
Maaf ya readers, babnya masih sama, LDR Vania dan Sony. Nanti pasti akan ada bab mereka di pertemukan, namun dengan konflik yang luar biasa. Tunggu yaa.,😊😊😍🤗💚
.
.
“Insya Allah Sony akan menjalankan amanah dari om sebaik mungkin.”
“Hotel ini sudah menjadi hak kamu sepenuhnya Son. Jadi om tidak akan ikut campur lagi. Kecuali kamu membutuhkan pertolongan om.” Pak Irwan berkata sambil meraih berkas di meja.
“Ini kamu pegang, dan kamu baca. Dan ini kode pintu ruangan di dalam sini. Kamu bisa merubahnya sesukamu.” Menunjukkan lembaran kertas bergambar denah di dalam ruangan yang sedang mereka tempati sekarang.
Hanya beberapa orang yang tahu ruangan rahasia di dalam ruangan itu, selain ruang kerja, terdapat juga ruang tamu yang bersampingan dengan meja makan beserta dapur mininya, ruang untuk menyimpan data penting, dan juga satu lagi kamar yang mewah khusus untuk beristirahat sang pemilik hotel.
“Rencananya om besok pagi akan mengadakan acara yang di hadiri para karyawan dan para petinggi dari beberapa hotel juga yang bekerja sama dengan kita, jadi besok kamu jangan lupa ganti pakaianmu dengan Jas, jangan pakai seragam itu. Om sungguh tidak mau melihatnya lagi kau memakai seragam itu Son.” Terang Pak Irawan yang dari awal tidak setuju Sony menjadi Security.
“Iya om, om tenang saja.” Sony tersenyum kecil sambil mengolak-alik file yang di pegangnya. Berkas itu berisi tentang semua laporan dan data hotel yang harus Sony pelajari.
“Son, bagaimana hubungan kamu dengan gadis itu?”
“Ha?! Om— maksud om gadis siapa? kenapa tiba-tiba mengalihkan pembahasan sih om.” Terlihat Sony menutupi raut wajahnya yang sedikit malu jika membahas perempuan dengan omnya. Karena dia tidak pernah berpacaran sebelumnya.
“Tidak apa-apa. Om hanya ingin tahu saja. He he ...” Senyum yang di buat-buat itu membuat Sony menahan tawa.
“Kenapa om jadi aneh begini?!” tanya Sony tertawa.
“Aneh bagaimana maksud kamu Son, om kan hanya menanyakan wanitamu itu. Apanya yang aneh coba.”
__ADS_1
“Tumben saja om menanyakan hal ini. Dia selalu membuatku khawatir om, aku tidak bisa tenang dan selalu memikirkannya.” Jawab Sony jujur tanpa ada yang di tutupi. Hanya om dan tantenya yang bisa mendengarkan cerita Sony, bukan kedua orang tua atau kakaknya.
“Hahaha... sepertinya kamu memang benar-benar jatuh cinta kepadanya ya Son. Om tidak menyangka ternyata kamu bisa juga mempunyai kekasih.” Pak Irawan menyudutkan Sony hingga membuatnya sedikit malu dan tersenyum kecil.
“Aku sendiri juga tidak tahu om kenapa aku bisa menyukainya. Bagiku dia sangat istimewa, beda dengan wanita lain.” Sony mulai berdiri, berjalan mengambil air minum di kulkas yang terletak di dapur mini ruangan itu.
“Jangan kau lepas kalau kau sudah merasa nyaman dengannya. Om saja melihatmu yang sekarang berbeda, dulu terlalu kaku dan terlihat seperti orang yang banyak pikiran. Sekarang lihatlah dirimu! Kamu seperti hidup kembali Son.” Ujar Pak Irawan.
“Benarkah om? Tapi sayangnya dia masih satu tahun lagi sekolah dan mungkin dia juga akan kuliah om, aku juga belum tahu. Dia belum bercerita tentang ke depannya nanti bagaimana. Aku berharap dia akan selalu di sampingku.”
