
Mas Sony kenapa tidak membawa baju tidurku?! Katanya sudah di masukan semua?!” pekik Vania dengan nada tingginya.
“Pakai yang ada sayang...” Jawab Sony dengan senyum miringnya. Ia merasa senang karena berhasil mengerjai Vania.
“Tidak ada apa-apa di sini Mas! Hanya ada baju dingin buat besok ke gunung, kaos pun Mas Sony tidak membawanya untukku?! Terus Vania pakai apa coba?!” Vania menjatuhkan bokongnya kasar ke lantai seperti bocah, karena putus asa. Sedangkan Sony, ia masih bersantai di atas kasur sambil memperhatikan film yang di tontonnya.
“Dek, di koper merah paling bawah ada baju panas. Kamu pakai itu.” Ucap Sony sedikit cuek dan menyimpan maksud.
Vania menggeledah dan mencari baju tidur yang di maksud Sony. Begitu terkejutnya Vania mengangkat baju itu, ia bergidik ngeri lalu melemparnya lagi ke koper.
“Mas Sony apa-apaan sih! ini punya siapa?!” di pikirannya Vania baju panas yang di maksud Sony adalah sejenis tank top, ternyata lingerie.
“Itu baju punya kamu sayang, hadiah dari Mas untuk pernikahan kita, di pakai ya, Hehe ...” Sony tersenyum nakal dari tempat tidur.
“Menurutku itu bukan baju Mas! bahannya saja seperti saringan santan begitu!” melirik tajam dan mengerucutkan bibirnya.
“Hahaha... Mas yakin kamu akan sangat cantik jika memakainya!” goda Sony.
Baru juga jadi pengantin sehari Mas, pikiranmu sudah mulai nggak beres. Gumam Vania.
“Dek, mandilah, cepat! Mas juga gerah. Apa kita harus mencoba mandi bersama?”
“Dih, ogah!” Pekik Vania, ia langsung kabur ke kamar mandi, menutup rapat pintu dan menguncinya. Sony masih sama, masih menertawakan istri kecilnya yang lucu itu.
Vania keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono yang di sediakan oleh hotel. Tak ada pilihan lain karena ia tak di bawakan baju tidur oleh Sony. Dengan wajah kesal ia melangkahkan kakinya ke ranjang dan menjatuhkan tubuhnya.
__ADS_1
Brukk
“Dek, pelan-pelan. Masa begitu cewek kasar begitu duduknya?!”
“Mas nyebelin!”
“Mas mau mandi dulu ya, jangan ngambek. Maafkan Mas, kalau tidak mau pakai baju tidur tadi, pakai kaos punya Mas.” Ucap Sony meninggalkan Vania, ia bergegas mandi tanpa mendengar respon dari Vania. Terang saja, Vania masih kesal dan tak mau menjawab kalimat Sony.
“Dek, sudah tidur?” Sony mengelus pipi Vania lembut. Setelah selesai mandi, Sony mendekat ke arah Vania yang berpura-pura tidur, rasanya tak sanggup jika terus berakting. Ia menahan malunya dan berharap Sony tak membuka bed cover yang menyelimuti tubuhnya.
“Tidurnya jangan pakai handuk, Dek. Ini Mas ambilkan kaos Mas yang agak kecil. Bangun dulu sebentar.” Sony masih berusaha membangunkan Vania dengan mengelus rambut, pindah ke pipi, dan....
“Dek, kamu ... ” kejut Sony saat ia menyingkap selimut tebal itu, ia sangat terkejut ketika Sony melihat Vania memakai lingerie yang tadi ada di koper.
Dengan suka rela Vania memakainya karena ia sadar, ia telah salah bersikap kasar pada Sony hanya karena baju tidur. Padahal ia sudah menuruti permintaan Vania untuk berlibur ke Bromo. Juga sudah mengorbankan banyak waktu hanya untuk menyenangkannya. Ia mengganti kimononya dengan lingerie saat Sony masih berada dalam kamar mandi.
“Dek, Mas tau kamu masih belum tidur. Buka matanya!” ucap Sony yang berdiri di samping tempat tidur tanpa mengenakan baju, ia hanya menggunakan celana pendek santai.
