Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Meminta Restu


__ADS_3

Keesokan harinya matahari mulai merangkak naik, kini Sony dan Vania dalam perjalanan menuju rumah orang tua Vania berniat akan melamar dan meminta ijin untuk membawanya ke Jakarta sekedar berkenalan dengan keluarga Sony.


 


Jalanan terlihat mulai ramai dipenuhi berbagai kendaraan. Alunan musik menggema di dalam mobil yang di kemudikan oleh Sony, Vania yang duduk di samping Sony terlihat sangat bahagia karena ia akan segera bertemu dengan orang tua juga adik-adiknya. Ia merasa sangat merindukannya meskipun belum lama ia meninggalkan mereka.


 


“Mas, mau?” Vania menawarkan roti berlapis coklat pada Sony yang tengah fokus mengemudi. Tanpa ada jawaban Sony hanya membuka mulutnya lebar menandakan ia ingin di suapi oleh Vania. Sony tersenyum manis, terlihat raut wajahnya yang bahagia karena sebentar lagi keinginannya akan terwujud, yaitu menikahi Vania. 


 


“Habiskan sayang, nanti kamu lapar. Kalau belum kenyang nanti kita berhenti cari makan, ya?”


 


“Sudah kenyang kok Mas, cukup.” Ucap Vania sambil mengunyah rotinya.


 


“Baiklah, mungkin sekarang sudah kenyang tapi kalau lapar bilang Mas, ya ...”


 


“Siap bos.” Jawab Vania bersemangat.


 


Setelah lima jam Sony menelusuri jalan melewati berbagai kota, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mobil itu melesat tepat di halaman yang cukup luas, terdapat bunga yang indah di sekitarnya. Rumah sederhana  itu terlihat sejuk, teduh dan sangat menentramkan bagi Vania.


 


“Dek, bangun. Kita sudah sampai.”  Ucap Sony sambil melepaskan seat belt tempat Vania duduk.


 


“Ah, sudah sampai?” Vania membuka mata sedikit terkejut melihat Sony ada di depan wajahnya tak berjarak. Ia lalu memalingkan kepalanya ke jendela kaca mobil.


 


“Mas, hanya melepaskan seat belt, Dek.”


 


“Oh, ya sudah kita turun yuk Mas!” ajak Vania dengan penuh semangat. Sony pun segera beringsut dan keluar lalu membukakan pintu untuk Vania.


 


“Assalamualaikum Bapak, Ibu! Vania pulang!” teriak Vania setelah membuka pintu pagarnya sambil membawa paper bag berisi oleh-oleh.


 


“Wa’alaikumsalam ... loh, anak Ibu pulang, kok mendadak Nduk, tidak kasih kabar Ibu kalau mau pulang.” Menghambur ke pelukan Bu Jasmine.


 


“Iya Bu, Mas Sony yang mengajakku pulang.” Melepas pelukannya dan menengok ke belakang mencari keberadaan Sony.


 


“Oalah sama Nak Sony, kenapa tidak diajak masuk Nduk.” Bu Jasmine berjalan menuju teras rumah lalu menyuruh Sony masuk.


🌷


🌷


Di ruang tamu, Pak Asta, Bu Jasmine, Sony dan Vania berbincang. Terlihat wajah tegang Sony akan memulai pembicaraan. Baginya ini sesuatu yang sangat menegangkan, meskipun ia sudah pernah melamar Vania sebelumnya hanya kepada Pak Asta, namun kali ini ia di saksikan Bu Jasmine juga Vania langsung. Ia menarik nafas panjang setelah mengumpulkan keberaniannya, melepas ketakutan dan rasa grogi yang mengganggunya.


 


“Bapak, Ibu, tujuan kedatangan saya kemari adalah untuk bersilaturahmi. Di samping daripada itu saya ingin melamar anak Bapak, Vania Al Zahreyna. Saya rasa, Bapak dan Ibu juga sudah mengetahui mengenai hubungan saya dengan anak Bapak. Keberanian saya sekarang juga karena didasari rasa sayang saya kepada Vania. Mohon doa restunya untuk hubungan kami berdua.”

__ADS_1


“Saya terima niat baik kamu, tapi apakah kamu sudah yakin dengan keputusan kamu sekarang?” ucap Pak Asta. “Vania, apa kamu bersedia menikah dengannya? Apa kamu sudah siap berumah tangga?” lanjut Pak Asta bertanya pada Vania.


 


“Em ... Vania ... Vania insya Allah siap Pak, Vania bersedia.” Suara gugup Vania terdengar jelas di telinga setiap orang yang mendengarkan.


 


“Nak Sony, kenapa mau menikahi putriku secepat ini?” tanya Bu Jasmine karena sedikit terkejut dengan lamaran Sony. Sepertinya Bu Jasmine belum rela melepas anak gadisnya.


