Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Status Istri


__ADS_3

“Dek, handuknya mana?” suara Sony mengejutkan Vania hingga ia reflek berdiri lalu membalikkan badannya. Seperti pencuri yang tertangkap basah.


 


“Astaga! Mas kenapa tidak pakai baju?!” Vania terkejut menutup mata dengan kedua tangannya melihat Sony tanpa baju dan hanya mengenakan celana boksernya. Namun bola mata itu masih sedikit mencuri pandang, mengintip melalui celah jari ia memperhatikan badan Sony yang mempunyai enam kotak.


Ya Tuhan, bagus sekali tubuh Mas Sony. Vania menelan cairan saliva di tenggorokannya.


 


“Kan mau mandi, Dek. Masa bajunya nggak boleh di lepas. Terus kenapa itu matanya di tutup?”


 


“Nggak apa-apa Mas. Malu aja lihat Mas Sony nggak pakai baju. Udah sana masuk kamar mandi, Mas.”


 


Melihat ekspresi Vania yang lucu, Sony malah semakin tertarik untuk menggodanya. Ia memegang kedua tangan Vania dan membuka telapak tangan mungil yang menutup wajah cantiknya. Sony memperhatikan wajah Vania yang mulai bersemu merah.


 


“Buka matanya coba.” Pinta Sony sambil mengulas senyum di hadapan Vania.


 


Perlahan, Vania pun membuka matanya dan melihat keindahan wajah suaminya yang hanya berjarak beberapa senti dengannya.


 


“Dek, kita sudah suami istri. Ke depannya kita juga akan terbiasa tanpa baju, jadi tidak udah malu” Sony terkekeh dengan ucapannya sendiri.


 


Vania membulatkan matanya lalu bergidik ngeri, ia masih belum percaya kini ia sudah mempunyai kewajiban untuk melayani suaminya di ranjang. Kapan saja suaminya akan meminta haknya, dia harus menyerahkan tubuhnya dengan suka rela. Ia terus memikirkan apa yang akan terjadi malam ini di kamarnya.


 


Aku belum siap kalau harus melakukan hal itu, sepertinya itu akan sangat menyakitkan. Menakutkan sekali. Apa Mas Sony nanti akan memaksaku? Namun, sekarang jantungku berdebar bahagia. Mungkin benar cinta membuatku gila, seperti aku saat ini.


 


“Hem ... Mas, sebentar aku ambilkan dulu handuknya.” Vania berkata dengan nada gugupnya, Sony pun terus memperhatikan Vania yang menjauh darinya, berjalan ke arah lemari untuk mengambilkannya handuk.


 


“Ini Mas handuknya. Jangan lama-lama mandinya.”


 


“Kenapa Dek memangnya? Kamu mau kita ... ?” Sony tidak meneruskan kata-katanya dan terus menggoda Vania dengan mengedipkan mata genitnya.


 


“Mas!” Vania melotot dan lagi-lagi bola matanya itu mengarah pada dada Sony. Ah kenapa sih mataku mesum banget. Ya Tuhan ... melihatnya sedetik saja membuatku gemetar. Ia mengalihkan pandangannya karena merasakan desiran hebat jika berdekatan terus dengan suaminya itu.


 


“Maksudku jangan lama-lama karena takut masuk angin Mas. Pikiranmu ke mana sih Mas. Menyebalkan.” Gerutu Vania.


 


“Oo ... Mas kira, kamu sudah tidak sabar melakukan kewajibanmu Dek. Hehe ...”


 


Vania mengabaikan ucapan Sony, ia sengaja menghindar, padahal dalam hatinya terus merasakan ketakutan yang luar biasa. Sony pun beranjak ke kamar mandi dan Vania juga sibuk menghapus make-up yang membuat wajahnya terasa berat.


 


“Duh! Ini kenapa susah banget sih di lepas.” Vania menggerutu sebal karena ia merasa kesulitan melepas zip yang terletak di punggungnya. Padahal ia harus bergerak cepat agar ia bisa mengganti bajunya sebelum Sony keluar dari kamar mandi. Agar Sony tak melihatnya bertelanj*ang.

__ADS_1


 


Beberapa menit berlalu, Vania yang putus asa karena tidak dapat membuka zip nya, kini tengah duduk di meja rias, memandangi wajahnya sendiri. Sejenak ia melamun, ia masih tidak percaya dengan pernikahan kilatnya.


