Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Ungkapan


__ADS_3

“Mas, besok kita sudah tidak bisa bertemu lagi. Apakah Mas akan melupakanku?” ucapku setelah meneguk segelas jus jeruk merasakan sesak di dada. Kupandangi wajah lelaki tampan di depanku, yang selama ini mengisi ruang di hatiku. Selalu menolongku dalam kesulitan, selalu ada dikala aku membutuhkannya. Perhatiannya yang begitu nyata membuatku seperti ratu yang seakan tidak pernah merasakan kesakitan.


 


“Dengarkan Mas baik-baik, sampai kapan pun Mas tidak akan pernah melupakanmu Dek, kamu akan selalu di sini.” Menaruh telapak tangan di dadanya. Mengisyaratkan selalu di hati. Tatapannya begitu dalam menembus netra, debaran itu kurasakan. Kata-kata singkat itu bagiku sangat bermakna meskipun keraguan sedikit terasa mengganjal.


 


“Perpisahan bukanlah suatu hal yang menakutkan Dek, anggap saja ini ujian untuk kita. Kelak jika kita di pertemukan kembali, pasti akan menjadi pertemuan yang indah.” Lanjut Mas Sony meyakinkanku agar tidak bersedih.


 


“Iya Mas, tapi bagiku ini sangat menyakitkan. Bukan berlebihan, tapi aku memang sudah nyaman dengan semua ini, apa lagi dengan keberadaan Mas yang selalu di sampingku. Aku terlalu berharap lebih, aku terlalu menikmati perhatian yang Mas berikan. Hingga aku tidak bisa membayangkan jika aku kehilangan semua ini begitu cepat. Apa aku bisa menjalani hidup dengan normal? Tanpa bergantung padamu Mas? Apa aku sanggup berjauhan dengan orang yang kucintai entah sampai kapan aku bisa menemuinya lagi.” Air mataku mulai berjatuhan membanjiri pipi tak beraturan. Kedua tanganku bergerak cepat menutup wajahku yang sudah semakin terisak karena tangis.


 


“Dek, jangan pernah berbicara seperti itu. Kamu pasti bisa kok tanpa Mas, lihat dirimu sebelum berkenalan dengan Mas. Kamu wanita yang kuat, mandiri. Dan Adik juga harus ingat, adik masih muda. Masih harus menentukan arah jalan hidup ke mana harus pergi.” Mas Sony mendekat dan mengelus rambutku. “Sudah ya, jangan menangis lagi. Sayang air matanya jatuh untuk hal yang sebenarnya tidak perlu di tangisi.


 


“Mas, kelak kalau aku sudah lulus, aku ingin kembali lagi ke sini. Apa Mas masih akan tetap sama seperti sekarang ini? Apa Mas tidak akan berubah? Apa Mas mau menemuiku lagi?” tanyaku menyudutkan.


 


“Insya Allah, Mas akan terus seperti ini. Perasaan Mas ke Adik juga tidak akan pernah berubah. Dan kamu tenang saja Dek, Mas akan pastikan jika nanti ada waktu, Mas akan berkunjung ke kota Adik. Bagaimana? Boleh?” tanya Mas Sony.


 


“Serius Mas? Boleh banget.” Pertanyaan dan penawaran Mas Sony seketika membuatku sedikit lebih lega, lebih tenang. Setidaknya masih ada harapan untuk aku bisa bertemu lagi dengannya. Meskipun belum tahu kapan waktu itu tiba.


 


Andai kamu tahu Dek, sesedih apa aku begitu mendengar kamu akan pulang, sebagai laki-laki aku tidak boleh cengeng atau lemah di depanmu. Aku harus menguatkanmu agar kamu tidak semakin sedih. Perpisahan ini bukan hanya membuat jarak, namun juga akan meninggalkan bekas, menyimpan rasa, menahan rindu dan menyiksa batin. Tapi tak mengapa selama kita tetap menjaga hubungan, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Kita serahkan saja kepada yang Maha Esa. Semoga nanti kita di persatukan kembali.


Sony menatap lekat wanita kecil di depannya yang terlihat sedang melamun, melihat ke arah bunga dan pepohonan di sekitar restoran yang bergerak tersapu semilirnya angin malam.


 


Jangan khawatir Dek, Mas akan selalu mendoakanmu dalam sujudku. Semoga nanti kamu akan selalu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah.


“Dek, kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?”


 


“Hm, tidak Mas. Aku hanya takut saja.”


 


“Takut apa Dek?” tanya Mas Sony.


 


“Aku juga tidak tahu Mas apa yang sebenarnya aku takutkan.” Jujur, aku benar-benar merasa takut kehilanganmu Mas. Aku takut kamu berpaling. Aku takut kamu akan menemukan penggantiku. Meskipun kamu janji dan meyakinkanku. Tapi tetap saja ketakutan itu selalu menghantuiku. Apalagi kamu lelaki sempurna buatku, pati tak sedikit wanita yang menginginkanmu. Dibanding aku, aku bukan apa-apa. Aku hanya bocah kecil yang masih sekolah, seolah tak mengenal cinta. Tapi percayalah, perasaanku ini murni tulus menyayangimu Mas.


