Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Acara Selesai


__ADS_3

“Bro, selamat ya! Semoga kalian selalu bahagia.” Ucap Beni sambil memberi pelukan persahabatan. Ia lalu menjabat tangan dengan Vania.


 


“Loh, Bu Sinta?!” sapa Vania begitu melihat sosok cantik dengan gaun silvernya.


 


“Iya Vania, selamat ya, saya senang akhirnya kamu menikah dengan Pak Sony.”


 


“Terima kasih Bu,” jawab Vania.


 


“Sinta, jangan memanggilku Pak. Kita sedang tidak bekerja.” Sahut Sony merasa risih dengan panggilan ‘Pak’.


 


“Lalu saya harus panggil apa?”


 


“Bersikaplah biasa layaknya teman, panggil saja Sony.”


 


“Baiklah kalau begitu.”


 


“Bu, Bu Sinta kok bisa bersama Pak Beni?”


 


“Iya, kami datang bersama.”


 


“Vania masih bingung, maksud Vania ... kok Bu Sinta ada di sini? Apa Ibu mengundang Bu Sinta tanpa sepengetahuanku ya?!”


 


“Hahaha ... tidak Vania, apa kamu belum tahu? Saya bekerja juga di Hotel. Dan Sony mengundangku.” Tutur Sinta.


 


“O, begitu. Kok aku tidak pernah melihat Bu Sinta ya?”


 


“Tentu saja Van, aku bekerja di dalam ruangan dan jarang sekali keluar.”


 


“Son, kita pamit balik dulu ya.”


 


“Loh, kenapa buru-buru. Kita makan dulu, ayo masuk ke dalam.” Titah Sony.


 


“Ah tidak usah Son, lagi pula ada yang harus aku urus di hotel.”


 


“Maaf ya Ben, kamu jadi kalang kabut kerja sendiri.”


 


“Bicara apa kamu Son, kamu tidak usah pikirkan hal itu. selama dia di sampingku, aku merasa tak ada beban ketika bekerja. Hahaha” tutur Beni melirik ke arah Sinta.


 


“Apa sih kamu.!” Rengek Sinta.


 


“Semoga Pak Beni dan Bu Sinta juga cepat menyusul kami ya,” ucap Vania dengan polosnya.


 


“Ya sudah, kalau begitu kita pamit dulu ya Son, Van, semoga kalian bahagia selalu, dan cepat beri aku keponakan! Hahaha ...”


 


“Terima kasih.”

__ADS_1


 


Vania dan Sony pun menatap kepergian Sinta dan Beni. Mereka merasa canggung mendengar perkataan Beni barusan.


 


Ya Tuhan, apa maksud Mas Beni, dia mendoakanku agar cepat hamil? Rasanya aneh sekali pikiranku, membayangkan hal yang tidak-tidak. Apa malam.ini, aku akan melakukan itu dengan Mas Sony? Sangat mengerikan sekali. Gumam Vania.


 


“Apa yang kamu pikirkan, Dek?”


 


“Ah, bukan apa-apa Mas.” Vania mengerjapkan matanya, terkejut ketika mendengar suara Sony yang membuyarkan lamunannya yang konyol.


 


“Duduklah sayang, kamu pasti capek.” Ucap Sony pada Vania setelah acara selesai, tamu undangan satu persatu meninggalkan pesta itu.


 


“Iya Mas, aku sangat lelah.” Ujar Vania sambil mengusap keringat di dahinya.


 


“Mas, ambilkan minum dulu ya, atau mau makan sesuatu?”


 


“Minum saja Mas, terima kasih.”


 


Sementara Sony mengambilkan minuman, Bapak dan Ibu Vania mendekati Vania dan duduk di sebelahnya.


 


“Capek Nduk?” tanya Bu Jasmin.


 


“Iya Bu, kaki Vania pegal-pegal kelamaan berdiri.”


 


 


“Itu Pak, sedang mengambilkan Vania minum.” Jawab Vania sambil menunjuk ke arah Sony yang sedang berjalan ke arahnya. Sony lalu memberikan air minum pada Vania dan Duduk di sampingnya, memperhatikan pembicaraan Pak Asta dan Bu Jasmin.


 


“Nduk, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri dan Sony, kamu juga sudah menjadi seorang suami. Setialah satu sama lain, jika ada masalah selesaikanlah baik-baik jangan selalu menomor satukan ego dan emosi. Bapak dan ibu titip Vania ya Son, tolong jaga dia. Kalau dia salah, ingatkan, jangan pernah mengasarinya karena dia gadis yang sangat lembut hatinya. Kamu pasti sudah tahu itu. Dan Vania, kamu harus menjadi istri yang taat pada suami ya Nduk, jangan pernah sekalipun membantahnya jika itu masih dalam kebaikan. Juga, kamu harus melayani suamimu apa pun itu. Doa Bapak dan Ibu selalu menyertaimu, semoga kalian selalu bahagia.” Pak Asta menasihati Vania dan Sony dengan perhatiannya.


