunawan sudah terlelap dalam tidurnya yang begitu tenang.
Vania menggelengkan kepalanya kasar, wajahnya terlihat menahan sakit, matanya juga sayu. Tangannya yang sedari tadi meremas perut, kini ia berhenti sejenak berpura-pura santai seolah tak merasakan apa pun.
“Aku tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja kok.” Jawab Vania berbohong memperlihatkan senyumnya yang di buat-buat.
Sony menempelkan punggung tangannya ke dahi Vania mengecek suhu tubuhnya, memastikan apakah dia demam atau tidak.
“Tidak panas Dek, apanya yang sakit? Wajahmu sangat pucat. Jangan membohongi Mas. Apa yang sebenarnya kamu rasakan?” Mencecar Vania dengan segala pertanyaan agar Vania jujur sambil memperhatikan wajah gadis itu.
“Tentu saja tidak panas, aku kan tidak demam Mas. Aku tidak sakit, jadi Mas tidak perlu khawatir.”
“Lantas, kenapa sepertinya kamu kesakitan, Dek?”
“Aku tidak sakit Mas, berapa kali aku bilang, aku hanya kurang nyaman dengan perutku karena efek datang bulan.” Tutur Vania mencoba menjelaskan tanpa mengakibatkan kekhawatiran Sony.
“Kenapa tidak bilang dari tadi Dek, ayo ikut Mas sekarang.” Sony berdiri meraih tangan Vania.
“Mau ke mana Mas?”
“Kita temui dokter untuk memeriksa keadaanmu Dek,” tutur Sony gelisah.
Sudah kuduga, reaksi Mas Sony pasti akan selalu seperti ini. Batin Vania yang sudah hafal dengan sifat Sony.
“Tidak perlu Mas, Mas Sony selalu begitu. Dikit-dikit harus periksa. Nanti juga perlahan hilang sendiri kok sakitnya, sudah biasa Mas.” Tukas Vania dengan nada kesal.
“Ya sudah, terus maunya gimana Dek? Mas bisa bantu apa agar kamu tidak kesakitan? Mas pijit kakinya ya, pasti karena kecapekan juga kan?”
“Heem.... boleh deh.” Vania tersenyum nyengir kuda merasa kesenengan ketika Sony menawarinya untuk memijit kakinya.
Sony meraih kaki Vania yang menggantung karena ia duduk di sofa. Ia lalu melepas sepatu Vania, kemudian ia menaikkan kaki Vania ke pahanya, memangkunya agar lebih mudah untuk memijat. Perlahan Sony menekan lembut jari-jari lentik kaki Vania dan terus memijatnya hingga naik ke betis.
Tak bisa di pungkiri ia sangat menikmati pijatan Sony karena kakinya memang sangat pegal akibat terlalu banyak jalan keliling mall beberapa waktu lalu dan menyusuri rumah sakit yang cukup luas bangunannya.
“Maaf ya Mas aku merepotkan, kamu juga pasti capek. Udahan saja Mas pijatnya.” Pinta Vania melihat Sony seperti kelelahan setelah memijatnya cukup lama.
__ADS_1
“Mas tidak capek Dek, Mas hanya sedikit mengantuk. Sepertinya Mas harus ke mushola dulu, sudah masuk waktu ashar Dek. Tidak apa-apa Mas tinggal? Atau Adik mau ikut?”
“Tidak Mas, aku tunggu di sini saja. Tapi Mas cepat kembali ya, jangan lama-lama.”
“Iya sayang.” Ucap Sony sembari beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar menampakkan senyumnya pada Vania yang terus memandangi kepergiannya.
.
.
Beberapa jam kemudian, Sony dan Vania berpamitan pada Pak Gunawan untuk kembali ke Jogja. Salah satu asisten Pak Gunawan yang selalu setia menunggunya di luar, kini ia di panggil masuk oleh Sony untuk menjaga Papanya.
“Pak, tolong jaga Papa ya. Kalau ada apa-apa kabari saya. Saya harus pulang ke Jogja besok pagi.
“Baik Tuan muda.” Ucap asisten yang berdiri sopan di depan Sony sambil membungkukkan badannya.
“Pak, tolong jangan panggil saya dengan sebutan itu. Panggil saya Sony saja.” Keluh Sony merasa risih dengan sebutan Tuan muda yang terlalu tinggi baginya.
“Maaf Tuan muda, saya tidak bisa dan tidak terbiasa lancang seperti itu.”
Tanpa menjawab, Sony hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mengalihkan pandangannya keoada Pak Gunawan.
