
“Apa maksud kalian berkata seperti itu?!”
“Ka—kami tidak mengatakan apa pun Pak. Mungkin Pak Sony salah dengar.” Jawab Susan berkelit, berkata dengan nada dan mimik yang di buat sangat manis.
“Telinga dan mata saya masih sangat sehat. Jadi saya tidak mungkin salah dengar. Saya memang orang penyabar dan tidak pernah sekali pun memarahi kalian meskipun kerja kalian berantakan. Tapi kali ini kalian sudah kelewatan! Berani sekali memaki wanita di sebelah saya, apa kalian belum tahu kalau Vania ini adalah istriku. Jadi dia juga pemilik hotel ini. Paham?!” bentak Sony dengan tatapan tajamnya, bagai singa yang akan menerkam mangsanya. Padahal selama ini Sony. Adalah pria penyabar yang tak pernah marah. Kecuali dengan orang yang sudah keterlaluan.
“Mas, sudah jangan terus memarahi mereka. Aku tidak apa-apa.” Ucap Vania sambil memegang erat tangan Sony, sedikit menariknya agar masalahnya tidak berlarut, banyak yang memperhatikannya karena suasana di lobby hotel saat ini cukup ramai bertepatan dengan makan siang.
Tak menanggapi Vania, Sony masih terus memperingatkan karyawannya dan memberi penegasan. Ia terlanjur emosi .
“Jangan mentang-mentang selama ini saya diam, saya tidak bisa tegas ya! Saya tetap akan bertindak jika ada yang mengusik istri saya lagi. Mudah bagi saya jika hanya mengeluarkan kalian dari sini. Jadi, ke depannya saya harap, saya tidak mendengar lagi kalian menyakiti hati istri saya, atau bahkan fisiknya. Paham?!”
“Saya minta maaf Pak, saya janji tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap teman Susan yang berdiri di sebelahnya, ia ikut andil dalam menanggapi hinaan Susan terhadap Vania ketika Sony dan Vania memasuki lobby hotel beberapa saat yang lalu.
“Ingat baik-baik perkataan saya!” Sony lalu menarik pinggang Vania, berjalan sambil melingkarkan tangannya di sana. Meninggalkan karyawannya di meja resepsionis.
“Kenapa Sony jadi galak begitu sih sejak menikah. Ini semua gara-gara wanita kampungan itu. Makin sombong aja tuh pasti di bela Sony habis-habisan!” cibir Susan melampiaskan kemarahannya karena tak berani melawan Sony. Bisa-bisa ia di pecat tidak hormat kalau melawannya, apalagi ini menyangkut bab istrinya. Wanita yang paling ia cintai setelah Mamanya.
“Eh, sudah jangan terus membicarakannya, bukankah barusan Pak Sony sudah menegur kita? Kamu nggak takut di pecat?” ucap temannya yang juga berprofesi sebagai resepsionis.
“Aku nggak peduli, bahkan aku tidak akan menyerah untuk mengambil hati lelaki idamanku itu.”
“Buka mata kamu Susan! Dia udah menikah. Masih aja gatel!”
“Bodo amat! Si kampung jelek itu saja bisa mendapatkan seorang Bos. Masa aku yang cantik dan pintar tidak bisa sih?! Suatu saat nanti Sony pasti akan luluh sama aku dan jatuh ke pelukanku. Lihat saja nanti.”
“Terserahlah! Aku nggak mau ikut-ikutan. Kamu kalau berani main api, siap-siap saja akan terbakar.” Tutur temannya mengingatkan.
Sementara itu, Sony dan Vania menuju lift untuk ke ruangan Sony yang terletak di paling atas gedung hotel itu. Beberapa karyawan yang akan menaikinya pun mengurungkan diri karena melihat bosnya akan menggunakan lift tersebut. Mereka mempersilahkan Sony dan Vania untuk masuk terlebih dahulu.
“Silakan Pak, Bu.” Ucap salah satu karyawan lelaki Sony.
__ADS_1
“Sekalian saja tidak apa-apa. Mari.”
“Oh, tidak perlu Pak. Bapak dan Ibu naik dulu saja. Silakan.”
“Baiklah, terima kasih.” ucap Sony ramah dan menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Vania. Mereka lalu memasuki lift bergandengan tangan. Sony seperti lelaki yang bucin, sama sekali tak melepaskan istrinya walaupun Vania meminta. Yang ada Vania hanya menahan malu kepada para karyawan yang sudah ia kenal sebelumnya ketika ia bekerja di hotel Sony.
