
Aku mencoba untuk memejamkan mata, menyenderkan badanku yang cukup lelah, melepaskan semua kesedihan agar tak selalu memikirkan Mas Sony. Ku peluk boneka pemberiannya erat-erat. Sangat nyaman, pikiranku juga semakin tenang. Setidaknya saat ini aku sudah memenangkan hati Mas Sony, aku bisa merasakan ketulusannya dan keseriusannya. Suatu saat nanti oasti aku akan bertemu lagi dengannya, batinku. Aku berudaha menenagkan hati dan pikiranku.
“Din, pindah bentar dong.” Ku dengar suara Ega berbisik cukup keras di dekat Dina. Namun aku enggan membuka mata. Semoga saja Ega tidak mencari gara-gara. Tenagaku sudah habis untuk menangis, sekarang tidak ada energi lagi untuk berdebat dengan Ega.
“Apa sih Ga, udah duduk di tempat kamu sanna!. Vania tidur. Jangan di ganggu.” Ketus Dina yang sangat mengerti keadaanku.
“Siapa yang ganggu sih Din, aku Cuma mau duduk sebelah Vania. Siapa tahu dia nyaman bersamaku.” Jawab Ega dengan kepedeannya.
“Sama sekali TIDAK Ga! Keberadaanmu tidak begitu penting buat Vania. Sudahlah pergi sana. Aku juga mau tidur. Berisik banget.”
“Kamu jahat Din, nggak setia kawan.” Bergegas memutar badan dan kembali ke tempat duduknya.
“Terima kasih Dina sayang. Pintar sekali kamu.” Ucapku lirih.
“Semua tidak gratis ya. Traktir bakso nanti.” Ucapnya sinis sambil tertawa.
“Siap Bos!”
“Kayaknya sudah enggak sedih lagi nih. Dapat kabar apaan memangnya?!” Tanya Dina, yang setengah ingin tahu informasi terbaruku.
“Kalau di pikir-pikir, buat apa aku bersedih terus Din. Meratapi nasib. Yang ada malah membuatku tambah stres. Lagian Mas Sony juga bilang, harusnya aku bahagia bertemu keluarga yang sudah pasti sangat merindukanku.”
“Nah! Itu sadar! Dasar! cowok mulu sih yang di pikirin.” Teriak Dina.
“Sssttt.....jangan keras-keras, nanti kedengaran Ega gawat, bisa-bisa dia ke sini lagi.” Ucapku membungkam mulut Dina.
Setelah perjalanan panjang, waktu salat zuhur bus berhenti di sebuah masjid besar. Kita salat berjamaah dan beristirahat sejenak.
“Hai Van, akhirnya aku bisa melihatmu lagi sendirian, tidak bersama lelaki tua itu.” Kata Ega yang duduk di sebelahku, mengatai Mas Sony dengan bebasnya.
Aku yang sedang memakai sepatu di serambi masjid pun terkejut dengan perkataan Ega yang menyebut Mas Sony ‘tua’. Aku hanya terdiam tak menjawab perkataan Ega. Telinga dan hatiku tak terima, namun mulutku malas menanggapinya. Aku terdiam lalu beranjak kembali ke bus dengan langkah yang lebar.
Seenaknya saja mengatai Mas Sony ku dengan sebutan tua, meskipun selisih sepuluh tahun denganku, menurutku itu tidak begitu masalah. Lebih baik memilih lelaki dewasa yang bisa memanjakanku, mengerti aku. Dari pada yang sebaya, belum tentu ia bisa menerimaku apa adanya.
“Van, kok malah pergi sih.” Susul Ega mengikutiku dari belakang.
“Stop Ga! Jangan mengikutiku.”
__ADS_1
“Van, aku mau bicara. Bisa nggak sekali saja mendengarku?!”
“Enggak! Sana pergi. Kamu hanya selalu menggangguku.”
Aku berjalan lebih cepat, ku urungkan niatku untuk masuk ke bus. Aku berhenti di halaman masjid paling depan, terdapat kursi taman di bawah pohon besar. Di sana terlihat Tyas, Nadia dan Dela sedang berkumpul.
“Seru banget. Lagi ngmongin apa sih.” Tanyaku berbaur duduk di sebelah Tyas.
“Lagi ngomongin kamu Van, ha ha ha.”
“Eh kok aku?! Ada apa denganku? Dosa tahu hobi gibah. Ha ha ha.”
“Van, kamu sudah putus sama Ega? Terus lelaki tadi pacar barumu?!” tanya Nadia yang memang bukan rahasia umum lagi aku berpacaran dengan Ega sebelum pergi magang.
“Iya, tapi ya sudahlah jangan dibahas. Malas mendengar namanya kalian sebut-sebut.” Jawabku menghindar untuk.pembahasan Ega.
