Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kasmaran Berulang


__ADS_3

Di restoran lantai dasar, Sony terlihat duduk sendiri termenung, sejenak melihat ponselnya, di pandanginya foto Vania dengan senyumannya yang sangat manis. Menggesernya terus hingga tak terasa sudah ratusan foto ia absen untuk mengobati rasa rindunya yang begitu besar.


Ia mengulas senyumnya tipis hampir tak tergambar seolah terbawa kenangan saat bercanda bersama wanitanya itu. Sungguh manis, gumam Sony sesekali meng-zoom foto gadis imut itu.


Dek, aku sudah tidak sabar ingin selalu bersamamu kelak. Kejadian-kejadian saat kita berjauhan membuatku semakin risau, gelisah tak karuan, aku merasa kamu tidak pernah merasakan ketenangan. Dia selalu mengganggumu, mengejarmu, meskipun Sinta selalu berusaha menggagalkan rencana lelaki pengecut itu, namun aku tetap saja mengkhawatirkanmu. Semoga kamu baik-baik saja ya, Mas selalu mendoakanmu sayang. Tunggu hingga saatnya tiba aku akan memilikimu seutuhnya.


 


Sony mengaduk piring berisi salad sayur yang ia pesan beberapa menit yang lalu, tak lekas melahapnya, ia masih terfokus dengan foto juga video Vania yang masih rapi ia simpan dalam galerinya. Sesekali ia meminum jus alpukat kesukaannya. Waktu jam makan siang ia habiskan di restorannya setelah menjalankan salat zuhur.


 


“Sedang apa sayang?” Sony menulis pesan singkat pada Vania.


 


“Hai Mas, aku sedang di perpustakaan, memikirkanmu...” hanya hitungan detik, Vania membalas pesan Sony. Seperti baru pertama kali merasakan kasmaran, Sony lagi-lagi tersenyum sendiri seperti orang yang tak waras.


 


“Mas, merindukanmu Dek. Sangat rindu, dada Mas rasanya sangat sesak kalau sedang mengingatmu,”


 


“Ih, Mas lebay banget sih.”


 


“Mas serius Dek. Apa kamu tidak merindukan Mas?”


 


“Sangat.” jawab Vania singkat.


 


“Benarkah?”


 


“Iyalah Mas.”


 


“Kapan ujian sayang? Kapan lulusnya? Cepat ke sini, Mas menunggumu.” Keluh Sony manja.


 


“Sabar Mas, nanti kalau sudah waktunya pasti aku akan memberi kabar.”


 


“Ya sudah, belajar yang rajin. Jangan memikirkan Mas terus. Hehe...”


 


“Siap Mas ganteng!” balas Vania terlihat semangat.


 


Tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Vania untuk berkhianat pada Sony. Begitu juga dengan Sony, meski banyak wanita yang mengaguminya di hotel, namun ia tak pernah tertarik, sekalipun itu model yang pernah bekerja sama dengannya. Baginya Vania adalah gadis kecilnya yang paling cantik melebihi apa pun. Namanya juga bucin!


 


Di ruangan Beni terdengar ia sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang, yang tak lain adalah Sinta. Setiap saat selalu menanyakan perkembangan tugasnya dan juga wajib lapor setiap satu jam sekali.


Entah itu bagian dari pekerjaan atau Beni sebenarnya hanya beralasan supaya ia mengetahui aktivitas Sinta. Padahal kalau di pikir-pikir, Sony yang lebih membutuhkan laporan soal Vania saja tidak seheboh Beni, hanya saja ia akan menanyakan seperlunya pada Sinta jika Beni belum memberinya kabar.


 


“Sinta, apa yang kamu lakukan sekarang?” Beni mengirim pesan singkat pada Sinta.


“Saya sedang makan siang Pak.”


 


“Dengan siapa saja?” tanya Beni.


 


“Sendirian.”


 


“Kenapa membalasnya sangat singkat? Coba perlihatkan apa yang kamu makan. Dan jangan lupa juga, kirimi aku foto selfi kamu. Saya ingin melihat belakang kamu apa ada seseorang yang mengawasi.”


 


“Maaf Pak. Tidak ada yang mengawasiku di sini.” Sinta memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, melihat sekitar.


 


“Kirim foto!”


 


Astaga, dasar lelaki aneh! Hampir gila aku di buatnya. Sejak awal menginjakkan kaki di kota ini. Hidupku sudah kacau. Masalah Vania dan Ega sudah sangat menguras energiku. Di tambah lagi spesies satu ini! Pikirannya seperti bukan manusia normal pada umumnya.

__ADS_1


 


Cekrek


Sinta mengambil gambar selfinya dengan senyum manis yang di buat-buat, sepuluh jepretan hanya satu yang bisa ia kirimkan ke Beni.


