
Cup ! Mwah!
“Mas! Ah!” teriak Vania terkejut melihat Sony mengecupinya tiada henti.
“Makanya bangun sayang, berapa kali Mas membangunkanmu tetap saja tidak bangun.” Jawab Sony duduk di sampingnya, Sony mengulas senyum lebarnya karena ia merasa berhasil membangunkan sang istri dengan cara menggodanya, meskipun ia juga sebenarnya mencuri-curi kesempatan menciumi Vania sepuasnya ketika tidur.
“Jam berapa ini Mas?” tanya Vania.
“Sudah jam 04.00 sayang, yuk bangun, sholat.”
“Iya Mas,” Vania menyingkap selimut yang menutup tubuhnya lalu beranjak ke kamar mandi.
***
Setelah selesai sholat, Vania dan Sony duduk di tepi ranjang.
“Mas, kita jadi berangkat kapan?” Tanya Vania.
“Nanti dek, jam sembilan kita berangkat.”
“Ya Allah! Sebegitu cepatnya Mas! Kenapa tidak memberitahuku? Mas bagaimana ini, aku belum mempersiapkan apa – apa. Mas suka banget sih bikin aku kerepotan!” Vania uring – uringan tak jelas sambil mondar - mandir di depan Sony, ia kebingungan apa yang harus dilakukannya dengan waktu yang sependek itu.
Pikirnya, ia belum mempersiapkan apa pun, padahal liburan harua menyiapkan sesuatu yang menurutnya terperinci, mulai dari kelengkapan pakaian, peralatan mandi, obat – obatan dan lain sebagainya.
“Tenang saja Dek, sudah duduk sini.” Menepuk kasur di sebelahnya, menyuruh Vania untuk duduk dan tidak kebingungan.
“Bagaimana bisa tenang sih Mas, sekarang sudah jam lima loh!”
“Dek, Mas sudah merapikan semuanya, baju dingin, baju panas, alat mandi, obat, juga alat make up kamu, jadi sekarang tinggal duduk manis menunggu jemputan.
“Hah serius Mas? Mas tidak lagi bercanda kan?”
“Buat apa Mas bercanda? Di cek saja lagi semuanya kalau Adik tidak percaya.”
“Mas Sony tidak tidur?”
“Tidur sayang, merapikan semuanya hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, jadi Mas langsung menyusulmu tidur.”
“Hah?! Hebat sekali?!” pekik Vania.
Vania pun bergegas mengecek koper, meja rias dan kotak obat di laci yang sudah kosong.
“Mas, tapi ... dari mana Mas tahu semua tempatnya? Maksudku,.. letak obat, letak baju, letak --.. astaga! Mas!” Vania membulatkan matanya tak berani meneruskan ucapannya, ia bergegas mengecek ke lemari tempat ****** ***** dan onderdil lainnya di bagian paling bawah.
“Ya, Mas cuma berusaha mencarinya di kamar ini Dek. Lagi pula kalau baju juga pasti di lemari, obat, kalau tidak di laci di mana lagi, dan tentu saja make up di meja rias. Gampang, kan?!” tutur Sony dengan entengnya tanpa tahu beban di kepala Vania yang terus berpikir aneh karena suaminya bisa merapikan semua itu dalam sekejap.
__ADS_1
Luar biasa! Sampai dalemanku Mas Sony yang merapikan. Memalukan sekali! Mati aku! Itu artinya dia sudah memegang cetakan gunung kembar dan segitigaku! Ah Mas Sony, kau membuatku sudah tak punya muka sekarang!
“Dek, kenapa jongkok di situ? Sakit perut atau kenapa?” Sony merasa heran melihat Vania dari tadi seperti orang yang kebingungan tiada habisnya.
“Mas, kenapa semua Mas yang rapikan?”
“Sengaja biar kita tidak kalang kabut, Dek. Sudah, kita siap-siap yuk. Habis itu kita pamit sama Bapak dan Ibu.”
“Mas, kita berapa hari sih di sana?”
“Kita lihat nanti, kalau belum puas ya bisa satu bulan kita di sana. Ujar Sony dengan cueknya sembari memasukkan laptop ke dalam tas ranselnya agar tidak tertinggal.
“Hah, lama sekali?!”
“Itu semua tergantung kamu sayang. Semakin kita cepat menyelesaikan tugas kita. Semakin cepat juga kita akan pulang.” Ujar Sony mengukir senyuman miring menyeringai, ia merasa geli sendiri dengan ucapannya barusan.
“Maksud Mas Sony? Tugas apa memangnya?” tanya Vania yang belum paham maksud perkataan Sony yang menjurus ke bab ranjang.