“Rupanya kamu sudah di perbudak oleh cinta ya Son. Hahaha.”Pak Irawan terus menggoda.
“Bukan di perbudak om, lebih tepatnya aku ingin menjaga dan melindunginya, entah kenapa aku ingin dia selalu bersamaku sampai nanti. Mungkin seumur hidupku.” Ucap Sony dengan pandangan kosong mengarah ke vas bunga yang terletak di ujung meja sambil meneguk segelas air ditangannya.
“Terima kasih om. Apa masih ada yang perlu di bicarakan om?” Sony beralih ke kursi dan mendudukkan badannya.
“Om pikir sudah cukup jelas, besok pukul sembilan pagi kamu harus siap di meeting room ya. Ingat jangan sampai telat.” Ucap pak Irawan sambil melonggarkan dasinya.
“Oke om, kalau begitu Sony turun dulu ya om.”
“Eh, satu lagi Son. Tunggu,” teriak memanggil Sony yang sudah membalikkan badannya menuju pintu.
“Apalagi om?” mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
“Bawa semua barang kamu ke rumah om lagi. Tidak usah mengontrak. Apa kata orang nanti owner hotel kok tinggalnya di gubuk kecil.” Menepuk jidat.
__ADS_1
“Kenapa om? Aku nyaman di sana. Sebenarnya tidak masalah juga aku tinggal di rumah kontrakan, kan cuma buat tidur.” Jawab Sony mendekat ke Pak Irawan.
“Tidak. Tidak. Pokoknya kamu harus tinggal di rumah om, lagi pula rumah om juga kosong. Cuma ada tukang bersih-bersih sama satpam. Om tidak mau tahu. Kamu harus menuruti kata om.”
“Ya, ya, baiklah. Nanti malam aku akan angkut barang-barangnya.” Menghela nafas putus asa. “Sudah ya om, Sony turun dulu.” sambungnya bergegas melangkahkan kakinya.
“Oke.” Jawab Pak Irawan singkat.
Jam terus berjalan dan menunjukkan pukul tiga sore. Sony segera bersiap untuk pulang. Dia mengambil jaketnya di loker, memakainya. Tidak lupa dia memakai sarung tangan dan masker sambil berjalan menelusuri koridor menuju tempat parkir motor.
Tak sedikit wanita yang mengagumi ketampanannya. Apalagi anak magang baru, pastilah terpesona dengan penampilan serta perawakan Sony. Namun sikap cuek dan juga pendiamnya tidak ada satu pun yang berhasil menarik perhatiannya, kecuali Vania. Vania yang juga menyukainya saat pertama kali bertemu ternyata di respon cepat oleh Sony karena Vania gadis yang pendiam, sopan, dan baginya dia sangat berbeda dengan wanita mana pun.
Setelah beberapa menit kemudian, sampailah Sony ke rumah kontrakannya yang kecil. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, salat, dan bersantai menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan kasar.
Rumah kecil ini penuh kenangan, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Banyak bayangan Vania di sini. Keceriaan Vania tergambar jelas ketika berada di depan cermin dan sofa ini, bagaimana mungkin aku rela pergi dai sini.Gumam Sony melamun teringat saat-saat bersama Vania. Menghabiskan waktu bersama, dan juga saat dia merasakan ciuman untuk pertama kalinya dengan gadis kecil yang ia cintai. Sony terus merenung dan memikirkan Vania.
"Dek, sedang apa kamu. Aku sangat bosan sendirian, aku kesepian. Aku ingin setiap saat menghubungimu tapi aku takut kamu akan terganggu, Mas paham kamu masih sangat muda dan membutuhkan kebebasan, tapi yang Mas rasakan beda, Mas sangat takut jika adik menganggapku posesif atau bahkan tidak nyaman dengan caraku memperhatikanmu." lamun Sony melihat foto-foto Vania yang sempat diambilnya diam-diam ketika bersama.
"Mas janji, jika ada waktu Mas akan datang ke kotamu Dek, aku benar-benar merindukanmu."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1