Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Hadirnya Beni


__ADS_3

“Selamat pagi bapak/ibu yang saya hormati, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk hadir di acara kami. Saya berdiri di sini atas perintah beliau, om Irawan yang juga owner dari hotel ini. Terus terang saya memang belum pernah mengurus hotel sebelumnya, namun beliau mempercayakan saya untuk mengelolanya. Ini tanggung jawab yang besar bagi saya karena saya memang belum pernah mempunyai pengalaman di dunia perhotelan sebelumnya. Dengan itu, saya meminta kerja samanya, mohon di bantu ke depannya bila ada kendala. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Om Irawan yang selama ini sudah menjaga saya dan meluangkan waktunya untuk mendengarkan setiap keluh kesal saya, dan juga sudah memberi kepercayaan untuk meneruskan hotelnya. Terima kasih om.” Sony memeluk Om Irawan sebentar lalu kembali berbicara.


 


 “O iya, satu lagi, meskipun Om Irawan tidak mengurus hotel ini lagi, bukan berarti dia bukan pemilik. Kapan pun beliau akan pulang, tetap, hotel ini akan membukakan pintunya selebar-lebarnya. Saya rasa cukup itu saja yang perlu saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.” Sony menarik diri dari hadapan para tamu yang sedari tadi memperhatikannya. Di susul dengan Pak Irawan setelah menutup sambutannya.


 


Pak Irawan dan Sony bergabung dengan para tamu menyantap hidangan dengan santai sambil berbincang mengenai bisnisnya. Alunan musik terdengar indah di ruangan itu.


Beberapa menit kemudian, ada sesosok lelaki tak kalah gagah dari Sony memasuki ruang pertemuan itu. Dia berjalan begitu tegap dan matanya menyapu seluruh pemandangan yang ada di dalam ruangan . Setelan jas hitam membalutnya dengan sempurna, wajah tegas dan kacamata yang di pakainya pun tak mengurangi ketampanannya.


Terlihat, lelaki itu menghampiri meja Pak Irawan dan menyapanya. Dia berdiri di belakang Sony mengulurkan tangan pada Om Irawan. Pak Irawan pun langsung berdiri menyambut kedatangannya.


 


“Beni! Kamu sangat terlambat.” Ucap Om Irawan sambil tertawa menepuk bahu Beni.


 


“Maafkan aku om, tadi macet jadi agak lama datangnya.” Jawab Beni tersenyum setelah bersalaman dengan Om Irawan.


 


“Son, kenapa kamu masih duduk saja?! Kamu tidak lihat siapa yang datang?!” ujar Om Irawan menegur Sony yang sedang sibuk memainkan ponselnya, pastilah bertukar kabar dengan Vania. Wanita tercintanya itu. Hingga tak menyadari ada seseorang yang berdiri di belakangnya.


 


“Eh iya Om,” Sony terperanjat berdiri dari kursi yang di dudukinya.


 


“Hai Son! Apa kabar?!” Beni tertawa lebar memeluk Sony.


 


“Ben-Beni?! Kamu di sini?! Ya Allah kenapa tidak kasih kabar? Aku kan bisa menjemputmu di bandara.” Ucap Sony melepas pelukannya lalu memperhatikan Beni.


 


“Son, tambah ganteng aja kamu. Hahaha.” Terang Beni yang menatap Sony setelah lama tak bertemu.


 


“Kamu juga, lihat sekarang. Berwibawa sekali kamu.” Menepuk bahu Beni. “Ayo duduk.”


Beni lalu duduk di sebelah Sony, mereka saling memuji satu sama lain dan menghabiskan waktunya untuk bertukar cerita, mengobrol, dan mengenang masa kecil mereka.


 


 


Beni adalah sahabat Sony sejak SD hingga kuliah,  mereka seperti saudara ke mana pun selalu bersama, satu sekolah, satu kelas, hingga satu kampus. Ayah Beni adalah teman baik Pak Irawan. Jadi semasa Beni di tinggal keluar kota oleh orang tuanya untuk bisnis, dia pasti menginap di rumah Pak Irawan. Tak beda jauh dengan Sony, dia tumbuh besar bersama keluarga Pak Irawan karena orang tuanya yang begitu sibuk mementingkan bisnisnya di Jakarta.

