Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kekesalan Vania


__ADS_3

Dua puluh menit telah berlalu, mobil jeep hitam yang di kemudikan oleh Sony berhenti tepat di depan restoran ternama di temani sang istri di sampingnya, Sony ingin menunaikan janji makan siangnya bersama partner bisnisnya yang juga temannya sendiri.


“Mas, Adik mau pergi ke toilet sebentar, mau pipis" ucap Vania begitu turun dari mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh Sony.


 


“Oke sayang, toiletnya ke arah sana.” Menunjuk koridor samping restoran.


 


“Hafal sekali Mas, sering ke sini? Sama siapa?” pandangan Vania menyelidik.


 


“Tidak sering, Dek. Hanya beberapa kali bertemu sama rekan bisnis, ayo Mas antar.”


 


“Perempuan?” tanya Vania. BmMereka berjalan beriringan melewati koridor terbuka, di pinggirnya terhias rapi tanaman.


 


“Lelaki, Dek," singkat Sony.


Lagi-lagi Vania mengungkapkan rasa penasarannya. Bagaimana tidak, lelaki setampan Sony jika saat ini mempunyai banyak rekan bisnis, sudah di pastikan salah satu dari mereka ada yang perempuan, dan sifat cemburu Vania selalu membuatnya was-was.


 


Ia tak pernah meragukan kesetiaan Sony, bahkan sangat percaya pada suaminya kalau dia tidak mungkin macam-macam dengan wanita lain di luar sana. Yang ia takutkan adalah betina liar yang gatal dan hobi menggoda lelaki tampan atau istilah populernya sekarang adalah pelakor. Apalagi saat ini Sony tergolong lelaki yang sukses, setelan jas selalu melekat di tubuh kekarnya, sepadan dengan wajah tampan yang ia miliki. Itulah yang membuat Vania selalu merasa insecure dan ketakutan.


 


Sesampainya di toilet, Vania masuk seorang diri. Tentu saja, tidak mungkin Sony ikut masuk ke toilet perempuan, yang ada di keroyok para emak-emak di dalamnya. Sony memilih menunggunya di depan toilet.


 


“Auwh, maaf,” pekik Vania sambil memegang lengannya yang baru saja bersenggolan kasar dengan seorang wanita. Wanita tersebut mengenakan pakaian seksi, keluar dari bilik kecil.


 


“Jalan pakai mata dong!” Wanita itu melotot sinis pada Vania. Ia lalu mengambil tasnya yang terjatuh.


 


“Awas ya, kalau tas gue sampai rusak, tas mahal nih!” cibir wanita tersebut tanpa melihat wajah Vania. Bahkan di dalam ruangan pun ia masih tak melepas kaca mata hitamnya.


 


“Kan, saya sudah minta maaf. Lagi pula bukan sepenuhnya salahku, kamu juga tidak memperhatikan jalan," tutur Vania menahan rasa kesal.


 


“Lo! Minggir sana!” ia menabrak Vania lagi hingga terjatuh. Kemudian ia berjalan keluar dari toilet dengan mengibaskan rambut panjang pirangnya.


 


Vania berdiri dengan mata penuh amarah, namun ia segera menarik nafas panjang dan menggelengkan kepala. Ia kemudian menatap cermin di sampingnya lalu merapikan rambut yang tadi sempat berantakan.


 


“Dasar cewek aneh!” gerutu Vania.


 

__ADS_1


Di depan toilet.


 


Gagah sekali lelaki ini, gumamnya saat melihat Sony dari samping.


 


“Auwh!” w


Wanita itu pura-pura berjalan pincang, seolah sedang kesakitan. Reflek, Sony membalikkan badannya dan melihat wanita yang membungkuk memegangi kakinya itu.


 


“Tuan, saya butuh bantuan. Apa Tuan bisa menolongku?” ujar wanita yang barusan menabrak Vania di dalam toilet.


 


“Apa?” jawab Sony sedikit cuek.


 


“Tolong antar saya ke meja sana, saya susah untuk berjalan, kaki saya terkilir," tutur wanita itu sambil terus mengaduh kesakitan, padahal ia hanya berpura-pura agar mendapat perhatian dari seseorang yang tak di kenalnya, salah satu alasannya adalah, ketampanan Sony yang begitu memukau.


 


“Maaf, saya sedang menunggu istri saya.” Ucap Sony.


Wanita yang tengah berjongkok itu berdiri perlahan dan mendongakkan kepalanya.


“Loh, Mas Sony kan?!”


 


“Iya, maaf apa kita saling mengenal?!” tanya Sony dengan gaya cueknya.


