
“Baiklah aku tidak akan berbicara dengan Ega sekarang. Tetapi perlu kamu ingat Leo, suatu saat nanti aku pasti akan membalaskan semua perbuatannya. Akan kuingat semua kesalahan-kesalahannya yang dia pernah lakukan ke Vania.”
“Iya Mas Sony, aku paham.” Duh kenapa Mas Sony semenakutkan ini ya ternyata, apa dia begitu mencintai Vania hingga dia sangat khawatir kepadanya. Bahkan sedikit pun dia tidak terima Vania di sentuh lelaki lain, beruntung sekali Vania mendapatkan Mas Sony. Aku saja lelaki bisa melihat ketulusannya, apalagi Vania. Batin Leo.
Ponsel Vania berdering tak lama setelah Leo selesai telepon.
“Mas Sony Video call Din. Tumben sekali, biasanya malam.” Ujar Vania melirik ke arah Dina sambil melihat layar ponsel yang di pegangnya.
“Coba angkat dulu. Siapa tahu penting.” Balas Dina.
“Assalammu’alaikum Mas...” sapa Vania menatap layar ponselnya yang terlihat wajah lelaki tampan itu sambil sibuk menata rambutnya yang sedikit berantakan.
“Wa’alaikumsalam Dek, Adik baik-baik saja?!” tanya Sony tanpa basa basi berusaha berkata lembut meskipun sangat khawatir.
“Aku baik-baik saja kok Mas, memangnya kenapa?” jawab Vania sedikit gugup pura-pura santai.
“Apa yang dilakukan Ega sama kamu Dek?” ketus Sony mulai tidak bisa menyembunyikan ekspresi marahnya.
“Jawab jujur Dek, apa yang sudah Ega buat?!” lanjutnya mencecar.
“Mas, Mas Sony tidak perlu marah, aku kan tidak apa-apa.” Vania tersenyum enggan bercerita kejadian di tengah danau tadi.
“Mas-,, dari mana Mas tahu soal Ega? Dia cuma,,,, dia cuma mengajakku naik perahu Mas.” Jawab Vania sedikit gugup menjeda perkataannya.
“Mas benar-benar tidak habis pikir dia berani berbuat seperti itu Dek. Dulu Adik sempat bilang Ega sangat menyayangimu, tapi apa nyatanya. Dia dengan entengnya mau membuatmu celaka, harusnya dia lebih bisa memahamimu. Mas yakin dia akan bisa berbuat nekat lebih dari ini. Dia sangat memaksakan kehendaknya. Bisakah Adik jauh-jauh darinya?” terlihat wajah Sony dari layar ponsel Vania, tampak begitu marah namun tetap berusaha sabar.
“Aku selalu menjauhinya Mas, tapi dia yang selalu mendekat. Dan lagi kita satu kelas, satu sekolah. Susah untuk menghindar Mas.” Jawab Vania menggerutu.
“Mas paham Dek, Mas hanya takut Adik kenapa-kenapa. Mas merasa tidak berguna sekarang. Tidak bisa berbuat apa-apa di saat kamu kesusahan. Mas tidak bisa melindungimu, tidak bisa menjagamu. Mas sangat kecewa pada diri Mas sendiri.” Ujar Sony dari hati terdalamnya.
“Mas tidak perlu berpikir seperti itu, aku senang Mas sangat perhatian. Walaupun jauh tapi sedikit pun tidak pernah melupakanku. Menanyakan kabarku. Aku bahagia Mas.” Masih memegangi ponselnya dan tersenyum manis.
“Dek, apa perlu Mas menyusul ke situ? Agar Mas bisa menjagamu setiap saat. Mas benar-benar ingin di sampingmu.” Ucap Sony merengek melas.
“Mas! tidak perlu. Buat apa? Kan Mas Sony kerja.” jawab Vania lugas. Kalau di pikir-pikir Vania sangat ingin di. Dekat Sony, namun jika ketahuan orang tuanya dia pasti akan di marahi karena pacaran sebelum waktunya. Apalagi kekasihnya sudah cukup dewasa. Orang tua mana yang tidak khawatir.
__ADS_1
“Baiklah tapi jangan salahkan Mas kalau nantinya berubah jadi posesif ya Dek.” Ucap Sony tersenyum.
“Aku terima dengan senang hati Mas. Posesifmu kebahagiaanku. Hahaha.” Tawa Vania terlihat bahagia hingga melupakan rasa lemas dan gemetar yang ia rasakan sebelumnya karena efek menaiki perahu.
“Ya sudah, Mas lanjut kerja dulu ya Dek. Hati-hati di sana. Jaga diri baik-baik ya.” Ucap Sony.
“Iya Mas, terima kasih ya. Selamat bekerja, semangat sayang.”
“Coba ulangi lagi Dek,” perintah Sony begitu mendengar Vania memanggil sayang. Karena jarang sekali dia memanggilnya dengan sebutan itu.
