
“Mas masih di sini?” tanya Vania pada Sony setelah ia keluar dari toilet, melihat Sony berdiri di depannya.
“Sudah? Kita ke kamar Papa lagi ya, Dek. Sepertinya Mama sudah pergi.” Ujar Sony sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“Mas , bajuku kotor, bagaimana ini?” Vania tampak gelisah.
“Kotor kenapa?”
“Hem ... itu ...” malu mengatakan jika dirinya sedang datang bulan hingga menodai baju bagian belakangnya.
“Ada apa Dek? Jangan buat Mas bingung.”
“Aku lagi ... ” Vania tidak meneruskan kata-katanya, tetapi Sony sangat paham ketika Vania terus menerus memegang baju bagian belakangnya. Lelaki itu sangat peka dengan apa yang terjadi pada Vania.
“Oh, ya sudah sini, pakai jaket Mas. Kita ke supermarket.” Sony melepas jaketnya lalu melingkarkan ke pinggang Vania dan mengikatnya di depan. Bagian belakang Vania tertutup sempurna.
“Sudah, yuk.” Ajak Sony menggandeng tangan Vania.
“Mas, aku sudah pakai kok. Tidak perlu pergi ke supermarket.” Vania memang selalu membawa pembalut di tasnya ketika tanggal datang bulannya sudah dekat.
“Kalau begitu, kita ke mall.”
“Hah? Ngapain?”
“Kita kan tadi tidak bawa baju, Dek. Jadi kita beli aja sekalian. Tidak mungkin juga kan Adik pakai baju yang sudah kena noda.” Sony terus melajukan kakinya dengan menggandeng tangan Vania menuju mall yang kebetulan hanya terletak di seberang jalan.
Vania mengangguk pelan dan tersenyum melihat perlakuan Sony padanya, Seperhatian itu Sony pada dirinya. Tanpa di jelaskan pun Sony sudah sangat mengerti.
Rencananya mereka akan langsung pulang setelah bertemu Pak Gunawan, jadi memang sengaja tidak membawa baju ganti. Tapi ternyata jadwal penerbangan pesawat yang biasa di tumpangi Sony terjadi perubahan sehingga terpaksa mereka harus stay sampai besok pagi.
Beberapa menit kemudian mereka sampai ke mall yang cukup ramai pengunjung. Sony menuju tempat pakaian wanita agar Vania segera mengganti bajunya yang kotor. Ia memilihkan beberapa dress untuk Vania untuk dicobanya.
“Mbak, tolong ambilkan itu, itu dan itu ya. Biar pacar saya mencobanya.” Ujar sony pada salah satu pelayan sambil menunjuk baju pilihannya.
“Mas, kenapa banyak sekali. Cukup pilih satu aja, tidak perlu mencobanya semua.” Tukas Vania pada Sony yang akan merepotkannya.
“Mas ingin tahu Dek, yang mana yang cocok untukmu.”
“Mas sangat merepotkan.” Gerutu Vania.
“Sudah jangan ngambek, ayo ke ruang ganti. Mas mau lihat.”
“Lihat apa?!” menatap mata Sony dengan selidik penuh ancaman.
__ADS_1
“Hahaha ... Mas tidak akan masuk Dek, Mas hanya ingin melihatmu dengan penampilan baru.”
Pelayan yang menenteng beberapa dress itu hanya tersenyum melihat perdebatan seorang lelaki tampan dengan gadis imut yang di kira Adiknya itu.
“Mari saya antar ke ruang ganti, sebelah sini.” Pelayan itu menunjukkan arah di mana letak ruang ganti. Sony mengikut di belakang mereka lalu duduk di sebuah sofa menunggu Vania mencoba satu persatu baju yang di pilihnya.
“Mas, bagaimana?” Vania berputar ala model memperlihatkan dress merah yang di kenakannya.
“Jangan itu, Dek, itu leher dan belakangnya terlalu terbuka.”
Vania masuk dan menggantinya lagi dengan baju yang lain, terlihat cantik dengan warna gold, bagian dada sedikit menunjukkan belahannya namun ia merasa dress itu sangat cantik. Ia menyukainya. Ia lalu keluar menghampiri Sony,.
“Astaga! Baju macam apa yang kamu pakai Dek?!” Sony membuang muka tak mau melihat Vania dengan tampilan seksi. “Ganti!” lanjutnya.
“Mas, ini bagus tau.” Vania semakin sengaja menggoda Sony karena reaksinya yang lucu.
