Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Ketakutan


__ADS_3

“Bagaimana rasanya Van?” tanyanya menggoda dan masih belum berhenti tertawa.


 


“Kamu tahu Din?! Kamu itu teman yang paling menyebalkan! Cukup ya! Jangan di bahas.” Aku memarahi Dina dengan menahan tawa.


 


“Pantas saja itu bibir jadi merah merona dan terlihat mengkilap. Padahal lipstiknya sudah hilang. Ha ha ha.”


 


“Dina! Ih resek banget!”


 


“Habis mukamu lucu banget Van. Aku penasaran san tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kamu saat berciuman. Asli ngakak banget.”


 


“Enggak lucu Din. Stop! Aku marah nih.”


 


“Marah saja! Sana balik ke kamar! Aku juga enggak bakalan mau bantu kamu nanti. Wleekkk!” mengeluarkan lidahnya dan terus mengejekku.


 


“Iya ya, ih. Dasar mak-mak suka ngambek.”


 


“Aku serius tanya Van, kamu yakin cuma ciuman doang? Enggak kebablasan kan?!” menatapku dalam-dalam membuatku terpojok.


 


“Ya Allah Din enggak percaya banget sih! Iya cuma itu sama pelukan saja kok. Aku juga tahu batas kali. Lagi pula Mas Sony juga tidak akan mungkin melakukan hal yang lebih.”


 


“Apanya yang tidak mungkin. Lelaki itu semua sama. Kalau di suguhi sesuatu yang menarik di depannya pasti tidak akan di sia-siakan, apalagi Mas Sony kan sudah berumur, dewasa. Pasti bakal ke arah sana deh.”


 


“Heh! Sembarangan! Maksud kamu apa coba berpikir negatif soal Mas Sony. Aku tidak menyuguhi dan Mas Sony juga menjagaku, dia tidak akan berani macam-macam Din, gila ih.”


 


“Halah, dia saja sudah berani menciummu Van, pasti dia bisa berbuat lebih.” Ucap Dina yang begitu meyakinkan.


 


“Sudahlah. Lagian besok juga sudah tidak ketemu lagi dengan Mas Sony.” Menyudahi debat.


 


“Iya juga sih. Terus tadi kamu ketemu Ega enggak di depan?!”


 


“Ketemu tadi. Dia menungguku di depan kos. Gila banget masa memaksaku untuk pergi jalan-jalan. Padahal sudah jam sebelas. Dasar keras kepala.”


 


“Tapi tidak berantem kan dengan Mas Sony?”


 


“Hampir. Gara-gara Ega tadi menyentuh pipi dan bibirku. Sangat menyebalkan. Mas Sony langsung teriak tuh. Tidak rela aku di sentuh Ega, katanya. Hihihi ...”


 


“Dih, lebay banget!”

__ADS_1


 


Akhirnya membereskan pakaian Dina selesai juga. Kini pindah ke kamarku untuk bergantian merapikan. Beruntungnya punya sahabat seperti Dina, bisa saling bantu dan mendukungku dalam hal positif.


 


“Jaket ini, aku akan memakainya besok Din. Lumayan bisa mengobati kalau kangen.” Ucapku sambil memeluk jaket hitam Mas Sony yang sering dipakainya.


 


“Kamu pakai itu kaya orang-orangan sawah Van. Enggak pantas. Gede banget.” Kaya Dina jujur.


 


“Ya, buat dipeluk saja kalau begitu. Kalau di bus kan nanti pasti AC nya dingin. Jadi bermanfaat bisa menghangatkan tubuhku, seperti pelukannya.


 


“Din, rasanya kenapa berat banget ya meninggalkan kota ini. Sedih jadinya.”


 


“Kamu itu bukan berat meninggalkan kotanya. Tapi berat meninggalkan Mas Sony. Dasar alasan!”


 


“Eh tapi di hotel pun aku juga sudah nyaman banget Din, bukan Cuma karena Mas Sony juga kali.”


 


“Tapi 90% ya karena Mas Sony lah. Iya kan?”


 


“Terserahlah.” Jawabku singkat.


Memang tak bisa dipungkiri rasaku terhadap Mas Sony begitu besar. Seharusnya aku bahagia bisa menyelesaikan tugas magang setelah enam bulan. Kepulanganku kali ini pasti menjadi sesuatu yang sangat di tunggu-tunggu oleh ayah, ibu, adik dan keluarga lainnya. Ya, aku bahagia karena aku sangat merindukan mereka. Apalagi sebelumnya aku tak pernah pergi jauh dan berpisah dengan orang tua. Ini pertama kalinya aku di lepas dan hidup di kosan


 


Alarm pukul 05.00 berbunyi, menimbulkan suara cukup keras menggema di setiap sudut kamar kecilku. Aku bergegas mandi kemudian salat subuh dan Dina juga kembali ke kamarnya. Penjemputan masih pukul sepuluh nanti. Waktu yang masih cukup lama kugunakan untuk pergi sarapan di luar dengan Dina sekalian mampir ke pusat oleh-oleh sekedar membeli makanan dan juga pajangan kenang-kenangan buat keluarga di rumah.


