
Waktu satu minggu digunakan Sony dan Vania untuk memesan gaun pengantin, juga cincin yang akan di pasangkan di jari manis Vania nanti. Dan sisanya, masalah dekorasi, katering dan lain sebagainya Sony serahkan kepada Wedding Organizer yang di perintahkan oleh Papa Sony, Pak Gunawan.
🌷
🌷
Tidak terasa, dua minggu berlalu. Hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Vania dan Sony di mana akan di adakan acara ijab kabul juga resepsi oleh Sony Dirgantara dan Vania Al Zahreyna. Para tamu yang diundang sudah berdatangan, mulai dari sanak saudara, teman sekolah Vania dulu, juga beberapa teman dekat Sony dari Jakarta maupun Yogyakarta.
Di kediaman Vania, rumah dan halaman di sulap total menjadi pemandangan yang sangat indah. Terdapat dekorasi yang megah sudah terhias dengan mewah. Paduan bunga bernuansa merah, hijau, dan putih membuat suasana menjadi semakin romantis. Para tamu yang berdatangan pun sangat terpukau melihatnya.
Di kamarnya, Vania sedang di rias oleh MUA terkenal yang didatangkan langsung oleh Sony dari Jakarta. Vania terlihat seperti bidadari yang turun dari kayangan. Ya, bidadari di hati seorang lelaki yang bernama Sony Dirgantara.
Make up flawless serta balutan gaun putih yang melekat di tubuhnya membuat Vania terlihat sangat cantik sempurna. Bahkan mata normal pun tidak akan mengenali perubahan Vania yang sudah di make over oleh MUA ternama itu.
Pintu kamar Vania terbuka lebar di kala sang Ibu yang tak lain adalah Bu Jasmine, memasuki kamar tersebut. Bu Jasmine yang juga sudah rapi dengan baju kebaya putihnya menemui Vania untuk memastikan apakah ia sudah selesai di rias, atau masih belum sepenuhnya.
“Masya Allah, anak Ibu cantik sekali. Ini benar Vania anak ibu bukan?” tanya Bu Jasmine dengan senyuman harunya, mata wanita itu tampak berkaca-kaca melihat putrinya dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Ia masih tak menyangka putri semata wayangnya, kini sudah beranjak dewasa dan akan mengarungi bahtera rumah tangga dengan lelaki pilihannya.
“Ibuu.... ini Vania. Kenapa Ibu menangis?” ucap Vania yang sedang bercermin, lalu mengalihkan pandangannya ke Bu Jasmin karena melihat pantulan Ibunya di cermin yang sedang mengusap matanya dengan tisu.
“Ibu bahagia Nak, anak Ibu ternyata sudah dewasa. Ibu sangat terharu melihatmu memakai gaun pengantin ini, baru kemarin kamu lahir, sekarang sudah mau menikah.” Ucap Bu Jasmin yang masih belum percaya anaknya akan menikah secepat itu.
“Bu, jangan menangis ... nanti make up Ibu luntur jelek loh.” ujar Vania menenangkan Ibunya sambil memeluknya.
“Ah, padahal Ibu ke sini mau menjemputmu Nak. Apakah sudah selesai meriasnya? Kalau sudah kita keluar ya, sepertinya sebentar lagi calon suamimu akan datang.”
__ADS_1
“Bu, Vania takut. Vania gugup. Lihat, tanganku gemetar Bu.” Vania memperlihatkan kedua tangannya yang bergetar hebat karena grogi.
Ya, tentu saja, dia pasti sangat grogi karena baru pertama kali berdandan pengantin, bukan, bukan hanya berdandan saja. Melainkan, dia memang akan menjadi pengantin sesungguhnya bersama sang pangeran bernama Sony Dirgantara.
“Baca bismillah Nduk, semoga semua diberi kelancaran tanpa halangan apa pun.” Ucap Bu Jasmin yang di balas anggukan oleh Vania.
“Bu, Vania, ayo kita ke depan. Keluarga Sony sudah datang , penghulu juga sudah menunggu.” Ujar Pak Asta sambil sibuk membenarkan kancing bajunya. “Masya Allah! Vania?! Cantik sekali kamu Nduk. Bapak benar-benar tidak melihat wajah aslimu, sangat jauh berbeda.” Lanjut Pak Asta begitu terkejut melihat penampilan anak gadisnya.