Bukannya membuka mata, Vania malah menarik lagi selimutnya sampai menutup sempurna tubuhnya. Hanya terlihat kepala saja.
Apa ini tandanya ... dia mau menyerahkan dirinya suka rela kepadaku? Batin Sony. Ia langsung naik ke ranjang, mematikan lampu terang dan menggantinya dengan lampu tidur. Ia menyibak tubuh Vania dari dalam selimut.
“Sayang ... ” Bisik Sony ke telinga Vania yang tengah membelakanginya. Tak hanya bisikan, ia justru memberikan kecupan lembut ke leher jenjang Vania dan membelai lengan mulusnya.
“Hem ... Mas ... hentikan!” Vania kegelian, merinding merasakan sentuhan bibir Sony yang baru kali ini ia rasakan di lehernya. Ia berbalik dan menyentuh kedua pipi Sony, netra itu memandangnya lekat hingga dua pasang bola mata itu bertemu.
Dengan sigap, Sony langsung beringsut berpindah posisi, saat ini ia berada di atas Vania. Ia mulai menghujani ciuman ke segala sudut wajah Vania, mulai dari dahi, mata, pipi, juga bibirnya.
__ADS_1
“Apa Adik sudah rela memberikannya pada Mas, sekarang?!” tanya Sony dengan suara serak karena menahan gairah yang sudah mulai bergejolak.
"Tapi aku takut, Mas. Sepertinya akan sangat sakit." ucap Vania.
"Ya sudah, Mas tidak akan memaksa Dek. Kita tidur saja ya, besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat, apa kamu tidak mau melihat sunrise?"
"Iya, Mas. Aku ingin ke sana."
"Tidurlah sayang. Cup!" Sony mengecup lagi bibir Vania yang menjadi candu.
"Mas, maafkan aku. Aku belum bisa memberikan kewajiban sebagai seorang istri."
"Tidak apa-apa sayang, jangan bicara seperti itu. Semua bukan karena nafkah batin, Dek. Memilikimu saja merupakan anugerah terindah dalam hidup Mas. Mas hanya ingin melindungimu dan menjagamu, juga membuatmu bahagia. Jadi jangan pernah minta maaf hanya karena persoalan yang sepele. Paham.!" Ucap Sony pada Vania yang hanya sedang menatapnya.
Malam yang dinanti Sony pun gagal lagi, meskipun gairahnya sudah sangat meningkat. Ia tetap bisa menahannya dan memilih untuk memeluk Vania dalam tidurnya. Keduanya memejamkan mata menghabiskan malam panjang dengan memeluk satu sama lain, merasakan kehangatan dalam malam yang dingin.
🌷🌷🌷
Suara alarm jam di ponsel Vania berbunyi cukup keras untuk membangunkan sepasang pengantin yang masih tertidur lelap menikmati mimpinya. Sony hanya bergerak sedikit tanpa membuka matanya. Dan masih terjaga dalam tidurnya.
Vania merasakan sesuatu yang berat menimpa perut dan kakinya, ia mengerjapkan kedua matanya dan mulai meraih ponsel itu di nakas samping tempat tidur untuk mematikan alarm tersebut. Ia lalu memandangi wajah Sony yang masih tertidur pulas. Memperhatikan wajah mulus suaminya, bahkan pori-pori saja hampir tak ada di sana.
Lelaki tampan ini, sekarang dia adalah suamiku. Aku sangat mencintainya dan aku berharap selamanya akan tetap di cintai olehnya. Sampai kapan pun, jangan pernah berubah, sayang. Vania terus memperhatikan Sony dan menggenggam tangannya erat.
Bersambung....
***
Maaf ya, sebenarnya udah up dari kemarin sore, sayangnya ga di Acc sm NT, karena mungkin terlalu vulgar untuk adeganmalam pertama. Jadi , terpaksa harus revisi dan gagal lagi belah durennya😁😁
...Hay, reader baik ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
... ♡♡♡...
...Bila berkenan, mampir juga ya di novel author satu lagi,...
...judulnya MEMELUK KENANGAN...
......Kenalan sama author yuk, follow IG @Ephayunita......
__ADS_1