“Sony hanya tidak nyaman Pa. Baiklah, kalau begitu Sony sama Vania pamit ya Pa. Papa jaga kesehatan jangan sampai drop lagi.”
Setelah keduanya berpamitan dan meninggalkan Rumah sakit, mereka bergegas kembali ke hotel untuk beristirahat menunggu pagi datang.
🌷
🌷
Satu minggu kemudian,
“Papa!” kejut Sony begitu melihat kehadiran Papanya yang tak lain adalah Pak Gunawan. Terlihat sesosok lelaki paruh baya yang masih gagah dengan setelan jasnya berdiri di depan ruangan Sony setelah Beni membukakan pintu dari luar menggunakan kode kunci. Pak Gunawan mengulas senyum bahagianya ketika bertemu dengan Sony yang tengah sibuk bekerja.
Sony yang sedang menatap laptopnya, seketika berdiri menghampiri dan menghambur ke pelukan sang Papa dengan raut muka yang begitu bahagia.
“Pa, kenapa tidak bilang Sony kalau mau datang? Sony kan, bisa jemput Papa di bandara.” Ujar Sony mengurai pelukannya.
“Sengaja, Papa ingin memberimu kejutan. Papa ingin bertemu dengan orang tua Vania. Antar kan Papa ya besok.” Pak Gunawan berjalan ke arah sofa sambil melihat sekeliling ruang kerja Sony yang begitu tertata rapi.
__ADS_1
“Tentu saja, tapi apa tidak capek Pa? Papa kan baru sampai.”
“Tidak ada kata capek untuk kamu Son. Papa ingin menebus hutang Papa yang tidak pernah membahagiakan kamu.”
Sony mendengus, mengembuskan nafasnya dengan kasar. Dia jengah karena Papanya selalu mengungkit sesuatu yang sudah berlalu.
“Pa, Sony tidak ingin mendengar kalimat seperti itu lagi.” Please ... “ tutur Sony yang hanya di balas senyuman oleh Pak Gunawan.
“O iya, Papa sama siapa ke sini?” mata Ssony mengarah pada daun pintu yang terbuka lebar. Ia berpikir Papanya datang bersama Mama. Tapi itu tidak mungkin, Bu Rima susah untuk ditaklukkan walaupun hanya sekedar mengajaknya bertemu anaknya.
“Sama asisten Papa Son.” Jawab Pak Gunawan singkat,
“Ben, tolong kamu siapkan file yang akan kita bawa meeting nanti ya.” Ucap Sony pada Beni yang masih berdiri menyaksikan seorang anak dan Papanya yang telah akur. Ia ikut merasakan kebahagiaan Sony.
"Siap," singkat Beni langsung bergegas menuju ruangannya.
.
.
Keesokan harinya, tampak cahaya mentari yang begitu cerah menerangi kota Jogja. Secerah hati Sony yang sangat bahagia, merasakan jantungnya terus berdegup kencang tatkala ia akan mengenalkan Papanya dengan orang tua Vania. Mobil Alphard hitam yang di kendarai oleh asisten Pak Gunawan itu semakin mendekati rumah Vania.
Vania yang juga satu mobil dengan Pak Gunawan merasakan hal yang sama seperti Sony. Jantungnya terasa kacau tak beraturan saat mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya. Sungguh pemandangan yang jarang ia temui. Seorang pengusaha kaya raya bisa menerimanya sebagai calon menantu.
Ya Tuhan, apa ini mimpi? Bagaimana ini, jantungku sangat tidak sopan, berdetak semaunya, berlomba-lomba ingin keluar dari sana. Semoga semuanya berjalan dengan lamcar. Gumam Vania dalam hati.
"Assalammualaikum," Sapa Pak Gunawan. Vania pun langsung masuk dan menemui orang tuanya, memanggilnya agar segera ke depan. Beberapa makanan dan kue sudah tersaji rapi di meja ruang tamu. Bu Jasmin sengaja menyiapkannya setelah Vania mengabarinya kalau Pak Gunawan akan datang.
"Wa'alaikum salam... jawab orang tua Vania serempak lalu berjabarmt tangan dengan Pak Gunawan.
"Silahkan duduk, Pak." Pak Asta mempersilakan Pak Gunawan dan Sony untuk duduk.
"Terima kasih." ucap Pak Gunawan,
Tak lama kemudian, Vania muncul dari belakang membawa minuman, lalu duduk di sebelah Bu Jasmin.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
__ADS_1
... ...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...