“Aku masih seperti anak kecil, tapi aku sudah menikah. Pasti kebanyakan orang saat ini mengira aku anak yang tau diri, baru lulus sudah menikah. Dan juga, pasti ada lah omongan tetangga yang mengira aku ...? Ah, bodo amat! Yang Penting aku bukannya hamil duluan. Memikirkan hal itu membuatku pusing saja!” ucap Vania berbicara dengan bayangannya di cermin.


 


“Dek, mandi dulu sana.”


 


“Eh Mas! Sudah selesai?!”


 


“Sudah, ngelamunin apa sayang?” Sony menghampiri Vania.


 


“Ah bukan apa-apa kok Mas.”


 


“Apa kamu menyesal menikah dengan Mas?”


 


“Hah?! Tentu saja tidak Mas. Kenapa Mas berpikir seperti itu?”


 


“Mas lihat, kamu seperti tidak bahagia dengan pernikahan ini. Dek.”


 


“Aku suka Mas, suka banget. Aku hanya merasa aneh saja sekarang, di kamarku ada seorang lelaki. Dan, sekarang aku juga sudah berstatus istri.”


 


 


“Dek, Mas tidak mau kamu berpikir terlalu berat tentang pernikahan kita. Mau kita menikah atau tidak, Mas akan berlaku sama. Jadi Mas tidak akan pernah memberatkanmu walaupun kita sudah menikah.” Ucap Sony mengelus pundak Vania.


 


“Mas, akan tetap membebaskanmu melakukan apa pun yang kamu mau Dek, selama itu masih dalam batas kewajaran. Jadi jangan pernah berpikir kalau statusmu sebagai istri akan membebanimu. Mas tidak mau kamu tertekan Dek.”


 


“Terima kasih Mas, tapi aku bukan tipe wanita yang tidak punya prinsip, apalagi sekarang aku sudah menikah. Aku juga punya keinginan untuk hidup bahagia tentu saja aku juga harus mendapatkannya dengan caraku.”


 


“Keinginan? Apa itu Dek?” tanya Sony.


 


“Yang jelas, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku.”


 


Mata keduanya masih saling menatap melalui cermin di depannya. Sony lalu berjalan ke samping dan menarik perlahan kedua bahu Vania, mengajaknya berdiri.


 


“Terima kasih Dek. Mas sangat mencintai kamu.” Sony mencium kening Vania dengan mesra. Vania pun mengangguk lalu ia memeluk tubuh Sony, ia memberanikan diri membenamkan wajahnya ke dada bidang Sony yang tanpa kain sehelai pun meskipun jantungnya berdetak kencang.


 


“Mas, aku mandi dulu ya.” Ucap Vania mengurai pelukannya dan di balas anggukan oleh Sony.

__ADS_1


 


“Mas aku lupa, aku minta tolong.” Vania kembali lagi pada Sony setelah ia berjalan beberapa langkah menuju kamar mandi.


 


“Minta tolong apa sayang?”


 


“Ini, susah sekali di buka.” Vania menunjukkan zip di punggungnya. Ia berusaha menahan malunya jika Sony melihat tubuhnya tanpa kain.


 


“Oh, sini Mas bukain.” Perlahan Sony membuka zip itu dan menurunkannya ke bawah. Terlihat kulit Vania yang sangat mulus.


 


“Sudah Dek, mau Mas bantu melepas semuanya?” Goda Sony.


 


“Tidak. Terima kasih.” Jawab Vania sinis dan mengarahkan lirikannya ke Sony.


 


 Tok ... Tok ... Tok ...


“Dek, kenapa mandinya lama sekali?”


 


“Iya sebentar lagi selesai Mas.” Teriak Vania dari dalam kamar mandi.”


 


Aduh, bagaimana ini. Aku lupa mengambilnya tadi.. Apa aku harus keluar mengenakan baju ini tanpa daleman?  Batin Vania yang merasa gelisah karena ia lupa membawa ****** ***** juga penutup gunung kembarnya. Ia masih mondar-mandir di dalam kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya.


 


“Dek, cepat keluar. Nanti masuk angin.” teriak Sony lagi.


 


Vania terpaksa harus memberanikan dirinya keluar dengan baju piyama yang tipis berwarna putih dengan menyilangkan kedua tangan ke dadanya menutup bayangan bulat di balik baju itu.


 


“Dinginkan? Makanya jangan terlalu lama mandinya, Dek. Sini!” pinta Sony yang sedang duduk di ranjang, menyuruh Vania untuk duduk di sebelahnya karena melihat Vania menyilangkan tangan, ia berpikir Vania sedang merasa kedinginan.


 


.Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 

__ADS_1


 


__ADS_2