
Sony menggendong Vania di kedua tangannya, lalu meletakkan Vania dengan hati-hati, perlahan agar Vania tidak terusik dan bangun dari tidurnya yang begitu nyenyak.
Sony lalu memandangi wajah Vania yang ayu, sempurna walau tanpa make up sekali pun.
Sayang, kamu sangat cantik. Bahkan dalam keadaan tidur pun kamu sangat mempesona, bagaimana aku tak jatuh cinta kalau kamu mempunyai paras yang cantik dan hati yang lembut. Walau banyak yang tidak menyukaimu, kamu masih tetap baik padanya dan tidak membencinya. Aku sangat beruntung mempunyai istri sepertimu, sayang.
Sony mengelus pelan rambut Vania dan mengecup keningnya, lalu turun untuk sekedar mengecup singkat bibir Vania yang manis.
“Tidur yang nyenyak, sayang.” Sony lalu meninggalkan Vania di kamar itu. Tak lupa ia menyelimuti Vania dan menyalakan AC.
Vania terbangun dari tidurnya. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, ia lalu menurunkan kakinya, saat ini ia berada di tepi ranjang sekedar mengumpulkan kesadarannya.
Di mana ini, kamar siapa? Kok bisa ada di sini?! Gumam Vania mengingat kejadian sebelum ia terlelap.
Ah iya, ini kamar di ruangannya Mas Sony. Aku ternyata sudah tertidur tadi.
Vania lalu mengecek ponselnya, melihat jam di layar ponselnya, jam itu menunjukkan pukul 14.30.
Lama juga aku tertidur, Mas Sony sedang apa ya... sebaiknya aku mencuci muka dulu baru aku keluar menemui Mas Sony.
Setelah membasuh mukanya, Vania bergegas ke luar kamar, menuju ruang kerja Sony.
“Maasss ... kamu di mana?”
Kenapa tidak ada orang, ke mana Mas Sony? Vania mencari keberadaan Sony di setiap sudut ruang namun masih tak di temukan sosok lelaki yang saat ini menjadi suaminya itu.
“Sayang .....”
Apa Mas Sony di kamar mandi, ya...
Tok... Tok.. Tok...
__ADS_1
“Mas .. Mas Sony di dalam?” Vania menempelkan telinganya di daun pintu kamar mandi untuk memastikan apa Sony ada di dalamnya. Sepi, tak ada suara air sama sekali.
Vania berhenti mencari Sony, ia memutuskan untuk menunggunya, pikirnya Sony tak akan lama meninggalkannya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di sofa di depan meja kerja Sony. Sambil melihat-lihat ponselnya, mengecek aplikasi berwarna hijau terus menerus karena ia menunggu kabar dari suaminya yang tak kunjung membalas pesan darinya dan mengangkat teleponnya.
Satu jam kemudian, Vania mulai bosan ia berpikir untuk keluar dari ruangan itu dan mencari Sony. Namun akal sehatnya lebih dapat berpikir, jika ia keluar maka ia akan dihujani pertanyaan-pertanyaan serta hujatan para karyawan di hotel itu, karena ia begitu mudahnya bisa menikah dengan seorang pemilik hotel. Bisa di bilang Bos besar.
Perut Vania mulai keroncongan,, memanggilnya untuk segera mengisinya makanan, Ah aku harus sabar, aku pasti bisa menahannya, mungkin Mas Sony akan datang sebentar lagi.
Vania mulai lelah, lambungnya yang sudah perih ia tahan hanya untuk menunggu Sony. Nyalinya tak seberani dulu, mungkin jika saat ini ia adalah seorang karyawan biasa. Maka ia akan bisa begitu bebasnya mondar-mandir ke kantin sepuasnya. Namun tidak untuk saat ini, ia memilih menghindar karena takut sakit hati. Di depan Sony ia berlagak kuat, tak menghiraukan ocehan para betina liar di area hotel. Tetapi yang ia rasakan sebenarnya adalah, ia begitu sangat sakit hati mendengar hinaan mereka yang begitu merendahkan harga dirinya. Ia hanya bersikap biasa agar Sony tak memarahi mereka.
