
Tanpa permisi Tina dan kedua temannya duduk di meja yang sedang kutempati. Dia membawa makanan dan mulai menyuapkan ke mulutnya sambil memperhatikanku dari atas sampai bawah.
Jangan tanyakan lagi selera makanku, hilang sudah. Tatapannya sangat sinis, tajam seolah mau memangsaku. Apa yang sebenarnya dia mau?! Aku memilih menghindar dan berpindah ke meja lain, berdiri memutar badan membawa makananku dan makanan Mas Sony yang belum sempat dimakannya.
“Hebat ya seorang Vania sudah bikin Pak Herman sama Bu Anita di pecat. Jadi simpanan siapa lagi sekarang?!” tanyanya menuduh.
“Jaga ya mulut kamu! Mereka di pecat karena melanggar aturan. Bukan karena aku. Paham!”
“Halah, bilang aja kamu doyan jadi simpenan kan?”
“Cukup Tina! Jangan seenaknya menuduh?!” jawabku ketus.
“Habis puas sama Pak Herman, sekarang ganti siapa lagi? Ha ha ha!” tuduhan dan hinaannya membuatku naik pitam.
Tahan Van, jangan gegabah. Dia cuma mau memancing emosimu. Aku memilih untuk diam, pura-pura santai memakan makananku meskipun sudah tak selera. Aku menarik nafas panjang lalu berdiri melangkahkan kaki.
“Hei! Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah dekati Mas Sony. Dia milikku. Kalau kau masih nekat. Aku pastikan hidupmu tidak akan tenang!” mengancamku.
Punya mulut kan? Kenapa diam?!” menggebrak meja cukup keras. Sontak aku melihatnya penuh amarah. Sepertinya aku tidak perlu sabar menghadapinya, emosiku mulai terpancing.
“Mau kamu apa sih, hah?! Kenapa tidak puas-puas menggangguku?!” tanyaku emosi.
“Kamu yang tidak pernah puas dengan satu lelaki! Dasar wanita murahan!
PLAAKKK!
Tanganku mendarat di pipi kiri Tina. Sudah tidak bisa kumaafkan kata-kata kurang ajarnya. Benar-benar membuatku emosi.
“Kurang ajar, beraninya kau menamparku!” melayangkan tangannya hampir menamparku, aku berhasil menepisnya.
Aku pergi berjalan melewati tepi kolam renang karena sudah tidak tahan dengan cacian Tina, dia mengikutiku dari belakang dan hampir mendorongku ke kolam. Namun aku cepat sadar akan bayangannya, aku segera menghindar dan menepis tangan kirinya yang sudah berada di lenganku. Lengah sedikit saja pasti aku akan masuk ke dalam kolam renang. Tetapi sialnya, aku gagal menghindari tangan kanannya yang gerak cepat mendorongku ke belakang. Aku terjatuh di tepian kolam yang terdapat beberapa lilin di sana. Rambut bagian bawahku terkena api, terbakar, ya sudah pasti. Aku panik memadamkannya dengan tanganku namun tak juga padam, jika aku bisa berpikir saat itu juga mungkin aku akan masuk ke kolam. Tapi bagaimana dengan nyawaku nanti? Berenang saja tidak bisa. Beruntung Mas Sony cepat datang, lagi-lagi menyelamatkanku.
Api semakin merambat ke atas dan sudah ke bajuku, punggung pun mulai terasa panas. Aku terus mengibaskan api dengan tanganku. Sementara itu Tina ikut terkejut dengan apa yang terjadi padaku. Dia membungkam mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut melihat api menyala di rambutku. Ya, mungkin dia takut disalahkan.
“Ya Allah Dek!” Mas Sony berlari cepat menghampiriku sambil melepas jasnya. Jas hitam yang dikenakan di celupkan ke kolam renang. Setelah basah langsung Mas Sony mendekapkan jasnya ke rambut dan belakang badanku.
“Dek, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” aku terdiam merasakan panas di punggungku. Mas Sony melihat tajam ke arah Tina dan menghampirinya sambil menuntunku.
“Mas, sakit, panas ...” rintihku,
“Ya Allah, kenapa bisa begini sih Dek?!”
“Apa yang sudah kau buat?! Hah?!” tegas Mas Sony terhadap Tina.
“A—aku t—tidak tahu Mas, aku sama sekali tidak berbuat apa-apa ke dia, lihat! Dia malah menamparku tadi!” Jawab Tina gugup,, menyangkal.
“Bukankah sudah aku peringatkan untuk tidak mengganggu wanitaku?! Satu goresan saja aku tidak rela. Apalagi sampai seperti ini! Jangan berpikir aku akan diam saja. Kamu akan terima akibatnya!” Tina terdiam ketakutan karena sudah dua kali dia dibentak oleh Mas Sony, lelaki yang dia suka. Dari awal dia memang sangat terobsesi terhadap Mas Sony.
Bulir-bulir air mataku menetes merasakan sakit. “Mas antar aku pulang.” Pintaku.
__ADS_1
“Iya Dek, maaf ya Dek lagi-lagi Mas membuatmu celaka. Mas menyesal meninggalkanmu tadi.”