"Besok juga akan tahu, Dek." jawab Sony singkat, masih tersenyum.
Sepertinya Mas Sony membahas soal jatah malam. Ah dasar modus. Aku memang sedikit lambat berpikir Mas, tapi aku tau maksudmu. Kalau aku menanyakan lagi, Mas pasti akan semakin menggodaku. Aku tau itu, trik Mas sudah terbaca! Vania melirik pedas pada punggung Sony. Ia fokus merapikan dirinya di depan meja rias.
🌷🌷🌷
Terik matahari sudah mulai terpancar di setiap sudut ruangan, cahaya itu menembus jendela rumah Vania. Udara segar pagi ini membuat keduanya semangat.
Setelah beberapa menit mereka mempersiapkan semua kelengkapannya, mereka keluar dari kamar dengan dandanan yang sudah rapi.
Vania berjalan ke dapur, ia membuatkan secangkir kopi untuk suaminya sebelum berangkat.
Sedangkan Sony, ia menarik koper ditangannya dan menaruhnya di ruang tamu. Terlihat Pak Asta yang sedang menyesap kopinya.
“Loh Son, mau ke mana pagi-pagi begini? Kok bawa koper?!” tegur Pak Asta melihat Sony dengan penampilan rapinya.
“Maaf Pak, semalam belum sempat ijin ke Bapak sama Ibu kalau kita berencana akan liburan, soalnya mendadak.” Ucap Sony menggunakan kata liburan pada Pak Asta. Ia merasa aneh jika ia menyebutnya honey moon.
“Oh, lalu kalian mau liburan ke mana? Vania sudah siap?”
“Vania ingin ke Bromo Pak. Dia sekarang masih di dapur lagi membuat kopi.”
“Bromo?! Di sana dingin banget lo Son. Apa Vania bisa tahan?”
“Saya sudah memperingatkannya Pak, tapi Vania masih ngotot tetap ingin pergi ke sana.”
“Ya sudah kalau begitu, turuti saja kemauannya. Nanti kalau dia kedinginan juga akan minta pulang.” Ucap Pak Asta dengan nada datarnya.
__ADS_1
Sementara itu, di dapur, Vania sedang membuatkan secangkir kopi hitam untuk Sony.
“Bu, Vania mau ijin pergi liburan sama Mas Sony ke Bromo.” Ujar Vania pada Bu Jasmine yang sedang memasak untuk sarapan.
“Kapan Nduk? Sekarang?”
“Iya Bu,” jawab Vania sembari menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir.
“Memangnya kamu tahan Nduk? Di sana pasti dingin banget.”
“Vania ingin sekali ke sana Bu, pemandangannya sangat indah. Kalau dingin, ya tinggal pakai jaket. Hehe ...”
“Yang penting harus jaga diri Nduk, obat-obatan jangan lupa di bawa.”
“Siap Bu! Vania ke depan dulu ya, mau antar kopinya Mas Sony.”
“Habis itu ke sini lagi, bantu ibu mengiapkan sarapan. Sebelum berangkat harus di isi dulu perutnya.”
“Iya Bu.”
🌷🌷🌷
Mobil hitam berhenti tepat di depan rumah untuk menjemput Sony dan Vania. Mereka pun berpamitan pada Pak Asta, Bu Jasmin dan kedua adiknya setelah selesai makan. Sony dan Vania memasuki mobil dan menikmati perjalanan selama beberapa jam, bahkan perkiraan akan memakan waktu hampir tujuh jam. Sesekali mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, bercanda, hingga pada akhirnya mereka merasa capek dan memejamkan matanya untuk beberapa saat.
Jalanan yang padat di kota besar membuatnya sedikit macet karena kebetulan bersamaan dengan week end.
Tak terasa, tujuh jam sudah mereka berada di dalam mobil. Matahari telah berada di ufuk barat mulai tenggelam untuk beristirahat setelah seharian menerangi bumi.
Sesampainya di hotel, Vania dan Sony menuju kamarnya setelah chek in. Hotel berbintang empat itu mempunyai kamar yang mewah, bersih, dan rapi. Tak ketinggalan, Sony meminta tolong pihak hotel untuk menyiapkan paket honey moon di dalamnya. Hingga kamar itu di hias secantik mungkin, terdapat bunga mawar di atas tempat tidur. Juga di setiap sudut ruang, membuat kamar itu berhawa romantis.
Bersambung....
...Hay, reader baik ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
... ♡♡♡...
...Bila berkenan, mampir juga ya di novel author satu lagi,...
__ADS_1
...judulnya MEMELUK KENANGAN...
......Kenalan sama author yuk, follow IG @Ephayunita......