Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Rumah Sederhana


__ADS_3

“Mas...” Vania membuka matanya perlahan lalu mengerjapkannya, memastikan jika wajah Sony memang sangat dekat dengannya saat ini. Hanya beberapa senti, hampir tak berjarak.


 


“Tidurlah sayang, maaf, Mas membangunkanmu, ya?” ucap Sony lirih lalu sedikit menjauhkan wajahnya.


 


“Nggak kok Mas, aku cuma kaget aja kenapa tiba-tiba aku di dialam mobil.” Ujar Vania setengah sadar ketika terbangun dari tidurnya.


 


Sony tersenyum melebarkan bibirnya. “Kan, memang sedang di mobil Dek, lupa?”


 


“Sepertinya nyawaku belum terkumpul Mas, hehe...” Vania tersenyum imut seperti di buat-buat.


 


“Tidur lagi Drk, nanti kalau sudah sampai, Mas baangunin kamu.”


 


“Sejarang udah nggak ngantuk kok Mas, aku temenin kamu aja ya. Biar nggak kesepian. Ada yang diajak ngobrol.


 


“Ya sudah kalau begitu, taoi kalau memang masih ngantuk jangan di tahan ya, Dek?”


 


“Oke Mas.”


 


“Mas, mau minum?” Vania membuka botol minum yang ia bawa lalu memberikannya ke Sony. Ia langsung mengarahkan ke bibir manisnya, dan meneguk air putih yang ada di dalamnya.  


 


“Dek, mau makan dulu? Pasti lapar, tadi belum sempat sarapan, kan?”


 


“Belum lapar Mas, nanti aja makannya kalau udah sampai kota.”


 


“Serius? Nanti perutnya sakit?”


 


“Nggak Mas, aku lagi males mampir-mampir. Nanti saja ya?”


 


“Baiklah kalau begitu.”


 


Sepanjang jalan yang mereka lewati terasa sangat cepat karena di lalui dengan penuh cinta, penuh kesenangan. Rasanya capek di badan Sony pun tak di rasa, hilang begitu saja, meskipun jarak yang di tempuh cukup jauh dan memakan waktu cukup lama. Sekitar lima jam perjalanan menunu kota Daerah Istimewa.


 


Vania tak henti- hentinya memandang wajah Sony dengan bangga tanpa kedip. Ia merasa sangat beruntung di miliki oleh lelaki tampan seperti Sony, bahkan ia lelaki yang sangat baik.


 


“Ehem! Dek, kenapa menatap Mas seperti itu?” Sony melirik Vania yang sedang mengadahkan dagunya di tangan kanannya.


 


“Nggak pa-pa Mas, seneng aja bisa lihatin Mas sampai puas. Akhirnya kita tidak LDR lagi.” Vania terkekeh setelah mengucapkan kalimatnya.


 


Tanpa jawaban, Sony hanya tersenyum manis. Lalu menggenggam tangan Vania, menuntunnya ke arah bibir Sony. Lalu mencium punggung tangan Vania.


 


🌿🌿🌿


“Sudah sampai Mas?”


 


“Sudah Dek, turun yuk.”


 

__ADS_1


“Loh Mas, ini kan? Kok ke sini? Mas nggak antar aku ke kost?” Vania terkejut begitu mobil berhenti tepat di depan rumah kontrakan Sony yang dulu.


 


“Iya Dek. Masuk dulu.”  Sony lalu turun dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu Vania. Menggandeng tangannya seolah kekasihnya takut hilang. Mereka berjalan dan Sony merogoh kunci pintu rumah itu di sakunya. Setelah pintu terbuka, Sony mempersilahkan Vania masuk seperti tuan putri.


 


“Mas, kok berubah?” Tanya Vania sambil matanya fokus mengabsen sekeliling ruangan. Mulai dari sofa, pajangan-pajangan serta cat di dalamnya yang beru ah menjadi warna cerah.


 


“Iya Dek, Mas sengaja mengubahnya sedikit agar Adik lebih nyaman.”


 


“Aku? Maksud Mas?!” sesaat mata Vania berpindah menatap Sony lalu kembali meneruskan menyapu setiap sudut ruang yang berubah menjadi lebih luas juga lebih lengkap tatanannya.


 


“Adik mau kan, tinggal di sini?”


 


“Hah? Berdua sama Mas Sony?!”


 


“Ya nggaklah sayang, mas sudah ada tempat tinggal lain sama teman Mas.”


 


“Di mana? Kok aku nggak tahu?!”


 


“Sebaiknya kita makan dulu yuk Dek, Mas pesan makanan, ya?”


 


“Hem...” Vania mengangguk, “Mas, boleh aku masuk ke sana?” ia lalu menatap pintu kamar yang tertutup yang dulunya kamar Sony.