 


“Benar kata Bapak, kalian juga harus ingat kalau setiap rumah tangga itu pasti akan ada bumbu-bumbu yang siap mewarnai kehidupan kalian. Belajarlah saling mengalah, maka Insya Allah semua tidak akan menjadi rumit.” Tambah Bu Jasmin menyambung nasihat suaminya pada anak juga menantunya.


 


“Iya Pak, Bu, Insya Allah saya akan selalu membahagiakan Vania, menjaganya sepenuh hati saya. Terima kasih sudah mengizinkan Sony untuk memiliki dan menikahi Vania.” Ucap Sony dari lubuk hatinya yang terdalam.


 


“Iya, ingat pesan kami selalu ya.”


 


“Iya Pak.:


 


“Sony, ajak Papa dan Mamamu masuk, kita makan di dalam.” pinta Pak Asta sambil mengarahkan matanya pada Pak Gunawan dan Bu Rima yang sedang berbincang asyik dengan adik iparnya.


 


“Baik Pak,” jawab Sony pada Pak Asta. “Ayo Dek, kita ke sana.” Sony menggandeng tangan Vania menghampiri Pak Gunawan, Bu Rima juga yang lainnya.


 


Keluarga  Sony dan Vania berkumpul di ruang khusus untuk makan karena ketika acara hanya sempat makan sedikit. Vania yang masih kaku dan sedikit grogi pada Bu Rima, ia berusaha tetap tersenyum ramah padanya meskipun Bu Rima memperlihatkan wajah cueknya.


 


“Mama tidak makan?” tanya Sony.


 


“Nggak, Mama sudah kenyang. Kalian saja makan.” Ucapnya sinis.

__ADS_1


 


Pak Asta serta Bu Jasmin pun terlihat saling tatap satu sama lain karena mengetahui tingkah Bu Rima.


 


“Ma, jaga sikap kamu!” ketus Pak Gunawan.


 


“Apanya yang salah Pa?!”


 


“Makanlah, hormati orang tua Vania.” Tanpa menjawab, Bu Rima langsung mengangguk disertai senyuman satu detiknya. Hanya berpura-pura ramah.


 


Jamuan makan sudah selesai, kini keluarga Sony pergi meninggalkan rumah Vania untuk kembali ke Jogja.


 


🌷🌷🌷


 


Vania merasakan capek yang luar biasa karena terlalu lama berdiri juga tak berhenti berjabat tangan dengan para tamu. Setelah selesai makan, Vania dan Sony pun memasuki kamar Vania yang telah di hias cantik, penuh dengan bunga-bunga. Semerbak wangi membuat hawa semakin romantis. Sony juga mengikut di belakangnya.


 


Terasa aneh bagi Vania ketika memasuki kamarnya dengan seorang lelaki, meskipun kini Sony sudah sah menjadi suaminya. Ia malu-malu, keduanya terlihat canggung di dalam tuangan yang tak terlalu besar itu, entah apa yang harus mereka bahas, bibirnya seperti kelu dan sama-sama terkunci rapat enggan mengeluarkan sepatah kata pun.


 


“Mas, mau mandi dulu?” ucap Vania setelah ia berhasil berpikir untuk mencari kalimat untuk membuka percakapan.


 


“Ah iya, Mas sangat gerah Dek.” Jawab Sony setelah ia lama terdiam sambil menatap sekeliling kamar Vania.


 


“Tapi airnya dingin Mas, apa mau aku rebuskan sebentar?”


 


“Tidak perlu Dek, lebih segar kalau air dingin.”


 


“Ya sudah, kalau begitu Vania siapkan handuk sama baju gantinya ya, Mas.”


 


“Terima kasih Dek.”


 


Sony pun melepas setelan jasnya dan menggantungnya di dekat pintu kamar mandi. Sementara itu, Vania sedang menyiapkan baju ganti Sony. Ia membuka koper yang di bawa Sony dari Jogja dan mengambilkan satu setel baju tidur.


 


Aduh, bagaimana ini? Apa aku harus mengambilkan itu juga? Melihatnya saja aku sudah dag-dig-dug. Ambil, nggak, ambil, nggak, ambil, nggak. Nggak usah aja kali ya, biar Mas Sony ambil sendiri. Aku benar-benar malu melihat ****** ***** Mas Sony. Membuatku gugup saja. Vania masih berjongkok di depan koper dengan gaun pengantinnya yang masih melekat.


 


.


.Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 


 

__ADS_1


__ADS_2