“Yah, padahal kita ingin tahu kenapa kalian bisa putus, tahu nggak, kalian itu sebenarnya serasi, cocok banget loh.” Ucap Dela.
“Kalau aku cerita penyebabnya, otomatis aku akan membela diri dan mencari kebenaranku. Dan kalau kalian tanya Ega, pasti dia juga akan sama, mencari pembenaran untuk dirinya. Jadi lebih baik kalian tidak usah tahu. Dari pada pertemanan kita semua tercampur dengan masalah pribadi. Benar begitu para gadis?! “ jelasku tersenyum seperti merasakan kemenangan karena bisa menutup rahasia soal hubunganku.
“Nggak seru kamu Van, gitu aja masa nggak mau cerita sih.” Ucap Tyas.
“Males banget Yas, sudahlah mending bahas yang lain. Misalnya, bagaimana magang kalian? Apakah seseru cerita kehidupanku selama magang?! Hahaha.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kalau aku ya begitu-begitu aja sih. Tidak ada yang menarik.” Sahut Tyas.
“Kalau aku seperti kamu Van, berkenalan dengan staf hotel dan saat ini aku sedang berpacaran dengannya. Bahagia banget ya rasanya, jadi semangat berangkat magang. Tapi sekarang aku juga merasakan kesedihan sepertimu.” Lanjut Dela.
“Serius Del? Ah ternyata memang lingkungan kerja banyak yang cinta lokasi ya. Ha ha ha,,, kalau kamu Nadia?!”
“Aku sih malah sempat dekat dengan suami orang. Hehe... lebih keren enggak tuh!” timpal Nadia yang begitu antusias.
“Dih serem amat Nad, hati-hati jangan sampek jadi pelakor loh!” ucapku pada Nadia. “
__ADS_1
“Aku tuh dekat dengannya sekitar dua bulan awal magang Van, tapi begitu aku tahu dia sudah punya anak istri, aku langsung menjauh. Gila kali aku masih nekat lanjut. Aku tidak mau nanti ketika aku menikah, hal itu terjadi padaku. Hukum alam berlaku cuy. Ha ha ha.”
“Pinter, jangan lagi-lagi deh dekat sama suami orang. Cari mati iya.” tegasku seperti sok dewasa.
“Naik yuk. Sepertinya sudah pada naik ke bus.” Ajak Dela.
“Ayoklah. “
Di dalam Bus,
“Ega, ngapain di situ?! Pergi ke tempat kamu. Jangan cari perkara deh!” kulihat Ega sedang duduk santai di kursiku.
“Sini Van, duduk di sampingku.” Menepuk kursi kosong sebelah Ega yang tadinya di tempati Dina.
“Ogah. Pergi nggak?!” aku mulai emosi.
“Kalau kamu tidak mau pergi ya sudah, bukan masalah. Aku bisa cari tempat lain. Jangan kira aku mau dekat-dekat denganmu lagi.” Ucapku sinis.
“Van, kamu tega banget sih, apa kamu tidak ingat kenangan manis kita? Kamu dulu begitu lembut. Sekarang kenapa jadi kasar begini setelah mengenal lelaki tak guna itu?!”
“Cukup Ga. Jangan bawa-bawa Mas Sony. Terserah kamu kalau memang membencinya. Tapi aku tidak suka kamu terus menyalahkannya, jangan jadikan dia sebagai alasan kemarahanmu.” Aku mulai terpancing emosi daan meninggikan suara.
“Buka mata kamu Van. Apa kamu tidak melihat seberapa besar cintaku? Dari awal kamu masuk, aku sudah memperjuangkanmu. Apa itu belum cukup untuk kamu mengerti?” terang Ega membela diri.
“Apa aku meminta perjuanganmu? Apa aku memberimu harapan? Tidak kan? Dari awal aku sudah bilang, kalau aku tidak memiliki rasa terhadapmu. Tapi kamu tetap keras kepala berusaha untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Sampai akhirnya aku pasrah karena sudah terlalu lelah dengan semua drama yang kamu buat.
Asal kamu tahu Ga, cinta itu tidak bisa di paksakan. Harusnya kamu merelakan orang yang kamu cintai itu bahagia. Bukan menyiksanya. Apa kamu mengerti?!” Kuberanikan diri untuk mengeluarkan semua unek-unekku selama ini yang terpendam, tadinya aku merasa kasihan dengan Ega. Tapi kalau begini terus, aku yang semakin tersiksa. Aku tidak bisa hidup tenang karena Ega terus mengejarku.
***Bersambung....
.
.
.
"***jangan lupa tinggalkan jejak ya guys,
like,,komen, dan vote***."
terima kasih sudah mampir ke karyaku, semoga kalian suka.
__ADS_1
HAPPY READING❤❤💚💚***