 


“Tidak perlu takut dengan sesuatu yang nyata Dek.”


 


Ah, kamu tidak mengerti Mas. Apa kamu tidak sedih jika aku pergi? Apa hanya aku sendiri yang merasakan sedih?


Lagi-lagi aku melamun, tanpa kusadari ponselku bergetar sedari tadi. Aku mengambilnya dan betapa terkejutnya aku ketika melihat nama Ega yang tertera di layar itu.


“Siapa Dek? Angkat saja dulu. Siapa tahu penting.”


 


“Tidak perlu Mas, tidak penting kok.” Jawabku berbohong. Menolak panggilannya dan meletakkan lagi ponsel di meja. Kenapa dia menelepon sih? Malas banget mengangkat telepon darinya.


 


“Memangnya siapa? Bapak Ibu? Atau teman kamu?”


 


“Bukan siapa-siapa Mas,”

__ADS_1


Lagi-lagi ponselku bergetar. Kali ini Mas Sony melihat nama yang berkedip di layar ponselku itu. Terbaca jelas nama Ega. “Dek, kenapa tidak diangkat? Angkat saja dulu, tidak apa-apa.”


 


“Malas Mas, lagian kenapa juga sih telepon.” Jawabku sewot.


 


“Dia tidak akan telepon kalau tidak ada perlu Dek.”


 


Ih Mas Sony kenapa sih menyuruhku mengangkatnya, apa dia tidak punya rasa cemburu aku berbicara dengan lelaki lain? Sungguh aneh.


 


Angkat.


Enggak.


Angkat.


Enggak.


 


“Angkat sebentar Dek. Kalau tidak penting baru matikan.”


 


“Oke, oke.”


 


“Halo, ada apa Ga?”


 


“Halo Van, kamu di mana sekarang? Aku sudah di depan kos kamu.”


 


 


“Mau mengajakmu keluar,.”


 


“Tidak bisa Ga. Aku lagi di luar.”


 


“Di mana? Aku samperi n ya? Kamu sama siapa?”


 


“Tidak usah Ga. Kamu ajak saja yang lain.”


 


“Aku menunggu kamu di sini. Cepat balik Van.”


 


“Kenapa sih memaksa. Heran! Di bilang aku tidak bisa ya tidak bisa!”


 


“Terserah. Aku tetap menunggumu.”


 


Aku mematikan telepon yang membuatku emosi itu. “Mas sih, kenapa tadi suruh angkat segala voba. Emosi kan aku.”


 


“Jangan gampang emosi Dek, jangan marah-marah. Nanti itu wajahnya cepat keriput loh.” Goda Mas Sony tertawa bahagia. “Memangnya Ega kenapa?”

__ADS_1


 


“Dia menungguku di depan kos Mas, tak tahulah sampai kapan. Dia mengajakku keluar.”


 


“Terus Adik mau?” bertanya serius.


 


“Iya maulah. Kenapa enggak?!” jawabku sedikit jengkel.


 


“Serius Dek? Mau diajak ke mana?”


 


“Ih Mas, kamu sangat menyebalkan! Mana ada aku keluar sama Ega. Seperti tidak punya pikiran saja.”


 


“Eh kok marah-marah?”


 


“Tidak marah Mas ganteeeeng ... hanya saja jengkel sama paksaan Ega.”


 


“Ya sudah minum dulu, tarik nafas. Biar tidak marah-marah terus.”


 


“Mas, kita pulang jam berapa?”


 


“Sebentar lagi ya Dek.” Mas Sony tiba-tiba panik mencari sesuatu di sakunya.


 


“Mas, cari apa sih?” tanyaku keheranan melihat wajah paniknya.


 


“Astagfirullah, Dek ada yang tertinggal, Mas lupa bawa. Nanti mampir ke rumah Mas sebentar ya.”


 


“Memang apa yang tertinggal sih Mas?”


 


“Adalah, nanti juga tahu Dek. Kita pulang sekarang saja yuk?!” ajak Mas Sony terburu-buru.


 


“Mas aneh banget sih. Tapi tadi katanya Mas mengajakku mau ngomong sesuatu? Kan belum ngomong apa-apa Mas tadi.”


 


“Nanti saja di rumah Dek. Sekarang kita pulang dulu ya. Mas takut lupa taruh.”


 


“Apa sih Mas ya Allah. Aku benar-benar bingung loh.”


 


“Sudah yuk.” Menggandeng tanganku dan berjalan keluar setelah  ke kasir.


 


Aku dan Mas Sony menaiki motor, menelusuri jalan. Menikmati malam terakhir di kota ini, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Semoga hatiku kuat meninggalkan semua kenangan di kota ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2