Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Baku Hantam


__ADS_3

“Ikut aku.” Ega menarik paksa tangan Vania.


 


“Aku tidak akan menyakitimu Van, aku akan mengantarmu pulang. Dan kalau nanti bertemu dengan lelaki itu, kamu tahu kan apa yang harus kamu katakan?!” ucap Ega penuh dengan penekanan.


 


“Iya aku paham.” Jawab Vania menunduk menyembunyikan air matanya.


 


Flash Back off.


.


.


.


Ega membawa Vania ke parkiran untuk mengajaknya pergi dari kafe itu. Pergi menjauh dari Sony. Setelah menaiki motor, Ega menjalankannya dengan sangat laju.


Sony tak tinggal diam, dia kemudian berlari menyusul lalu mengegas motor merahnya dengan kencang mengikuti ke mana tujuan Ega.


 


Setelah beberapa menit, di tempat sepi. Jalanan lenggang tanpa satu pun kendaraan kecuali mereka. Suara motor yang sama kencangnya beradu terdengar lantang di telinga.


 


Dengan sangat mendadak Sony menyalip Ega dan memberhentikan motornya tepat di depan Ega. Untung saja Ega mengerem motornya dengan cepat. Vania pun segera turun dari motor Ega.


 


 Tak menunggu lama, tanpa basa basi Sony turun berjalan cepat menghampiri Ega lalu melayangkan pukulan ke wajahnya. Ia lalu menarik kerah baju Ega dan lagi-lagi pukulan penuh dendam itu mendarat di pipinya. Ega tak tinggal diam, dia juga membenturkan kepala Sony ke pohon yang berada di pinggir jalan, namun Sony juga  tak mau kalah dia segera membalasnya, memukul perut Ega dengan kencang, entah berapa kali Sony membabi buta. Dia terus memukulinya karena ia ingin membalaskan dendamnya karena selama dia jauh dari Vania, Ega sering membuat Vania ketakutan dan menangis.


 


“Dengar! Saya peringatkan jangan pernah ganggu Vania lagi. Paham!” ucap Sony berapi-api menatap Ega dengan tatapan membunuh tanpa ada balasan sepatah kata pun dari Ega.


 


“Mas, cukup.” teriak Vania sambil menangis menelangkupkan kedua tangannya ke wajahnya karena takut melihat adegan baku hantam antara keduanya. Namun akhirnya Ega terkapar lemas tak berdaya tidak dapat melawan pukulan dari Sony lagi, beruntung dia masih bisa berdiri dan nekat mengendarai motornya itu, ia bergegas pergi sebelum Sony berubah pikiran untuk memukulinya lagi. “Aku pastikan kamu akan menerima balasannya.” guman Ega melihat tajam ke arah Sony.


 


Pandangan Sony tertuju pada gadis kecilnya yang duduk mendekap kakinya dengan terisak.

__ADS_1


Sony lalu mendekati Vania dan duduk tepat di depannya. Tangan Sony mengusap kedua pipi Vania yang sudah basah oleh air matanya.


 


Vania tak tahu harus berkata apa, di sisi lain dia merasa ketakutan akan keselamatan Sony ketika teman Ega membalas perbuatannya nanti, entah kapan. Di sisi lain juga dia memikirkan Ega yang sudah menerima banyak pukulan dari Sony. Ada rasa kasihan sebagai teman, tapi bagaimanapun juga pantas menerima hukuman itu.


 


“Dek, maaf ya kamu harus melihat semua ini. Adik tidak apa-apa? Apa yang Ega sudah lakukan padamu? Apa dia menyakitimu?” Sony menghujani pertanyaan yang penuh kekhawatiran, ia menyentuh kedua pipi Vania dan mengarahkan wajahnya di depan wajah Sony agar matanya terfokus padanya.


 


“Aku tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja. Aku hanya takut dan bingung.” Jawab Vania lagi-lagi menjatuhkan butiran hangat itu. “Mas, dahi kamu berdarah, sakit?” Ucap Vania terkejut ketika melihat darah mengalir di pelipis Sony akibat benturan keras ke Pohon karena ulah Ega.


 


“Oh, tidak apa-apa Dek. Tidak sakit kok.” Sony berkelit menghapus darah yang mengalir itu meskipun ia sedikit merasakan sakit, namun itu tak penting baginya.


 


“Di tasku ada hansaplas Mas, aku bersihkan dulu pakai tisu ya.” Vania mengambil tisu dari tasnya lalu menempelkan benda coklat ke pelipis Sony yang terluka.


 


 Angin malam berembus semakin kencang, hawa dingin menembus pori-pori kulit dua insan yang kini sedang berada di trotoar. Terlihat lampu-lampu di pinggir jalan menghias dengan sempurna, menerangi alam dengan cahayanya yang sedikit meremang. Bulan dan bintang pun juga tak pernah lelah menjaga malamnya.