__ADS_1


Sesibuk apa pun Pak Irawan, dia pasti akan meluangkan waktunya untuk anak tunggal perempuannya dan keponakan kesayangannya itu. Sayangnya gadis Pak Irawan telah meninggal. Kakak lelaki Sony pun selalu ikut bersama orang tuanya, dari situ Sony memang menganggap dirinya tidak dianggap oleh keluarga kandungnya. Dia merasa terabaikan dan terbuang, tak di inginkan kehadirannya. Dia juga berpikir orang tuanya sangat pilih kasih terhadap dirinya dan kakaknya. Meskipun dari kejauhan orang tuanya selalu menanyakan kabar dan perhatian. Masih saja itu belum cukup untuk melapangkan hati Sony.


 


“Lihat, om sampai di lupakan! mentang-mentang ketemu sahabatnya.” Tegur Pak Irawan menyindir Sony dan Beni yang sedang asyik mengobrol tak peduli keberadaannya.


 


“Maaf om, aku sangat kaget melihat dia ada di sini. Apa om yang menyuruhnya ke sini?” tanya Sony.


 


“Siapa lagi kalau bukan om?!”memangnya dia mau datang kemari kalau tidak di suruh?!” jawab Pak Irawan memicingkan matanya ke arah Beni dan tersenyum kecil.


 


“Bukan begitu om, Beni itu sibuk mengurus hotel papa yang di Bali. Jadi tidak ada waktu banyak untuk mengunjungi om.” Ucap Beni beralasan.


 


“Lalu, apa yang kamu lakukan di sini sekarang?! Kenapa bisa datang kemari. Bukankah kamu super sibuk.?!” Sela Sony menyindir sahabatnya itu.


 


“Sayangnya sekarang papa sudah mengurusnya sendiri, jadi tugasku sekarang di sini. “ jawabnya Beni.


 


 


“Maksudnya, dia akan menemanimu di sini. Membantumu mengurus hotel ini Son.” Jelas Pak Irawan membuat Sony terkejut dan tersedak.


 


“Apa? Benarkah om?! Uhuk uhuk.” Tanya Sony yang masih dibarengi dengan batuknya.


 


“Ya benar dong Son. Masa om bercanda.”


 


“Kenapa kamu girang seperti itu mendengar aku akan menemanimu? Kamu masih normal kan Son?! Hahaha.” Sahut Beni mengejek Sony.


 


“Enak saja. Kau pikir aku apa?!” Sony melirih ke arah Beni yang menertawakannya.


 


“Om berpikir kamu pasti kesepian, apalagi sekarang om dan tante akan pindah. Jadi baiknya om memberimu seorang teman yang membuatmu nyaman.” Jelas Om Irawan yang begitu pengertian kepada keponakannya.


 

__ADS_1


“Kenapa om baik sekali, terima kasih ya om. Andai saja om adalah papa aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia.” Ucap Sony sedikit sayu namun di memperlihatkan senyum tegarnya dan


 


“Papamu juga tak kalah baik Son, sudah-sudah itu makannya dihabiskan dulu.” Menepuk bahu Sony. Yang hanya di balas senyuman olehnya. “Beni, kamu ambil makanan dulu sana, nanti lagi reuninya.” Tegur Pak Irawan kepada Beni yang dari tadi tidak berhenti bercerita.


 


“Siap om.”


 


“Om tinggal ke sana dulu ya,”  ucap Pak Irawan berdiri menunjuk meja paling ujung yang di tempati teman bisnisnya.


 


“Oh iya om.” Jawab Sony dan Beni serempak. Pak Irawan lalu pergi dari meja yang di dudukinya.


 


Sony yang mengecek ponselnya sambil menunggu Beni yang sedang mengambil makanan di buffey. Tak lama Beni datang dengan kue di piringnya dan segelas jus kesukaannya.


 


“Hayo... siapa tuh?! Boleh juga, kenalin dong Son.” Beni yang menaruh makanannya di meja dan mengatur posisi duduknya sempat mengintip ponsel Sony yang sedang di pegangnya. Sony yang mengetahui reaksi


 


“Jangan suka kepo Ben. Kebiasaan kamu!” menutup ponselnya.


 


“Hahaha... aku tidak kepo. Aku hanya minta di kenalkan saja sama wanita tadi. Jomblo nih.” Jawab Beni dengan santainya mengingat wajah wanita yang ada di Ponsel begitu cantik dan imut.


 


“Jangan sembarangan Ben. Dia wanitaku. Carilah wanita lain.”


 


“Apa?! Wanitamu? Hahaha... sejak kapan kau tertarik dengan wanita Son?!” ejek Beni.


 


“Ben, jaga bicaramu. Bisa kau pelankan suara baritonmu itu?!” Sony melotot.


**Bersambung....


jangan lupa tinggalkan jejak ya.


COMMENT, LIKE, VOTE.


terimakasih readers baikkk**

__ADS_1


__ADS_2