 


Jam menunjukkan pukul 09.00, semua barang yang di kamar di keluarkan dan di siapkan di ruang depan agar mempermudah ketika bus datang.


Aku terus memandangi ponselku, aku menunggu kabar dari Mas Sony. Berharap dia akan datang menemuiku sebelum aku berangkat.


“Mas, apa masih sibuk? Masuk sift apa?” kutulis pesan singkat untuknya.


 


“Dek, sebentar lagi ya. Sekarang Mas masih ada urusan.” Balas Mas Sony.


 


“Aku berangkat jam sepuluh Mas. Aku menunggumu.”


"Iya Dek, sabar ya sayang."


"Mas, boleh aku meminta parfum kamu?"


"Hah? buat apa?!"


"Tolong dibawa ya nanti."


"Oke sayang."


 


Kujatuhkan badanku di kursi depan, di ruang santai. Lagi-lagi otakku berpikir, bagaimana jika nanti Mas Sony tertarik pada wanita lain yang lebih sempurna. Bagaimana nanti jika Mas Sony tidak mengenaliku lagi? Bagaimana jika nanti dia melupakanku? Melupakan semua rasa yang kita pernah kita miliki? Aku begitu takut. Tak tahu kenapa aku harus segelisah ini.


 

__ADS_1


“Assalammu’alaikum,” suara Mas Sony terdengar di depan kos dan mengetuk pintu. Dengan sigapnya aku berlari menemuinya. Kubuka pintu dan aku seperti gila, dengan langkah cepat aku menghambur ke arah Mas Sony. Aku memeluknya erat. Padahal di tuang santai juga ada Dina, Kiki, dan Widya. Entahlah setan apa yang merasukiku hingga aku seberani itu melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.


 


“Dek, lepaskan dulu. Jangan seperti ini. Tidak enak dilihat teman kamu.” Ucap Mas Sony berbisik di telingaku.


 


“Mas, aku, aku senang kamu datang.” Air mataku tak sengaja menggenang dan lolos begitu saja.


 


“Hei, kenapa menangis sayang. Katanya senang Mas datang. Harusnya senyum dong.” Mengusap air mataku dengan ibu jarinya.


 


“Aku akan pergi Mas, kamu tahu apa yang kupikirkan? Aku begitu takut. Lagi-lagi pikiranku kalut, menakutkan sesuatu yang harusnya tidak terjadi.” ucapku lirih memandang lekat netra Mas Sony yang berdiri di hadapanku.


 


“Dek, berapa kali Mas harus bilang. Adik tidak perlu memikirkan sesuatu yang hanya akan membuat takut. Cukup pikirkan, bahwa aku tetap di sini. Tetap menunggumu. Dan rasaku akan sama sampai kapan pun. Percayalah.” Ucapan Mas Sony yang begitu meyakinkan, namun tetap saja kegalauanku masih sama.


 


“Mas, janji?”


 


“Iya Dek, Mas janji. Insya Allah kalau jodoh, nanti kita pasti di persatukan kembali. Mas menyayangimu, dan Mas akan menjaga cinta kita sampai kapan pun.” Ucap Mas Sony serius dan memegang atas kepalaku.


 



“Iya Mas, aku juga sangat menyayangimu.” Balasku dengan senyum kecil bercampur air mata.


 


“Van, Bu Triana sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi sampai.” Teriak Dina yang duduk di kursi depan TV agar aku bersiap.


 


“Iya Din."


 


“Dek, Mas ada sesuatu buat kamu.”


 


“Apa Mas?” tanyaku penasaran.


 


“Kita ke depan yuk.” Menggandengku keluar.


 


“Ya ampun Mas, gede banget?!” ucapku kaget setelah melihat boneka diatas motor Mas Sony yang dibungkus rapi, boneka itu sangat besar. Mungkin lebarnya hampir sama dengan badanku.


Duh! bagaimana nanti aku membawanya, apa tidak akan memalukan? pasti seisi bus akan mencecarku dengan segala pertanyaan.


 


 


 Bersambung....


 


 Dukung author dengan like, komen, vote. thnks sudah mampir❤❤


 

__ADS_1


 


__ADS_2