 


 


“Saya merasa tidak pernah mengenalmu, permisi.” Sony beranjak pergi menjauh agar terhindar dari wanita aneh tersebut.


 


“Mas!” teriak Vania yang baru saja keluar dari toilet. Ia melangkah pasti menghampiri Sony.


 


“Sudah selesai, Dek?”


 


Sialan, bukankah itu Vania?! Tadi Mas Sony bilang dia sedang menunggu istrinya, apa itu artinya mereka sudah menikah? batin wanita berlipstik merah.


 


“Sudah Mas, ayo!" Vania menarik lengan Sony.


"Tadi Mas Sony bicara apa? Aku sedikit mendengar suara Mas Sony mengobrol dengan seorang wanita.”


 


“Dia meminta tolong Mas untuk mengantarkannya ke meja tempat ia duduk sayang, katanya kakinya sih terkilir.”

__ADS_1


 


“Mas mengenalnya?”


 


“Mas tidak mengenalnya, Dek. Tapi dia sempat mengatakan, apakah aku melupakannya? Mas sebenarnya juga penasaran. Wajahnya seperti familiar.”


 


“Mas, cukup! Mas Sony membuatku panas. Dia juga tadi yang menabrakku sampai terjatuh.” Vania memajukan bibirnya, kemudian ia berbalik dan berjalan mendekati wanita tadi karena penasaran.


 


“Maksud Anda apa menggoda suami saya?”


 


“Siapa juga yang menggoda, gue cuma minta tolong sama dia.m," jawabnya menunduk, ia berusaha menutupi wajah dengan rambutnya yang panjang.


 


“Minta tolong apa?! Kaki kamu terkilir?! Trik murahan macam apa yang kamu pakai?!” Vania mendekat dan semakin berani.


 


“Sayang, sudah yuk! Jangan hiraukan dia!”


 


“Sebentar Mas, wanita ini ... sepertinya aku juga mengenalnya.” Vania memiringkan pandangannya tepat di depan wajah wanita itu. Vania yang biasanya lembut tanpa amarah, kini ia meluapkan segala kekesalannya yang sudah terkontaminasi dengan rasa cemburu yang membara.


Meskipun begitu, Sony masih tetap berusaha melerainya. Menasihati istrinya agar tidak berselisih paham dengan wanita tersebut.


 


“Mas sekarang aku tahu wanita ini. Pantas saja dia menggodamu Mas, apa Mas tidak ingat siapa dia?” tanya Vania pada Sony. “Dia dulu yang sering ngebullyku Mas, dan dia juga yang selalu kegatelan sama Mas Sony waktu dia masih magang di hotel.” lanjutnya sambil bergelayut di lengan kekar Sony.


“Aku hampir tak mengenalimu sejak kita bertabrakan di dalam toilet tadi. Ya, maklum saja sekarang penampilanmu sudah berubah 100%, hebat kamu Tin!”


 


“Van, lo apa-apaan sih! Dari tadi gue diem ya, jangan terus-terusan nyudutin gue!”


 


“Oh, sekarang udah lo gue an, ya?!” Vania memiringkan senyumnya sinis. “Dengar ya Tin, kalau bukan karena kamu menggoda Mas Sony, aku tidak akan seperti ini. Oh iya, perlu kamu ingat ya, Mas Sony sekarang sudah menjadi suamiku. SUAMI, ingat itu!” Vania menekankan kata 'suami' agar Tina mendengar ketegasannya.


 


“Ayo sayang, kita sudah sangat terlambat. Sony mengajak Vania untuk pergi agar perdebatan antara dua wanita itu tak berlanjut. Vania menyambar lengan Sony dan melingkarkan tangannya di sana.


 


Dia adalah Tina, gadis yang dulu membenci Vania saat magang. Ia merasa kalah saing dengan Vania karena ia tak berhasil mendapatkan Sony, seorang security tampan yang menjadi rebutan para gadis beberapa tahun yang lalu. Penampilannya sekarang terlihat sangat dewasa, bahkan terlihat seperti beberapa tahun di atas Vania, padahal mereka sebaya. Bisa di bilang ia mempunyai muka yang boros, atau karena make up nya yang tebal.


 


 


Vania dan Sony mencari meja nomor lima belas, meja itu terletak tak jauh dari taman samping, sengaja teman Sony memilih area terbuka agar mereka bisa bersantai sambil menikmati pemandangan hijau di sekitarnya. Meskipun begitu, tak sedikit pun panas matahari menyentuh kulit mereka karena rindangnya pepohonan.


 

__ADS_1


Bersambung...


jangan lupa like nya yaa..


__ADS_2