Kasihan juga kalau mereka di pecat hanya gara-gara aku.
Vania lalu berjalan ke arah jendela, memandangi hiruk pikuk kota yang terpantau dari ruangan Sony yang terletak di lantai lima. Panas terik matahari yang mulai merangkak turun sedikit menembus kulitnya melalui kaca. Pikirannya kosong, mengarah jauh pada satu titik.
Ceklek
“Sayang... sudah bangun? maaf ya .. Mas meninggalkanmu tadi. Tadi Mas harus menemui klien, Dek.” Sony berjalan mendekat lalu mengelus lengan Vania yang tengah berdiri di depan jendela. Ia lalu menoleh ke samping, ke tempat Sony yang barusan menyapanya.
“Mas, aku menunggumu sangat lama.” Ucap Vania memeluk Sony, meluapkan rasa rindunya karena sedari tadi ia sangat kesepian.
Tiba-tiba tatapan Vania mengarah pada seorang wanita yang berada di belakang Sony. Wanita itu begitu cantik, dan sangat anggun tapi ia terlihat sangat tegas dan mempunyai perawakan cukup tinggi.
Ia melepaskan pelukannya lalu melihat Sony penuh dengan tanda tanya.
Siapa dia? Kenapa Mas Sony memasukkannya ke ruangan ini? Padahal setauku hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kesini.
__ADS_1
“Mas? Siapa dia?”
Wanita itu mengangguk pelan dan tersenyum pada Vania sangat ramah.
“Dia, Mas pesan untuk sesuatu sayang. Mas meminta pada Beni beberapa hati yang lalu dan baru mendapatkannya sekarang.
“Siapa sih? Maksudnya?! Memesan buat apa?” mata Vania membulat sempurna melotot pada Sony penuh tanda tanya.
“Berani sekali Mas membawa wanita Itu ke sini?!”
“Dek, jangan marah dulu. Dengarkan penjelasan Mas dulu.”
"Aku tak mau mendengarnya, sekarang aku mau makan. Aku sangat lapar!" rengek Vania dengan nada sedikit kesal.
"Kenapa tidak menelepon FB Service sayang, kan Mas sudah tinggalkan pesan di nakas. Adik tidak membacanya?"
Sebelum Sony meninggalkan Vania untuk meeting, ia menulis pesan di memo pad untuk menyuruhnya menghubungi restaurant jika ia sudah bangun dan lapar.
"Aku mau Mas Sony yang memesan. Aku tidak mau orang-orang menemuiku ketika mengantar makanan ke sini. Aku takut mereka yang mengenalku akan menanyaiku macam-macam, aku malas menanggapinya."
"Apa Adik sebegitu takutnya pada mereka? apa yang Adik takutkan? jangan cuma gara-gara menjadi istri Mas, Adik jadi berubah. Tidak seperti dulu, gadis yang ceria dan pemberani."
"Semua sudah berbeda Mas. Jadi jangan di samakan." Vania menjawab dengan terus bernada sinis, mengingat perempuan yang di bawa Sony.
"Adik menyesal menikah dengan Mas?!" Tanya Sony dengan memegang kedua lengan Vania, menatap netranya sangat dalam.
"Mas, sampai kapan pun kalimat itu tidak akan pernah terucap dari bibirku. Jadi jangan pernah menuduhku seperti itu."
"Lalu? kenapa Adik seperti menderita menikah denganku?" Sony masih memojokkan Vania dengan pertanyaannya.
Sementara, wanita yang di bawa Sony tadi. Ia hanya berdiam diri di sofa. Mengalihkan matanya ke berbagai arah agar tak terpusat pada dua insan yang sedang berdebat. Ia berpura-pura tak mendengar kegaduhan itu. Menutup telinganya rapat-rapat.
Bersambung....
Tinggalkan jejak Ya Guys.... LIKE, KOMEN, VOTE.
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia membaca Terjerat Cinta Security...❤❤🌷
semoga kita semua sehat selalu