Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Jatuh Dari Kursi


__ADS_3

“Mas, Mas bicara apa sih. Kenapa jadi ngelantur begitu?” Vania menaruh gelas jus yang baru saja di minumnya. “Aku tidak membandingkan Mas Sony sama sekali, apa lagi dengan Ega. Kenapa Mas bisa berpikir begitu?!” lanjut Vania.


 


“Maaf kalau Mas sedikit emosi Dek, Mas hanya merasa tidak berguna saja. Mas tidak bisa menjagamu, membantumu seperti yang kamu inginkan di saat kamu butuh bantuan. Mas merasa bersalah. Dan satu lagi, aku sangat cemburu Adik memuji Ega di depan Mas. Paham?!” terang Sony mengatur nafasnya agar tidak terlepas kontrol dan emosi.


 


Vania terkekeh, tersenyum geli mendengar pengakuan Sony yang tidak biasa.


 


“Mas, kenapa juga mesti cemburu sama Ega. Aku tidak mempunyai perasaan apa pun sama dia. Kalau selama ini dia membantuku, itu hanya kebetulan saja. Kalau ada Leo atau Candra, atau yang lain, mereka juga pasti akan membantuku saat aku kesulitan, sebagai teman. Tapi tenang saja, semua masih batas wajar Mas. Mas Sony tidak perlu kawatir. Oke?!” mengulas senyum penuh arti.


 


“Kenapa malah tersenyum? Apa ada yang lucu?!” tanya Sony melihat tingkah Vania yang tidak peka dengan perasaan Sony.


 


“Mas, aku tertawa karena senang, karena Mas Sony bisa cemburu. Itu artinya hati Mas Sony masih seperti dulu, aku lega. Dan kalau bicara soal cemburu, aku juga sangat merasakannya selama ini Mas, saat kita jauh, bahkan aku merasa sangat takut saat aku sering mendengar suara Mbak Susan yang selalu berada dekat dengan Mas Sony ketika kita bertelepon.” Vania mulai melamun membayangkan hal yang menghantui pikirannya selama ini.


 


“Oh, Susan? ... Mas memang sering jalan dengannya Dek, dia perempuan yang baik. Dia selalu menemaniku makan siang, menemaniku mengobrol. Dan kita juga sering jalan bareng.” m


 


“Apa?!” mata Vania membulat sempurna mendengar ucapan Sony, mata itu bertahan melotot hanya dalam hitungan detik, setelahnya buliran hangat lolos begitu saja membasahi pipi mulus Vania. “Mas jahat!”


 


“Dek! ya Allah, kenapa Adik menangis? Maafkan Mas, Mas hanya bercanda. Serius. Itu semua tidak benar. Mas hanya mengarang.” Jelas Sony yang sudah keterlaluan bercanda. “Sudah-sudah jangan menangis lagi, sayang ...” Sony mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. Kemudian tangannya mendekapkan tubuh Vania ke pelukannya.


 


“Mas jahat!” Vania mencubit kecil perut Sony.


“Dasar cengeng. Sudah delapan belas tahun masih saja hobi nangis Dek.” Mengusap pucuk kepala Vania.


 


“Dek, sini tangannya coba Mas pinjam. Melepas pelukannya.


 


“Buat apa tanganku di pinjam? Kan bukan barang.” Ucap Vania sewot.


 


“Mas pakaikan jam tangan,” mengeluarkan kotak jam dari sakunya sebagai hadiah ulang tahun, meskipun sebelumnya Sony sudah mengirim buket bunga yang sangat besar ke rumahnya di temani dengan Kue tart yang cukup besar juga. Jasa online kini memang sangat mempermudah baginya untuk melakukan apa pun sesuka hati tanpa repot.

__ADS_1


 


“Mas, aku kan sudah pakai jam tangan. Masa mau pakai dobel? Kenapa Mas harus repot-repot membelikanku hadiah. Mas Sony di sini saja, aku sufah sangat bahagia. Melebihi apa pun.” protes Vania.


 


“Adik tidak suka dengan jamnya?” mulai melepas jam tangan yang di pakai Vania dan di ganti dengan jam yang baru di belinya tempo hari.


 


“Suka Mas, suka banget. Terima kasih ya..., tapi lain kali Mas jangan lagi membelikanku barang-barang mahal. Sebaiknya di tabung buat masa depan nanti Mas.” Vania melihat jam tangan yang sangat cantik di tangannya.


 


Sony mencium punggung tangan Vania lalu menatap dalam gadis kecil yang berada di depannya itu. Sony semakin mendekat dan tidak berjarak dengan Vania. Bibir yang tak sempat lagi berkata lagi itu, kini sudah menempel tanpa aba-aba. Sony mengecup bibir Vania  dengan lembut tanpa peduli ia berada di kafe meskipun sudah mulai sepi orang, namun gila saja dia berani berciuman di tempat umum, mau bagaimana lagi, Sony sudah tidak tahan melihat bibir mungil Vania yang sangat manis itu.