 


 


“Sini sayang. Sudah jangan menangis.” Tutur lembut Sony seolah membangunkan jiwa Vania. Ia menggapai tubuh Vania, mendekap dan memeluknya sangat erat, penuh kasih. Pelukan yang begitu nyaman dan hangat itu Vania rasakan kembali setelah sekian lama tak bertemu dengan kekasihnya itu.


 


“Mas, aku tidak mau hal buruk terjadi pada Mas Sony. Apa tidak sebaiknya Mas pulang saja?” ucap Vania dalam pelukan Sony. Sony sesaat melepaskan pelukan itu dan menanyakan maksud perkataan Vania.


 


“Maksud kamu apa Dek? Mas akan di sini beberapa hari. Yakinlah, Mas tidak akan kenapa-kenapa. Apa yang sudah Ega katakan hingga Adik pasrah dan ketakutan dengannya?”


 


“Dia mengancamku Mas, dia menyuruhku mengikuti semua perkataannya. Kalau tidak, dia akan menyakiti Mas Sony, dia berkata jika Mas Sony terus bersamaku. Mas Sony tidak akan selamat.” Ucap Vania dengan suaranya yang bergetar, tenggorokannya seperti tercekat ketika mengatakan hal itu pada Sony. Dia membayangkan sesuatu yang mengerikan dan menakutkan yang akan terjadi pada sang pujaan hatinya itu.


 


“Dek, kamu tidak perlu khawatir. Mas bisa jaga diri. Kamu lihat kan tadi, Mas bisa mengatasinya. Sudah ya, jangan pikirkan hal itu.” tutur Sony penuh kelembutan mengusap pucuk kepala Vania.

__ADS_1


 


“Tapi Mas, Ega tidak main-main dengan perkataannya. Dia mempunyai banyak teman yang cukup kuat juga. Aku takut, aku takut Mas. Aku tidak mau hal buruk terjadi pada Mas Sony.” Lanjut Vania mulai menangis lagi. Dasar wanita cengeng kan dia.


 


“Justru Mas takut dengan keadaanmu yang seperti ini Dek. Mana mungkin Mas bisa tenang meninggalkanmu dalam tekanan Ega. Mas tahu apa yang harus Mas lakukan, jangan sedih lagi ya.” Sony kembali memeluk Vania, pelukan yang begitu lama membuat Vania tenang, ia lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Sony tak membiarkan pelukan itu lepas. Padahal sedang berada di pinggir jalan. Tapi mereka asyik berpelukan memadu kasih.


 


Sony menatap dalam netra Vania, bola mata itu a saling menatap penuh arti. Wajah mereka berdekatan tanpa jarak, keduanya semakin mengarahkan bibirnya satu sama lain agar saling bertemu. Ciuman mesra pun terjadi, bibir lembut Sony menyentuh bibir Vania yang imut itu. Sony mengabsen bibir atas dan bawah Vania, kemudian ia mulai memasuki rongga mulutnya, seakan mendapat respon dari Vania ketika ia mulai membuka bibirnya. Keduanya sangat menikmati ciuman lama itu, tak peduli alam menjadi saksi bisu melihat kemesraan mereka.


 


 Tangan Sony menggenggam erat tangan Vania seolah menahan gejolak lain yang ada di tubuhnya. Sony merasakan desiran hebat ketika ciuman itu berlangsung semakin panas, bahkan tak ada celah Vania untuk sesekali mengambil oksigen. Sony menahan tengkuk Vania agar ciumannya tidak terlepas begitu saja lalu kedua tangan Sony beralih memegang kepala Vania, juga menahannya.


 


Semakin lama Sony merasakan keanehan pada dirinya, ada sesuatu yang tegak namun bukan keadilan. Sebelum ia berbuat semakin jauh, ia menyudahi peperangan bibir itu, ia melepaskan ciumannya yang sudah begitu lama ia lakukan dengan Vania, hingga bibir keduanya merasa sangat kebas. Sony takut tidak akan bisa menahan nafsunya ketika pertemuan antar bibir itu tidak di hentikan.


Sony kemudian melepadkan ciumannya, menghembuskan nafas hangatnya ke eajah Vania, ia lalu mencium dahi Vania dengan lembut, dan mendekatkan dahinya juga untuk saling bertemu antara keduanya. Hidung mereka pun juga menempel sempurna.


 


“I Love You, sayang.” Bisik Sony dengan suara khas yang lembut dan seksi dengan nafas yang memburu.


 


“I Love You Too, Mas.” Vania membalas ucapan Sony, lalu mendaratkan satu kecupan kilat di bibir lelaki itu.


 


.


.


BERSAMBUNG....


......Hai readers baik, jangan lupa tinggalkan jejak ya*.........


...jangan lupa Komen, Like dan Vote....


...Kalau boleh kirim bunga atau kopi juga boleh😁...


...dukungan kalian penyemangat buat author....


...love you💚💚😍...

__ADS_1


__ADS_2