Aku rasa ini sudah cukup manis. Gila saja, mau berapa kali aku harus perbaiki senyum hanya untuk pria galak seperti dia! Kalau bibirku tidak tersenyum. Sudah di pastikan ia akan langsung menelepon dan memakiku. Kerjaan macam apa ini?! Aku sudah curiga lama ini hanya modus belakamu saja Pak Ben! Dasar buaya.


 


“Kerja yang bagus! Saya rasa cukup aman kamu makan di situ, tidak ada yang mengintai. Kancingkan bajumu itu!” memperhatikan kancing baju bagian dada yang terbuka.


 


“Baik Pak, terima kasih.”


 


Mana ada kerja suruh kirim foto setiap satu jam sekali?! Dan tidak ada juga yang mau mengintai orang makan. Aku hanya terlihat bodoh saja di depanmu. Kalau aku tidak berlagak manis bisa-bisa aku habis dengan makianmu. Untung jauh.


 


"Sebaiknya makan sayur, jangan selalu makan santan dan daging terlalu sering. Tidak baik untuk kesehatan. Kalau makan saja tidak kamu jaga, bagaimana mau kerja dengan baik?!"


"Baik Pak. Besok saya akan mengganti makanan saya."


Sekalian saja nafasku kau atur, biar kamu puas!


***


“Ben! Kau tidak makan?!” tanya Sony begitu memasuki ruangan Beni, tak beda jauh dengannya, ia ketahuan menyunggingkan bibirnya. Memandangi foto seseorang.


 


“Ben! Woy!” Sony menggebrak meja.


 


“Hah! Apaan! Kau mengagetkanku saja.”


 


“Foto siapa itu? Sudah jatuh cinta lagi?!”


 


“Ngarang banget!” sahut Beni meletakkan ponselnya di meja.


 


 


“Bicara apa kamu Ben. Jangan sok tahu.”


 


“Lalu, apa namanya kalau tidak jatuh cinta, dari tadi aku perhatikan kamu terus tersenyum?” goda Sony.


 


 


 “Ada apa kemari?!” Beni mengalihkan pembicaraan.


 


“O iya, kamu bilang aku ada meeting hari ini. Jam berapa?”


 


“Jam dua siang. Sebentar lagi, bersiaplah. Aku akan menyiapkan berkasnya.”


 


“Kau ikut kan?!”


 


“Tentu saja aku ikut, aku ingin cuci mata


 Hahaha, bosen tahu di dalam sini terus!"


 


“Selalu saja begitu. Satu wanita tidak cukup. Insaflah Ben!”


 


“Satu wanitaku,? siapa? aku jomblo. Jadi aku bebas!”


 


 “Terus tadi siapa yang kamu beri senyuman di ponselmu tadi siapa kalau bukan wanitamu?!” Sony membahasnya lagi semakin membuat Beni frustasi. Dia hanya gengsi jika ketahuan dia melihat foto Sinta, sekretarisnya Sony.


 


“Ben, aku mau tanya.”

__ADS_1


 


“Apa?!”


 


“Bagaimana mengatasi rindu?”


 


“Jangan tanya aneh-aneh, geli aku mendengarnya.”


 


“Hahaha!” Suara Sony yang sudah tak lembut lagi itu terdengar keras menggema di seluruh ruangan kerja Beni. “ Bisa jawab nggak?!” sambungnya lagi.


 


“Cium aja fotonya, cium sampe basaah tu HP!” Beni mulai asal dan kesal.


 


“Beda tekstur Ben! Hahaha.”


 


“Kamu sudah sampai mana sama Vania? Hah?! Sepertinya terngiang-ngiang terus.”


 


“Buat apa menanyakan hal privasiku, kenapa ingin tahu? Bukannya kamu pasti juga sudah pernah melakukaknnya?!” selidik Sony dengan tawanya yang masih belum terhenti.


 


“Pembicaraan macam apa ini Son. Sudah gila kamu! Biasanya aku yang hilang akal, kali ini kamu yang sudah tidak waras.” Beni memicingkan mata melihat Sony bercanda tanpa arah tak seperti biasa.


 


“Tidak tahu. Rasanya aku ingin menertawakanmu hari ini.” Jawab Sony singkat.


 


“Sudah ayo berangkat. Nanti telat meeting.”


 


Sony lalu memakai jasnya sambil berjalan keluar dengan Beni. Kedua sahabat itu seperti hidup kembali ketika nyawa mereka saling bertemu. Mengobrol di sepanjang jalan hingga mereka bertemu kliennya di sebuah kafe.


 


 


Bersambung.....


 


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2