 


“Boleh, mau Mas antar?”


 


 


“Mas, dari mana Mas tahu aku suka warna hijau?! Cantik sekali ini.” Gadis itu terkejut melihat kamar yang berukuran 4x4 itu di sulap menjadi bernuansa hijau segar. Pernak pernik perempuan pun juga lengkap, Sony seakan mengerti semua kemauan dan kesukaan Vania.


 


“Suka sayang?” tanya Sony mengikuti Vania dari belakang dan berhenti di gawang pintu, menyaksikan wanitanya berkeliling di dalam ruangan itu.


 


“Mas, pasti biayanya habis banyak, ya. Seharusnya Mas tidak perlu repot-repot mengganti ini semua. Aku bisa tidur di mana pun dan nggak harus di tempat mewah seperti ini. Sony tak menanggapi ocehan gadis itu, ia hanya memandanginya hingga puas.


Vania terus berbicara di dalam kamar sambil tangannya tak berhenti mengabsen setiap inci furnitur yang ada di dalamnya, matanya terpaku pada satu hiasan unik di dinding yang menggantung fotonya di sana.


 


“Ya ampun Mas, lucu banget.” Gadis itu mengelus bingkai ukiran kayu yang berisi foto mereka juga foto Vania yang bergaya sendiri. Entah, mendapatkan ide dari mana Sony bisa memajang foto berdua mereka ketika sedang jalan-jalan dulu, berselfi serta foto Vania yang bergaya sendiri.


 


“Mas sengaja memasang foto itu, biar Adik selalu ingat Mas. Jangan melirik lagi lelaki di luaran sana.”


 


“Dih, siapa juga yang lirik-lirik Mas.”


 


“Mas percaya,” Sony lagi-lagi tersenyum.


 


“Dek, itu sepetinya makanan sudah datang. Kita makan dulu yuk. Nanti Mas akan bercerita.


 


“Cerita apa Mas?”


 


“Kan, Mas bilang makan dulu Dek. Nanti Mas ceritanya, oke?.”

__ADS_1


 


“Hem...” Vania lalu bergegas keluar dari kamar.


 


Vania dan Sony menyantap hidangan yang mereka sajikan, Sony memesan makanan cukup banyak. Karena dia tahu pasti wanita kecilnya itu kelaparan meskipun gengsi tidak mau bilang lapar.


 


“Mas Sony kenapa selalu banyak sih kalau pesan makanan?! Mubazir tahu Mas.”


 


“Tidak akan mubazir kalau Adik habisin. Makan yang banyak, biar sehat.”


 


Setelah beberapa menit kemudian, benar saja akhirnya semua makanan yang memenuhi meja makan habis seketika. Dua insan yang di mabuk asmara itu sepertinya memang kelaparan.


 


“Mas, aku kenyang. Kenyang banget.” Vania bersender di meja makan sambil.mengelus perutnya yang di rasa seperti hampir meletus.


 


“Alhamdulilllah.” Ucap Sony.


 


“Mas tadi katanya mau cerita? Ayo, aku mau dengar sekarang.”


 


“Kita duduk di belakang yuk Dek.”


 


“Memangnya ada teras di belakang Mas?”


 


“Ada dong, Adik bisa bersantai di sana. Melihat pepohonan dan beberapa tanaman bunga yang begitu menenangkan.


 


Mereka berjalan melewati pintu dapur, di bukanya pintu itu memperlihatkan pohon-pohon yang tertiup angin. Juga bunga yang mulai kuncup. Terdapat kursi di bawah pohon yang semakin menambah keindahan taman kecil itu. Sangat menyegarkan mata.


 


“Mas indah sekali!” pekik Vania begitu melihat pemandangan yang luar biasa baginya.


 


“Duduk sini sayang," Sony menepuk kursi besi panjang di dekatnya. Vania yang berdiri memaku kini mendekat ke arah Sony lalu duduk di sampingnya.


 


“Dek, dari pertama kita kenal, Mas belum pernah bercerita soal keluarga atau pribadi Mas, kan? Sekarang Mas akan ceritakan semuanya. Bukan maksud Mas untuk membohongimu selama ini ya, hanya saja Mas belum sempat menceritakannya. Belum ada waktu yang pas Dek, Mas harap kamu tidak marah atau kecewa sama Mas.”


 


Kenapa jantungku rasanya berdetak sangat kencang? Tak seperti biasa. Aku seperti akan mendengar berita yang sangat penting. Semoga saja aku bisa bersikap sewajarnya dan aku juga berharap apa yang di ceritakan Mas Sony nanti tidak mengubah sesuatu apa pun di antara kita. Semoga...


Bersambung...


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa......


...💚😍💚...


...Happy Reading...


... ...

__ADS_1


__ADS_2