 


Sentuhan bibir lelaki tampan itu membuat Vania tersentak mundur. Terkejut dan takut ada mata yang melihat, mata Vania seolah buram untuk melihat sekelilingnya. Dengan gugup ia memutar badannya ke kiri dan ke kanan.


 


Bruukkk.


 


Vania oleng, hilang keseimbangan, dia pun terjatuh dari kursinya. Gelas yang berada di dekat tangannya pun ikut jatuh menumpahi baju yang di pakainya karena tersenggol tangan Vania yang tadinya akan berpegangan meja menahan badannya, namun tetap merosot juga. Sungguh malang bukan kepalang, malunya sampai ubun-ubun.


“Ya Allah Dek, kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit? Kena beling enggak? Kenapa bisa jatuh sih?!” Sony membantu Vania berdiri dan mendudukkannya lagi ke kursinya.


"Awas hati-hati ada beling itu."


 


“Aku tidak apa-apa Mas, tadi kakiku di gigit semut. Makannya kaget terus terjatuh. Hehe ...” Vania meringis memperlihatkan barisan giginya yang putih.


 


“Masih sempat cengengesan?!” Sony menggelengkan kepalanya memeriksa setiap inci kulit Vania dari ujung kaki sampai ujung kepala. Memastikan tidak ada yang terluka. Apalagi di sampingnya ada gelas pecahan gelas yang berceceran.


 


“Sakit?” tanya Sony singkat.


 


“Tidak Mas, sungguh aku baik-baik saja.”


 


Sony terus mengelap tangan Vania yang basah karena ketumpahan jus dengan sapu tangannya.

__ADS_1


"Mas, rasa sakit di pant*tku tak seberapa di bandingkan rasa maluku. Rasanya aku ingin pingsan saja tadi mengingat ulah bodohku. Kalau punya kekuatan super mungkin aku akan memilih tenggelam dalam tanah. Kenapa juga aku harus gerogi tingkat tinggi, aku kan sudah pernah melakukan ciuman sebelumnya. Dasar bodoh kamu Van!" Batin Vania menahan rasa cenut-cenut di pant*tnya karena benturan keras jatuh ke lantai.


 


“Mas, sepertinya aku harus ke toilet sebentar.”


 


“Mas antar ya, Mas yakin pasti ada yang sakit. Jatuhnya keras banget Dek tadi.” Ucap Sony dengan mata selidik memperhatikan Vania yang berdiri tak sempurna.


 


“Mas, aku tidak sakit sama sekali. Aku hanya ingin menyiram tanganku dengan air biar tidak lengket. Jusnya kan manis.” Jelas Vania menahan rasa malu dan berusaha berdiri tegap sempurna.


 


“Sebentar ya,” Vania berjalan cepat menuju toilet. Sedangkan Sony terus memandangi punggung belakang Vania yang berlalu pergi semakin menjauh.


 


“Ada-ada saja tingkahmu Dek. Menggemaskan sekali, pasti sakit kan. Sudah pernah berciuman masih saja gerogi.” Guma. Sony tersenyum yang ternyata mengetahui sebab Vania jatuh dari kursi.


 


Vania yang cukup lama berada di kamar mandi membuat Sony kawatir, apa lagi dia tidak membawa ponselnya yang tergeletak di meja. Sony kemudian menyusul Vania ke toilet wanita namun dia tak berani masuk. Dia menanyakan ke beberapa orang yang baru saja keluar dari toilet itu, apakah ada yang melihat wanita seperti yang ada di layar ponselnya.


 


Nihil. Sony berdiri di depan toilet hampir lima belas menit, sangat lama baginya untuk menunggu, mustahil jika Vania selama itu di toilet. Sony memutuskan masuk ke dalam toilet sambil membawa tas dan ponsel milik Vania yang di bawanya.


 


“Dek!” apa kamu di dalam?!” Sony mengetuk pintu toilet yang tertutup satu persatu. Satu orang keluar, dan terkejut melihat keberadaan lelaki di dalam toilet wanita.


 


“Maaf, saya sedang mencari istri saya yang sedang hamil tua, saya terpaksa masuk ke sini takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Apa ibu melihat wanita ini?!” Sony berbohong, dan menjelaskan dengan penuh kekawatiran.


 


 


Bersambung....


...Hay, readers yang baik hati ......


...jangan lupa tinggalkan jejak ya,...


...like, vote dan komentar kalian sungguh berarti buarmt authir....


...jangan lupa kasih hadiahnya juga yaa......

__ADS_1


...thank you 💚💚😍...


__ADS_2