Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Bahagia Dan Sedih


__ADS_3

“Sayang,” sapa Sony pada Vania yang tengah duduk sendiri di kantin, menyantap makan siangnya.


 


“Mas, jauh-jauh! Jangan duduk di sini.” Vania melirik kanan dan kiri, berharap tidak ada yang memperhatikan mereka saat ini.


 


“Percuma saja Dek, satu lokasi tapi masih harus jaga jarak.” Sony malah duduk di depan Vania.


 


“Mas, nanti ada yang lihat. Mas makan di meja sebelah saja.”


 


“Nggak! Mas mau di sini aja. Dah ya Dek, jangan terlalu banyak komplain.


 


“Tapi...”


 


“Sssttttttt.....” Sony menyentuh bibir Vania dengan telunjuknya agar dia tidak banyak bicara. “Nikmati saja makannya Dek,”


 


Vania merasa sangat risih dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya. Ia takut akan menjadi perbincangan karena ia duduk bersama seorang pemilik hotel, seorang bos besar yang sangat rupawan dan baik hati. Sudah bisa di pastikan, perempuan normal akan menyukai sosok tampan itu.


 


Meskipun Vania saat ini sudah memenangkan hatinya, ia masih saja merasa kalah jika dibandingkan dengan karyawan lain yang cantik-cantik dan sangat menjaga penampilannya. Ia merasa bagaikan rumput yang tumbuh di antara bunga yang cantik


 


 


“Mas, aku tidak tenang.”


 


“Aku lebih tidak tenang membiarkanmu makan sendirian, Dek.”


 


Di setiap meja yang terisi oleh beberapa karyawan di hotel itu menggunjing dengan bebasnya seperti petasan yang meletup-letup tiada habisnya.


 


“Dia kan anak baru itu.”


 


“Katanya sih dia mantan anak magang di sini dulu.”


 


“Eh, ada yang bilang itu pacarnya Pak Sony.”


 


“Hah, serius? Kaya gitu bentukannya?!”


 


“Pakai pelet kali tuh cewek cantikan juga aku dimana-mana.”


 


“Jangan-jangan dia masuk hotel ini karena dibantu sama Pak Sony lagi.”


 


“Namanya juga Bos, bebas melakukan apa saja yang ia mau.”


 


“Sudah-sudah. Terusin makan kalian, nanti Pak Sony dengar, bisa habis kita.”


 


Mereka mengakhiri pembicaraannya yang terus menghina, mencela, dan memaki Vania.


 


Vania mulai gusar dengan segerombolan wanita yang duduk di meja sebelah. Ia merasa, mereka sedang membicarakannya meskipun Vania tak mendengarnya, namun tatapan menusuk itu sangat mengganggunya.


 


“Mas, nggak makan?” Vania bertanya pada Sony namun tak berani menatapnya, ia hanya terus melirik sekitarnya.


 


Ini sangat tidak nyaman., sampai kapan mereka akan terus membicarakanku?


 


“Mas, sudah pesan sebentar lagi juga datang.”


 


“Mas, aku sudah selesai. Aku duluan, ya?” Vania berdiri namun tangannya diraih cepat oleh Sony.


 

__ADS_1


“Temani Mas makan. Duduk sini.”


 


“Mas, aku tidak nyaman. Mereka semua menatapku. Aku kembali ke kantor aja.”


 


“Baiklah kalau Adik nggak mau menemani Mas, mungkin salah satu dari mereka mau.” Mata Sony menunjuk sekelompok wanita yang sedang memperhatikannya. Para wanita itu dengan bangganya melempar senyuman yang sengaja dibuat ramah lalu sedikit menganggukkan kepalanya.


 


Tubuh Vania seolah menolak untuk beranjak pergi. Ia membatalkan niatnya untuk berjalan menuju kantor, gadis itu memilih duduk kembali menemani Sony makan karena isyarat Sony sangat menakutkan. Ia tak rela jika kekasihnya itu dekat-dekat dengan wanita lain, terlebih wanita genit yang hobi menggoda.


 


Sony tersenyum puas melihat mata sinis Vania dan ia juga sengaja menyunggingkan bibirnya.


“Bagus! Anak pintar.” Sony merasa triknya kali ini berhasil. Ia bisa melihat wajah cemburu Vania.


 


“Coba saja kalau Mas berani macam-macam Mas. Aku juga bisa!”


 


“Oh, jadi ceritanya sudah bisa mengancam nih pacar kesayanganku?”


 


“Mas sangat menyebalkan.”


Saat makanan Sony datang, Vania terus terdiam sesekali melihat ponselnya dan memperhatikan Sony menikmati hidangannya. Beruntung para wanita tadi sudah pergi kembali ke habitatnya. Ia jadi merasa lebih tenang dan lebih leluasa.