“Semangat sayang,” Vania lalu mengulangi kata-katanya. Terlihat senyum merekah Sony dari layar ponsel Vania.
“Terima kasih sayang.” Ucap Sony sambil memperlihatkan tawa bahagianya yang seolah membuat jantung Vania berdetak hebat. Meskipun senyum itu sering ia terima namun Vania masih saja jatuh cinta dengan pesona Sony. “Assalammualaikum,” lanjut Sony menutup telepon setelah Vania menjawab salamnya.
Vania yang baru saja menaruh ponselnya tersenyum sendiri seperti orang yang lagi kasmaran. Dina yang melihatnya ikut senang dengan kebahagiaan yang Vania dapatkan sekarang dengan Sony, meski jarak jauh tetapi sangat menjaga hubungannya dengan baik. Bukan seperti sepasang kekasih pada umumnya yang jika berjauhan akan selalu menimbulkan konflik.
.
.
“Son, temui Om sekarang di atas. Sekarang ya, Om tunggu.”
“Siap Om.”
Sony yang baru saja selesai menghubungi Vania meletakkan ponselnya di meja kerja Pos Security, dia menerima pesan singkat dari Om Irawan menyuruhnya untuk menemuinya di lantai paling atas tempat Omnya bekerja dan juga beristirahat. Dia segera bergegas menuju lift, menekan tombol lima. Dia memastikan tidak ada orang satu pun yang melihat atau mencurigainya jika dia menemui Pak Irawan, sang pemilik hotel. Karena semua karyawan tidak ada yang tahu tentang Sony yang ternyata keponakan dari Pak Irawan.
“Assalammualaikum Om.” Sapa Sony membuka pintu setelah mengetoknya.
“Waalaikumsalam ,masuk Son. Sini, om mau bicara.” Menyuruh Sony untuk duduk di sofa santai Pak Irawan yang terletak di dalam ruangan.
“Ada apa om?” Sony menyenderkan kepalanya di Sofa.
“Son, sepertinya kamu tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Om harus pergi ke Jakarta dan Surabaya untuk peresmian hotel baru. Om tidak bisa lagi menghadle yang di sini, om minta tolong sama kamu secepatnya kamu gantikan posisi om, om serahkan semuanya sama kamu.”
__ADS_1
“Hah?! Kenapa secepat ini om? Buru-buru sekali. Sony belum siap.” Ujar Sony menghela nafas panjang.
“Son, ayolah. Bukankah kamu sudah berjanji pada om, apalagi kamu juga sudah menanda tangani surat kesepakatannya. Apa yang kamu pertahankan jadi security? Om masih tidak habis pikir.”
“Om, aku suka posisiku sekarang. Rasanya berat sekali untuk beralih profesi. Apalagi dengan tanggung jawab yang begitu berat.” Keluh Sony.
“Son, kamu tenang saja. Om akan mengirimkan orang yang akan membantumu mengurus hotel ini. Dia orang kepercayaan om. Kamu juga mengenalnya, sekarang dia masih di Jakarta, mungkin besok dia akan berangkat ke sini.” Jelas Pak Irawan menenangkan Sony.
“Siapa dia om?” tanya Sony penasaran.
“Teman kamu dulu. Besok juga kamu akan tahu.” Pak Irawan menggantungkan jawaban.
“Baiklah kalau begitu om, tapi nanti bagaimana dengan karyawan di sini? Apa mereka akan menerima Sony?”
“Suka atau tidak suka, terima tidak terima, kamu tetap akan menjadi pemilik hotel ini. Jadi kamu berkuasa atas apa pun, bahkan kamu bisa memecat orang yang kurang ajar sama kamu. Jadi jangan terlalu bawa hati kalau berbisnis. Paham?” terang Pak Irawan memperingatkan Sony karena Pak Irawan tahu sifat keponakannya yang selalu kasihan dengan siapa pun.
“Baik om, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Sony tidak akan mengecewakan om.” Ucap Sony mulai menunjukkan rasa percaya dirinya.
“Itu yang Om suka dari kamu Son. Tetap semangat ya, om yakin kamu pasti bisa mengurus dan mengembangkan hotel ini menjadi bintang lima.” Pak Irawan tertawa dan menghampiri Sony menepuk-nepuk bahunya.
“Sebenarnya hotel bintang tiga ini juga sudah cukup besar om, mengelolanya saja juga penuh perjuangan, apalagi bintang lima, pasti akan membutuhkan skill yang pro. Tapi Sony akan tetap mencobanya, demi om.” Sony tersenyum penuh keyakinan.
“Om percaya kamu pasti bisa, kamu punya ilmu dan kamu juga lulusan terbaik. Jadi om tidak meragukan kemampuanmu sama sekali di bidang ini.”
.
.
.
Bersambung..
Maafkan author yang 3 hari tidak up ya, dikarenakan sangat sibuk lebaran. Insyaallah Akan rajin up lagi..
Terima kasih yang sudah setia menunggu....💚🤗😍😍
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,
Like, komen dan vote kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1