“Bukan waktu yang sebentar saya mengenal anak Bapak dan Ibu. Kami saling mencintai Bu, jadi saat ini saya berniat meminta izin. Dengan hati tulus dan penuh tanggung jawab saya ingin restu agar bisa mengarungi hidup bersama. Usaha dan terus menjaga dan melindungi Vania adalah janji saya sama Bapak dan Ibu."


 


“Kami sebagai orang tua hanya mendukung apa yang diinginkan oleh anak selama itu yang terbaik. Apalagi menikah itu ibadah, jadi tidak ada salahnya jika kalian memang mau menikah. Tapi apa kamu mau menjamin kebahagiaannya?!” tanya Pak Asta dengan sedikit tegas.


 


“Insya Allah saya akan selalu membahagiakan Vania, Pak. Saya tidak akan membiarkan air matanya jatuh apa pun alasannya.”


 


“Nak Sony, jangan pernah menyakiti Vania, ya. Kalaupun suatu saat nanti kamu sudah tidak mencintainya lagi. Kembalikanlah pada kami. Jangan kau biarkan dia hidup sendiri di luar sana.” Bu Jasmine berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


 


“Bu, saya tidak akan mungkin menyakiti Vania, saya sangat menyayangi anak Ibu.”


 


“Ah ... Ibu ... kenapa bicara seperti itu.” Vania mendekat dan duduk di sebelahnya lalu memeluk ibunya.


 


“Ibu hanya tidak menyangka saja Nduk kamu akan secepat ini merencanakan pernikahan.”


 


 


“Jadi kesimpulannya, kami menerima lamaran kamu. Jangan lupa kamu bawa orang tuamu ke sini. Agar kami bisa mengenalnya.” ucap Pak Asta.


 


“Baik Pak, terima kasih banyak sudah mempercayai saya untuk menikahi Vania. Nanti setelah ayah saya sembuh pasti akan saya bawa kemari menemui Bapak dan Ibu.” Terang Sony menjelaskan bahwa Papanya, Pak Gunawan sedang dalam masa perawatan di rumah sakit.


 


“Dan saya juga mau meminta ijin Pak, untuk mengajak Vania ke Jakarta. Orang tua saya ingin mengenal Vania.”


 


“Kapan? Dan berapa lama?”


 


“Rencananya berangkat besok Pak, untuk berapa lamanya, tergantung kemauan Vania.”


 


“Kalau bisa jangan lama-lama, ya. Tidak baik pergi berduaan ke luar kota. Kalian juga belum halal, bahaya.”


 


“Baik Pak, saya mengerti.”


 


🌷


 

__ADS_1


🌷


 


Jakarta Hospital


 


Di sebuah rumah sakit dengan bangunan yang cukup tinggi, Sony dan Vania berjalan melewati koridor menuju kamar Pak Gunawan.


 


“Mas, aku takut.” Rengek Vania bergelayut di lengan Sony.


 


“Apa yang kamu takutkan, Dek?”


 


“Aku bingung apa yang harus aku katakan nanti, harus bagaimana Mas?”


 


“Tinggal jawab jika di tanya Dek, biarkan mengalir apa adanya. Tidak perlu di buat-buat. Jadilah diri kamu sendiri. Oke?!” ucap Sony menenangkan Vania yang tangannya mulai dingin dan berkeringat.


 


“Ya ampun, tangan kamu kenapa dingin sekali Dek?”


 


“Aku gugup Mas. Papa sama Mama Mas Sony galak nggak? Terus nanti aku panggilnya bagaimana Mas?” Vania begitu kebingungan dan sangat nervous untuk pertama kalinya ia bertemu dengan calon mertuanya. Ia teringat seperti kebanyakan sinetron pada umumnya kalau mertua itu galak dan menakutkan.


 


“Tenang saja Dek, mereka tidak galak kok. Panggilnya senyaman kamu aja sayang kenapa harus dibuat susah.”


 


“Mas, ini tuh pertama kalinya aku berkenalan dengan orang tua pacar aku. Hem, apalagi Mas sudah melamarku, berarti kan mereka calon mertuaku. Aduh, bagaimana ini.”


 


“Baguslah, Mas senang mendengarnya.”


 


“Maksud Mas Sony apa, aku tadi bilang apa memangnya?” Vania terlihat seperti orang bodoh, pikirannya sudah tidak bisa sinkron diajak bicara. Tidak nyambung seperti kabel yang terputus.


 


“Ya, Mas senang. Mas jadi orang pertama yang melamarmu, mengenalkanmu pada orang tuaku. Dan Mas juga sangat-sangat bahagia saat Bapak dan Ibu merestui kita.” Sony teringat orang tua Vania yang sudah menerima lamarannya dan mempercayainya untuk menjadi pendamping hidup Vania.


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...

__ADS_1


__ADS_2