
Sore hari, Sony menatap benda yang menggantung di dinding ruang kerjanya, jarum pendek itu sudah menunjukkan angka lima. Ia masih berkutat di meja kerjanya, sedangkan Vania, ia masih setia menunggu suaminya itu karena ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, ia hanya mengikuti perintah Sony untuk menemaninya bekerja. Memandang Vania di saat kerja, bagi Sony adalah hal yang istimewa dan membuatnya semangat.
“Dek, kita pulang yuk.”
“Pulang ke mana, Mas? Kita belum membicarakannya sejak menikah, di mana kita akan tinggal.” Tanya Vania, memusatkan pandangannya pada Sony yang berjalan ke arahnya.
“Mas akan tinggal bersamamu di rumah sederhana itu. Apa Adik keberatan?” Sony duduk di samping Vania.
“Tentu saja tidak Mas, Adik tidak keberatan sama sekali. Tapi, barang Mas Sony kan, masih ada di rumah Pak Irawan.”
“Nanti kita akan mengambilnya sayang, bantu Mas untuk mengemasi barang ya.”
“Siap Bos!” Sony mencium pipi Vania dengan gemas lalu mencubitnya.
“Mas, sakit! Hiihh!” pekik Vania memukul pelan dada bidang Sony.
“Ayo sayang.” Sony berdiri meraih tangan Vania, ia menggandengnya berjalan keluar dari ruangan itu. Koridor panjang mereka lewati dengan canda tawa. Banyak mata iri yang menyaksikan kemesraan mereka. Sesampainya di tempat parkir, Sony merogoh saku celana dan jasnya mencari sesuatu.
“Mas, cari apa?”
“Dek, sepertinya kunci mobil ketinggalan di meja kerja. Mas benar-benar lupa.” Ujar Sony sambil mengingat-ingat di mana ia meletakkan kuncinya.
“Ya sudah, Mas ambil dulu. Adik tunggu di sini.”
“Sendirian? Ikut Mas saja yuk.”
“Capek tahu Mas bolak balik. Memangnya kenapa kalau Adik sendirian? Siapa juga yang mau menculikku.”
“Mas khawatir. Kalau begitu tunggu di dalam saja ya. Jangan di sini.” Pinta Sony pada Vania,, ia begitu protektif pada istrinya itu.
“Sudah Mas cepetan ambil kuncinya. Jangan drama deh.” Vania mendorong Sony agar segera naik dan mencari kuncinya.
“Baiklah, Mas ambil sebentar. Hati-hati di sini. Kalau ada apa-apa langsung telepon Mas!” kata Sony, ia melangkahkan kakinya setengah berlari.
Vania berdiri bersender mobil Sony sambil memainkan ponselnya. Banyak karyawan yang lalu lalang ke tempat parkir untuk mengambil kendaraannya untuk segera pulang karena jam kerjanya sudah habis.
__ADS_1
Dari kejauhan, tampak seorang lelaki mengenakan seragam security terus memandang Vania. Dengan senyuman smirknya ia berjalan ke arah wanita yang sedang berdiri sendirian itu. Ia mendekat dan ikut bersender di sebelah Vania, ia menundukkan kepalanya lalu memiringkannya, memperhatikan wajah Vania yang sedang fokus menggeser foto di galeri ponselnya.
“Ehemmm!” lelaki itu berdehem mengejutkan Vania.
“Kamu?!” Vania segera beranjak melangkahkan kakinya untuk menghindar. Sayangnya, tangan itu dengan cepat meraih lengan Vania dan menahannya.
“Lepas nggak!” bentak Vania, ia menatapnya tajam.
“Vania, jangan pergi dulu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu.” Ucap lelaki itu dengan senyum yang memuakkan, ia melepaskan genggamannya ke lengan Vania.
“Tidak perlu.” Singkat Vania, mengalihkan pandangannya.
“Kamu semakin cantik sekarang, sayangnya Sony lebih dulu memilikimu. Padahal aku sangat menyukaimu sejak dulu.”
“Menjijikkan! Pergi dari sini atau aku akan panggil suamiku!”
“Di mana dia? Kenapa sangat teledor, meninggalkanmu sendirian di sini. Apa dia tidak takut kalau istri cantiknya ini di culik?!”
“Aku cuma ingin mengobrol sebentar denganmu Vania.”
“Nggak ada waktu!” Vania lalu mencoba berjalan lagi dengan langkah kasar. Lagi-lagi pria itu mengejarnya dan menghalangi jalan Vania.
