Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Wanita Lain


__ADS_3

Empat hari kemudian, pagi hari setelah Sony berpamitan kepada orang tuanya. Ia berencana untuk kembali ke Yogyakarta, ada beberapa urusan di hotel yang harus di selesaikan.


 


Tidak sendiri, Sony membawa wanita cantik yang tak lain adalah Sindy karena mengingat, ia ingin ikut pergi ke kota wisata itu sekedar menyegarkan pikiran.


 


“Sindy, kursi kamu di depan. Aku di sini.” Titah Sony ketika menaiki pesawat yang akan mengantarkan mereka berpindah kota. Sindy tak menyadari tiket yang di pegangnya hingga ia tidak mengetahui di mana harusnya dia duduk.


 


“Kenapa tidak bersebelahan aja Son?” Sindy merasa heran kenapa harus duduk di kursi yang berbeda.


 


“Aku terbiasa sendiri Sin, tidak apa-apa, kan?”


 


“Oh, tidak masalah..”


 


Sesaat kemudian, pesawat itu lepas landas terbang ke angkasa dengan sayap kokohnya.


 


Sony melihat ke arah jendela melihat pemandangan alam yang begitu indah, lamunannya hanya tertuju pada Vania. Gadis kecil yang sangat ia cintai.


 


“Aku tidak sabar untuk membawamu pergi bersamaku, bertemu dengan kedua orang tuaku, dan kelak aku akan memilikimu seutuhnya. Aku tak tahu apakah kamu mau menerima Mas secepat ini? Semua begitu mendadak. Semoga kamu bersedia menjadi pendamping hidupku.”


 


Tak memakan waktu lama, tepat satu jam lebih sepuluh menit pesawat itu mendarat dengan selamat. Sony dan Sindy langsung menuju Grand Luxury Hotel.


 


“Son, ini hotel kamu?” tanya Sindy begitu menginjakkan kaki di lobby hotel Sony.


 


“Bukan, ini hotel Om Irawan. Aku hanya mengurusnya.” Jawab Sony berjalan masuk diikuti Sindy di belakangnya.


 


Ia tak pernah mau mengaku kalau sebenarnya dialah pemilik hotel tersebut, karena Pak Irawan sudah menyerahkannya pada Sony, ia lah sebenarnya yang mempunyai hak penuh atas hotel itu.


 


“Mari, aku pesankan kamar untukmu.” Berjalan menuju resepsionis.


 


“Oh ya, terima kasih.” Sindy melihat sekeliling sambil menarik kopernya.


 


Tentu saja beberapa pasang mata memperhatikannya penuh tanda tanya. Siapakah wanita yang berjalan dengan Bos besar itu, namun mereka segera menunduk ketika mata Sony menyapa ramah mereka. Mereka pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manisnya.


🌷


🌷


Sementara itu, Vania berjalan dengan membawa beberapa lembar kertas di tangannya, ia menggunakan lift depan untuk menuju ke lantai empat karena lift belakang yang biasa digunakan para karyawan sedang dalam perbaikan. Berkas itu akan di serahkan pada Beni.


 


Sambil menunggu lift terbuka, mata Vania tiba-tiba terfokus pada sosok lelaki berjaket hitam berada di meja resepsionis.

__ADS_1


“Apa itu Mas Sony?” Memperhatikan punggung belakang Sony dari kejauhan.


 


Senyum Vania merekah jelas tergambar di bibir mungilnya saat memperhatikan wajah Sony, ia sangat bahagia ketika melihat kekasihnya pulang, walaupun Sony tak memberinya kabar sebelumnya.


 


Sejak kepergian Sony menemui orang tuanya, dia jarang sekali menghubungi Vania karena ia sangat repot menghabiskan waktu bersama Pak Gunawan serta mengunjungi perusahaan Papanya yang sudah lama tidak ia datangi. Hingga Vania merasa gusar dan sering kali ia bertemu dengan Beni untuk sekedar menanyakan kabar kekasihnya. Namun nihil, saat itu Beni pun juga jarang bertukar kabar dengan Sony.


 


Sony berniat memberi kejutan untuk Vania karena kepulangannya, namun sontak Vania benar-benar terkejut ketika Sony menghampiri seorang wanita cantik tengah duduk di sofa lobby hotel. Dia begitu anggun dengan pakaiannya glamor. Mereka mengobrol dengan akrabnya. Tak lama, Sony mengajaknya ke lift. Sepertinya Sindy sudah mendapatkan kunci kamarnya.