Pantas saja sebelum meninggalkanku, Mas Sony begitu khawatir. Padahal hanya sebentar saja
Suasana acara tetap berjalan dengan lancar dan meriah. Sayangnya aku tidak bisa menikmati acara tersebut. Kenapa harus terjadi adegan seperti ini. Tina benar-benar keterlaluan. Dan rambutku? Ah sangat menyedihkan, tapi untungnya hanya sebagian saja yang terbakar. Kalau semua mungkin aku harus ke rumah sakit.
Sesampainya di kost, aku terlupa bahwa kunci pintu utama Dina yang pegang.
“Mas, bagaimana ini? Kuncinya dibawa Dina.”
“Atau Mas ambil sebentar Dek, tapi Mas tidak tega meninggalkanmu di sini sendirian. Mau ikut?”
“Mas ambil pun nanti juga akan susah mencarinya Mas, banyak orang dan ponselnya pun selalu di silent.”
“Dek, tapi luka kamu harus dikompres, kalau tidak cepat ditangani nanti melepuh. Atau kita ke klinik saja ya?!” ajak Mas Sony.
“Tidak mau Mas, ribet.” Jawabku.
“Terus Adek maunya gimana? Atau mau ke kontrakan Mas?”
“Ha?! Ke kontrakan Mas?! Apa tidak masalah?” tanyaku keheranan.
“Mas aku sudah tidak tahan ini, bagaimana dong. Perih banget.” Lanjutku, sedikit merengek menahan tangis.
“Ya sudah kita ke rumah Mas, tidak ada pilihan lain Dek. Percayalah, Mas tidak akan menyentuhmu. Bagaimana?”
Pukul sembilan malam jalanan mulai agak sepi. Hawa dingin semilirnya angin menusuk pori-pori kjll8membuat tubuhku merasakan kedamaian. Sedikit hilang rasa panas perih yang kurasakan sekitar punggung belakang karena terkena api.
Sekitar lima menit, sampailah ke tempat tinggal Mas Sony yang saat ini di kontraknya. Rumah berwarna putih, sederhana dan sangat bersih itu sangat terawat. Sedikit pun tak terdapat debu di lantai ataupun meja. Beberapa pajangan dan lukisan menghiasi ruang tamu kecil yang terletak di samping meja makan.
“Mas tinggal sendiri?”
“Iya Dek, sama siapa lagi.” Jawab Mas Sony singkat. “Tunggu di sini ya Dek, lanjut Mas ambilkan air es dan handuk.
“Iya Mas, maaf merepotkan.”
Mas Sony mengambil mangkuk berisi es dan handuk. Serta krim pereda nyeri untuk luka bakar.
“Dek, bisa kompres sendiri?”
“Mana bisa Mas, kan di belakang.” Jawabku singkat
“Dek, Mas mana berani kompres? Kan di dalam. Mas juga baru terpikir. Harusnya tadi Minta tolong salah satu teman kamu yang perempuan biar bisa kompres.”
__ADS_1
“Mas, ini perih banget mau sampai kapan kita debat?” mulai menangis pelan. Aku sendiri juga sebenarnya malu jika Mas Sony mengompresku . Otomatis aku membuka baju dan terlihat kaitan braku. Itu sangat privasi dan memalukan. Tapi sekarang ini aku harus terpaksa meminta tolong Mas Sony untuk membantuku. Aku tahu dia keberatan, tapi kali ini Mau tidak mau harus segera di obati. Tapi. Sebelum itu, sebaiknya aku mencobanya sendiri.
“Sini Mas, aku bisa sendiri. Mas hadap sana!” merebut mangkuk berisi es dari tangan Mas Sony lalu menyuruhnya untuk berbalik arah.
“Yakin bisa Dek?” tanya Mas Sony.
“Habisnya Mas tidak mau membantuku.” gerutuku.
“Ya sudah sini, Mas bantu. Bismillah ya Dek,” berada di belakangku.
“Rambutnya Mas ikat ya?” ucap Mas Sony memegang rambutku yang sudah tak berbentuk.
“Mas, rambutku jelek ... huhuhu ...” rengekku meratapi rambut yang bau gosong.
“Nanti Mas potong Dek, Mas betulkan ya.”
“Memangnya Mas bisa?” tanyaku heran.
“Gampang Dek kalo cuma potong rambut doang. He he ...” sambil mengikat rambutku ke atas.
“Dek, maaf ya zipnya mas turunkan sedikit.” Meminta ijin.
“Ya Mas, pelan-pelan.” Jawabku malu-malu.
POV SONY
Bagaimana ini, sekalipun aku belum pernah menyentuh perempuan. Membuatku sangat gerogi, padahal hanya mengobati luka. Harusnya tidak boleh terbawa arus. Ragu-ragu aku membantunya karena takut.
Rambut yang begitu harum kini tercemar bau asap, sungguh kasihan kamu Dek, aku mengikatnya walaupun sedikit kesulitan.
Ya Allah apakah dosa jika aku menyentuhnya? Aku hanya berniat mengobatinya saja. Semoga aku dijauhkan dari khilaf. Bismillah,..
Bersambung
Si Sony lagi bingung tuh, mau nyentuh takut dosa, kalo gak di sentuh gimana mau ngobatinnya. 😂
Enaknya gimana ya, coba kasih Sony saran dong.
...
__ADS_1