 


“Dek, nanti malam Mas mau ajak kamu ke suatu tempat.” Sony merapikan piring kotornya dan di letakkan di tepi meja.


 


“Ke mana Mas?”


 


“Di lereng gunung.”


 


“Hah? Ngapain Mas? Malam-malam lagi.”


 


“Kamu pasti suka Dek.”


 


 


“Pemandangannya sangat indah, romantis, terus di sana juga memang banyak pengunjung.”


 


“Iyakah? Boleh deh.”


 


“Mas jemput habis magrib ya.”


 


“Oke.”


 


🌿🌿🌿


 


Piringan matahari perlahan mulai lenyap di tepi langit, berganti malam yang dingin merasuk ke dalam pori-pori. Sesuai janjinya, malam ini ia akan mengajak Vania pergi tempat wisata yang cukup banyak di minati semua umur.


 


Tanpa melepas genggamannya, Sony terus menggandeng Vania agar tidak terpeleset dan melindunginya dari belakang.


 


Mereka melangkahkan kakinya satu persatu melewati tangga kayu yang cukup menanjak. Menuju puncak keindahan tempat tersebut.


 


“Mas, ini ... ini indah sekali. Sangat indah.” Vania takjub menyaksikan lukisan alam yang tergambar nyata di depannya saat ini.


 


Kerlipan lampu-lampu tiap titik rumah serta pancaran dari setiap kendaraan terlihat begitu sempurna. Seperti bintang yang bertebaran di awan.


Dua insan itu merasa sangat bahagia bisa  menikmati pemandangan malam di puncak bersama . Pikirannya bagai segar kembali setelah seharian lelah bekerja.


Duduk berdua dengan saling menggenggam tangan, ditemani canda gurauan antara keduanya.


 



Drrttt. .Drrtttt...

__ADS_1


“Dek, sebentar ya, Mas angkat telepon dulu.” Sony merogoh ponselnya yang bergetar lalu melihat layarnya, begitu terkejutnya ia mendapat panggilan dari perempuan paruh baya yang selama ini berjauhan dengannya.


 


“Siapa Mas?” tanya Vania ingin tahu.


 


“Mama, Dek.” Wajah Sony berubah menjadi pucat pasi. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, ibunya itu menelepon sang anak.


 


Sony lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia menjauh dari Vania , menghindar  agar gadis itu tak mendengar pembicaraannya. Sony curiga akan ada perdebatan antara dia dan mamanya.  


 


“Assalammu’alaikum, Ma. Tumben sekali, ada apa meneleponku?”


 


“Wa’alaikum salam. Pulanglah Son! Papa sakit.” Ujar Bu Rima menegaskan kalimatnya tanpa basa-basi.


 


“Papa sakit? Sakit apa, Ma?”


 


“Jantungnya kambuh, sebaiknya kamu pulang dan turuti semua keinginannya. Mau sampai kapan kamu jadi anak durhaka?”


 


“Durhaka? Kesalahan apa yang Sony lakukan hingga Mama menyebutku anak durhaka?! Sedikit pun, Mama memang tak pernah mau mengerti perasaan Sony.” Bola mata Sony mulai perih mendengar kata-kata Ibunya, namun ia berusaha tegar.


 


“Besok pulanglah! Jangan sampai menyesal.” Titah Bu Rima tanpa merespon ucapan Sony dan langsung mematikan panggilannya. 


 


Sony menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. Ia lalu kembali pada Vania yang duduk tak jauh dari pandangannya sekarang. Hanya berjarak sekitar dua meter.


 


“Bagaimana Mas?”


 


“Apanya yang bagaimana, Dek?”


 


“Apa semuanya baik-baik saja?”


 


“Papa sakit, Dek. Besok Mas terpaksa harus pulang.” Sony berkata tanpa melihat wajah Vania. Ia masih termenung dan memikirkan kata-kata Bu Rima yang menyuruhnya untuk menuruti keinginan orang tuanya.


 


“Berapa hari, Mas?” Vania berusaha bersikap biasa, meskipun hatinya tak ingin Sony pergi.


 


“Mas belum tahu, Dek.”


 


“Mas terlihat sangat cemas, kita berdoa saja, semoga Papa Mas Sony lekas membaik.” Sony hanya mengangguk pelan.


 


Bukan hanya itu Dek yang aku pikirkan, bagaimana besok jika aku harus menuruti kemauan mereka? Bagaimana dengan kita? Aku benar-benar bingung sekarang, apalagi Mama sudah menyebutku anak durhaka. Sebegitu bersalahkah aku pada mereka? Padahal aku juga sakit, sakit karena mereka tak pernah menganggapku ada.


Kali ini, aku hanya bisa berharap pada kuasa Allah. Semoga Allah bisa melembutkan hati kedua orang tuaku.


 


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2