“Bapak bisa aja, hehe ...”
“Ya sudah, ayo kita ke depan.” Pak Asta dan Bu Jasmin berjalan di samping Vania, sementara Riana dan Rafa, adik Vania ikut mengiringi di belakang Vania.
Perlahan, Vania berjalan dengan anggunnya membawa seikat bunga mawar putih bercampur lyly di tangannya. Matanya melihat lurus ke depan, yang di sambut hangat oleh para tamu yang sedang memperhatikannya. Senyuman manis tergambar di bibirnya membuatnya semakin terlihat sempurna, senada dengan riasannya yang tampak fresh.
Terima kasih Tuhan, Kau telah mengirimkan bidadari untukku. Dia begitu sempurna, semoga aku bisa menjaganya sampai maut memisahkan. Terima kasih sayang ...Gumam Sony, terlihat netra itu sedikit memerah dan menahan rasa harunya. Ia tersenyum ke arah Vania dengan bibir yang bahkan tak bisa berucap melihat Vania sebentar lagi akan menjadi istrinya, dan hanya dalam hitungan menit mereka akan sah menjadi pasangan halal.
Bu Rima? Benarkah itu Bu Rima? Apa itu artinya dia sudah menerimaku sebagai menantunya? Aku kira Bu Rima tidak akan mungkin mau hadir ke pernikahanku dan Mas Sony. Ternyata dia masih peduli. Batin Vania ketika melihat sosok Mamanya Sony duduk berjejer dengan Pak Gunawan. Wanita itu tampak sibuk dengan kipas di tangannya, mengibas-ngibaskannya sambil mendongakkan sedikit kepalanya, ya memang Bu Rima orang yang berkelas hingga dia tidak biasa di tempat panas meskipun terdapat beberapa kipas di sekitarnya.
Vania pun duduk di samping Sony, di depannya juga sudah ada penghulu juga Pak Asta yang akan menikahkannya. Acara ijab kabul pun di mulai. Sony mulai menjabat tangan Pak Asta.
“Bismillah ... Wahai Sony Dirgantara Bin Gunawan, Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau kepada putriku yang bernama Vania Al Zahreyna dengan Mas kawin emas seberat seratus gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Vania Al Zahreyna Binti Asta dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai.”
__ADS_1
Dalam satu tarikan nafas, Sony berhasil mengucap janji suci dengan lantang dan jelas. Ia lega setelah berhari-hari latihan pengucapan ijab kabul, akhirnya diberi kelancaran tanpa kegagalan. Ia menarik nafas panhang dan mengucap rasa syukurnya dalam hati.
“Bagaimana para saksi? Sah?!” suara Pak Penghulu terdengar lantang menggema. Juga disahut oleh para saksi dan tamu undangan, serempak menyebut kata “SAH!” kemudian diakhiri dengan bacaan doa.
Terlihat Sony sangat terharu dengan pernikahannya, bola mata itu langsung mengarah ke Vania, tatapannya penuh makna, begitu juga dengan Vania yang terus menatap lekat lelaki di sampingnya, Sony Dirgantara. Kini ia telah menjadi istri sahnya yang halal. Ia sudah menjadi milik Sony seutuhnya.
Sony kemudian membuka kotak kecil yang berbahan kaca, di dalamnya di hias bunga secantik mungkin untuk menaruh cincin. Sony memakaikan cincin itu ke jari manis Vania, begitu juga dengan Vania, memakaikannya pada Sony bergantian. Vania lalu mencium punggung tangan Sony sebagai rasa pengabdiannya kepada lelaki itu yang telah berstatus Suami.
Buku paspor berwarna merah dan hijau itu kini telah mereka pegang satu sama lain. Tak lupa, mereka mulai mengatur posisi untuk berfoto dengan gaya ala pengantin baru yang memperlihatkan jari manis yang di hias cincin, juga buku nikah di tangannya.
Rangkaian acara pun satu persatu di laluinya, mulai dari sungkem, sambutan, baca doa dan juga ada hiburan yang membuat pesta pernikahan mereka semakin meriah. Mendatangkan seorang diva, penyanyi terkenal Indonesia dengan suaranya yang begitu khas di telinga, siapa lagi kalau bukan Rosa.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
... ...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
__ADS_1