“Mbak, apa semua baju di sini memang terbuka semua?!” protes Sony keheranan.
“Mas, tadi kan Mas sendiri yang pilih. Kenapa sekarang komplain?!”
“Cepat ganti Dek, kenapa masih di situ. Tidak lihat semua lelaki memperhatikanmu?!” Sony semakin panas melihat suasana di sekitarnya.
Di ruang ganti, pelayan itu menunjukkan satu dress yang menurutnya cocok untuk Vania, tidak terbuka. Sesuai dengan apa yang Sony inginkan.
“Nah, itu! Mas suka. Kamu sangat cantik memakai dress itu sayang.” Ujar Sony memperhatikan Vania dati atas sampai bawah.
“Mas aku lapar.” Rengek Vania manja pada Sony, tangannya bergelayut di lengan kekarnya.
“Kita ke kasir dulu ya, terus kita makan.”
Sony membayar semua baju yang sudah di coba Vania, salah satu pelayan memberikan beberapa paper bag yang berisi sepuluh dress pilihannya tadi juga tak lupa kaos serta ****** ***** yang sengaja dibeli serba mendadak.
“Mas, kenapa semuanya di beli? Untuk apa?” tanya Vania terkejut.
“Buat kamu Dek, tapi ingat. Jangan pernah pakai yang terbuka di depan umum. Hanya boleh memakainya nanti, untuk Mas.” Sony tersenyum menyeringai penuh makna.
“Hah? Maksudnya?”
“Di pakai di depan Mas, kalau kita sudah menikah nanti.” Ujar Sony berbisik pada Vania.
“Mas, itu terlalu banyak, boros sekali kamu Mas! Aku tidak butuh itu semua, buang-buang uang saja!” Protes Vania tidak suka jika Sony menghamburkan uangnya untuk hal yang tidak penting.
__ADS_1
“Shuuttt.... diamlah sayang. Ayo kita cari makan.” Sony meletakkan jari telunjuknya tepat di bibirnya, mengisyaratkan agar Vania diam dan tidak terus protes. Mereka berhenti di lantai paling atas mencari food court untuk mengisi perutnya.
🌷
🌷
Selesai makan, Sony mengajak Vania ke suatu hotel yang sudah di bookingnya melalui aplikasi untuk bermalam di sana.
“Dek,, kita ke hotel dulu ya. Kita taruh barang-barangnya di sana, habis salat zuhur langsung balik ke rumah sakit lagi.” Ucap Sony sembari membawa paper bag.
“Iya Mas. Sini aku bantuin bawa, pasti capek.”
“Tidak perlu Dek, cukup tangan kamu jangan lepas dari genggaman Mas.” tukas Sony dengan menggenggam erat tangan Vania seolah takut kehilangan.
“Terima kasih ya Mas, aku seneng banget perhatian Mas Sony dari dulu tidak pernah berubah.”
“Sama-sama sayang, sampai kapanpun Mas akan tetap seperti ini,” Sony mengulas senyum semanis mungkin pada kekasihnya itu.
Mereka menaiki taksi menuju hotel yang lokasinya tidak begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit untuk menempuhnya.
Melewati gedung-gedung yang begitu tinggi dan kota yang padat serta kemacetan yang panjang, Vania merasa takjub dan sangat menikmati pemandangan di sekitarnya. Ia terus memperhatikan melalui jendela taksi karena memang baru pertama kali ia menginjakkan kaki di Jakarta.
“Lihat apa Dek?” tanya Sony menoleh ke kiri.
“Indah ya Mas.”
“Biasa saja sayang, malah lebih enak Jogja. Tidak macet.”
“Di Jogja kan bangunan besar hanya beberapa saja Mas, di sini hampir semua."
“Mau jalan-jalan dulu? pulang lusa?” Ujar Sony menawarkan pilihan.
“Nggak Mas, lain kali saja.”
Tepat di depan lobby hotel, Sony membayar dengan tiga lembaran uang merah. Sengaja ia lebihkan untuk sekedar tips buat sopir tersebut. Mereka lalu berjalan menuju resepsionis untuk mendapatkan kunci kamar. Setelah key card di tangan Sony, ia mengajak Vania untuk berjalan menuju ke arah lift, Sony menekan tombol nomor lima karena mendapatkan kamar di lantai lima. Dan sesampainya di depan kamar, Sony membukakan pintu untuk Vania. Terlihat kamar delux yang cukup mewah untuk ukuran tidur seorang diri.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
... ...
__ADS_1
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...