“Minggir!”
Lelaki itu malah semakin berani menyentuh kedua lengan Vania, dari dulu sampai sekarang bahkan Vania sudah menikah. Ia masih tetap saja mengganggunya, meskipun dulu ia seprofesi dengan Sony, ia sama sekali tidak punya rasa pertemanan yang kental. Bahkan lelaki playboy itu sama sekali tak ada rasa takut pada Sony.
“Kris!!!!!!” teriak Sony dari kejauhan berlari menghampiri Vania.
“Berani sekali kamu!” Sony memukul pipi Kris dengan meninjunya cukup keras.
“Hai Bro! Apa kabar!” Kris tersenyum sambil memegang pipinya yang pastinya sangat nyeri karena dapat hadiah dari kepalan jari Sony.
“Nggak usab basa basi! Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah sentuh istriku. Paham?!
“Sombong sekali Son kamu sekarang, mentang-mentang sudah jadi Bos.” Ucapnya disertai senyum menyeringai.
__ADS_1
“Jaga bicaramu Kris!”
“Kenapa? Apa ada yang salah? Kau memang sudah melupakan pertemanan kita sejak kau sudah menjadi pemilik hotel ini.”
“Apa pantas aku menyebutmu sebagai teman kalau kelakuanmu saja seperti ini pada istriku?! Sangat kurang ajar.”
“Son, kau tahu kan, dari dulu aku sangat menyukai Vania. Apa kau tidak mau memberiku kesempatan untuk sekedar ngopi berdua?!”
“Sekali kau buka mulutmu kotormu itu, aku akan benar-benar menendangmu keluar dari hotel ini.”
“Baiklah, aku minta maaf. Tapi izinkan aku menjabat tangan Vania sekedar mengucapkan selamat pada pernikahan kalian.”
“Tidak semudah itu! Pergilah, cepat!” Sony lalu membawa Vania masuk ke mobil. Kemudian ia berjalan memutari mobilnya dan masuk ke bagian kemudi. Di dalam mobil, Sony memakaikan seatbelt Vania, ia menatap lekat istrinya dengan amarah yang tertahan. Sony lalu mencium bibir Vania sedikit kasar, disaksikan oleh Kris yang masih berdiri di depan mobil Sony.
“Ehhmmpppp....” Vania mencoba melepas ciuman brutal Sony. Lum*atan kasar yang di rasakan Vania sangat tidak nyaman, apalagi saat ini mereka sedang berada di tempat parkir, sudah semestinya banyak pasang mata yang menyaksikan tontonan gratis itu.
Melihat Vania yang berontak, Sony merasa kasihan dan melepas ciumannya.
“Kenapa kamu membuatku marah, Dek?!”
“A—aku... salahku apa Mas?” Vania gugup, ia tak tahu apa sebenarnya yang membuat suaminya itu marah. Padahal ia sama sekali tak memberi kesempatan Kris untuk mendekatinya.
“Mas tidak rela lelaki mana pun menyentuhmu, dan ingatlah, jangan sekali pun memberi kesempatan mereka untuk mendekatimu."
Mas Sony kenapa jadi menakutkan begini. Padahal ia tak pernah semarah ini sebelumnya.
"Mas, tadi aku sama sekali tidak memberinya kesempatan. Bahkan aku terus menghindarinya. Tapi dia selalu mengejarku."
"Kalau Mas bilang ikut ya ikut Dek, kalau tidak mau ikut. Setidaknya mau menunggu di dalam. Untung tadi Mas cepat datang. Kalau tadi Kris membawamu pergi bagaimana?!"
"Maaf, Mas. Jangan marah-marah terus. Aku takut."
Sony mencium kening Vania dengan lembut, dan mengusap rambutnya.
"Mas minta maaf sudah emosi, Mas benar-benar tidak habis pikir sama Kris, masih saja mengganggumu. Padahal dia tahu kamu milikku."
"Sudah Mas, kita pulang sekarang ya. Lihat, banyak yang memperhagikan kita di luar sana."
"Biar! Biar semua orang tahu." Sony mendekatkan wajahnya, ingin mencium istrinya, namun bibir Sony ditutup cepat oleh tangan Vania.
Sementara Kris, ia berlalu pergi, enggan menyaksikan kemesraan Sony dan Vania.
Bersambung...
Gengs, jangan lupa komen sama likenya ya... wajib!"
Vote sama hadiahnya juga aku tunggu. Thank you❤🌷
__ADS_1