Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Bertemu Camer


__ADS_3

Sementara itu di Grand Luxury Hotel, Sindy memasuki ruangan Beni tanpa mengetuk pintu.


Cklek!


“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ruanganku?!”


Sindy tak menghiraukan teguran Beni, fokusnya hanya ingin tau keberadaan Sony.


 


“Di mana Sony, Ben?” tanya Sindy berdiri di depan meja kerja Beni.


 


“Nggak ada di sini!” jawab beni singkat sambil sibuk memegang sebuah dokumen.


 


“Lalu di mana dia? Aku mengetuk pintu ruangannya tak ada jawaban.”


 


“Dia pergi.” Jawabnya singkat dengan nada dingin.


 


“Pergi ke mana sih?” Sindy bertanya dengan nada sewot.


 


“Apa dia tidak memberitahumu?!”


 


“Tidak! makannya aku ke sini. Kamu ditanya judes banget sih jawabnya. Menyebalkan!”


 


Beni menutup kertas di tangannya lalu melihat Sindy yang tengah duduk di sofa ruang kerja Beni.


“Dia pergi meminta restu pada orang tua Vania, dan langsung menuju Jakarta untuk ketemu Om Gunawan. Puas?!”


 


“Hah?! Apa?! Sony gimana sih. Pergi begitu saja tidak memberitahuku.” Gerutu Sindy.


 


Kenapa Sony tega banget, apa dia memang benar-benar tidak mau menikah denganku? Aku pikir dengan aku baik padanya dan bermain cantik untuk mendapatkan hatinya secara perlahan, dia akan menyukaiku dan berubah pikiran. Sia-sia aku pura-pura sok baik di depannya kalau dia tidak melirikku sama sekali.


 


“Siapa kamu hingga Sony harus meminta izin. Nggak penting banget!”


 


“Beni! Aku tuh udah jauh-jauh datang ke sini! Dia janji mau mengajakku jalan-jalan keliling Yogya. Eh malah pergi nggak jelas.” Sindy terus menggerutu dengan nada emosi.


 


“Bukankah kamu sendiri yang ikut Sony ke sini ya?! Setahuku Sony tidak mungkin mau mengajak wanita menyebalkan sepertimu.”


 


Sindy berdebat dengan Beni karena ia merasa Sony mengabaikannya padahal ia sudah jauh-jauh datang ke Yogya. Harapannya agar bisa jalan-jalan dengan Sony. Tapi ternyata tak sesuai dengan keinginannya. Apalagi setelah ia tahu betapa cintanya Sony pada wanita yang baginya tidak sebanding dengan dirinya.


 


“Ah sudahlah! Aku pulang aja ke Jakarta.”


 


“Pulanglah! lebih cepat lebih baik. Keberadaanmu tak diinginkan di sini.” Jawab Beni singkat dengan nada datar sembari fokus pada laptopnya.


 


“Kamu sama aja Ben. Nggak ada simpatinya sama sekali pada perempuan!”

__ADS_1


 


“Tidak untuk perempuan sepertimu!” jawaban Beni semakin membuat Sindy kesal.


 


Sindy beranjak berdiri dan dengan kasar membuka pintu lalu keluar dari ruangan Beni, seorang lelaki dingin yang selalu berdebat dengannya dari dulu sampai sekarang.


 


BRAAKKK!!


 Ia menutup pintu dengan membantingnya keras tak peduli dengan reaksi Beni yang ingin menahan amarahnya.


 


“Dasar wanita gila!” umpat Beni begitu terkejut setelah mendengar bantingan pintu. Dari dulu, sejak ia bertetangga dengan Sony, ia juga mengenalnya dekat. Namun mereka memang tidak cocok jika di satukan, Beni tidak menyukai sifat Sindy yang selalu mengatur dan dia juga sudah paham watak asli wanita itu. Selalu berpura-pura sok baik, dialah seorang drama queen sesungguhnya.


 


🌷


 


🌷


 


Rumah Sakit Jakarta


"Assalamualaikum Pa.” Sony membuka pintu dengan tangan yang satunya masih menggandeng erat tangan Vania.


 


Tak ada jawaban, Sony akhirnya masuk lalu mendekat dan berdiri di sebelah brankar Pak Gunawan yang sedang tertidur pulas. Mata Sony menelisik ke setiap sudut ruang, tak terlihat satu orang pun yang menemani Papanya.