Di dalam lift, Sony dan Vania hanya berdua di sana. Vania memandang Sony dengan lekat dan memperhatikan mimik wajah suaminya memasang wajah tegas, ia terheran baru kali ini Sony bisa marah pada karyawannya padahal hanya karena masalah kecil.
“Maaass...” panggil Vania manja.
“Kenapa sayang?” Sony membalas tatapan Vania yang tengah bersender pada lengan kekar Sony.
“Mas kenapa harus memarahi mereka? Kasihan kan mereka jadi ketakutan.”
“Dek, Adik masih bilang kenapa Mas marah?! Apa Adik tidak dengar apa yang tadi mereka katakan?!”
“Dek! Cukup. Tidak perlu mengulang kata-kata kotor itu.”
“Mas, sejak awal kan Vania sudah bilang kalau mereka pasti akan menghinaku karena menikah dengan Mas Sony. Jangankan sekarang, dulu saja waktu Adik masih bekerja, dan duduk makan siang sama Mas Sony. Tatapan mereka sangat membenciku Mas.”
“Mas tidak paham kenapa mereka sesama wanita begitu jahat, padahal wanita di sampingku ini adalah wanita yang paling baik hati sedunia.”
“Dih, gombal banget. Mereka itu sebenarnya tidak jahat Mas, mereka hanya sakit hati makanya mereka membenciku karena Mas Sony menikahiku, bukan menukahi salah satu dari mereka.”
“Hah?! Alasan macam apa itu Dek. Sangat aneh!” Sony mengernyitkan dahinya.
“Itu kenyataannya Mas. Rata-rata hampir semua wanita di sini mengidolakan Mas Sony. Siapa coba yang tidak tertarik dengan lelaki tampan dan mapan seperti Mas Sony.” Vania tersenyum manja dan mencolek dagu Sony dengan jari telunjuknya.
“Oh, jadi istri Mas termasuk nih. Mau sama Mas karena tampan dan mapan?!”
__ADS_1
“Mas! Mas Sony tidak bisa melihat hatiku?! Aku kan dari awal menyukai Mas Sony sejak jadi security. Bukannya jadi seorang Bos! Bahkan aku lebih suka profesi Mas Sony yang dulu dari pada sekarang, sederhana tapi terlihat sangat gagah.” Vania meninggikan suaranya dan menggema di dalam lift.
“Sayang, Mas bercanda. Gitu aja ngambek. Mas bisa melihat ketulusanmu tanpa Adik jelaskan, maaf yaa. Tapi sayangnya Mas sudah tidak bisa lagi jadi security sayang, Mas harus menjalankan amanah dari Om Irawan..”
“Vania tidak berkata Mas harus jadi security lagi. Vania cuma bilang kalau lebih suka Mas Sony yang dulu.”
“Terima kasih sayang. Sudah mau menerima Mas apa adanya.”
“Apa adanya Mas Sony itu lengkap. Aku belum menemukan kekurangannya, bagiku semua sangat sempurna.”
“Ya Tuhan ... Mas mau terbang Dek. Geumessh banget pengen cium,, pengen gigit.”
“Coba aja kalau berani!”
Cup...
"Massz...!!" pekik Vania terkejut.
Pintu lift pun terbuka, beberapa orang karyawan yang sedang menunggu di depan lift itu sangat terkejut melihat adegan singkat sang Bos dan istrinya. Sangat memalukan bukan...
Vania langsung menundukkan kepalanya karena malu. Pipinya mulai bersemu kemerahan setelah mendapat ciuman bibir dari Sony dan di saksikan oleh beberapa orang di sana.
Di ruangan Sony, Vania tengah duduk manis di sofa sambil memainkan gawai di tangannya. Jemari lentiknya tak berhenti men-scroll layar yang sedang ia pandangi. Menjelajah ke dunia maya. Semakin lama rasa kantuk tak tertahankan karena memang, semalam Sony memainkannya hingga pukul satu malam dan baru bangun lagi pukul setengah lima.
“Sayang, tidur ya?” tanya Sony dari kejauhan, ia sedang berkutat dengan berkas dan laptopnya di meja kerja.
Tak ada jawaban, Sony menghampiri Vania yang tengah duduk namun matanya terpejam. Kepalanya bersandar pada salah satu bahunya. Sony lalu menggendongnya dan memasukkan Vania ke dalam kamar yang terletak di ruangan kerja itu juga.
Bersambung....
Ada yang baca novelku nggak ya, kok nggak ada yang komen sama sekali dari kemarin. Sedih banget, semangat author jadi melemah. 😔😔 bingung mau lanjutin nggak ya enaknya...
__ADS_1