 


“Ternyata benar itu Mas Sony, siapa wanita tadi?! Apa jangan-jangan?” pikiran Vania berkecamuk, ia mulai berpikir jika dia adalah wanita yang akan di jodohkan dengan Sony. Vania teringat perkataan Sony waktu, jika ia akan di jodohkan meskipun Sony sudah bilang ia akan menolak perjodohan itu. Tetap saja Vania mengkhawatirkan hal itu.


 


Vania mundur perlahan, dia memilih menaiki tangga darurat daripada ia harus berpapasan dengan Sony. Ia belum siap jika Sony secara tiba-tiba mengenalkan calon istrinya itu kepadanya.


 


Satu persatu Vania melangkahkan kakinya melewati anak tangga, tubuhnya mulai gemetar, wajahnya memanas, matanya juga merasa perih melihat kekasihnya berjalan dengan seorang perempuan menuju lift bersamaan begitu dekatnya.


 


“Mas, apa Setelah ini, kau akan meninggalkanku? Apa aku bisa berpisah denganmu? Apa aku sanggup? Aku benar-benar tidak rela jika kamu menikah dengan orang lain.”


 


Vania mendudukkan badannya sejenak di tengah anak tangga yang sepi tanpa satu orang pun di sana.


Sesaat dia teringat kejadian satu tahun lalu di mana pertama kali merasakan pelukan hangat Sony saat ia hampir di perkosa oleh seniornya di tangga itu. Sony selalu ada di saat Vania sedang kesusahan.


 


 


Setelah menaiki tangga ke lantai empat, ia merasa kakinya sangat lemas. Nafasnya pun tersengal-sengal karena capek, juga hatinya yang membuatnya semakin lemah. Dengan langkah gontai ia menuju ruangan Beni, ia berdiri di depan pintu lalu mengetuknya.


 


Tok ... Tok ... Tok


 


“Masuk!” perintah Beni berteriak dari dalam ruangannya.


 


Vania pun masuk dengan sopan, berbeda jika sudah tidak jam kerja, Ia akan lebih akrab dengan Beni.


 


“Pak, ini berkasnya.” Vania menyerahkan berkas yang di pegangnya ke meja Beni.


 


“Vania, mata kamu kenapa? Kamu habis menangis?”


 


“Ah, itu ... tidak Pak, tadi kena debu di luar.” Vania berbohong. Sedikit mengulas senyum.


 


“Apa yang kamu tangisi? Apa ada masalah dengan pekerjaan kamu? Atau ada yang macam-macam denganmu?” Beni menghujani pertanyaan, ia selalu memberi perhatian lebih pada Vania karena perintah Sony. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Vania, ia lah yang akan menanggung akibatnya. Meskipun Sony adalah sahabatnya, ia tahu akan tanggung jawab pekerjaannya.


 

__ADS_1


“Bu—Bukan Pak, ini benar-benar kena debu.”


 


“Jangan bohong, Vania. Mana ada debu di sini?! Di mana debunya?”


 


“Benar, Pak. Tadi saya lewat tangga darurat.”


 


“Kenapa tidak lewat lift depan?”


 


“Tadi banyak tamu, jadi saya terpaksa lewat tangga, Pak.”


 


Beni terdiam karena masih tak percaya dengan perkataan Vania. Mata itu sedikit basah dan sembab, apalagi kalau bukan menangis.


 


“Ya sudah, kamu boleh keluar. Masalah debu, nanti suruh anak training untuk membersihkannya. Pastikan tidak ada debu lagi yang tertinggal.”


 


“Baik, terima kasih. Saya permisi.” Vania undur diri. Keluar dari daun pintu berwarna coklat gelap itu. Namun tak di sangka-sangka, Vania malah menabrak dada bidang lelaki karena ia terus menduduk meratapi nasibnya yang akan kehilangan Sony.


 


“Akhhh ...” Vania memegang dahinya lalu mendongak ke atas. Ia terkejut melihat sosok tampan di depannya. Seketika ia berjalan lebih cepat dari sebelumnya, ia memilih menghindari lelaki itu.


 


.


.


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2