 


“Kasihan sekali Papa, di tinggal sendirian begini, ke mana Mama sama Kak Dony?” Batin Sony.,


 


 


“Mas, Papa Mas Sony sendirian?”


 


“Mas juga tidak tau Dek kenapa Papa ditinggal sendiri.”


 


Setelah beberapa saat Vania dan Sony mengobrol dengan suara lirih, akhirnya Pak gunawan terbangun dari tidurnya. Berusaha untuk duduk dan ingin mengambil minum di meja samping brankar.


 


“Papa! Mau minum?”


 


“Son? Sejak kapan kamu di sini?”


 


“Belum lama Pa,” jawab Sony sambil mengambilkan segelas air lalu membantu Pak Gunawan untuk minum.


 


“Pa, Sony bersama  Vania ke sini.” Ucap Sony setelah membaringkan lagi Pak Gunawan. “ Dek, sini.”


 


Dengan gemetar dan rasa gugup Vania berjalan ke arah Pak Gunawan, ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan memperkenalkan dirinya. Ia tersenyum


 


“Jadi ini yang namanya Vania. Cantik ya, pantas saja Sony mengejarmu.” Ucap Pak Gunawan dengan nada datar, tak tau entah itu nada tak suka atau memang cara bicaranya seperti itu, Vania hanya masih merasa ketakutan. Apalagi dengan wajah tegasnya, meskipun tengah terbaring lemah, namun Pak Gunawan masih tampak menunjukkan wibawanya.

__ADS_1


Vania hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman ramah.


“Apa yang kamu sukai dari Sony?” tanya Pak Gunawan pada Vania yang berdiri di samping Sony tangan kanannya pun tidak berhenti meremas-remas jari Sony. Sony hanya memperhatikan gerak gerik Vania yang begitu gugup menghadapi Papanya.


 


“Kalau gugup begitu wajahmu lucu sekali dek.” Gumam Sony sambil tersenyum samar, matanya berbinar menatap indah wajah Vania.


Dasar bucin, segala-gala ekspresi wajah Vania semua dianggap lucu, semua dianggap menggemaskan dan imut.


 


“Mas Sony sangat baik Pak, dia juga lelaki yang bertanggung jawab.” Ucap Vania berusaha membuat biasa suaranya agar tak gemetar.


 


“Tapi bukan karena kekayaan anakku, kan?” tiba-tiba muncul suara dari pintu masuk.


 


Deg!


Vania tertegun mendengar kata-kata tersebut. Ia memutar badannya dan menoleh ke arah sumber suara itu. Apa yang harus kukatakan? Apa dia Mamanya Mas Sony? Kenapa bertanya seperti itu? Rasa gugupnya belum habis untuk menjawab pertanyaan dari Pak Gunawan, kini di tambah lagi ada pertanyaan yang begitu menusuk dalam ke hatinya.


 


“Ma, kenapa berbicara seperti itu?! Vania bukan wanita yang Mama pikirkan. Jangan pernah menyakiti hatinya, Ma!” Sony membela Vania dari wanita paruh baya itu, yang sebenarnya adalah Ibu kandung Sony.


 


“Son, kamu sudah di butakan sama wanita ini?! Lihat dia penampilannya sok polos begitu, Mama yakin dia hanya menginginkan hartamu saja. Sudah bagus Mama jodohkan dengan wanita sukses, malah pilih yang seperti ini.” Mata Bu Rima menatap tajam ke arah Vania, memperhatikannya dari atas sampai bawah.


 


Penampilan Vania bisa dibilang sederhana, karena ia hanya memakai celana dan cardigan panjang yang menutup bagian bawahnya. Tidak seperti wanita karir pada umumnya yang suka memakai rok pendek, blazer atau bahkan dress mahal yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Penampilan itulah yang justru disukai oleh Sony, tak peduli meskipun tidak sesempurna wanita di luaran sana.


 


“Ma, Sony datang ke sini baik-baik dan atas kemauan Papa juga. Kalau pun Mama tidak suka dengan Vania tidak masalah. Bukan masalah besar buat Sony. Setidaknya Papa sudah merestui Kita. Sony akan tetap menikahinya, walaupun tanpa restu Mama. “


 


“Jangan kurang ajar ya Son! Mama sudah melahirkanmu. Sekarang ini balasan kamu sama Mama?!”


 


Bersambung...


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


...Terima Kasih .... lopyu pul dah....


... ...


...kenalan sama author yukk, follow IG @Epha_Yunitha...


... ...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2